MajalahKebaya.com, Jakarta – Di tengah perjalanan hidup yang penuh jatuh bangun, Wulandari Harmadi memiliki satu keinginan yang semakin kuat, yakni menguatkan dan menginspirasi sesama perempuan agar tidak takut untuk bangkit dan menata kembali kehidupan. Terlebih bagi para perempuan yang harus menjalani peran sebagai single parent, ia ingin menunjukkan bahwa berakhirnya sebuah rumah tangga bukan berarti berakhir pula masa depan. Selalu ada kesempatan untuk belajar, bekerja, berkarya dan membangun kehidupan yang lebih baik. Pengalamannya melewati berbagai fase kehidupan, dari karier di perbankan, dunia usaha, pertambangan hingga menghadapi kerugian besar, menjadi bekalnya untuk menyampaikan satu pesan, bahwasanya tidak ada kata terlambat bagi perempuan untuk kembali berdaya.
Dari sudut pandang Wulandari Harmadi, menjadi perempuan kuat bukan berarti tidak pernah menangis, tidak pernah merasa sedih atau selalu mampu menghadapi segala sesuatu seorang diri. Kekuatan justru lahir ketika seseorang berani menerima kenyataan, belajar dari keadaan dan perlahan kembali berdiri.
Ia memahami betul proses tersebut karena pernah mengalaminya sendiri. Di tahun 2022, kehidupan pribadi sosok yang akrab disapa Wulan ini, mengalami perubahan besar. Rumah tangganya berakhir dan ia kemudian memilih kembali ke kampung halamannya, Bandar Lampung untuk memulai lembaran kehidupan yang baru.
Bagi sebagian orang, perubahan tersebut mungkin terasa seperti kehilangan arah. Namun, Wulan memilih melihatnya sebagai kesempatan untuk kembali menemukan dirinya. Alih-alih larut dalam kesedihan, ia mulai menata kembali kehidupan, memperluas pergaulan, melihat berbagai peluang dan kembali membangun kemandirian melalui dunia usaha.
Pengalaman itu pula yang membuat kepeduliannya terhadap perempuan lain semakin kuat. Ia ingin perempuan, terutama mereka yang harus menjalani kehidupan sebagai single parent, tidak merasa dirinya lebih rendah atau kehilangan masa depan hanya karena status tersebut.
Menurut Wulan, kehidupan memang tidak selalu memberikan pilihan yang mudah. Namun, selalu ada pilihan untuk menentukan bagaimana seseorang akan menjalani keadaan tersebut. “Jangan pernah merendahkan diri hanya karena ingin bergantung pada orang lain. Kalau kita mau belajar dan bekerja keras, kenapa tidak menjadi perempuan yang kuat dengan kemampuan kita sendiri?” tegasnya.
Kekuatan Diri. Lebih lanjut dikatakan Wulan, mandiri bukan berarti harus menolak bantuan atau merasa tidak membutuhkan orang lain. Mandiri berarti memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu mengambil keputusan dan berusaha membangun kehidupan yang lebih baik.
Pandangan tersebut lahir dari pengalaman panjang yang tidak selalu berjalan mulus.
Sebelum memasuki dunia bisnis, Wulan lebih dahulu membangun karier di sektor perbankan. Perempuan kelahiran Tanjung Karang, 3 Juli 1979, itu mengawali perjalanan profesional dari posisi Marketing hingga dipercaya menduduki jabatan Head Officer.
Dunia perbankan memberinya banyak pelajaran tentang profesionalisme, pelayanan, komunikasi dan bagaimana membangun kepercayaan. Namun, pada 2015, ia memutuskan meninggalkan karier atas permintaan sang suami.
Meski tidak lagi bekerja di kantor, Wulan tidak pernah benar-benar berhenti berkegiatan. Ia aktif mengikuti komunitas, kajian dan berbagai forum perempuan pengusaha. Dari sanalah ia mulai menemukan banyak kesempatan baru. Ia mencoba berbagai usaha, mulai dari fashion, kuliner, perdagangan hingga usaha skala UMKM.
“Setiap pengalaman adalah proses belajar. Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil untuk dijalani selama memberikan pengetahuan dan pengalaman baru. Prinsip ini menjadi kekuatan diri saya untuk memasuki dunia yang jauh lebih menantang,” tuturnya.

