Cover Story

dr. Asnelia Devicaesaria, Sp.N, Subsp.NGD(K), Komitmen dan Integritas Diiringi Doa Wujudkan Jiwa Nasionalisme Lewat Profesi

MajalahKebaya.com, Jakarta – Jiwa nasionalisme bukan hanya sekadar slogan, tapi harus diwujud-nyatakan dalam sikap, karya, dan pengabdian melalui berbagai bidang dan profesi. Makna nasionalisme bagi dr. Asnelia Devicaesaria, Sp.N, Subsp.NGD(K), ketika ia bisa mendedikasikan diri sepenuhnya sebagai Dokter Spesialis Neurologi, bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Berkat ketekunan dan integritas yang kuat menjalankan profesi, kini ia menjadi salah satu dokter ahli, Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) juga sebagai Konsultan Neurodegeneratif yang sangat kompeten.

Menurut dr. Asnel, sapaan akrab wanita cantik asal Sumatra Barat ini, nasionalisme harus dijunjung tinggi oleh setiap warga negara Indonesia. Ia cukup prihatin melihat pasien-pasien banyak yang berobat ke luar negeri, padahal secara keilmuan dan kompetensi, kualitas dokter di Indonesia tidak kalah dengan luar negeri karena telah memiliki tingkat pendidikan dan variasi kasus yang sangat tinggi.

“Ini artinya kita harus menambah potensi diri kita sehingga tetap bisa memberikan yang terbaik buat bangsa. Jadi itu yang memotivasi saya juga menjadi lebih baik lagi di bidang sub divisi saya di Neurodegeneratif yang meliputi Neurobehaviour, Neurogeriatri, Movement Disorder, dan Sleep Disorder. Saya senang sekali ketika pasien dari luar daerah datang ke RS PON minta bantuan dan akhirnya kita selesaikan masalahnya. itu luar biasa melegakan dan jiwa nasionalisme muncul di sana,” ujar dr. Asnel.

Doker Asnel bangga dengan RS PON yang memiliki akses kesehatan hingga daerah. RS PON menjadi  percontohan Rumah Sakit di daerah dan ditunjuk sebagai Rumah Sakit pengampu artinya Rumah Sakit tersebut bertugas sebagai pusat rujukan utama, pembina, dan pendamping bagi Rumah Sakit Daerah lainnya di Indonesia dalam bidang pelayanan kesehatan otak dan persarafan. “Bagi saya, profesi  di bidang saya ini merupakan bentuk nyata nasionalisme kemanusiaan yang kita tanamkan sehingga kita sama-sama maju dan berusaha yang terbaik untuk negara,” tambahnya dengan semangat.

Fokus dan Tekun Perdalam Keilmuan

Lulus SMA, dr. Asnel mengikuti jejak ibunya yang merupakan seorang Dokter Umum, dengan mengambil kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Jakarta. Setelah menjalani profesi sebagai dokter, ia merasakan betapa profesinya sangat bermakna bagi orang lain yang merasa terbantu. Awal karier, dr. Asnel ditempatkan di Puskesmas wilayah Jakarta Timur. Seiring waktu, demi meningkatkan potensi diri agar lebih mumpuni melayani kesehatan masyarakat, ia kemudian bertekad bisa menjadi Dokter Spesialis.

“Ibu saya pernah ingin menjadi Dokter Spesialis tapi tidak bisa terwujud. Akhirnya saya bertekad mendaftar Program Pendidikan Dokter Spesialis dan memilih Neurologi atau Ilmu Saraf karena otak dan sistem saraf menjadi bagian sangat penting dari manusia,” ungkap dr. Asnel.

Dokter Asnel pun diterima di Program Pendidikan Dokter Spesialis Universitas Indonesia. Dalam tesisnya ia mengangkat bidang Neurobehaviour karena tertarik dengan cara kerja otak sebagai sentral berpikir, kognitif dan perilaku.

