Cover Story

Fenny Eka Widokarti, SH, MH, Memberdayakan Perempuan di Bisnis Kecantikan dengan Menjaga Integritas

MajalahKebaya.com, Jakarta – Sebagai womanpreneur,  Fenny Eka Widowati ingin menciptakan ruang di mana perempuan bisa bekerja, belajar, punya penghasilan sendiri, berkembang, dan merasa bahwa dirinya punya value. Bisnis di dunia kecantikan bagi Fenny mempunyai potensi sangat besar untuk menjadi ruang pemberdayaan perempuan.

Keberanian Fenny Eka Widokarti dalam menentukan pilihan untuk menapaki perjalanan sebagai entrepreneur tak lepas dari passion di dunia kecantikan. Wanita cantik kelahiran Jakarta, 8 April 1990 ini, menyadari bahwa untuk menjadi entreprenur di bisnis kecantikan tak mudah, apalagi ia merupakan lulusan S2 Magister Ilmu Hukum.

“Saya justru datang dari dunia yang cukup berbeda, yaitu hukum dengan menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Hukum. Tapi semakin saya menjalani prosesnya, saya mulai menyadari bahwa saya punya sisi lain yang ingin saya kembangkan. Saya memang suka dunia beauty, suka berinteraksi dengan orang, dan saya juga punya keinginan untuk membangun sesuatu yang benar-benar saya miliki dan bisa saya kembangkan sendiri,” ujar Fenny.

Bagi Fenny, menjadi womanpreneur adalah tentang memiliki keberanian untuk menentukan arah hidup sendiri. Tidak harus menunggu semuanya sempurna atau menunggu seseorang memberikan kesempatan. “Akhirnya saya memberanikan diri memulai bisnis dari sesuatu yang saya sukai, yaitu khusus beauty  EYELASH, BROW, NAILS & HAIR. Dari situ saya belajar bahwa menjadi entrepreneur bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga tentang bagaimana kita menciptakan sesuatu, mengambil keputusan sendiri, bertanggung jawab atas pilihan kita, dan terus berkembang,” paparnya.

Latar belakang Magister Ilmu Hukum justru banyak membantu Fenny saat ia masuk ke dunia bisnis. Hukum mengajarkannya berpikir kritis, teliti, memahami risiko, dan yang paling penting adalah bertanggung jawab terhadap setiap keputusan. Sementara dunia beauty memberikan ruang yang berbeda. Di sana ia merasa bisa lebih kreatif, lebih dekat dengan orang, dan bisa melihat secara langsung bagaimana sesuatu yang kita bangun bisa memberikan value kepada orang lain.

“Saya rasa manusia tidak harus hanya punya satu identitas. Saya bisa menjadi seseorang yang punya background hukum sekaligus membangun bisnis di segmen beauty. Dua dunia itu justru saling melengkapi,” tandasnya penuh senyum.

Salah satu alasan Fenny bertahan di dunia entrepreneurship adalah ia menyukai proses membangun sesuatu dari nol. Baginya, ada kepuasan tersendiri ketika melihat sesuatu yang awalnya hanya ide kecil, perlahan bisa menjadi sebuah usaha yang punya pelanggan, punya tim dan bisa membuka kesempatan untuk orang lain.

“Saya mulai merasa bisnis adalah ruang yang tepat ketika saya menyadari bahwa saya bukan hanya ingin bekerja untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi ingin menciptakan sesuatu. Dalam bisnis, saya dituntut untuk belajar banyak hal sekaligus bagaimana memahami customer, mengelola tim, membuat keputusan, menghadapi masalah, mengatur keuangan, membangun image trust customer, sampai belajar tentang diri saya sendiri. Dan semakin lama saya menjalani, semakin saya merasa bahwa entrepreneurship membuat saya terus keluar dari comfort zone. Saya juga menikmati proses ketika sebuah keputusan yang saya ambil bisa memberikan dampak, bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang bekerja bersama saya,” ungkapnya bijak.

Sebagai entrepreneur, tentu setiap pebisnis pernah mengalami fase penuh keraguan dan menghadapi tantangan berat, begitu pun Fenny. Ia menyadari hampir tidak ada entrepreneur yang perjalanannya selalu yakin dan mulus. Ada masa ketika ia mempertanyakan diri sendiri, apakah keputusannya benar, apakah bisnis ini bisa bertahan, apakah ia mampu mengelolanya dengan baik.

“Apalagi ketika kita membangun sesuatu sendiri, setiap masalah terasa sangat personal. Tapi saya belajar satu hal: ragu bukan berarti harus berhenti. Kadang kita memang boleh takut, boleh merasa capek, bahkan boleh merasa tidak tahu harus bagaimana. Yang penting jangan berhenti belajar dan jangan terlalu lama meragukan kemampuan diri sendiri,” tegas ibu dari Franklin Klein Rullyandi (10 tahun) dan  Farssen Khein Rullyandi (3 tahun) ini.

Fenny juga belajar untuk tidak membandingkan perjalanan bisnisnya dengan orang lain. Setiap bisnis punya waktunya masing-masing. Ia pun lebih memilih fokus memperbaiki apa yang bisa diperbaiki hari ini daripada terlalu sibuk melihat seberapa jauh orang lain sudah berjalan.