Teguh Kemauan. Pengalaman mendampingi mantan suami yang berkecimpung di industri batu bara membuat Wulan memiliki gambaran tentang dunia pertambangan. Ketika kesempatan datang, ia pun memberanikan diri masuk ke sektor tersebut. Sebuah dunia yang selama ini identik dengan kaum laki-laki.
Ia mulai terlibat dalam aktivitas pertambangan rakyat, menangani administrasi dan dokumen, penjualan batu bara untuk kebutuhan industri maupun ekspor, hingga bisnis perkapalan tongkang dan berbagai aktivitas pendukung pertambangan.
Tidak ada bekal khusus yang membuatnya menguasai bidang tersebut secara instan.
Namun, ia menggeluti sambil terus belajar. Turun langsung ke lapangan, bertanya kepada orang-orang yang lebih berpengalaman, memahami proses kerja dan tidak malu mengakui ketika ada hal yang belum diketahuinya. Baginya, kemampuan bukan sesuatu yang selalu dimiliki sejak awal. Kemampuan dibentuk oleh kemauan.
“Mampu karena mau. Kalau kita punya kemauan, kita pasti mau belajar. Kalau sudah belajar, kita tahu bagaimana bekerja dengan benar. Setelah itu tinggal menjaga kejujuran dan bertanggung jawab,” tuturnya.
Membuktikan Lewat Kerja. Menjadi perempuan di dunia pertambangan dan konstruksi tentu memiliki tantangan tersendiri. Di lapangan, Wulan kerap berada di antara pekerja laki-laki. Tak jarang muncul pandangan yang meragukan kemampuannya. Namun, ia tidak memilih untuk melawan pandangan tersebut dengan kata-kata. Wulan memilih membuktikan dirinya melalui pekerjaan.
“Kalau mereka menganggap saya hanya perempuan, ya tidak apa-apa. Tugas saya adalah menunjukkan bahwa perempuan juga mampu bekerja sama baiknya, bahkan bisa memberikan hasil yang lebih baik,” ujarnya.
Ia pun tidak ingin menjadi pemimpin yang hanya memberi instruksi dari balik meja.
Wulan senang turun langsung ke lapangan, berdiskusi dengan pekerja dan memahami persoalan yang mereka hadapi. Baginya, rasa hormat tidak diberikan berdasarkan gender, melainkan melalui kompetensi, integritas dan tanggung jawab.
Karakter tersebut pula yang membuatnya mudah berpindah dari satu bidang usaha ke bidang lainnya. Ia tidak takut memulai sesuatu yang baru selama melihat peluang dan bersedia mempelajarinya. Kini, setelah melewati berbagai bidang usaha, Wulan mulai lebih fokus mengembangkan diri di dunia properti.
Ia kembali menemukan semangat yang sama: belajar, mencoba dan berkembang.
Berdiri Usai Terjatuh. Perjalanan bisnis Wulan tentu tidak selalu menghasilkan keberhasilan. Salah satu ujian terberat datang ketika harga batu bara mengalami penurunan drastis pada 2022 hingga 2023. Saat itu, ia telah menanamkan modal besar untuk membeli stok batu bara. Ketika harga turun, stok tersebut harus dijual jauh di bawah harga pembelian.
Kerugian yang dialami tidak sedikit. Modal yang dikumpulkan dengan susah payah nyaris habis.
Bagi Wulan, pengalaman tersebut menjadi pelajaran besar tentang risiko dalam dunia bisnis. Namun, ia tidak membiarkan kegagalan menghentikan langkahnya. Ia memilih mengevaluasi keadaan, memperluas jaringan dan mencari peluang baru. “Kalau gagal, jangan berhenti. Kita evaluasi, belajar lagi dan mencari peluang yang lain. Setiap kegagalan pasti memberikan pengalaman,” katanya.
Dari sana, Wulan semakin memahami bahwa keberhasilan tidak selalu ditandai dengan seberapa tinggi seseorang mampu mencapai sesuatu, tetapi juga seberapa kuat ia mampu kembali berdiri setelah terjatuh.
