MajalahKebaya.com, Jakarta – Sebagai Dokter Spesialis Anak, Yesi Oktavia Dewi bersyukur dengan ilmu yang dimiliki dapat membantu seorang ibu lebih memahami kesehatan dan tumbuh kembang anak. Baginya, dampak yang paling berarti adalah ketika ilmu yang kita berikan bisa membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih baik.
Pilhan menjadi Dokter Spesialis Anak bagi Yesi Oktavia Dewi didasari niat mulia untuk terlibat jauh dalam upaya pencegahan dan penanganan kesehatan anak sejak fase awal kehidupan. Saat menjalani koas, ia melihat satu peristiwa yang membuka matanya bahwa kondisi awal kehidupan sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak ke depan, bahkan dapat berdampak jangka panjang.
“Waktu saya koas, saya melihat secara langsung masih banyak bayi yang lahir dalam kondisi tidak optimal, seperti lahir tidak langsung menangis. Saya pun mendalami bidang pediatri supaya dapat berperan tidak hanya dalam mengobati, tetapi juga mendampingi dan mengedukasi keluarga agar anak dapat tumbuh kembang optimal sesuai dengan potensi genetiknya,” jelas wanita cantik yang akrab disapa dr. Yesi, kelahiran Purwokerto, 19 Oktober 1985.
Bagi dr. Yesi, tantangan terbesar dalam perjalanan pendidikan dan profesi sebagai dokter bukan hanya bagaimana bisa menyelesaikan pendidikan dan menjadi seorang dokter, tetapi bagaimana terus belajar menjadi pribadi yang lebih kuat, sabar, dan mampu beradaptasi di setiap fase kehidupan.
“Menjalani pendidikan kedokteran hingga menjadi Dokter Spesialis Anak membutuhkan proses yang panjang dan tidak selalu mudah. Ada masa ketika saya harus belajar mengatur waktu, menghadapi tekanan, mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu sederhana, sekaligus tetap meluangkan waktu untuk keluarga,” kenang ibu dari Algifari & Algifara (usia 3 tahun).
Dari berbagai proses tersebut, dr. Yesi belajar bahwa menjadi dokter bukan hanya tentang ilmu dan kemampuan klinis. Ia belajar untuk lebih teliti, bertanggung jawab, dan tetap tenang dalam menghadapi berbagai situasi yang ditemui dalam pekerjaan.
Seiring bertambahnya pengalaman, dr. Yesi juga semakin memahami bahwa setiap pasien datang dengan cerita dan kondisi yang berbeda. Hal itu membuatnya belajar untuk tidak hanya melihat penyakitnya, tetapi juga memahami anak dan keluarganya secara lebih utuh.
“Mungkin proses-proses itulah yang paling membentuk saya hingga hari ini. Saya masih terus belajar, baik sebagai dokter maupun sebagai seorang perempuan, istri, dan ibu. Bagi saya, setiap tahap kehidupan selalu membawa pelajaran baru dan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya bijak.
Salah satu hal yang paling berkesan bagi dr. Yesi selama menjadi Dokter Spesialis Anak adalah ketika melihat seorang anak yang awalnya datang dalam kondisi sakit, kemudian berangsur membaik dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Ia merasa ada kepuasan tersendiri ketika melihat perkembangan tersebut. Bagi dr. Yesi, kebahagiaan terbesar dalam profesi ini bukan hanya ketika berhasil menangani suatu penyakit, tetapi ketika bisa melihat anak kembali sehat dan tumbuh dengan baik.
“Saya juga banyak belajar dari hubungan dengan orang tua pasien. Tidak jarang mereka datang dalam kondisi khawatir dan memiliki banyak pertanyaan mengenai kesehatan maupun tumbuh kembang anaknya. Ketika mereka kemudian merasa lebih tenang dan memahami apa yang harus dilakukan, bagi saya itu merupakan bagian yang sangat berarti dari pekerjaan ini. Pengalaman-pengalaman sederhana seperti itu yang membuat saya semakin yakin bahwa menjadi dokter anak adalah pilihan yang tepat. Saya menikmati prosesnya, mulai dari berinteraksi dengan anak, berdiskusi dengan orang tua, sampai mendampingi mereka dalam menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak,” tuturnya haru.