Makna Perempuan Berdaya

Dari perjalanan menapaki dunia entrepreneur, Fenny menilai bahwa perempuan berdaya bukan berarti perempuan yang harus selalu kuat atau harus melakukan semuanya sendirian. Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang punya pilihan. Punya keberanian untuk menentukan hidupnya sendiri, punya kemampuan untuk berdiri dengan kakinya sendiri, dan tidak takut untuk mengejar apa yang dia inginkan. Ia percaya pada pemberdayaan perempuan karena ia melihat sendiri bahwa ketika seorang perempuan diberikan kesempatan, ruang untuk belajar, dan kepercayaan terhadap dirinya, dia bisa berkembang jauh lebih besar dari yang dia bayangkan.

“Saya ingin bisnis yang saya bangun juga punya nilai seperti itu. Bukan hanya tentang beauty, tetapi juga tentang menciptakan ruang di mana perempuan bisa bekerja, belajar, punya penghasilan sendiri, berkembang, dan merasa bahwa dirinya punya value. Karena menurut saya, perempuan tidak harus menunggu diselamatkan untuk bisa punya kehidupan yang dia inginkan. Kita bisa membangun kehidupan itu sendiri, pelan-pelan, dengan kemampuan yang kita punya,” tuturnya semangat.

Fenny melihat bisnis di segmen beauty mempunyai potensi yang sangat besar untuk menjadi ruang pemberdayaan perempuan karena bisnis ini memang sangat dekat dengan perempuan. Bukan hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai pelaku usaha, tenaga profesional, maupun kreator.

Menurutnya, ketika kita membangun bisnis beauty, sebenarnya kita bisa menciptakan lebih banyak kesempatan untuk perempuan lain. Mulai dari membuka lapangan pekerjaan, memberikan kesempatan untuk belajar skill baru, sampai membantu mereka memiliki penghasilan dan kemandirian secara finansial.

“Bagi saya, pemberdayaan itu bukan hanya sekadar memberikan pekerjaan. Yang lebih penting adalah memberikan kesempatan untuk berkembang. Saya ingin orang-orang yang bekerja bersama saya merasa bahwa mereka bukan hanya datang untuk bekerja, tetapi juga punya ruang untuk belajar, punya target, punya kemampuan yang bisa dikembangkan, dan suatu hari mungkin bisa membangun sesuatu milik mereka sendiri,” harapnya.

Fenny percaya jika satu perempuan diberdayakan, dampaknya luar biasa besar terhadap banyak orang di sekitarnya. Karena perempuan yang mandiri biasanya juga akan punya keberanian untuk membantu dan membuka jalan bagi perempuan lain.

Sebagai seorang womanpreneur, Fenny sangat menjaga integritas dan rasa menghargai orang lain dalam memimpin dan mengembangkan bisnisnya. Baginya, membangun bisnis bukan hanya tentang bagaimana kita mendapatkan customer atau mencapai angka tertentu, tetapi bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang ikut membangun bisnis tersebut bersama kita.

Fenny berharap bisnisnya tumbuh dengan cara yang sehat. Ia pun berusaha tegas ketika memang harus tegas, tetapi tetap menghargai orang lain. Baginya, menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu berada di atas, tetapi bagaimana kita bisa membawa orang-orang di sekitar kita untuk ikut tumbuh.

“Saya juga sangat menghargai proses. Tidak semua orang punya kecepatan yang sama dalam belajar atau berkembang. Jadi saya lebih suka memberikan kesempatan, mengarahkan, dan membantu mereka menemukan kemampuan mereka sendiri. Pada akhirnya, keberhasilan sebuah bisnis bukan hanya ketika owner -nya berhasil, tetapi ketika orang-orang yang ada di dalamnya juga ikut merasa berkembang,” terang Fenny yang hobi olahraga, traveling, foto dan menyanyi.


Fenny menilai ada perbedaan antara womanpreneur yang sekadar memiliki bisnis dengan womanpreneur yang benar-benar mampu memberdayakan orang lain melalui bisnisnya. Perbedaan tersebut terletak pada dampak yang ingin diciptakan. Memiliki bisnis tentu sudah merupakan sebuah pencapaian. Tetapi ketika bisnis tersebut mulai memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berkembang, menurutnya di situlah makna entrepreneurship menjadi lebih besar.

“Seorang perempuan yang memberdayakan tidak hanya berpikir, “Bagaimana bisnis saya bisa besar?” tetapi juga mulai berpikir, “Siapa saja yang bisa tumbuh bersama saya?” Dia tidak takut berbagi ilmu, tidak takut memberikan kesempatan, dan tidak merasa bahwa keberhasilan perempuan lain akan mengurangi keberhasilannya sendiri. Justru saya percaya, semakin banyak perempuan yang mandiri dan berhasil, semakin besar juga dampak positif yang bisa kita ciptakan,” paparnya.

Bagi Fenny pribadi, ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa besar bisnis yang dimiliki, tetapi juga berapa banyak orang yang bisa ikut tumbuh karena adanya bisnis tersebut. “Kalau suatu hari ada perempuan yang pernah bekerja bersama saya kemudian berani membuka usaha sendiri, punya penghasilan sendiri, lebih percaya diri, dan bisa membantu keluarganya dari hasil kerja kerasnya sendiri, buat saya itu juga merupakan bentuk keberhasilan,” pungkasnya bangga. EK

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top