Cover Story

Dr. Hetiyasari, SH, M.kn, Bersyukur Dipercaya Mengemban Berbagai Amanah di Dunia Akademik dan Profesi

MajalahKebaya.com, Jakarta – Bagi Hetiyasari ketiga profesinya saling melengkapi dan membuanya terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi perempuan berdaya.

Rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia hukum menjadi titik awal Hetiyasari menjalani karier di bidang hukum. “Sejak kuliah, saya berpikir bahwa hukum bukan hanya soal pasal dan peraturan, tetapi tentang bagaimana kita bisa menghadirkan keadilan di tengah kehidupan masyarakat,” kenang wanita cantik yang akrab disapa Heti ini.

Selepas lulus kuliah, Heti menjalani karier sebagai dosen. Wanita lulusan doktor Ilmu Hukum ini sangat mencintai profesi sebagai dosen. Ia menikmati proses belajar bersama mahasiswa, berdiskusi, dan melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

“Namun, di sisi lain saya juga merasa bahwa seorang akademisi perlu memahami bagaimana hukum benar-benar bekerja di lapangan. Karena itulah saya juga menjalani profesi sebagai lawyer,” ungkap kelahiran Kendari, 14 Februari 1992 ini.

Ilmu hukum yang dimiliki Heti semakin bermanfaat saat ia  dipercaya menjadi mediator non-hakim. Dari sana ia belajar satu hal yang sangat berharga, bahwa tidak semua persoalan harus berakhir dengan menang atau kalah. Ada banyak konflik yang justru selesai ketika semua pihak mau saling mendengarkan.

“Bagi saya, ketiga profesi ini bukan sesuatu yang terpisah. Semuanya saling melengkapi dan membuat saya terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik,” tandas Heti.

Heti menyadari dalam menjalankan tiga profesi di bidang hukum tentu tak mudah. Ia pun pernah berada di titik ragu, lelah, bahkan mempertanyakan apakah ia mampu menjalani semua ini.

“Namun setiap kali bertemu mahasiswa yang bersemangat belajar atau masyarakat yang merasa terbantu, saya kembali diingatkan mengapa ia memilih jalan ini dan kenapa takdir membawa saya di titik ini,” ucapnya haru.

Sejak awal, Heti tidak pernah memiliki target untuk mengumpulkan banyak profesi. Semuanya mengalir sesuai perjalanan hidup dan kesempatan yang datang yang sesuai dengan background dan keahliannya.

“Motivasi saya dalam menjalankan tiga profesi adalah keinginan untuk terus belajar dan terus bermanfaat. Saya percaya, selama kita masih diberi kesempatan untuk berkarya, maka kita juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi orang lain dan bahkan bagi orang banyak,” tutur Heti semangat.

Profesi sebagai dosen membuat Heti bisa berbagi ilmu. Menjadi lawyer membuatnya bisa mendampingi masyarakat yang membutuhkan bantuan hukum. Sementara menjadi mediator mengajarkan Heti bahwa menyelesaikan masalah dengan damai sering kali menjadi kemenangan terbaik bagi semua pihak.

Sebagai seorang dosen, Heti selalu mengatakan kepada mahasiswanya bahwa menjadi sarjana hukum itu bukan hanya soal pintar. Yang jauh lebih penting adalah menjadi pribadi yang jujur, memiliki integritas dan etika moral menjadi hal yang tidak boleh dikesampingkan

“Ilmu bisa dipelajari siapa saja, tetapi karakter harus dibangun setiap hari bahkan setiap saat. Saya juga selalu mengingatkan mereka agar tidak berhenti belajar setelah lulus, karena sejatinya setiap hari dan setiap saat banyak hal berharga yang bisa kita jadikan pelajaran. Dunia hukum terus berubah mengikuti perkembangan masyarakat. Kalau kita berhenti belajar, kita akan tertinggal,” papar Heti.

Profesi sebagai lawyer memperkaya cara pandang Heti dalam menghadapi berbagai persoalan hukum maupun kehidupan. Praktik hukum membuatnya memahami bahwa setiap perkara memiliki cerita yang berbeda.

Di balik sebuah gugatan atau sengketa, selalu ada manusia dengan segala harapan, ketakutan, dan perjuangannya. Pengalaman itu membuat Heti tidak mudah menghakimi seseorang hanya dari apa yang terlihat di permukaan.

“Pengalaman tersebut membuat saya lebih banyak mengajak mahasiswa memahami hukum secara utuh, bukan hanya dari teori, tetapi juga dari sisi kemanusiaannya tentunya,” jelas Heti.

Dalam menjalankan profesi sebagai lawyer maupun mediator non hakim, Heti memperoleh banyak pengalaman saat menangani berbagai kasus. Setiap perkara memberikan pelajaran yang berbeda, tetapi ada satu hal yang selalu membuatnya merasa bersyukur, yaitu ketika proses mediasi berhasil mempertemukan dua pihak yang awalnya sama-sama keras mempertahankan pendapatnya, kemudian akhirnya bisa duduk bersama dan menemukan solusi.