Dalam dunia medis yang menuntut ketegasan, ketelitian dan kemampuan mengambil keputusan secara cepat, dr. Yesi menilai bahwa menjadi perempuan justru memberikan warna tersendiri dalam menjalankan profesi sebagai dokter. Namun dalam praktiknya, terutama sebagai dokter anak, dr. Yesi merasa perlu memahami bahwa setiap anak dan setiap keluarga memiliki kebutuhan yang berbeda. Ia pun belajar bahwa ketegasan tidak harus menghilangkan kelembutan, dan profesionalisme tidak berarti harus menjaga jarak. Ada saatnya ia harus tegas dalam mengambil keputusan, tetapi ada juga saatnya ia perlu lebih banyak mendengarkan dan memahami.
“Mungkin keseimbangan itulah yang saya rasakan sebagai kekuatan. Saya bisa menjalankan profesi dengan pendekatan yang profesional, tetapi tetap membawa sisi saya sebagai seorang perempuan, seorang ibu, dan seorang manusia,” tambah dr. Yesi.

Berdaya untuk Memberi Dampak
Bagi dr. Yesi, perempuan berdaya dan memberdayakan adalah tentang bagaimana seorang perempuan mampu mengenali potensi dirinya, berani menentukan pilihan, dan terus berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai yang ia pegang.
Berdaya bukan berarti harus melakukan semuanya sendiri. Baginya, berdaya adalah ketika kita memiliki kesempatan untuk belajar, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihan yang kita jalani. Sementara memberdayakan berarti ketika apa yang kita miliki, baik ilmu, pengalaman, maupun kesempatan, tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi bisa memberikan manfaat bagi orang lain.
Sebagai dokter anak, dr. Yesi merasakan hal tersebut dalam keseharian. Ketika ilmu yang dimiliki dapat membantu seorang ibu lebih memahami kesehatan dan tumbuh kembang anak, menurutnya itu sudah menjadi bentuk kecil dari memberdayakan.
Dr. Yesi menilai setiap perempuan memiliki cara masing-masing untuk memberikan dampak. Tidak harus selalu melalui sesuatu yang besar, tetapi bisa dimulai dari ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Ketika kita terus bertumbuh, kemudian bisa membantu dan membuat orang lain ikut berkembang, di situlah makna “Perempuan Berdaya dan Memberdayakan” benar-benar terasa.
“Sebagai dokter anak, saya merasa memiliki kesempatan untuk membantu bukan hanya melalui pelayanan medis, tetapi juga dengan memberikan pemahaman kepada orang tua. Karena ketika seorang ibu atau ayah memiliki pengetahuan yang tepat, mereka akan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan untuk anaknya,” terangnya.
Dr. Yesi juga percaya bahwa profesi seharusnya tidak membatasi kita untuk terus belajar dan berkembang. Justru semakin banyak ilmu dan pengalaman yang kita miliki, semakin besar pula kesempatan untuk membagikannya kepada orang lain. Baginya, dampak yang paling berarti adalah ketika ilmu yang kita berikan bisa membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih baik. Kalau hal itu bisa dimulai dari satu keluarga, kemudian memberikan pengaruh positif kepada keluarga lainnya, itu sudah menjadi sesuatu yang berarti.

Tentukan Prioritas Sesuai Kebutuhan di Setiap Fase
Sebagai perempuan yang ingin tetap berkembang dalam karier sekaligus hadir secara utuh untuk keluarganya, dr. Yesi menilai tantangan terbesarnya adalah belajar menerima bahwa kita tidak selalu bisa memberikan porsi yang sama untuk semua hal di waktu yang bersamaan.
