MajalahKebaya.com, Jakarta – “..I’m not here to fit into the world—I’m here to build my own. Nothing worth having comes without a sacrifice—even heaven demands death..”
Bagi Della Fadillah kesuksesan bukan hanya dalam bisnis tapi juga tentang seberapa besar dampak sosial yang ia berikan kepada orang lain. Rasa empati yang tinggi mendorongnya untuk bisa terus berdampak positif bagi orang lain.
Perjalanan karier Della Fadillah penuh dinamika dan tantangan. Della mengenal dunia kerja saat ia mengikuti program internship atau magang sewaktu masih kuliah di jurusan Manajemen Perhotelan semester dua.
“Saya memulai perjalanan karier di usia 20 tahun melalui Hotel Internship Program at Marriott di bagian Front Office Department. Kemudian, di usia 21 tahun, saya mulai membangun agency bersama partner. Di saat yang sama, saya juga dipercaya menjadi Asisten Dosen untuk mata kuliah Front Office. Waktu itu saya mendapat privilege untuk tidak mengikuti internship lagi. Seharusnya internship itu dua kali, sekitar semester dua dan semester akhir,” kenang Della.
Setelah lulus D4/S1 Hospitality Management pada tahun 2023, karier Della berpindah haluan dari dunia hospitality industry ke capital market industry. “Saya pertama kali masuk ke dunia capital market di usia 23 tahun, ketika bergabung dengan salah satu perusahaan sekuritas di Indonesia. Saat itu, pengetahuan saya masih sebatas investasi pribadi, seperti reksa dana dan saham yang sedikit saya pelajari di bangku kuliah.”
Della sangat menghargai atasannya saat itu karena beliau melihat potensi yang ada pada dirinya dan memberikan kepercayaan untuk belajar dunia capital market dari dasar. Pekerjaan Della sehari-hari meliputi: mengikuti berita dalam negeri, memantau market dan IHSG, melakukan update reksa dana, serta terlibat dalam broadcasting.
“Tentu tidak mudah karena saya harus berhadapan dengan klien HNWI yang sebagian besar jauh lebih berpengalaman. Tapi dengan modal nekat dan kemauan untuk belajar, saya justru mendapatkan banyak pengalaman. Saya juga bersyukur karena para senior banyak mengajarkan saya tentang profesionalitas dan bagaimana menghadapi dunia kerja,” cerita Della.

Setelah satu tahun berkecimpung di dunia capital market, Della memutuskan untuk resign dan mencoba hal baru melalui dunia bisnis. Ia mulai mengerjakan berbagai project, sekaligus mengembangkan bisnis preloved miliknya, The Second Story (@thesecondstoryy.id), yang telah berdiri sejak 2021.
“Awalnya, The Second Story lahir dari pemikiran sederhana bahwa banyak pakaian yang sudah tidak terpakai, padahal mungkin masih bisa berguna bagi orang lain. Selain memperpanjang usia pakaian, saya juga ingin ikut berkontribusi pada gaya hidup yang lebih ramah lingkungan,” jelas Della.
Memasuki 2026, Della kembali memutuskan untuk terjun ke dunia profesional sebagai Investor Relations, sembari semakin serius mengembangkan bisnis. Baginya, pengalaman di dunia capital market dan bisnis justru saling melengkapi. “Setiap fase memberikan pembelajaran yang berbeda. Sekarang saya ingin terus berkembang, baik sebagai profesional maupun sebagai entrepreneur,” tutur wanita cantik kelahiran Jakarta, 25 Maret 2001 ini.
Makna Perempuan Berdaya
Selain fokus mengembangkan karier dan bisnis, Della juga menaruh kepedulian tinggi pada kegiatan sosial, berbagai kegiatan kreatif, pengembangan komunitas, dan pemberdayaan perempuan. Bagi Della, makna perempuan yang berdaya adalah perempuan yang memiliki pilihan atas hidupnya sendiri. Ia banyak sekali belajar mengenai perempuan yang tidak berdaya saat mereka berpisah dengan pasangan, akhirnya tidak punya pilihan dan terpaksa harus berjuang demi anaknya.
“Saya belajar bahwa perempuan memang harus berdaya. Salah satunya dengan memiliki kemampuan untuk menghasilkan uang sendiri, karena bagi saya, uang adalah power. Ketika perempuan memiliki power, ia punya pilihan atas hidupnya sendiri. Menurut saya, ketika perempuan memiliki pilihan dalam hidupnya, ia akan lebih bebas menjadi dirinya sendiri dan secara natural bisa memancarkan sisi feminin. Namun, perempuan juga harus pintar switching mode ketika dibutuhkan—bisa lembut, tetapi juga tegas, mandiri, dan kuat,” tandasnya.
