MajalahKebaya.com, Jakarta – Kemerdekaan tidak selalu diwujudkan melalui perjuangan di medan perang. Di masa kini, semangat bela bangsa hadir dalam berbagai bentuk pengabdian. Bagi Dr.(c) H. Siti Aseanti, S.ST., M.Keb., CMBMP., CMP., C.Herbs, pengabdian itu dimulai dari ruang persalinan, berlanjut ke ruang kelas, hingga kini mengalir ke ruang-ruang kebijakan sebagai Anggota DPD RI/MPR RI mewakili Provinsi Kalimantan Tengah. Baginya, melayani masyarakat bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup yang terus dijaga dengan ketulusan.
Lahir di Banjarmasin pada 17 September 1994, perempuan yang akrab disapa Sean ini tumbuh dengan keyakinan bahwa setiap kesempatan yang diberikan Tuhan harus dimanfaatkan untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain. Perjalanan hidupnya mempertemukan tiga dunia yang saling melengkapi, yakni kesehatan, pendidikan, dan politik kebangsaan.
Mengabdi dari Akar Rumput. Mengawali karier sebagai seorang bidan, Sean menyaksikan secara langsung perjuangan seorang ibu melahirkan kehidupan baru sekaligus berbagai persoalan kesehatan yang masih dihadapi masyarakat, terutama di daerah-daerah dengan akses layanan yang terbatas.
Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya bahwa pembangunan bangsa harus dimulai dari manusia yang sehat. Dari ruang persalinan, ia belajar bahwa setiap kehidupan memiliki nilai yang sama berharganya.
Semangat tersebut kemudian membawanya menjadi dosen. Ia percaya bahwa pendidikan merupakan investasi terbaik bagi masa depan bangsa. Melalui dunia akademik, ia tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga menanamkan semangat pengabdian kepada generasi penerus tenaga kesehatan.
Ketika kemudian masyarakat Kalimantan Tengah memberikan amanah sebagai Anggota DPD RI, ia memaknainya sebagai kelanjutan dari pengabdian yang selama ini dijalani.
“Bagi saya, tujuan pengabdian tetap sama, yaitu menyuarakan kebutuhan masyarakat langsung dari akar rumput dan menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat,” tutur perempuan berhijab ini.

Amanah dan Integritas. Menjalankan peran sebagai senator, bidan, sekaligus dosen tentu bukan hal yang sederhana. Namun, Sean memiliki prinsip hidup yang selalu menjadi kompas dalam setiap langkahnya, yang ia rangkum dalam 3T, yakni Tulus, Tanggung Jawab dan Terdepan.
Ketulusan menjadi dasar dalam melayani tanpa membedakan siapa pun. Tanggung jawab diwujudkan melalui komitmen menjaga setiap amanah yang dipercayakan masyarakat. Sementara sikap terdepan tercermin dari kesediaannya hadir langsung di tengah masyarakat untuk mendengar, memahami, sekaligus memperjuangkan berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Baginya, jabatan bukanlah simbol kekuasaan, melainkan titipan yang harus dijalankan dengan integritas.
“Amanah adalah titipan, bukan milik pribadi. Jabatan boleh berganti, tetapi kepercayaan masyarakat harus selalu dijaga,” tegasnya.
Perjuangkan Suara Daerah. Sebagai wakil daerah, Sean membawa pengalaman lapangan yang diperolehnya selama bertahun-tahun menjadi tenaga kesehatan.
Ia menaruh perhatian besar pada peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, khususnya di wilayah terpencil dan daerah dengan akses pelayanan yang masih terbatas. Menurutnya, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh kesehatan sejak awal kehidupan.
Selain itu, ia juga terus mendorong penguatan pendidikan vokasi dan peningkatan sumber daya manusia di bidang kesehatan agar semakin banyak putra-putri Kalimantan Tengah yang mampu menempuh pendidikan tinggi, kemudian kembali mengabdi di daerah asalnya.