Sebagai seorang dokter, istri, dan ibu, dr. Yesi menyadari bahwa setiap peran memiliki tanggung jawabnya masing-masing. Tantangannya adalah bagaimana menjalankan semuanya dengan sebaik mungkin tanpa kehilangan diri sendiri.
“Ada banyak peran yang harus dijalankan. Ada saatnya pekerjaan membutuhkan lebih banyak perhatian, tetapi ada juga momen ketika keluarga menjadi prioritas. Saya belajar untuk tidak melihatnya sebagai pilihan antara karier atau keluarga, melainkan bagaimana mengatur prioritas sesuai dengan kebutuhan di setiap fase kehidupan. Yang juga penting adalah memiliki support system dan tidak merasa harus melakukan semuanya sendiri. Dukungan dari keluarga sangat membantu saya untuk tetap berkembang dalam profesi, sekaligus tetap menjalankan peran di rumah,” tuturnya.
Menurut dr. Yesi, perempuan juga tidak harus selalu terlihat kuat. Ada kalanya perempuan membutuhkan bantuan, belajar dari orang lain, atau memberi waktu untuk diri sendiri. Justru dengan memahami batas diri dan tahu kapan harus meminta bantuan, ia bisa menjalankan peran dengan lebih baik.
Bagi dr. Yesi, berkembang dalam karier dan hadir untuk keluarga bukan tentang menjadi sempurna dalam menjalankan semuanya. Lebih kepada bagaimana kita menjalani setiap peran dengan sadar, memberikan yang terbaik sesuai kemampuan, dan tetap menikmati prosesnya. Ia percaya, setiap perempuan memiliki cara dan ritmenya masing-masing dalam menyeimbangkan karier dan keluarga. Tidak harus selalu sempurna, yang penting kita tahu apa yang menjadi prioritas dan tetap merasa bahagia dengan pilihan yang kita jalani.
Keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan kebutuhan diri sendiri menurut dr. Yesi bukan berarti semua hal harus mendapatkan porsi yang sama setiap hari. Ia lebih banyak belajar untuk menentukan prioritas sesuai dengan kebutuhan di setiap fase. Dalam pekerjaan, Yesi berusaha fokus ketika sedang menjalankan tanggung jawab sebagai dokter. Ketika sudah bersama keluarga, ia pun berusaha benar-benar meluangkan waktu untuk keluarga. Ia juga menyadari bahwa menyediakan waktu untuk diri sendiri tetap penting, karena ketika kondisi kita baik, kita bisa menjalankan peran lainnya dengan lebih baik.
“Untuk menjaga keseimbangan itu, saya menikmati hal-hal sederhana yang saya sukai, seperti traveling, membaca, mendengarkan musik, atau sekadar menikmati waktu tenang dengan secangkir hot chocolate,” ujarnya tersenyum.

Dr. Yesi menyadari tidak selalu berhasil membagi semuanya dengan sempurna. Tetapi ia belajar untuk lebih fleksibel, tidak terlalu keras pada diri sendiri, dan menikmati setiap fase yang sedang dijalani. Pada akhirnya, bagi dr. Yesi keseimbangan adalah tentang memahami apa yang perlu diprioritaskan, hadir sepenuhnya di setiap peran, dan tetap memberikan ruang untuk diri sendiri.
Dari pengalaman sebagai dokter sekaligus ibu, dr. Yesi belajar bahwa menjadi ibu dan menjalankan tugas dalam keluarga memang membutuhkan banyak waktu dan perhatian. Namun, di tengah kesibukan tersebut, seorang perempuan tetap perlu memiliki ruang untuk dirinya sendiri.
“Saya sendiri masih terus belajar menemukan keseimbangan. Ada masa ketika keluarga menjadi prioritas, ada saatnya pekerjaan membutuhkan lebih banyak perhatian. Yang penting bagi saya adalah tetap menyisihkan ruang untuk berkembang dan melakukan hal-hal yang membuat kita tetap merasa menjadi diri sendiri,” ungkapnya.
