MajalahKebaya.com, Jakarta – Tekad membara untuk melakukan perubahan dan menjadikan hidup bermanfaat bagi banyak orang tidak pernah padam dalam diri Dra. Alida Handau Lampe Guyer, M.Si, atau akrab disapa Andau, meskipun kini, sejak awal tahun 2025, sebagai penyandang kursi roda permanen. Baginya itu bukan kendala atau penghalang, karena ia merasa harus melakukan sesuatu yang bermanfaat.
“Pikiran saya menjadi lebih fokus dan jernih untuk merancang sisa hidup agar berguna. Saya memutuskan untuk kuliah S3 lagi. Memulai dari awal, karena S3 Ekonomi di Universitas Katolik Parahyangan hangus, walaupun saya sudah menyandang Kandidat Doktor dan semua mata pelajaran telah lulus dengan baik, tapi DISERTASI tidak selesai,” ungkap wanita energik, pengusaha sukses kelahiran 20 Januari 1956 ini dengan semangat.
Kegagalan di Unpar tidak bisa menghentikan semangat Alida untuk melanjutkan study S3. Ia menyadari potensi dirinya sangat mumpuni untuk meraih gelar Doktor, meskipun diakuinya banyak kendala dan hambatan, baik yang wajar maupun yang kurang bisa diterima akal sehat. Seperti hal aneh terjadi ketika di Unpar. “Yang sangat aneh dan tidak biasa, Promotor Prof. Frans Mardi Hartanto, KoPromotor ibu DR. Nia Juliati, dan saya sebagai murid, kami bertiga terkena penyakit yang sama. Terkena stroke berat, walau di waktu yang berbeda. Dan bulan April 2026 Prof. Frans meninggal dunia pulang dalam keabadiaan,” lirih Alida sedih.
Awal tahun 2026, keinginan Alida untuk menyelesaikan kuliah S3 mendapat jalannya. Ia berhasil diterima di Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendididikan Indonesia. Tuhan seolah menunjukkan dan mempersiapkan jalan arah hidupnya ke depan. Alida seolah dilahirkan kembali di usia yang tidak lagi muda.
Proposal Penelitian DISERTASI Alida tentang PEDAGOGICAL URBANISM di IKN, membuat hidupnya menjadi BERMAKNA. IKN didirikan di tanah “DAYAK LANDEN”, sebagai anak bangsa suku Dayak, Alida terpanggil untuk dapat berkontribusi menyukseskan IKN menjadi kota pusat peradaban masa depan.
Kontribusi nyata Alida diwujudkan dalam rencana pendirian SEKOLAH URBAN di IKN yang ia beri nama USIS (Urban Sociotechnical Innovation School), yang akan menjadi sekolah urban pertama dan satu satunya di Indonesia.
“Di sinilah mimpi dan angan-angan saya mendirikan partai politik untuk menyuarakan dan membela kepentingan rakyat miskin, tertinggal, terisolir dan tertindas menemukan persilangan momentumnya secara AKADEMIS dan EMPATI untuk memajukan anak bangsa melalui PENDIDIKAN yang memang sudah tertanam mendalam dalam hati dan pikiran saya,” tegas Alida.

PINTU Gerbang Menuju Kesejahteraan
Selama beberapa bulan Alida mempersiapkan naskah akademis partai, manifesto partai, misi visi partai, AD/ART partai. Dan yang paling berat diakuinya adalah mencari nama partai yang TEPAT. Karena harus mencerminkan makna dan filosofi yang terkandung dalam visi dan misi partai.
“Berkat doa, hikmat kebijaksanaan dan tuntunan dari Tuhan Yesus, akhirnya saya dapat merumuskan dan mendapat nama PINTU. P adalah Pendidikan, I -Integritas, N –Nasionalisme, T –Transparansi, dan U – Upaya Sejahtera. Dan PINTU secara harafiah adalah gerbang menuju kesejahteraan. Secara teologis pintu adalah panggilan pelayanan seperti yang dinubuatkan dalam Matius pasal 7 ayat 7 dan Matius 25 ayat 35-36. Kedalaman nama partai secara filosofis dan ketepatan nama secara teologis serta mencerminkan visi misi partai secara akurat, itu semua adalah semata-mata hikmat kebijaksanaan, karena tuntunan dan Kasih Tuhan Yesus Kristus,” ujar Alida bijak.
Perjalanan PINTU ke depan, diakui Alida, tidak mudah. Perlu KETEGUHAN, KOMITMEN dan PERJUANGAN panjang. Melalui media ini PINTU memanggil semua anak bangsa untuk tidak hanya jadi PENONTON, tapi mari ikut BERGERAK bersama. “Keadilan dan Kesejahteraan harus diperjuangkan bukan hanya dilihat dan diomongkan. Tuhan beserta kita. Amen,” doanya.
Panggilan hati dan mimpi Alida sejak remaja untuk berkiprah di dunia politik memang tidak pernah padam. Keinginan wanita yang sangat mengagumi dan terinspirasi dua tokoh dunia dalam menjalani kehidupannya yakni Mohandas atau Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela, untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat nusa dan bangsa kembali berkobar dalam dirinya.
“Mimpi saya ingin membangun satu partai politik tempat mendidik kader berdasarkan moral, nilai, etika, ajaran hidup, filosofi yang sesuai dengan keyakinan iman saya. Karena saya beragama Kristen maka sudah tentu ajaran dan iman Kristiani menjadi landasannya yaitu KASIH. Indonesia diciptakan terdiri dari berbagai suku, agama, budaya dan disatukan dalam NKRI berdasarkan PANCASILA. Saya ingin mendampingi teman-teman partai lain yang telah lama berdiri berlandaskan iman dan agama Islam seperti PKS, PBB, PAN, PKB dan mengisi ruang kosong, membangun partai politik berlandaskan iman Kristiani,” lugas Alida.
