Cover Story

Dewi Yustisiana, Berkontribusi bagi Sesama, Menjunjung Komitmen dan Integritas

MajalahKebaya.com, Jakarta – Bukan jargon besar yang membawa Dewi Yustisiana ke Senayan, melainkan keinginan sederhana untuk berkontribusi bagi sesama. Hampir 18 tahun ia berkiprah sebagai  profesional di industri yang didominasi laki-laki dan lebih banyak memperjuangkan dirinya sendiri. Kini, sebagai wakil rakyat, ia memakai seluruh bekal tersebut untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Ada pertanyaan yang selalu muncul setiap kali Dewi Yustisiana ditanya alasannya terjun ke dunia politik. Jawabannya tidak pernah muluk-muluk. Baginya, menjadi anggota dewan bukan perkara jargon bela bangsa, melainkan soal yang jauh lebih membumi, yakni bagaimana kehadirannya bisa berarti bagi orang lain.

Hampir 18 tahun menapaki dunia profesional membawa Dewi, begitu ia biasa disapa, pada satu titik perenungan tentang makna sebuah pencapaian. Perjalanan panjang itu bukan hanya membentuk karier dan kompetensinya, tetapi juga menumbuhkan keinginan agar pengalaman yang dimiliki dapat memberi arti lebih luas.

Bagi wanita kelahiran Palembang, 25 Februari ini, ilmu dan pengalaman yang ditempa selama bertahun-tahun tak semestinya berhenti sebagai pencapaian pribadi. “Saya ingin apa yang sudah saya pelajari bisa dipakai untuk orang banyak. Sederhana saja, saya ingin berkontribusi bagi sesama.”

Kesadaran itulah yang kemudian membawa perjalanan hidupnya menuju ruang pengabdian. Dari Palembang, perjalanan itu bermula. Di dunia profesional, pengalaman dan kompetensinya ditempa. Kini, seluruh bekal tersebut menemukan tujuan yang lebih besar, yakni mengubah pengalaman menjadi pengabdian, pencapaian menjadi kebermanfaatan, dan perjalanan karier menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Jejak Karier. Diceritakan Dewi, ia telah menempuh jalan panjang sebelum sampai ke Senayan. Setelah menyelesaikan S1 di Universitas Sriwijaya, ia melanjutkan S2 Hukum Kenotariatan di Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 2000. Prestasinya membuat pihak kampus menawarinya posisi sebagai asisten dosen.

“Saya ditawari menjadi asisten dosen di UI. Hanya saja usia saya waktu itu memang masih sangat muda, belum memenuhi ketentuan, jadi saya harus menunggu dulu kalau tetap ingin mengambil posisi tersebut.” kenangnya.

Masa menunggu itulah yang justru mengubah arah hidupnya. Sambil menanti, ia bekerja selama enam bulan di sebuah kantor notaris. Dari sana ia melangkah ke industri plywood sebagai staf legal, dan bertahan selama tiga tahun hingga dipercaya menduduki posisi Legal Manager.

“Di industri plywood itulah mata saya benar-benar terbuka sebagai seorang profesional. Saya belajar bahwa ilmu hukum tidak berhenti di teks perjanjian. Ada operasional pabrik, ada bisnis yang harus jalan, ada orang-orang yang bergantung pada keputusan kita. Di situ saya sadar dunia profesional adalah tempat saya.”

Dari industri kayu lapis, Dewi berpindah ke Shell Indonesia dan bertahan sekitar 12 tahun, masa terpanjang dalam kariernya. Setelah itu ia mencoba tantangan baru di industri semen sebagai Komisaris Independen di Semen Baturaja, yang saat itu masih menyandang status persero Tbk.

Tak lama, ia kembali ke industri oil and gas, kali ini di sisi hilir Migas sebagai Komisaris Utama di Pertamina Lubricants. Penugasan terakhirnya sebelum ke Senayan berada di sisi hulu, yakni sebagai Komisaris di Pertamina International EP (PIEP), anak perusahaan Pertamina yang bergerak di bidang eksplorasi dengan kantor pusat di Paris, Prancis.

“Setelah itu saya mencoba mencalonkan diri menjadi anggota DPR pada Pemilu 2024. Alhamdulillah saya berhasil lolos mewakili Dapil Sumatera Selatan 2 yang mencakup 11 kabupaten.”

Tumbuh di Dunia yang Didominasi Laki-Laki

Rekam jejak di sektor energi itu kini menjadi modal utama Dewi di Komisi XII DPR RI, komisi yang membidangi energi, sumber daya mineral, lingkungan hidup, dan investasi. Ia tidak perlu waktu lama untuk memahami peta persoalan, karena pernah berada di dalamnya.

Namun jalan yang mesti dilalui Dewi tidak selalu mulus. Industri minyak dan gas adalah dunia yang secara historis didominasi laki-laki, dan Dewi kerap menjadi satu dari sedikit perempuan di ruang rapat. “Industri ini memang didominasi pria, tapi itu tidak pernah menutup kemungkinan bagi perempuan untuk berkarya di sana.”

Banyak hal yang dipelajari Dewi saat itu, diantaranya dua hal yang tidak bisa dipisahkan, yakni kompetensi dan kepercayaan diri. “Perempuan harus punya kompetensi, itu harga mati. Tapi kompetensi saja tidak cukup kalau kita tidak percaya diri untuk berani mencoba, berani bicara, berani mengambil tanggung jawab.”

Berpindah-pindah industri juga menuntut Dewi untuk terus mengembangkan diri. “Kita harus banyak belajar, karena begitu kita pindah ke industri yang baru maka kita akan punya banyak ilmu baru, kita punya banyak kompetensi baru yang bisa dikembangkan.”