Di sisi lain, ia meyakini bahwa pembangunan tidak boleh menghilangkan identitas budaya. Karena itu, ia turut memperjuangkan lahirnya berbagai kebijakan yang menghormati masyarakat adat serta menjaga nilai-nilai luhur budaya Kalimantan Tengah, khususnya kearifan masyarakat Dayak.
“Pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari seberapa sehat masyarakatnya, seberapa berkualitas pendidikannya dan seberapa baik negara menjaga identitas budayanya” papar Sean.
Bela Bangsa Melalui Pelayanan. Menurut Sean, menjaga bangsa tidak hanya dilakukan oleh aparat pertahanan negara, tetapi juga oleh tenaga kesehatan, pendidik, relawan, hingga setiap warga negara yang memberikan manfaat bagi sesama.
Karena itu, meski telah menjadi anggota DPD RI, Sean tetap aktif memberikan pelayanan kesehatan dan terlibat sebagai relawan ketika masyarakat membutuhkan bantuan, termasuk dalam situasi bencana.
Ia percaya bahwa pengabdian tidak berhenti ketika jam kerja selesai atau ketika seseorang meninggalkan jabatannya.
“Jabatan bersifat sementara, tetapi manfaat yang kita berikan kepada masyarakat akan terus hidup,” imbuhnya.

Keluarga sebagai Sumber Kekuatan
Di balik kesibukannya, Sean tetap menempatkan keluarga sebagai fondasi utama. Bersama sang suami, Kopda Alfani, S.H., ia membangun rumah tangga dengan komunikasi yang sederhana namun konsisten. Kesibukan masing-masing tidak menjadi penghalang untuk saling memberi kabar, berdiskusi, serta menjadi tim yang saling menguatkan.
Makan malam bersama tanpa telepon genggam menjadi kebiasaan yang selalu dijaga. Di sela rutinitas, mereka juga meluangkan waktu untuk beribadah bersama dan sesekali melakukan staycation singkat agar hubungan keluarga tetap hangat.
Bagi Sean, keluarga merupakan tempat mengisi kembali energi sebelum kembali mengabdi kepada masyarakat.
Menyiapkan Generasi Bela Negara
Semangat pengabdian juga diwujudkan melalui dunia usaha. Bersama suami, ia mendirikan pusat pembinaan dan pelatihan fisik di Palangka Raya, Kalimantan Tengah,
Lembaga berlabel The Winner tersebut fokus membina generasi muda yang bercita-cita menjadi anggota TNI, Polri, maupun sekolah kedinasan agar siap menghadapi tes kesamaptaan.
Baginya, membentuk generasi muda yang sehat, disiplin, tangguh dan berkarakter merupakan investasi penting dalam memperkuat masa depan bangsa.
Melalui The Winner, Sean berharap semakin banyak putra-putri daerah yang mampu mengabdikan diri sebagai abdi negara dengan kesiapan fisik, mental dan semangat nasionalisme yang kuat.
Warisan Terbaik Adalah Keteladanan
Bagi Sean, keberhasilan tidak diukur dari banyaknya jabatan maupun penghargaan. Ia justru merasa paling bahagia ketika perjuangannya mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat, seperti meningkatnya pelayanan kesehatan di daerah terpencil melalui penambahan tenaga bidan.
Namun, kebanggaan terbesar tetaplah keluarganya. Ia bersyukur kedua putrinya, Syarifah Adiba Bahasyim dan Syarifah Bilqis Bahasyim, tumbuh menjadi anak-anak yang memahami arti pengabdian dan bangga melihat orang tuanya mendedikasikan diri bagi masyarakat.
Menutup perbincangan, Sean menyampaikan pesan kepada generasi muda Indonesia agar tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga menumbuhkan semangat melayani.
Menurutnya, negara yang kuat lahir dari keluarga yang kuat, masyarakat yang sehat, pendidikan yang berkualitas, serta generasi muda yang memiliki karakter, integritas, dan kecintaan kepada tanah air.
Karena pada akhirnya, warisan terbesar seorang manusia bukanlah jabatan yang pernah disandang, melainkan nilai-nilai kebaikan yang terus hidup melalui manfaat yang ditinggalkannya bagi bangsa dan negara. Laili