Della mengakui banyak belajar dari perempuan di luar sana yang harus berpisah dengan pasangan dan kemudian kesulitan untuk survive karena belum memiliki kemampuan finansial. Ia juga kagum pada perempuan yang rela melakukan apa pun demi anaknya. Dari situ Della semakin sadar bahwa perempuan tidak hanya bekerja dari jam 9–5, tetapi menjalankan banyak peran sebagai ibu, kakak, pasangan, maupun seorang anak.
Menurut Della, growth mindset sebaiknya ditanamkan sejak dini, karena keluarga merupakan fondasi pertama dalam membentuk kepribadian seseorang. Seorang ibu juga memiliki peran penting sebagai guru pertama bagi anak. Karena itu, sebagai perempuan, kita juga tidak boleh berhenti belajar dan terus berkembang di setiap fase kehidupan.
Kegiatan Sosial, Kembangkan Komunitas dan Bisnis
Saat ini Della aktif dalam community development yang diberi nama CPASC (Corporate Personal Assistant and Secretary Community). “Sekitar dua tahun lalu, saya bertemu dengan partner yang saat itu bekerja sebagai Personal Assistant (PA) di salah satu perusahaan. Berangkat dari pengalaman kami di dunia profesional, kami kemudian membentuk sebuah komunitas yang beranggotakan perempuan, khususnya para Personal Assistant dan sekretaris,” terang Della.
Komunitas itu diberi nama CPASC, yaitu komunitas perempuan-perempuan yang memang di bidang sekretaris dan juga PA. Kegiatan komunitas ini cukup beragam, mulai dari aktivitas olahraga hingga berbagai kegiatan positif yang mendukung pengembangan diri dan profesionalitas. Anggota kami berasal dari berbagai perusahaan ternama di Indonesia, sehingga komunitas ini juga menjadi ruang untuk memperluas networking, berbagi pengalaman, sekaligus membuka peluang bisnis.
“Tujuan kami adalah menjadi wadah bagi para profesional, khususnya PA dan sekretaris, untuk terus mengembangkan diri, membangun networking, serta membuka peluang karier dan bisnis melalui profesi yang mereka jalani,” ujar Della.
Della juga mengembangkan Navayana Creative, sebuah event organizer yang berfokus pada penyelenggaraan private event dengan konsep eksklusif dan personal. Mengusung tagline “Taste Meets Class”, Navayana Creative menghadirkan pengalaman yang mengutamakan keamanan, privasi, estetika, dan keaslian dalam setiap detail acara.
“Bagi kami, sebuah event bukan hanya tentang kemeriahan, tetapi tentang bagaimana menciptakan pengalaman yang personal, intimate, dan berkelas. Kami ingin setiap acara memiliki karakter dan taste yang berbeda,” ujar Della, yang dipercaya sebagai Creative Director Navayana Creative.

Memberi Dampak untuk Perubahan
Bagi Della, kesuksesan bukan hanya dalam bisnis tapi juga tentang seberapa besar dampak sosial yang ia berikan kepada orang lain. Ia pun ikut berkontribusi dalam kegiatan sosial Swara Peduli Ceria yang berfokus pada dukungan dan pengembangan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, termasuk membantu memberikan akses serta kesempatan belajar yang lebih baik.
“Saya pernah jadi volunteer di Suara Peduli Ceria. Semula saya diajak teman untuk jadi volunteer ke tempat-tempat yang memang sekiranya membutuhkan seperti perkampungan yang masih kumuh, pendidikan masyarakatnya masih rendah dan sebagainya. Bahkan masih ada anak-anak yang belum bisa membaca,” kenang Della yang juga aktif sebagai public speaking di TEDx LSPR.
Saat menjadi volunteer, Della banyak belajar bahwa setiap orang memiliki perjuangan hidupnya masing-masing. Ia melihat masih banyak anak yang belum mendapatkan pendidikan yang layak. Hal ini sangat disayangkan, namun kondisi ekonomi sering menjadi alasan utama orang tua harus memprioritaskan kebutuhan hidup dibandingkan pendidikan anak.
“Anak-anak seharusnya tidak perlu ikut menanggung beban orang tuanya, tetapi pada kenyataannya mereka sering ikut merasakan dampaknya. Hal ini juga menjadi salah satu hal yang saya soroti dalam TEDx LSPR melalui topik ‘Surviving as a Sandwich Generation’,” ujar Della.
Della belajar bahwa kemiskinan merupakan permasalahan yang struktural dan tidak mudah untuk diputus. Hal itu membuat dirinya semakin berempati, terutama kepada anak-anak yang seharusnya bisa fokus belajar, tetapi harus ikut memikirkan kondisi ekonomi keluarganya.