Tidak Ada Titik Akhir untuk Belajar

Semangat belajar Dewi tidak pernah surut meski dirinya telah menjabat sebagai anggota legislatif. Di tengah kesibukan, ia berencana melanjutkan pendidikan di tingkat doktoral. Baginya, pengembangan kompetensi merupakan proses tanpa akhir yang terus memperkuat langkah pengabdiannya.

Ilmu yang dipelajari Dewi menjadi bekal nyata untuk bekerja lebih optimal, bukan sekadar untuk mengejar gelar. Latar belakang ilmu hukum miliknya sangat membantu dalam mencermati regulasi yang rumit, khususnya di sektor energi. Pengetahuan tersebut kemudian ia terapkan secara langsung untuk memperjuangkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat di daerah pemilihannya.

Listrik Masuk Desa

Salah satu aspirasi yang paling gigih diperjuangkan Dewi adalah pemerataan akses listrik. Ia menemukan masih ada masyarakat yang hidup tanpa listrik, bukan hanya di wilayah 3T, tetapi bahkan di daerah yang relatif dekat dengan pusat kota.

“Intinya bagaimana semua masyarakat, baik di pelosok maupun dekat perkotaan, bisa mendapatkan akses listrik dengan baik.” Melalui Program Listrik Desa Kementerian ESDM, berbagai usulan masyarakat yang bertahun-tahun belum terealisasi kembali diperjuangkan bersama PLN dan pemerintah daerah.

“Ada kepala desa yang sudah lama mengajukan proposal, tetapi belum berhasil. Itu yang kita bantu perjuangkan, dan dalam dua tahun saya menjabat sudah banyak yang terealisasi.”

Bagi Dewi, hadirnya listrik bukan sekadar tentang menyalakan lampu, tetapi membuka akses terhadap pendidikan, menggerakkan ekonomi, dan menghadirkan harapan baru bagi masyarakat.

Support System untuk Ibu-Ibu Hebat

Pengalamannya tumbuh sebagai perempuan di dunia yang didominasi laki-laki meninggalkan bekas yang dalam. Bekas itu kini menjelma menjadi program-program pemberdayaan perempuan di dapilnya, terutama bagi Kelompok Wanita Tani (KWT).

“Ibu itu adalah tulang punggung keluarga. Beban Ibu tidak hanya membesarkan dan mendidik anaknya, tetapi juga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Itu sebabnya penting memastikan ada support system untuk Ibu-Ibu hebat ini.”

Berbagai program ia kembangkan, di antaranya green house bersama Kementerian Lingkungan Hidup, dengan melatih sejumlah KWT di beberapa kabupaten di Sumatera Selatan untuk menanam sayuran organik yang dapat dipanen setelah tiga bulan. Dewi juga memberdayakan KWT untuk membuat produk olahan udang dan anyaman dari gambut.

“Program ini sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Biasanya jumlah anggota KWT bisa sampai 30 orang. Selain itu hasil panen sayuran bisa dijual untuk membantu ekonomi keluarga, supaya mereka mandiri secara ekonomi. Ada juga program peternakan dengan memberdayakan KWT untuk beternak ayam petelur dan ayam daging.”

Program-program tersebut, lanjutnya, bersinergi dengan agenda ketahanan pangan karena hasilnya bisa memenuhi kebutuhan sendiri sekaligus dijual ke pasar di sekitar desa. “Sejauh ini sudah sekitar 15 desa yang mengikuti program tersebut.”

Orang Tua Sumber Inspirasi

Di akhir pekan, Dewi selalu menyediakan waktu untuk sang putra, Faiz Gabriel Alfarizi, yang saat ini duduk di bangku SMA kelas 3. Ia juga suka memasak dan menonton film atau drama. “Tergantung anak saya mau melakukan kegiatan apa saat weekend, jadi saya selalu dampingi.”

Sebagai seorang anak, Dewi mengaku sosok kedua orang tuanya menjadi sumber inspirasi utama yang membentuk karakter dan kemandiriannya. Sang ayah memberikan keleluasaan penuh dalam menentukan arah pendidikan serta pilihan karier. Demikian juga dengan Ibunya yang selalu mendukung penuh keputusan yang diambil Dewi. Dari pola asuh tersebut, Dewi belajar bahwa perempuan harus merdeka dan berani menentukan jalan hidupnya sendiri.

Orang tuanya selalu hadir sebagai teman diskusi yang siap memberikan masukan tanpa pernah memaksakan keputusan. Kebebasan yang disertai arahan dan kepercayaan tersebut menjadi proses pembelajaran berharga bagi kedewasaannya.

Rasa kepercayaan itu menumbuhkan tanggung jawab besar dalam setiap langkah yang ia ambil. Nilai-nilai inilah yang membentuk Dewi menjadi sosok perempuan yang mandiri, percaya diri, dan berdaya hingga hari ini.

Komitmen, Integritas, dan Legacy

Komitmen dan integritas menjadi hal krusial bagi Dewi dalam mengemban amanah sebagai Wakil Rakyat, apalagi di periode pertamanya ini. “Pada waktu kampanye, terus terang saya belum bisa menjanjikan apa-apa karena saya belum pernah punya track record menjabat sebagai anggota DPR sebelumnya. Tapi kalau memang dipercaya, tentunya akan saya perjuangkan. Saat saya terpilih, saya buktikan bahwa pilihan masyarakat yang telah memilih saya itu tidak salah.”

Di masa jabatannya selama lima tahun hingga 2029, ada sejumlah harapan yang ingin ia wujudkan. Diantaranya merampungkan pendidikan S3 Hukum, dan merealisasikan aspirasi masyarakat di dapilnya satu per satu. “Ada semacam kebanggaan tersendiri sebagai anak bangsa, karena itu akan menjadi legacy kita.”EK

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top