“Saat saya melihat mereka pulang dengan wajah yang jauh lebih tenang selalu menjadi pengingat bagi saya bahwa hukum bukan hanya tentang memenangkan perkara, tetapi juga tentang menghadirkan kedamaian,” tandasnya.

Heti menilai perkembangan profesi hukum di Indonesia di tengah pesatnya teknologi sebagai sesuatu yang harus disambut, bukan ditakuti.

Di era digital seperti sekarang, teknologi bisa membantu banyak pekerjaan. Tetapi keputusan hukum tetap membutuhkan hati nurani, kejujuran, dan tanggung jawab manusia. Saat ini dunia hukum mulai menghadapi berbagai isu baru, mulai dari kecerdasan buatan, perlindungan data pribadi, transaksi digital, hingga kejahatan siber.

“Artinya, praktisi hukum harus terus belajar. Kita tidak bisa lagi hanya menguasai hukum konvensional. Adaptasi menjadi salah satu kunci agar profesi hukum tetap relevan dengan perkembangan zaman,” tandas Heti.

Bagi generasi muda khususnya di bidang hukum perlu memiliki kemampuan berpikir kritis. Begitu juga kemampuan menulis, berbicara, bernegosiasi, dan melakukan riset hukum. “Namun saya selalu mengatakan bahwa keterampilan sehebat apa pun tidak akan berarti tanpa integritas,” tambah istri Taufiqul Hidayat, ST., IPM, Area Manager Jasa Marga.

Heti pun berharap pendidikan hukum di Indonesia semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, etika profesi, dan kepedulian terhadap persoalan sosial.

“Saya juga berharap hukum benar-benar menjadi sarana untuk memberikan rasa keadilan bagi semua orang, bukan hanya menjadi kumpulan aturan yang dibaca di dalam buku,” terang Heti.

Berdaya dengan Jaga integritas di Setiap Langkah

Perencanaan kegiatan menjadi sebuah kebiasaan bagi Heti dalam menjalankan ketiga profesinya. Semua kegiatan  disusun berdasarkan prioritas. Tetapi yang lebih penting adalah hadir secara utuh di setiap peran yang sedang ia jalankan.

“Ketika berada di kampus, saya ingin menjadi dosen yang benar-benar hadir untuk mahasiswa. Ketika sedang menangani perkara, saya ingin memberikan perhatian penuh kepada klien. Menurut saya, keseimbangan bukan berarti membagi waktu sama rata, tetapi memberikan kualitas terbaik pada setiap tanggung jawab,” terang wanita yang hobi berkuda dan golf.

Dalam profesinya, tantangan terbesar Heti adalah menjaga konsistensi. Ketika seseorang menjalankan beberapa peran sekaligus, tantangannya bukan sekadar soal waktu, tetapi bagaimana menjaga kualitas dalam setiap pekerjaan.

“Saya selalu percaya bahwa setiap amanah harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Karena itu saya tidak pernah berhenti belajar dan selalu berusaha memperbaiki diri setiap hari,” ujar Heti.

Heti bersyukur dipercaya mengemban berbagai amanah, baik di dunia akademik maupun profesi. “Namun kalau boleh jujur, yang paling membuat saya bahagia bukanlah gelar ataupun jabatan. Kebahagiaan terbesar adalah ketika melihat mahasiswa yang dulu saya bimbing kini berhasil menjadi profesional di bidangnya. Atau ketika masyarakat yang saya dampingi akhirnya memperoleh solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Bagi saya, itulah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya,”

Heti selalu percaya bahwa ilmu akan membuka banyak pintu, kerja keras akan membawa kita lebih jauh, dan kerendahan hati akan membuat kita tetap dihormati. Heti juga percaya setiap perempuan memiliki potensi yang luar biasa. Berdaya bukan berarti harus menjadi sempurna atau mampu melakukan semuanya sendiri. Bagi Heti, berdaya adalah ketika kita terus belajar, terus berkembang, dan tidak takut mengambil kesempatan. Lalu ketika kita sudah bertumbuh, jangan lupa mengajak perempuan lain untuk ikut maju karena keberhasilan akan terasa lebih bermakna ketika bisa dirasakan bersama.

“Karena pada akhirnya, perempuan yang benar-benar berdaya bukan hanya berhasil membangun dirinya sendiri, tetapi juga mampu menjadi alasan bagi orang lain untuk ikut bangkit dan berkembang,” tegasnya.

Heti berpesan kepada seluruh perempuan Indonesia, jangan pernah meremehkan kemampuan diri sendiri. Jangan takut bermimpi besar hanya karena jalan yang harus ditempuh terasa panjang.

“Teruslah belajar, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan jagalah integritas dalam setiap langkah,” harap Heti. EK

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top