“Menurut saya, sebagai individu kita tetap harus memiliki empati dan kepedulian terhadap sekitar. Kita mungkin tidak bisa mengubah semuanya, tetapi kita bisa membantu sesuai dengan kemampuan kita. Saya juga berharap pemerintah dapat terus mengembangkan program pendidikan gratis yang merata, karena pendidikan adalah salah satu fondasi penting dalam kehidupan dan masa depan seseorang,” tekan Della.
Ke depan, Della ingin terus memberikan dampak positif bagi orang lain, khususnya melalui kegiatan sosial. Baginya, empati merupakan salah satu bentuk berkat yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk saling peduli, membantu, dan memberikan manfaat bagi sesama.
“Hidup itu bukan cuma untuk diri sendiri saja, tapi untuk orang lain juga. Tentunya hal yang positif diambil, yang negatifnya tinggal dibuang. Jadi ke depan saya ingin punya kapasitas bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Seperti baru-baru ini saya berusaha menjadi public speaking yang baik, meskipun saya merasa tidak punya cukup kapabilitas untuk bisa berbicara di depan publik. Saya terus belajar dengan dukungan penuh teman-teman,” tutur Della.
Rasa empati Della juga tidak terlepas dari perjalanan hidupnya. Ia tumbuh dalam keluarga yang memberikan kehidupan yang nyaman dan penuh privilege, terutama saat masih bersama Sang Omah. Namun, ia juga pernah merasakan bagaimana keluarganya berada di titik terendah secara ekonomi.
“Semasa kecil, saya merasakan hidup yang cukup nyaman dan penuh privilege bersama Omah. Tapi di satu titik, saya juga melihat dan merasakan bagaimana kondisi ekonomi keluarga kami berada di titik terendah. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa kehidupan bisa berubah kapan saja. Saya juga melihat orang-orang di sekitar yang menghadapi perjuangan serupa, termasuk anak-anak yang harus mengorbankan pendidikan karena kondisi ekonomi keluarganya. Pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami arti empati. Bagi saya, empati adalah hal yang paling dasar dalam diri manusia. Karena itu, saya ingin terus terlibat dalam kegiatan sosial dan melakukan sesuatu yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain,” kenang Della.

Processed with VSCO with a5 preset
Self-Care dan Quality Time Bersama Orang-Orang Tersayang
Di tengah padatnya aktivitas, Della tetap meluangkan waktu untuk me time melalui skincare maupun olahraga. Baginya, self-care menjadi salah satu cara untuk menjaga mood sekaligus menunjukkan bentuk apresiasi terhadap diri sendiri.
“Saya biasanya rutin gym sekitar 3–4 kali seminggu karena ingin membentuk tubuh. Setelah weight lifting, saya biasanya lanjut treadmill sekitar 30 menit untuk cardio. Sesekali saya juga melakukan meditasi agar lebih fokus dan tenang dalam menjalani aktivitas. Saya benar-benar menyukai self-care karena Omah. Dari beliau, saya belajar bahwa merawat diri adalah salah satu bentuk mencintai dan menghargai diri sendiri. Bahkan sejak SD, saya sudah diperkenalkan dengan kelas John Robert Powers untuk belajar bagaimana membawa diri sebagai seorang perempuan,” ungkap Della.
Sementara dari sosok Ibu, Della belajar menjadi perempuan yang kuat dan tangguh. Diakuinya, sosok Omah dan Ibu banyak membentuk cara ia melihat perempuan hingga saat ini. “Bagi saya, self-care bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga bagaimana kita menunjukkan bahwa kita mencintai dan menghargai diri sendiri,” papar Della.
Della juga senang meluangkan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekat yang ia sayangi sebagai cara untuk me-recharge energi di tengah kesibukannya. Baginya, quality time dan berbagi cerita dengan orang-orang tersayang menjadi salah satu hal yang selalu ia prioritaskan. Bahkan, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan yang dekat dan sehat dengan orang-orang yang kita sayangi memiliki kaitan dengan kebahagiaan dan kualitas hidup yang lebih baik.
“Semakin dewasa, saya menyadari bahwa kita tetap membutuhkan orang-orang yang kita sayangi untuk berbagi cerita dan menghabiskan waktu bersama. Saya memang selalu berusaha memprioritaskan keluarga dan orang-orang terdekat saya, karena buat saya, mereka adalah bagian penting dalam hidup. Bertemu, sharing, dan menghabiskan waktu bersama mereka adalah salah satu cara sederhana untuk recharge energy dan menjaga keseimbangan diri,” ujar Della, yang juga gemar membaca buku tentang self-development. EK