Setelah lulus sebagai Dokter Spesialis Neurologi, dr. Asnel diminta bergabung pada Divisi Neurobehavior untuk membangun dan mengembangkan bidang tersebut di RS Kemenkes yang saat itu baru dibangun untuk kasus otak dan persarafan. “Saat itu ibu saya sakit menjelang ajalnya, saya pernah bertanya tentang pendapatnya kalau saya bekerja pada bidang tersebut di RS itu. Ibu aya merestui dan sejak itu saya aktif mengabdi di sana,” kenang dr. Asnel.

Tidak hanya berhenti di situ, dr. Asnel diberikan kesempatan oleh RS PON untuk mengembangkan diri. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan S3 di FK Universitas Airlangga Surabaya untuk memperdalam keilmuan dan belajar mengenai genetik pada alzheimer.

“Rencana Allah adalah yang terbaik, sampai saya bisa menjadi Konsultan Neurodegeneratif saat ini. Saya ambil bidang ini karena fungsi otak menarik sekali khususnya di cabang ilmu Geriatri yang fokus pada kesehatan lansia. Dulu waktu masih kecil, saya serumah dengan buyut umurnya terakhir 100 tahun dan masih sehat.  Selain itu ada pahalanya saat kita merawat orang tua dalam hal ini pasien lansia. Saya senang melayani mereka,” papar dr. Asnel, yang saat ini di samping menjadi Dokter Spesialis RS PON, sejak awal merintis juga bersamaan mengabdi di Klinik Spesialis Bidakara Medical Centre Jakarta.

Perempuan Mandiri dan Merdeka yang Bertanggung Jawab

Sebagai perempuan, kebebasan dirasakan dr. Asnel saat bisa mengeksplorasi dan mengembangkan diri. Baginya, perempuan dan laki-laki setara tapi perempuan seharusnya tidak lupa pada kodratnya bahwa perempuan memang membutuhkan laki-laki.

“Perempuan jangan merasa tidak membutuhkan laki-laki. Laki-laki dan perempuan sebagai pasangan harus saling bisa mengisi, begitu juga misalnya di tempat kerja harus bisa saling berkolaborasi,” papar dr. Asnel yang juga masih sering menjadi Moderator acara atau Pembicara/Narasumber.

Dokter Asnel pun membuktikan bahwa perempuan bisa setara dengan laki-laki. Apalagi untuk profesi Dokter Spesilis Neurologi, peran perempuan sangat penting dalam menangani pasien lansia. “Menurut saya perempuan lebih mengerti bagaimana lansia itu harus diperlakukan, mengerti masalah mereka, mengerti anggota keluarga lansia itu jadi harus bagaimana menanggapinya. Kita juga harus bisa menyampaikan dengan bahasa dan pemahaman yang baik, sehingga mereka mengerti penyakitnya apa dan harus bersikap bagaimana untuk support. Ini memang suatu tantangan yang harus dihadapi. Perempuan harus proaktif dan dengan menunjukkan skill serta hubungan kita baik dengan semua orang, tantangan yang dihadapi bisa diatasi,” ujarnya bijak.

Perempuan merdeka bagi dr. Asnel adalah perempuan yang memiliki kebebasan tapi tetap bertanggung jawab. Bebas untuk memilih, mengekspresikan diri, menajamkan potensi diri, hak untuk berkembang, dan tetap melaksanakan kewajibannya dengan bertanggung jawab.

Kembangkan Potensi Diri dan Jaga Life Balance

Profesi sebagai dokter tak menghalangi dr. Asnel mengembangkan hobinya di bidang fashion. Baginya dunia fashion sangat menarik dan ia suka membuat berbagai desain baju yang dikenakan pada momen-momen spesial. “Seperti untuk pemotretan majalah Kebaya Indonesia yang terbit Agustus ini, saya mengenakan kebaya dengan warna merah marun dipadukan dengan kain songket koleksi ibu saya untuk mengingat semua memori tentang Ibu,” ungkapnya semangat.

Dokter Asnel sangat terinspirasi oleh almarhumah ibunya yang sangat menyukai dunia fashion, untuk bisa selalu tampil cantik di setiap momen. Bukan hanya itu, kedua orang tua juga selalu memberi keleluasaan bagi dirinya untuk menggali dan mengekspresikan semua potensi yang ada dalam dirinya. Seperti saat kuliah, ia menyalurkan hobinya menyanyi dengan mengikuti kegiatan di paduan suara dan juga sebagai vokalis band di kampus. Bahkan, waktu sekolah sampai SMU, ia bisa memanjakan hobi menarinya dan pernah menjadi guru tari.

