MajalahKebaya.com, Jakarta – Keinginan untuk terus memotivasi perempuan Indonesia, terutama mereka yang menjadi korban kekerasan mental, mendorong dr. Dorra Jaw’waz untuk memiliki klinik estetika dengan layanan konseling tentang kesehatan mental secara cuma-cuma bagi mereka yang membutuhkan. Seperti apa kiprahnya?
Issue nyata ‘kekerasan’ terutama terhadap perempuan Indonesia dewasa ini semakin ramai diperbincangkan. Bentuk kekerasan yang jarang dipahami ternyata bukan hanya perlakuan yang menyakiti fisik/tubuh, namun dapat juga berupa kekerasan verbal yang merendahkan seperti bullying, hingga mempermainkan pola pikir yang membuat korban meragukan ingatannya sendiri terhadap hal apa yang memang dialaminya. Selain itu, ‘kekerasan finansial’ merupakan hal paling krusial yang dapat membuat para perempuan tidak berani mengambil langkah untuk menyelamatkan dirinya sendiri, bahkan untuk sekadar sharing.
Pengalaman hidup sebagai seorang ‘penyintas kekerasan mental’ selama belasan tahunlah yang membuat seorang dr. Dorra Jaw’waz terpikir untuk memberikan edukasi dan motivasi terhadap para perempuan Indonesia terutama mereka yang juga menyadari dan membutuhkan pertolongan terhadap berbagai ‘kekerasan’ di dalam kehidupannya.

Perempuan yang pernah berkarier dalam struktur manajemen Rumah Sakit di daerah Jakarta Timur, yang pada saat itu bernama RSIA Bunda Aliyah sejak sebelum tahun 2013 sebagai Kepala IGD, Medic One 911 Indonesia (dokter emergency yang berpraktik di gedung BNI, Wisma 46 Jakarta) dan juga pernah berdedikasi dalam gabungan tim dokter di PMI DKI Jakarta ini, memutuskan untuk kembali berkarier setelah lebih dari 10 tahun vakum dari dunia kesehatan karena totalitas menjadi ibu rumah tangga.
Seorang ibu tunggal dari Ammar Hafidz (16 tahun), Alya Tamima (15 tahun), dan Aisyah Kamilah (10 tahun), yang akhirnya kembali menemukan jalannya berkiprah didunia kesehatan selama 7 tahun terakhir sebagai dokter aesthetic dan juga sebagai motivator khusus dibidang ‘kesehatan mental’.
Dr. Dorra Jaw’waz yang lebih familiar dengan panggilan Kak Dorra, atau Um’ma ini, akhirnya berani menggambil langkah, untuk bertahan dan melanjutkan hidup setelah menemukan jati dirinya kembali.
Berkaca dari pengalaman hidupnya, Kak Dorra tidak hanya memberikan solusi kecantikan untuk para klien yg melakukan treatment di klinik aesthetic tempatnya bekerja, namun lebih ke ‘pendekatan yang mendalam dari hati ke hati’ terhadap apa yang memotivasi kliennya untuk terus merasa jauh lebih cantik, dan selalu merasa ‘tidak pernah cukup’.
“Pada dasarnya banyak klien yang curhat, mengenai masalah pribadi mereka,, mulai dari masalah dengan pasangannya, problematika rumah tangga, orang tua, keluarga, sampai ke lingkungan dan teman kuliah atau rekan kantor yang toxic. Awalnya hal itu mengalir begitu saja, menjadi pendengar yang baik, ternyata nasihat yang saya berikan, mulai mengubah pola pikir klien tentang dirinya sendiri dan langkah apa yang mereka ambil untuk melindungi dirinya. Jadi selain memberikan arahan treatment agar mereka menjadi lebih cantik, saya pun memberikan motivasi dan solusi berdasarkan pengalaman hidup saya sendiri,” ujar Kak Dorra.

Bagi lulusan S1 Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta ini, setiap perempuan Indonesia berhak untuk hidup bahagia dalam rasa aman, dihargai, dan diperlakukan layaknya seorang ‘Perempuan’.
“Sampai saat ini, masih banyak perempuan yang merasa ‘tabu’ terutama untuk sharing masalah rumah tangga dan meminta pertolongan atau bahkan sekedar nasihat. Sesi sharing dan motivasi yang selama ini saya lakukan, bukan hanya menemani atau mendengarkan keluh kesahnya, namun agar mereka kembali mengenali siapa diri mereka, luka apa yang mereka bawa selama ini, sudah pulihkah mereka, hingga pada akhirnya, mereka dapat melindungi dirinya sendiri. Selama sesi sharing, biasanya kami saling menguatkan untuk terus melangkah,” tegas Kak Dorra.
Langkah mulia yang dilakukan Kak Dorra memberikan solusi kliennya dalam beberapa tahun terakhir ini, membuat terbentuknya komunitas ibu rumah tangga di beberapa kompleks perumahan daerah Malang Jawa Timur, bahkan beberapa kali diundang untuk menjadi motivator dan narasumber tentang ‘kekerasan mental’ pada perempuan Indonesia.
Konsultasi biasanya di ruang praktik klinik aesthetic namun juga dapat melalui bincang santai dengan kontak WhatsApp di +6287881299978 atau DM melalui Instagram dorra_emil_jawwaz.
Banyaknya klien di klinik aesthetic yang merasa ‘tidak pernah cukup’ dan selalu berusaha untuk menjadi lebih cantik lagi. Ternyata sebagian besar akar masalahnya adalah ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri. Ada luka perempuan yang belum selesai di situ, ada keinginan untuk terus dapat diterima, upaya mempertahankan hubungan, entah itu rumah tangga, di dalam sebuah komunitas pertemanan, lingkungan kerja atau bahkan pada masyarakat luas.
Didalam hubungan pribadi, jelas ada ketakutan akan ditinggalkan dengan segala konsekuensinya dan pemikiran yang menuntut diri untuk terus menjadi jauh lebih cantik. Namun menjadi tidak logis, ketika treatment aesthetic menjadi candu dengan tolok ukur yang melenceng jauh dari hakikat ‘cantik’ itu sendiri.
Biasanya para perempuan yang membawa sifat ‘giver’ akan terus berusaha memberikan yang terbaik, tak jarang ada yang sampai mengorbankan dirinya sendiri untuk terus bertahan dalam suatu kondisi yang sejatinya sudah tidak dapat dipertahankan.
Dalam interaksi dengan hubungan yang ‘toxic’ tentunya para perempuan dengan sifat ‘giver’ akan menjadi magnet kuat bagi mereka yang memiliki sifat ‘taker’, yaitu mereka yang selalu mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri, tidak peduli seberapa menyakitkan itu bagi orang lain. Dan hubungan inilah yang dikenal dengan ‘destruktif’ atau hubungan yang diam-diam saling mengancurkan.
Sejatinya baik mereka dengan sifat giver maupun taker, masing-masing membawa luka yang belum selesai dalam hidupnya,,yang membuat sifat bawaan itu seolah adalah karakter dalam diri mereka.

