MajalahKebaya.com, Jakarta – Di malam pergantian tahun 2026, ketika hampir semua orang merayakan dengan kembang api dan hitung mundur, Hj. Paramitha Widya Kusuma justru mengetuk pintu rumah-rumah warga kurang mampu dan penyandang disabilitas di Brebes. Membawa sembako, uang tunai, dan yang paling penting: kehadiran.
Itulah Mbak Mitha, begitu warga memanggilnya. Bupati Brebes yang dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025. Perempuan kelahiran 18 Januari 1992 ini bukan tipe pemimpin yang hanya hadir di ruang rapat. Ia percaya bahwa politik itu soal hadir, mendengar, dan bergerak. Dan setahun pertama kepemimpinannya, “Brebes Beres” mulai terasa nyata di lapangan.
Tumbuh dari Akar yang Sama
Mitha bukan pendatang di dunia politik Brebes. Ia tumbuh di dalamnya. Ayahnya, Indra Kusuma, adalah Bupati Brebes dua periode (2002–2010) yang dikenal dekat dengan rakyat kecil. Ibunya aktif sebagai kader partai. Sejak kecil, Mitha terbiasa diajak ke acara-acara kepartaian, menyaksikan langsung bagaimana orang tuanya menyapa warga dan mendengar keluh kesah mereka.
“Saya banyak belajar dari gaya kepemimpinan ayah. Beliau sangat gemar menolong orang, terutama orang kecil. Brebes itu salah satu kabupaten paling miskin di Jawa Tengah, dan beliau punya niat mulia untuk mengubah itu,” kenang Mitha.
Yang ia warisi dari sang ayah bukan jabatan, melainkan cara pandang, bahwa memimpin itu soal keberanian untuk peduli. Melihat Brebes masih terbelit kemiskinan, rendahnya akses pendidikan dan kesehatan, serta tata kelola yang belum optimal, Mitha merasa terpanggil untuk turun tangan langsung.

Menyapa dan Mendengarkan, dari Senayan hingga Pelosok Desa
Di usia 27 tahun, Mitha sudah duduk sebagai Anggota DPR RI, mewakili masyarakat Brebes, Kota Tegal dan Kabupaten Tegal. Bagi perempuan yang juga aktif berorganisasi ini, terjun langsung ke tengah masyarakat adalah hal yang menyenangkan. Selama lima tahun di Senayan, ia rutin berkeliling desa, menyapa pasar, dan mendengar langsung apa yang dibutuhkan warganya, bahkan di luar masa reses.
“Saya tidak mau dicap hanya datang waktu kampanye. Masyarakat itu cerdas, mereka tahu mana pemimpin yang tulus dan mana yang sekadar numpang lewat,” ujarnya.
Dari pengamatan selama lima tahun itulah, Mitha semakin memahami akar persoalan yang membuat Brebes sulit keluar dari jerat kemiskinan. Bukan sekadar perasaan, ia mendasarinya dengan kajian ilmiah dan data lapangan. Hasilnya jelas: tata kelola pemerintahan yang perlu diperbaiki, potensi pertanian yang belum dikelola maksimal, dan UMKM yang masih tertidur. “Ini bukan asumsi saya, melainkan hasil penelitian dan pengamatan langsung selama bertahun-tahun,” tegasnya.
Ketika Pilkada 2024 tiba, pilihannya adalah pulang ke Brebes. Bersama Wurja sebagai wakil, ia meraih lebih dari 503 ribu suara dengan dukungan 11 partai. Kepercayaan itu dibangun dari kehadiran yang konsisten, tahun demi tahun.
Setahun “Brebes Beres”: Bukan Jargon, Tapi Bukti
Banyak kepala daerah punya tagline keren saat kampanye. Yang membedakan adalah eksekusi. Dalam setahun pertama, Brebes mencatat perbaikan 287 ruas jalan sepanjang 117 kilometer dan 65 jembatan—agar anak bisa berangkat sekolah tanpa was-was, petani bisa kirim hasil panen tepat waktu, dan ambulans bisa menjangkau desa terpencil.
Di sektor kesehatan, program andalan Mitha—NakesDoortoDoor—sudah menjangkau lebih dari 204 ribu warga. Konsepnya sederhana tapi revolusioner, kalau warga tidak bisa ke puskesmas, tenaga kesehatanlah yang datang. Angka kematian ibu turun dari 54 kasus (2024) menjadi 34 (2025). Stunting ditekan dari 23,1% menjadi 13,10%—membuat Brebes meraih penghargaan tertinggi “Agung” dari SEAMEO RECFON.
Di pendidikan, program Satu Keluarga Satu Sarjana memberi beasiswa bagi 480 mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Program Gas Rolas mengembalikan 628 anak putus sekolah ke bangku pendidikan, dan 13 ribu lebih warga dewasa diberi kesempatan kedua untuk belajar. Fasilitas fisik pun tak luput, 239 sekolah diperbaiki. Insentif juga disalurkan kepada 21 ribu pegiat keagamaan, dari guru ngaji hingga marbot masjid. Sederet penghargaan pun mengalir: Kabupaten Layak Anak Nindya, InnovativeGovernmentAward, hingga Detik Award sebagai Tokoh Perempuan Akselerator Kesejahteraan Rakyat Bidang Pendidikan.