Dr. Yesi juga menyadari bahwa tidak ada satu standar yang harus diikuti oleh semua perempuan. Setiap perempuan memiliki pilihan, kondisi, dan perjalanan yang berbeda. Baginya, yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan diri sendiri hanya karena terlalu sibuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Merawat dan mengembangkan diri bukan berarti mengurangi perhatian kepada keluarga, dan bukan pula bentuk keegoisan. Justru ketika kita terus belajar, menjaga kesehatan, memiliki kegiatan yang kita sukai, dan tetap berkembang sebagai individu, kita bisa menjalankan berbagai peran dengan lebih baik.
“Bagi saya, menjadi ibu bukan berarti berhenti menjadi diri sendiri. Kita tetap boleh memiliki mimpi, belajar hal baru, mengejar karier, menikmati hal-hal yang kita sukai, dan memberikan waktu untuk diri sendiri. Pada akhirnya, anak-anak juga belajar dari apa yang mereka lihat. Saya ingin anak-anak saya melihat bahwa seorang perempuan bisa memiliki banyak peran, tetap menyayangi dan hadir untuk keluarganya, tetapi juga terus bertumbuh dan memiliki kehidupan yang dijalani dengan bahagia. Karena ketika seorang perempuan terus bertumbuh, manfaatnya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan lingkungan di sekitarnya,” papar dr. Yesi.
Jika suatu hari anak-anaknya melihat kembali perjalanannya sebagai seorang ibu, dr. Yesi ingin mereka melihat bahwa setiap hal yang ia jalani selalu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Ia ingin anak-anaknya belajar bahwa dalam hidup, tidak semua hal bisa didapatkan dengan mudah. Semua membutuhkan proses, perjuangan, dan terkadang pengorbanan. Akan ada tantangan dan mungkin juga kegagalan. Namun, ketika gagal, kita harus belajar untuk bangkit, mencoba kembali, dan tidak berhenti berusaha.
“Saya juga ingin mereka memahami bahwa setiap pencapaian perlu disyukuri, tetapi tidak seharusnya membuat kita menjadi sombong. Tetap rendah hati, menghargai orang lain, dan terus belajar adalah hal yang penting. Dan yang paling utama, saya ingin mereka tidak pernah lupa kepada Allah dan kepada orang tua. Sebesar apa pun pencapaian yang diraih nantinya, selalu ingat bahwa ada Allah yang memberikan kesempatan dan kekuatan, serta ada orang tua yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan kita. Bagi saya, keberhasilan akan lebih berarti ketika disertai rasa syukur, kerendahan hati, dan penghargaan kepada orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita,” bijak dr. Yesi.
Selain itu dr. Yesi ingin anak-anaknya melihat bahwa perempuan boleh memiliki banyak peran dan impian. Menjadi seorang ibu bukan berarti berhenti memiliki cita-cita, begitu pula memiliki karier bukan berarti harus mengesampingkan keluarga. Yang penting adalah menjalani setiap pilihan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Ia berharap anak-anak tidak hanya melihat pencapaiannya sebagai seorang dokter, tetapi juga melihatnya sebagai seorang ibu yang terus belajar, berusaha, dan menjalani setiap peran dengan sebaik-baiknya. Dan dari perjalanan itu, dr. Yesi berharap ada nilai-nilai baik yang bisa mereka bawa dalam menjalani kehidupan mereka sendiri.
“Pada akhirnya, saya ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik, beriman, berbakti kepada kedua orang tua, dan bermanfaat bagi orang lain. Karena bagi saya, keberhasilan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita capai untuk diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga nilai-nilai yang kita yakini dan seberapa banyak kebaikan yang bisa kita berikan kepada orang lain,” bijak dr. Yesi.

Kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta, dr. Yesi tak henti-henti mengucap syukur dan terima kasih diiringi doa atas semua cinta, pengorbanan, didikan dan gemblengan yang telah diterimanya sehingga ia bisa sampai pada titik saat ini.
