MajalahKebaya.com, Jakarta – Kulit adalah bagian tubuh terluar manusia yang merupakan pelindung utama dari organ tubuh manusia. Kondisi kesehatan kulit bisa menjadi parameter untuk menilai kondisi kehidupan seseorang. Ketertarikan pada hal tersebutlah yang menjadi landasan dr. Rizki Hapsari Nugraha, Sp. DVE, M. Kes untuk berkarier sebagai Dermatologist.
“Ketertarikan saya terhadap bidang DVE dimulai sejak masa pendidikan dokter umum. Bagi saya, kulit bukan sekadar apa yang terlihat di permukaan, tetapi juga bisa menjadi ‘sinyal’ tentang apa yang terjadi di dalam tubuh. Saya juga menikmati tantangan dalam dermatologi. Banyak penyakit kulit memiliki gambaran yang mirip, sehingga kita harus teliti mengamati detail, menggali cerita pasien, dan menyusun setiap petunjuk hingga menemukan diagnosis yang tepat. Rasanya seperti memecahkan sebuah ‘mystery puzzle’, dan justru itu yang membuat saya semakin menikmati bidang ini,” papar wanita yang akrab dipanggil dr. Kiko ini.

Keluar dari Zona Nyaman Menyambut Tantangan
Berhasil meneguhkan hati untuk keluar dari zona nyaman sebagai dokter umum, dr. Kiko kembali memacu jiwa pembelajarnya untuk mendalami Ilmu Spesialis Dermatologi. “Ketika memutuskan melanjutkan pendidikan, saya harus meninggalkan pekerjaan, berjauhan dari keluarga, dan pindah dari Tasikmalaya ke Malang menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya. Rasanya seperti harus kembali menyesuaikan diri menjadi seorang pelajar. Apalagi terkadang beradaptasi dengan lingkungan baru tentu tidak selalu mudah, ada rasa rindu keluarga dan lelah, tetapi saya selalu mengingat bahwa ada impian yang ingin dicapai dan perjalanan yang harus diselesaikan,” ujar wanita cantik kelahiran Januari 1988 ini.
Tantangan yang dihadapinya menjadi semakin besar ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia. Di tengah pendidikan spesialis, dr. Kiko dan rekan-rekan menjadi bagian dari garda terdepan di bidang kesehatan Indonesia. Ada rasa takut, lelah, dan cemas yang dihadapi ketika melihat rekan-rekan serta tenaga kesehatan jatuh sakit, bahkan gugur. “Namun, dengan pertolongan Allah SWT, doa keluarga, serta dukungan guru dan sahabat, Alhamdulillah saya dapat bertahan dan menyelesaikan pendidikan tepat waktu,” kenang dr. Kiko.
Bagi dr. Kiko, pemahaman masyarakat tentang kesehatan kulit sangat penting. Saat ini, pembahasan tentang kulit seringkali hanya berfokus pada standar kecantikan umum seperti glowing, warna kulit dan anti-aging. Padahal menurut dr. Kiko kesehatan kulit lebih dari itu, kulit bisa memberikan sinyal terkait kondisi kesehatan di dalam tubuh. “Saya ingin mengajak masyarakat untuk merawat kulit bukan demi mengejar kesempurnaan, tetapi karena kulit adalah bagian penting dari kesehatan kita. Kenali kulit sendiri, rawat dengan tepat, dan jangan ragu berkonsultasi ketika ada perubahan yang tidak biasa,” paparnya.
Di sisi estetika, dr. Kiko menekankan untuk tidak mengubah diri secara berlebihan. Tubuh kita sudah diciptakan Tuhan dengan sedemikian rupa. Tugas kita adalah merawat, menjaga, dan membuatnya tetap sehat. Kalau ada yang ingin diperbaiki, tentu boleh, tetapi sebaiknya tetap dalam batas yang wajar dan tidak menghilangkan karakter diri sendiri.
“Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana saya mengelola ekspektasi pasien. Di era media sosial seperti sekarang, informasi tentang kulit begitu mudah didapat, tetapi belum tentu semuanya baik dan sesuai untuk setiap orang. Kadang pasien datang dengan keinginan tertentu karena melihat hasil orang lain di media sosial, padahal kondisi kulit dan anatomi setiap orang berbeda. Kita tidak hanya dituntut untuk menguasai ilmu, tetapi juga belajar memahami manusia, mendengarkan, mengedukasi dan membantu pasien mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya,” jelas dokter yang hobi membaca dan traveling ini.