Merangkul dan Menghargai. Pengalaman hidup juga membentuk cara Wulan memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Di balik ketegasan sebagai seorang pemimpin, ia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Baginya, seseorang tidak boleh dinilai hanya berdasarkan jabatan, pekerjaan atau latar belakang sosial. Ia tidak canggung duduk bersama para pekerja, tukang bangunan maupun buruh pelabuhan untuk makan bersama.
Menurutnya, kebersamaan sederhana dapat menciptakan hubungan yang jauh lebih kuat.
“Rezeki setiap orang memang berbeda, tetapi saya tidak pernah membeda-bedakan orang. Buat saya, ketika kita menghargai orang lain, mereka juga akan menghargai kita,” ujarnya.
Mendidik Anak dengan Kemandirian
Dalam memimpin, Wulan selalu berusaha memegang tiga prinsip, yakni kemauan untuk belajar, kejujuran dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut pula yang ingin ia tanamkan kepada anak-anaknya.
Sebagai ibu dari empat putra, Wulan menyadari bahwa perjuangan terbesarnya bukan hanya membangun kehidupan untuk dirinya sendiri, tetapi juga mempersiapkan anak-anak agar mampu menghadapi kehidupan. Ia tidak ingin hanya memberikan anak-anaknya kenyamanan dan materi. Menurutnya, anak juga harus memiliki mental yang kuat, memahami arti tanggung jawab dan mengetahui bagaimana mendapatkan sesuatu melalui usaha.
Karena itu, ketika dua putranya memasuki bangku kuliah, Wulan mendorong mereka untuk bekerja paruh waktu. Bukan karena kebutuhan ekonomi, melainkan agar mereka memahami kedisiplinan, menghargai proses dan merasakan kepuasan ketika memperoleh sesuatu dari hasil usaha sendiri.
“Saya ingin mereka belajar. Kalau awalnya bekerja dengan orang lain, tidak apa-apa. Dari sana mereka belajar disiplin dan bagaimana mengatur waktu. Tetapi jangan sampai mereka berpikir bahwa bekerja hanya berarti menjadi pegawai,” jelasnya.
Wulan ingin anak-anaknya memiliki pilihan yang lebih luas. Bekerja sebagai profesional boleh. Berkarier di pemerintahan juga tidak masalah. Namun, mereka juga perlu mengetahui bahwa menciptakan lapangan pekerjaan adalah sebuah pilihan yang dapat dipertimbangkan.
Karena itulah Wulan mulai menanamkan jiwa entrepreneur kepada putra-putranya sejak dini.
Salah satu anaknya yang memiliki ketertarikan pada dunia otomotif bahkan diarahkan untuk mengubah hobinya menjadi peluang. Wulan mendukungnya membeli motor, memodifikasinya, kemudian mencoba menjualnya kembali. Bukan keuntungan yang menjadi tujuan utama, ia ingin anaknya belajar melihat peluang dan berani mencoba.
Kini, Wulan mulai memiliki rencana untuk membangun usaha yang nantinya dapat dikelola anak-anaknya. Salah satu gagasannya adalah membuat kafe atau usaha lain yang sesuai dengan minat mereka.
Ia bersedia menyediakan dukungan dan fasilitas, tetapi anak-anak tetap harus belajar mengelola sendiri. “Saya ingin mereka yang mengelola. Mama bisa menyediakan tempat, tetapi mereka yang mencari, memikirkan konsep dan mengembangkannya,” tutur perempuan berhijab ini.
Baginya, itulah bentuk pemberdayaan yang paling dekat dengan perannya sebagai seorang ibu. Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar, mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap pilihannya. Wulan ingin apa yang dibangunnya tidak berhenti pada dirinya. Ia ingin pengalaman, nilai dan kesempatan yang dimilikinya dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Merdeka untuk Berkarya
Meski menjalani bisnis yang didominasi kaum adam, Wulan tidak mengartikan kemerdekaan perempuan berarti bersaing dengan laki-laki. Kemerdekaan adalah ketika perempuan memiliki ruang untuk berkembang, menentukan pilihan dan mengekspresikan dirinya melalui karya.
“Perempuan yang merdeka itu perempuan yang bebas berkreasi, bebas beraspirasi, bebas menentukan apa yang diinginkan, apa yang menjadi motivasi untuk ke depannya dan bebas berekspresi. Karena berekspresi itu berarti berkarya,” ungkapnya.