“Untuk Papa dan Mama, mungkin sampai hari ini saya belum pernah benar-benar mampu mengungkapkan betapa besar arti Papa dan Mama dalam perjalanan hidup saya. Terima kasih untuk semua cinta, doa, pengorbanan, dan perjuangan yang diberikan sejak saya kecil. Terima kasih sudah mendidik dan membimbing saya, bukan hanya tentang pendidikan dan kehidupan, tetapi juga tentang agama. Papa dan Mama mengajarkan saya untuk mengenal Allah, menjaga ibadah, memiliki prinsip, bekerja keras, menghargai orang lain, dan selalu berusaha menjadi pribadi yang baik. Nilai-nilai itulah yang sampai hari ini menjadi bagian dari diri saya dan menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan. Kalau hari ini saya bisa menjadi pribadi seperti sekarang, saya tahu ada begitu banyak doa dan perjuangan Papa dan Mama di baliknya. Setiap pencapaian yang saya raih bukan hanya hasil dari usaha saya sendiri, tetapi juga merupakan bagian dari didikan, dukungan, dan kepercayaan yang diberikan sejak saya kecil,” lirih dr. Yesi.
Semakin bertambah usia, dr. Yesi semakin menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat. Dulu, ia melihat Papa dan Mamanya sebagai sosok yang selalu kuat. Mereka yang menggenggam tangannya, melindungi, memastikan ia baik-baik saja, bahkan ketika mereka sendiri sedang lelah. Mereka adalah tempat ia bersandar dan merasa aman.
Namun, dr. Yesi menyadari, perlahan waktu mengubah banyak hal. Tangan yang dulu menggenggam dan menjaga, kini mulai membutuhkan dirinya untuk menggenggam. Langkah yang dulu selalu mendahuluinya, kini mungkin harus ia tuntun. Sosok yang dulu selalu memastikan ia baik-baik saja, kini mulai membutuhkan dirinya untuk menjaga.
Bagi dr. Yesi, melihat orang tua menua adalah salah satu hal yang tidak mudah. Tetapi mungkin inilah bagian dari perjalanan hidup yang mengajarkan kita tentang arti berbakti. Dulu mereka yang merawat dan menguatkan kita, dan kini tiba waktunya bagi kita untuk hadir, menjaga, dan memberikan rasa tenang untuk mereka.
“Saya mungkin tidak akan pernah mampu membalas semua yang telah Papa dan Mama berikan. Tetapi saya berharap perjalanan saya sebagai seorang perempuan, seorang ibu, dan seorang dokter dapat menjadi sesuatu yang membanggakan dan membahagiakan bagi mereka. Saya juga berharap apa yang dulu Papa dan Mama tanamkan kepada saya dapat terus saya lanjutkan kepada anak-anak saya. Tentang agama, tentang kerja keras, tentang rendah hati, tentang menghargai orang lain, dan tentang pentingnya selalu mengingat Allah serta berbakti kepada orang tua. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan, kebahagiaan, dan umur yang panjang untuk Papa dan Mama. Semoga saya selalu diberikan kesempatan untuk berbakti, menemani, menjaga, dan membahagiakan mereka selagi masih diberi waktu bersama. Jika suatu hari nanti saya melihat kembali perjalanan hidup saya, saya ingin selalu ingat bahwa di balik diri saya yang sekarang, ada dua orang yang sejak awal tidak pernah berhenti mendoakan, mendidik, mendukung, dan mencintai saya. Terima kasih, Papa dan Mama. Untuk semua yang terlihat maupun yang tidak pernah saya lihat, untuk semua yang terucap maupun yang hanya disampaikan lewat doa. Jika hari ini ada kebaikan dalam diri saya, ada begitu banyak bagian dari Papa dan Mama di dalamnya,” ungkap dr. Yesi penuh syukur dan terima kasih yang tulus. EK