Bupati di Kantor, Ibu di Rumah
Di balik segala kesibukan memimpin kabupaten berpenduduk hampir dua juta jiwa, Mitha tetap menjalankan peran yang ia anggap paling penting: sebagai ibu dan istri. Bersama suami, Ahmad Saeful Ansori, ia membesarkan dua putra dengan prinsip yang sama tegasnya dengan cara ia memimpin Brebes, kejujuran dan disiplin. Dua nilai itulah yang setiap hari mereka tanamkan kepada anak-anak di rumah.
“Saya percaya segala bentuk rejeki tidak selalu berbentuk uang. Kebahagiaan dan ketenangan hati adalah utama, bukan saja untuk saya pribadi tapi juga keluarga,” ujarnya.
Fitnah dan serangan dari lawan politik pernah ia rasakan. Tapi Mitha memilih diam dan membuktikan lewat perbuatan—prinsip yang juga ia ajarkan kepada kedua putranya, bahwa kebenaran tidak perlu berteriak, cukup dibuktikan. Sosok ayahnya tetap menjadi kompas. “Ayah saya sosok yang tangguh. Menghadapi masalah apa pun, beliau selalu berusaha tetap tenang dan kuat. Keteguhan itulah yang menjadi teladan bagi saya,” kata penikmat bersepeda dan tenis ini.

Rencana dan Resolusi
“Resolusi saya adalah mampu mengemban amanah sebagai Kepala Daerah hingga tuntas. Lebih dari itu, saya ingin memastikan setiap kebijakan benar-benar membawa kemajuan bagi Kabupaten Brebes, tanah kelahiran yang saya cintai,” ujarnya mantap.
Ke depan, UMKM terus didukung lewat penyediaan lapak yang tertata agar pelaku usaha punya ruang berkembang. NakesDoortoDoor diperluas untuk ibu hamil berisiko tinggi di pelosok. Infrastruktur jalan yang belum tersentuh dilanjutkan perbaikannya di 2026. Dan program Brebes Merdeka Internet dicanangkan untuk memastikan akses digital merata hingga ke desa.
Di usianya yang baru 34 tahun, dengan dua anak dan segudang tanggung jawab, Mitha membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal senioritas. Warga Brebes tidak butuh pemimpin yang hanya pandai bicara di podium. Mereka butuh seseorang yang mau mengetuk pintu, duduk bersama, dan bertanya: “Apa yang bisa saya bantu?” Dan Mitha, sejauh ini, adalah jawaban atas pertanyaan itu.DW