Namun, Wulan berharap kebebasan tersebut tidak berhenti pada kepentingan pribadi.
Karya yang lahir dari seorang perempuan, menurutnya, akan semakin berarti ketika mampu memberikan manfaat kepada orang lain. “Kalau bisa, bisa memberi manfaat untuk orang banyak,” tambahnya.
Karena itu, ia ingin perempuan tidak takut untuk memulai. Tidak perlu menunggu kondisi sempurna. Tidak harus dimulai di usia muda. Dan tidak perlu menunggu seseorang datang untuk memberikan kesempatan. Jika ada kemauan untuk belajar, selalu ada jalan untuk berkembang.

Perempuan Harus Punya Value
Bagi Wulan, keberdayaan perempuan juga dimulai dari cara seorang perempuan memandang dan menghargai dirinya sendiri. Terutama bagi perempuan yang masih sendiri, ia mengingatkan agar tidak menjadikan kehadiran pasangan sebagai satu-satunya tujuan dalam hidup.
Menurutnya, sebelum sibuk mengejar cinta atau mencari pasangan, perempuan sebaiknya terlebih dahulu fokus membangun kualitas diri. “Untuk sesama perempuan, terutama yang masih single, jangan mengejar laki-laki lebih dulu. Laki-laki tidak jatuh cinta tanpa alasan. Mereka tertarik pada kualitas yang ada dalam diri kita,” ujarnya.
Ketertarikan, menurut Wulan, tidak semata-mata lahir dari penampilan fisik. Cara seorang perempuan membawa diri, kepribadian, cara berbicara, pola pikir, sikap, hingga ketenangan yang dimilikinya juga menjadi bagian dari kualitas diri yang memiliki nilai. Karena itu, Wulan mengajak perempuan untuk terus meng-upgrade diri. Bukan hanya memperhatikan penampilan, tetapi yang lebih utama adalah membangun value. “Fokuslah meng-upgrade diri menjadi lebih berkualitas. Bukan hanya penampilan, tetapi yang utama adalah value diri,” tegasnya.
Bagi Wulan, perempuan yang memiliki kemampuan, karakter, dan mampu berkarya akan lebih dihargai. Kemandirian juga membuat seorang perempuan tidak menjadikan orang lain sebagai satu-satunya sandaran untuk memenuhi keinginan dan gaya hidup. Ia menilai kecantikan fisik dapat berubah dan pada akhirnya bisa tergantikan. Namun, karakter adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar dan menjadi kekuatan yang membedakan seseorang. “Jadilah wanita yang berkarakter. Kalau hanya fisik, fisik bisa tergantikan, tetapi karakter tidak,” katanya.
Wulan juga meyakini bahwa perempuan berhak memiliki standar dalam memilih pasangan hidup. Menurutnya, kemandirian dan kemampuan menghargai diri sendiri akan membuat perempuan lebih memahami kualitas seperti apa yang dibutuhkan dari seseorang yang kelak akan mendampinginya.
Sebab, menjadi perempuan berdaya bukan berarti menutup diri dari cinta atau tidak membutuhkan pasangan. Justru dengan mengenal dan membangun kualitas diri, seorang perempuan dapat menentukan pilihannya dengan lebih sadar.
Berbagi Tidak Harus Menunggu Kaya
Semangat memberdayakan sesama juga telah lama diwujudkan Wulan melalui kegiatan sosial. Ia aktif mengikuti kegiatan bersama komunitas, mengunjungi panti asuhan maupun panti jompo. Kepeduliannya bahkan diwujudkan dengan mengangkat dua anak kembar yatim piatu sebagai anak asuh. Selama bertahun-tahun, ia berusaha membantu kebutuhan mereka dan hadir layaknya seorang ibu.
Bagi Wulan, berbagi tidak harus menunggu seseorang menjadi kaya. Apa pun yang dimiliki, selalu ada kesempatan untuk membantu. Ia pun memiliki sebuah impian yang hingga kini masih ingin diwujudkan: mendirikan panti jompo.
“Saya selalu merasa bahagia kalau bisa berbagi, terutama kepada lansia. Mudah-mudahan suatu hari nanti saya bisa memiliki panti jompo sendiri,” harapnya. Laili
