Profil

Elisabeth Clara Shinta, Owner GenFish dan Clara and Sarah: Produktif di Masa Pandemi dengan Berani Menciptakan Peluang

MajalahKebaya.com, Jakarta – Potensi bisnis menjanjikan seringkali datang dari kesempatan atau peluang yang tidak kebetulan. Kecerdasan untuk menganalisis dan memberikan keyakinan atas keputusan yang diambil menjadi satu harapan untuk membangun sebuah bisnis. Prinsip tidak menyerah, berpikir kreatif untuk menciptakan bisnis dan berani menggali peluang merupakan kunci bisnis yang dibangun agar dapat berkembang pesat. Elisabeth Clara Shinta, perempuan kelahiran Lampung, 25 Juni, yang akrab disapa Clara, berhasil membuktikan prinsip tersebut setelah ia berani mengambil kesempatan yang ada di depan mata.

Perempuan yang juga sebagai content creator ini merupakan pebisnis di bidang ekspor ikan. Diawali dari perkenalan teman yang sudah terlebih dulu terjun di bisnis ekspor ikan, ia berusaha mendalami bisnis tersebut dengan datang ke tempat lelang dan mengunjungi tempat kapal-kapal untuk menurunkan ikan.

“Saya melihat peluang bisnis yang menjanjikan karena ikan itu mulai dari daging sampai tulang bisa jadi uang.”

Di masa pandemi, pemilik usaha GenFish dan bisnis online Clara and Sarah ini bersyukur tidak mendapatkan kendala yang menyulitkan. Berhubung ikan dibutuhkan untuk makan atau dikonsumsi, sehingga tidak terlalu berdampak pada penjualan. Hanya saja ia mengalami keterbatasan angkutan dan harga yang naik hingga tiga kali lipat. Namun Clara tetap meminta order ikan agar daerah-daerah binaan para nelayan tetap mendapatkan pemasukan, walaupun tidak sebanyak masa sebelum pandemi. Selain bisnis ikan, ia juga menekuni bisnis online bidang kecantikan dan pelangsing. Clara meyakini peluang di bisnis online akan terus berkembang khususnya selama masa pandemi.

“Untuk menuju sebuah keberhasilan, prinsipnya adalah never give up, harus kreatif untuk menciptakan bisnis karena peluang itu ada dan tinggal bagaimana kita menggali peluang yang ada dengan sebaik-baiknya.”

Suka Duka Masa Pandemi Bersama Keluarga. Pandemi yang menyebabkan perubahan di berbagai sektor kehidupan membuat Clara harus berjuang dan kuat bertahan dalam situasi tersebut. Apalagi ia sempat panik ketika orang tua terkena Covid, padahal sudah melaksanakan vaksin sebanyak dua kali. Akhirnya ia memberanikan diri untuk mengurus orang tua dengan mengenakan baju APD.

“Karena orang tua positif, jadi asisten rumah tangga semuanya pada pulang ketakutan. Saya mendampingi orang tua mulai dari makan, bersih-bersih rumah, mencuci pakaian dan menyiapkan segala kebutuhan orang tua.”

Menurut Clara, untuk mengantisipasi permasalahan pandemi, Pemerintah harus berperan aktif. Contohnya ketika lockdown, masyarakat tidak dapat berbuat apa-apa. Jadi bantuan untuk hidup harus benar-benar diperhatikan.

“Agar secepatnya bebas, Pemerintah yang tahu kapan ini bisa dan boleh beraktivitas kembali. Kalau untuk kita khususnya para warga yang mampu agar sadar diri untuk menyumbang dan menyisihkan penghasilannya terutama kepada warga sekitar. Jadi setiap warga secara tidak langsung akan terbantu oleh warga-warga yang berpenghasilan besar sampai pandemi ini selesai.”

Ibu dan Harapan. Ibu adalah sosok harapan yang tidak akan pernah tergantikan. Bagi perempuan yang hobi memasak dan mendengarkan musik ketika suntuk datang menerjang ini, Ibu adalah segalanya, nafas, jantung dan hidup. Apa yang dilakukan atau diraih untuk Ibu.

“Saya bisa seperti sekarang ini karena Ibu. Ibu tidak pernah minta apa-apa. Ibu hanya minta waktu untuk sering bersamanya, tetapi karena kesibukan saya tidak bisa bertemu Ibu yang tinggal di Medan. Saya hanya bisa telepon setiap hari.”

Banyak pengalaman berkesan ketika bersama Ibunda tercinta. Biasanya menjelang Natal, ia menghabiskan waktu bersama Ibu untuk membuat kue bersama. Selain itu, pola asuh sang Ibunda tak pernah dilupakan. Ia belajar mengenai makna kedisipilinan, ketekunan dalam belajar dan rajin mengerjakan pekerjaan rumah dari sang Bunda. Orang tuanya tidak pernah meminta apa-apa kepadanya, tetapi ia memiliki impian dapat memberikan sesuatu yang berarti dari hasil kerja kerasnya selama ini sebagai hadiah Natal.

“Terima kasih untuk Bapak dan Mama yang sudah membesarkan Sabeth sedari kecil hingga sekarang, Bapak yang rajin menghantar Sabeth ke sekolah setiap pagi, Mama yang selalu sabar dalam mendidik Sabeth hingga Sabeth menjadi seperti sekarang, merawat Sabeth saat sakit, membela Sabeth saat Sabet dikecilkan oleh orang lain, dan saat ini Sabeth seperti ini bukan karena kekuatan Sabeth tapi karena doa Bapak dan Mama. Bapak, Mama, jasa-jasamu tak akan tergantikan, panjang umur ya Bapak Mama, Sabeth menyayangi kalian.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

three × five =

To Top