Di waktu luang, dr. Asnel masih menyalurkan hobi menyanyi di Band Alumni Neurologi FK UI. “Alumni Neurologi FK UI membuat wadah bermusik dengan bermain Ukulele supaya menjaga otak tetap aktif. Saya tergabung di dalamnya. Tapi karena saya tidak bisa main alat musik maka saya masuk ke vocal group untuk mendampingi para teman sejawat bermain Ukulele,” jelas istri dari Abu Bakar Sidik, ST, ini.

Kalau bersama suami lain lagi, dr. Asnel support sekali hobi suaminya yang offroader. “Teman-teman suami yang sesama hobi offroad bergabung di komunitas Mickey 4×4. Nah, istri-istrinya juga kompak dan buat nama Minnie yang menandakan pasangan dari Mickey tadi. Kalau kumpul seru banget, Mickey Minnie camping bareng, karaoke, makan, dan games yang bikin happy terus,” ucap dr. Asnel sambil tertawa.

Di akhir pekan, dr. Asnel bersama anak-anaknya juga kerap nonton film dan jalan-jalan. Tapi diakuinya, me time yang paling nikmat baginya adalah lihat-lihat bazaar untuk mencari inspirasi fashion, tidur dan pijat, selain traveling.

Dokter Asnel juga aktif di organisasi Perhimpunan Dokter Neurologi Indonesia (PERDOSNI) selama dua periode di bagian Bagian Kerja Sama dan Acara Ilmiah. Saat ini, ia juga menjadi Bendahara Kolegium Neurologi, dan juga aktif di Perkumpulan Kepeminatan Gangguan Tidur Indonesia, Gangguan Gerak Internasional, Demensia dan Alzheimer Internasional.

Orang Tua dan Guru Sosok Inspirasi

Ayah dan Ibu menjadi sosok inspiratif bagi dr. Asnel. Banyak hal baik yang diambil dari kedua orang tua yang dijalankan dalam kehidupannya saat ini. Juga guru seniornya di Neurobehaviour FKUI dan sekarang bersamanya di RS PON. “Beliau di usia 70-an tahun masih cantik, bugar, haus tentang ilmu baru, komitmen dengan jadwal dan perannya. Saya belajar bersikap profesional dari beliau,” ungkapnya.

Ibunda dari Aflah Rizky Tsaqif Abinaya (lulus SMA Islam Al Azhar Kelapa Gading) dan Akhtar Ghani Zharif Abipraya (Kelas 8 SMP Islam Al Azhar Kelapa Gading) ini, bersyukur ayahnya masih sehat di usia saat ini 78 tahun. ”Ayah saya kuliah S1 Kedokteran tapi tidak lanjut profesi. Jadi Ayah dan Ibu dulu satu angkatan di Fakultas Kedokteran yang sama. Mereka menikah dimana ibu saya melanjutkan profesi menjadi dokter dan ayah saya lanjut bekerja di perusahaan farmasi.”

Didikan dan pola asuh kedua orang tuanya telah menuntun dr. Asnel bisa mencapai level membanggakan saat ini, terutama sebagai perempuan ia bisa mengekspresikan semua potensi dalam dirinya secara positif. “Almarhumah ibu dan ayah saya memberikan saya kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab. Seperti waktu akan memilih sekolah SMU. Setelah lulus SMP, saya mencoba mendaftar di SMA Negeri 8 Jakarta dan ternyata diterima. Tapi saya ragu karena dari TK sampai SMP saya sekolah di Al Azhar Pusat Kebayoran Baru, jadi sudah sangat akrab dengan teman-teman di sana. Akhirnya saya bilang ke orang tua saya tidak jadi masuk SMA Negeri 8. Waktu itu ibu saya menanyakan apa sudah yakin dengan pilihan saya. Saya juga diminta bertanggung jawab dengan pilihan tersebut, akhirnya saya memilih masuk SMA Al Azhar dan tidak pernah menyesal dengan keputusan saya tersebut,” ungkap dr. Asnel, yang juga banyak belajar dari Sang Ayah saat bertemu dan menjalin kerja sama dengan orang lain. Ilmu itu banyak membawa manfaat baginya dalam berorganisasi.