Mayoritas perempuan Indonesia lebih memilih diam dan menerima kondisi kekacauan di dalam hubungan toxic, terutama mereka dengan sifat bawaan giver, tentunya hal ini akan berdampak luas apabila kita berbicara tentang hubungan rumah tangga. Dengan menerima dan menganggap jodoh itu adalah takdir, bukan berarti kita membiarkan diri sendiri terus menerus menerima luka yang akhirnya menghancurkan diri sendiri, dan anak-anak.
“Yang jelas takdir dapat diubah dengan berusaha. Kalau perempuan Indonesia tidak mengenali dirinya sendiri dan luka apa yang telah membentuk karakter mereka saat ini, lantas bagaimana perempuan Indonesia bisa merasa bahagia dengan merdeka? Jadi jangan harap mampu membahagiakan pasangan apalagi anak-anak kalau diri kita sendiri belum sembuh dari luka,” tegas Kak Dorra.
Edukasi dan motivasi yang diberikan Kak Dorra kepada kliennya, tergantung pilihan para perempuan yang mengalami kekerasan mental. Apabila mereka memilih untuk terus bertahan di dalam lingkungan toxic maka nasehat dan motivasi akan diberikan berikut saran untuk mengenali dan mengobati luka yang telah membentuk karakter mereka saat ini, sehingga hubungan interaksi dapat dipertahankan tanpa harus terus mengorbankan diri sendiri.
Atau memberikan arahan langkah apa yang sebaiknya diambil apabila klien memilih untuk mengakhiri interaksi dalam lingkungan yang toxic itu, berikut konsekuensinya baik untuk diri mereka sendiri, pasangan maupun lingkungan keluarga besarnya, sehingga apabila terjadi perpisahan tidak ada pihak yang masih merasa dirugikan.
Ciri khas Kak Dorra dengan mottonya yaitu, ‘Kenali, Lawan, dan Bangkit!,’ yang mana ‘Kenali’ memiliki arti, bahwa perempuan Indonesia wajib mengenali dirinya sendiri dan juga mengenali siapa saja orang-orang toxic yang sebaiknya ‘dihindari, dengan membuat batasan tegas di sekitar mereka. ‘Lawan’ dalam artian melawan perlakuan orang-orang toxic yang selama ini menghancurkan jati diri mereka, dengan cara melawan ketakutan dalam diri sendiri, yang selama ini selalu menghalangi mereka untuk mengambil sikap. kemudian barulah perempuan ‘Bangkit’ untuk menata dirinya kembali.
Ke depan insyaallah dalam waktu dekat, Kak Dorra dan adiknya akan membuka klinik aesthetic di kawasan DKI Jakarta. “Treatment aesthetic yang ditawarkan beragam, dan tentunya ada sesi sharing tentang kesehatan mental bagi perempuan Indonesia yang membutuhkan bantuan secara cuma-cuma, dan ini nantinya akan menjadi keunggulan klinik kami, yang belum pernah ada di klinik aesthetic lain,” ucapnya.

Makna Perempuan Merdeka
We time menjadi momen berharga bagi Kak Dorra untuk menyalurkan hobi menyanyi dan liburan atau sekadar jalan-jalan dengan ‘deep talk’ bersama tiga buah hatinya, di sela padatnya kesibukan sebagai dokter aesthetic, praktisi medis, motivator, yang juga seorang single parent.
“Perempuan yang merdeka, menurut saya adalah perempuan yang sudah mengenali dirinya sendiri, memiliki jalan pemikiran sendiri dalam menentukan setiap langkah dalam hidupnya, bukan atas kemauan apalagi intimidasi orang lain!. Perempuan tidak bisa bangkit, kalau belum mampu memeluk luka-lukanya sendiri. Jadi kenali dulu siapa dirimu, dengan itu kamu akan mudah mengatur langkah dan arah kehidupanmu,” tutur Kak Dorra, yang sangat terinspirasi dengan sosok almarhum ayahnya, Papa Em Jaw’waz. EK