Semangat Berdaya dan Bermanfaat
Perempuan memiliki kemampuan menjalankan banyak peran sekaligus, dan hal itu dapat menjadi modal untuk terus berkembang dan memberdayakan diri. Menurut dr. Kiko, salah satu cara mematangkan diri adalah melalui pendidikan. Pendidikan memberikan kita kemampuan untuk berpikir kritis, sementara profesi memberikan kemandirian dan ruang untuk berkontribusi lebih luas. Pada akhirnya, menjadi perempuan yang berdaya berarti terus belajar dan berkembang adalah sebuah keharusan dan tak kalah penting harus selalu melibatkan Tuhan dalam setiap langkah dan usaha yang kita jalankan.
Perempuan berdaya menurut dr. Kiko adalah perempuan yang mampu menempatkan peran dan prioritasnya dengan baik, baik dalam profesi maupun keluarga. Tidak harus selalu seimbang, karena setiap fase kehidupan seseorang memiliki kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Poin pentingnya adalah wanita berdaya mampu beradaptasi dan menjalankan setiap peran dengan baik.
Dalam profesi sebagai dokter, keberdayaan berarti belajar sepanjang hayat, memegang teguh etika, dan memberikan pelayanan terbaik tanpa membeda-bedakan pasien. Keberdayaan juga bukan hanya tentang seberapa banyak prestasi yang dicapai, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. Sebagai Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi dan Estetika, salah satu bentuk bermanfaat yang dr. Kiko lakukan adalah semangat berkampanye ‘Skin Without Stigma’ yaitu menghapus stigma terhadap masalah kulit, kelamin, maupun estetika, termasuk yang dialami perempuan.
“Melalui edukasi yang tepat dan bahasa yang membumi, saya ingin dapat membantu masyarakat memahami kondisinya, mengurangi stigma dan bullying. Contohnya pada Vitiligo. Bercak putih pada kulit bukan penyakit menular dan bukan kutukan. Dengan edukasi yang tepat, kita bisa mengurangi stigma dan ‘bullying’, sehingga pasien lebih percaya diri untuk bersosialisasi,” ungkap dr. Kiko dengan semangat.
Di dunia medis, dokter tidak bekerja sendiri. Ada banyak tenaga kesehatan yang saling melengkapi. Karena itu, bagi dr. Kiko, perempuan berdaya juga berarti mampu bekerja sama, saling menghargai, dan saling menguatkan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasien.
“Saya juga percaya pada prinsip woman support woman, terutama karena banyak tenaga kesehatan adalah perempuan yang menjalankan berbagai peran sekaligus—sebagai profesional, ibu, maupun bagian dari keluarga. Mereka membutuhkan dukungan, bukan perlakuan khusus, agar tetap memiliki ruang untuk berkembang tanpa harus memilih antara keluarga dan cita-cita. Dari perjalanan tersebut, saya belajar bahwa manusiawi jika dalam perjalanan kita sempat goyah. It’s okay not to be okay, asalkan tetap maju dan menyelesaikan sampai garis akhir, pasti selalu ada hikmah,” ucap ibu satu anak ini.

Berkarya sekaligus Melayani Masyarakat
Dalam perjalanannya sebagai Dermatolog, dr. Kiko kemudian menemukan tiga hal yang kemudian menjadi bagian penting dari apa yang ia kerjakan yaitu : memberikan pelayanan dengan kepedulian (CARE), membawa pendekatan dermatologi ke dalam perawatan kulit (DERMATOLOGY), dan berbagi pengetahuan kepada masyarakat (EDUCATE).
Ketiganya dr. Kiko wujudkan dalam ruang yang memiliki karakter dan tujuan masing-masing, tetapi tetap berada dalam satu bidang yang ia cintai: Dermatologi.
CARE – dr. Kiko wujudkan melalui Klinik Dokter Anda (KDA), tempat ia dapat memberikan pelayanan secara langsung dan personal. Karena setiap orang memiliki kondisi, kebutuhan, dan cerita kulit yang berbeda, ia percaya perawatan yang baik selalu dimulai dengan memahami setiap individu.
DERMATOLOGY – melalui KDA Skin, sebagai upaya membawa pendekatan dermatologi ke dalam keseharian. “Saya ingin skincare tidak hanya berbicara tentang penampilan, tetapi juga tentang memahami kulit, merawatnya dengan tepat, dan merasa nyaman dengan diri sendiri.”
EDUCATE – melalui Dermatologist Daily, karena dr. Kiko percaya pengetahuan tidak seharusnya berhenti di ruang praktik. Informasi tentang kesehatan kulit perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan dekat, sehingga dapat membantu lebih banyak orang memahami dan merawat kulitnya dengan lebih baik.
Ke depan, dr. Kiko ingin terus bertumbuh sebagai dokter, edukator, dan penulis, dengan membawa perspektif bahwa dermatologi bukan hanya tentang penyakit kulit, tetapi juga tentang manusia dan kualitas hidup di baliknya. Bidang dermatologi, venereologi dan estetika tidak hanya dipandang dari sisi penyakitnya, tetapi juga dari sisi sosial yang menyertainya. Ibaratnya, pasien tidak hanya datang membawa diagnosis, tetapi juga bisa membawa rasa malu, stigma, gangguan kepercayaan diri, dan berbagai dampak terhadap kualitas hidupnya. Karena itu, dr. Kiko ingin lebih aktif di bidang ‘social dermatology’, salah satunya melalui program ‘Skin Without Stigma’ bersama Kelompok Studi Dermatologi Sosial Indonesia PERDOSKI.
“Saya ingin ikut membangun pemahaman bahwa penyakit kulit bukan sesuatu yang pantas menjadi bahan ejekan atau alasan untuk memberikan stigma,” tegas wanita yang telah menghasilkan karya tulis sebanyak 5 buku ini.

Tak Perlu Takut untuk Berbeda dalam Kebaikan
Setiap perempuan unik. Teruslah belajar, bertumbuh dan berani mengambil kesempatan untuk mengembangkan diri. Dr. Kiko sendiri percaya bahwa perempuan bisa memiliki banyak peran seksligus. Menjadi istri dan ibu tidak berarti berhenti menjadi diri sendiri, begitu juga berkarier bukan berarti harus meninggalkan keluarga. Wanita hanya perlu menemukan ritme yang sesuai dengan situasi dan fase kehidupannya masing masing.
Menurut dr. Kiko, ketika wanita sudah memiliki kesempatan untuk berkembang, tidak boleh melupakan perempuan lain. “Bagi saya, perempuan berdaya juga berarti mampu bekerja sama, saling menghargai, dan saling mendukung dalam memberikan manfaat terbaik untuk keluarga dan masyarakat. Salah satu motto andalan dr. Kiko adalah ‘It’s okay to have your own pace’. Yang maksudnya adalah tidak apa wanita memiliki fase dan ritme mereka sendiri dalam berdaya dan berkarya dan tidak perlu membandingkan dengan pencapaian orang lain karena setiap wanita memiliki keunikannya masing masing. AP