Rencana ke Depan

Ke depan dr. Asnel ingin segera menyelesaikan pendidikan S3, setelah itu ia ingin belajar di luar negeri. “Teman-teman saya waktu SMA banyak  yang melanjutkan sekolah ke luar negeri. Ya.. saya sendiri yang kuliah Fakultas Kedokteran di Jakarta. Jadi kita berlima best friend sampai sekarang. Mereka semua sekolah ke luar negeri kecuali saya. Dan saat habis melahirkan anak kedua di 2013, saya diterima oleh Profesor Ahli Demensia pada program Fellowship di Singapura. Namun saya mengundurkan diri, karena anak saya baru lahir. Semoga ada kesempatan lagi yang buat saya bisa belajar ke luar negeri.”

Sebagai Konsultan, dr. Asnel ingin bisa memperdalam ilmu subdivisinya ke luar negeri dan bisa memberi dampak dan manfaat bagi layanannya di RS PON dan juga di BIMC.

Dokter Asnel yang anak semata wayang berharap bisa berangkat haji bersama suami, anak-anak, ayah, ibu mertua dan keluarga kandung suami. Ia juga ingin memiliki senior living sebagai hunian khusus untuk lansia yang menggabungkan fasilitas tempat tinggal dengan layanan kesehatan dan rekreasi. “Jadi semacam day care dengan berbagai stimulus aktivitas seperti bermain musik, menjahit, memasak, melukis, main  game dan sebagainya. Ini terapi  bagi para lansia dan bisa ada klinik juga di sana untuk memberikan konsultasi dan pengobatan, tapi bukan rawat inap ya,” harapnya.

Selain itu, dr. Asnel juga ingin membangun sebuah rumah design yang menjadi tempat penjualan koleksi baju-baju desainnya dengan brand sendiri maupun kerja sama dengan pihak lain. “Saya ingin punya bisnis di luar bidang kesehatan dan kebetulan saya suka fashion. Kalau ada seminar, saya biasa desain baju saya sendiri sesuai tema. Siapa tahu nanti saya bisa buka brand fashion sendiri, jadi para dokter, teman atau relasi bisa suka dan pakai hasil desain saya,” jelas dr. Asnel yang pernah menjadi Dosen Fakultas Psikologi Universitas Al Azhar.

Kiat Sukses Jalankan Profesi

Dalam menjalani profesinya sebagai Dokter Spesialis Neurologi, dr. Asnel memiliki beberapa kiat sukses di antaranya pertama, selalu berdoa kepada Allah dan sebagai muslim, ia selalu membaca Bismillah saat mengawali aktivitas, diakhiri dengan Alhamdulillah. Ia menilai bahwa pengabdiannya sebagai dokter dalam rangka mencari pahala.

Kedua, menjadikan profesinya sebagai pekerjaan yang disenangi dan berusaha memberikan solusi untuk mengatasi keluhan pasien. “Saya harus bisa memberikan problem solving yang terbaik. Memang harus ada ilmunya, tapi juga perlu komunikasi yang baik. Kita harus bisa berhubungan baik, menaruh empati dan menghargai orang lain untuk menciptakan trust dan kolaborasi,” yakinnya.

Ketiga, selalu minta restu kepada orang tua dan suami. Saat ini dr. Asnel juga selalu minta doa kepada ayahnya, ibu mertuanya serta suami dan anak-anaknya saat akan mengerjakan tugas yang cukup penting.  “Mereka mendukung penuh profesi saya. Ayah mertua saya sudah meninggal tak lama setelah ibu saya meninggal di tahun 2013,” lirihnya.

Komitmen dan integritas juga menjadi hal penting bagi dr. Asnel, dengan menjalankan pekerjaan sebaik-baiknya. Jika hasilnya belum tercapai dengan baik bisa diperbaiki. “Jangan takut atas kesalahan dan kekurangan, justru nanti bisa lebih baik hasilnya saat kita melakukan perbaikan,” tegasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top