Pada Kongres Luar Biasa PARKINDO 1945 tanggal 10 November 2020 di Hotel Bumi Sangkuriang Bandung, Alida terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai Politik Kristen Indonesia 1945 disingkat PARKINDO 1945 masa bakti 2020-2025. Selain itu, Alida juga menjadi Ketua Dewan Penasehat Partisipasi Kristen Indonesia 2021-2026, dan Dewan Pakar, Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Tengah.

Pengusaha Sukses dan Regenerasi Tanggung Jawab
Latar belakang Alida adalah seorang pengusaha tambang, property, kuliner, hingga bisnis pariwisata sukses. Sebelum mewujudkan passion politik, terlebih dahulu ia mengasah jiwa entrepreneurship yang sangat kuat dalam dirinya. Bahkan sejak usia masih belia, 13 tahun, Alida sudah menyatakan keinginannya kepada Sang Ayah, seorang pejuang, tokoh Kalimantan Tengah, bahwa kelak ia akan masuk ke dunia politik.
Setelah lulus SMA tahun 1974, Alida melanjutkan sekolah di Kota Bandung, masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Parahyangan Bandung (FISIP). Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, membuatnya selalu berpikir bahwa untuk mencapai cita-cita maka hal pertama yang dilakukan adalah membangun fondasi ekonomi yang mapan dan kuat. Melalui perjuangan yang berliku dan tidak mudah akhirnya di usia yang cukup muda, yaitu 21 tahun, ia berhasil memiliki toko barang kerajinan tangan buatan Kalimantan Tengah di gedung Sarinah Jakarta.
“Setelah lulus Perguruan Tinggi dan menikah, saya mengikuti suami pindah ke Swiss. Di negara kaya tersebut saya melihat kemungkinan untuk menapak lebih tinggi lagi masuk ke industri manufaktur. Dengan modal keberanian dan dukungan suami tercinta saya mulai menyusun rencana dan melakukan kontak dengan perusahaan besar dan perbankan. Indonesia adalah salah satu produsen karet terbesar di dunia setelah Malaysia. Fokus perhatian saya ke sana, akhirnya saya putuskan untuk membangun pabrik pipa karet reinforce rubber hose untuk air, gas, uap, minyak dan karet compound di kota Bandung Jawa Barat,” ujar istri dari Hans Guyer yang berkebangsaan Swiss ini.
Kerja keras, ulet dan pantang menyerah membuat Adau berhasil mewujudkan mimpinya. Hanya dalam jangka waktu 5 tahun pabrik pertamanya berdiri dengan megah di kota Cicalengka – Bandung Jawa Barat. Namun, pada tahun 1998 ketika Indonesia terkena krisis ekonomi dan politik, tidak terkecuali pabrik miliknya terkena imbas.
“Pabrik yang saya bangun demgan keringat dan air mata kolaps. Akan tetapi saya tidak mau membiarkan diri larut dalam keterpurukan. Dengan kekuatan yang tersisa saya segera bangkit dan berfikir bahwa sebagai orang Dayak kami dibesarkan di lingkungan hutan yang kaya hasil alam, salah satunya tambang emas. Maka setelah 7 tahun berjuang tanpa lelah dan mempelajari liku-liku pertambangan pada tahun 2005 saya berhasil mendapat konsesi eksplorasi seluas 125.000 hektar di Provinsi Kalimantan Tengah. Sebuah prestasi yang tidak main-main, menuntut ketangguhan dan tanggung jawab besar,” ungkap ibunda dari Angga Guyer (Lulusan Rischik Schule, Bisnis dan Keuangan, Bern Swiss), Henry Guyer (Lulusan Ethnology Kopenhagen University, Denmark), Amaze Bianka Ayudiana (Lulusan HI Unpar Bandung) dan Grace Stefany Ayudiani Guyer (Kedokteran Hewan Udayana Bali) ini.
Tidak hanya tambang, pada tahun 2018, Alida juga belajar usaha bidang property di kota Palangkaraya bermitra dengan pengusaha lokal. Dari mitra tersebut ia banyak menimba ilmu, sehingga dalam dua tahun berhasil membangun 70 unit rumah. Meski usia tidak lagi muda, ia tidak pernah berhenti bermimpi, ia pun membangun tempat wisata terpadu di daerah asal tempat kelahirannya, yaitu wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner, wisata sejarah dll. Bahkan saat krisis Pandemi beberapa waktu lalu, Alida membuka bisnis kuliner di Kota Bandung.
Namun kini, keadaan kesehatan dan usia tidak memungkinkan Alida terus berkiprah di dunia bisnis secara agresif. “Saya tidak bisa memilih sakit di saat yang tidak tepat. Tahun 2021 Covid membuat seluruh pergerakan dunia usaha seolah berhenti berjalan. Pengalaman hidup yang tidak terperikan. Anak tertua saya Angga dan adiknya Henry mengambil alih seluruh tanggung jawab keluarga,” tuturnya bangga.
Bagi Alida, di balik ujian berat selalu ada hikmah yang bisa diambil. Tutupnya beberapa Cafe, Restoran dan Bar, baik yang di Bali maupun yang di Bandung, membuat tantangan Baru bagi Alida sekeluarga. “Dengan tabah dan otak dingin anak saya Angga melihat peluang usaha lain. Dengan sigap ia membuka beberapa mini market Korean Food dan membangun dua lapangan Padel yang segera menjadi cukup viral di Bandung. Sementara Henry anak saya nomor 2, mengikuti jejak saya, memulai pekerjaan baru yang bergerak di bidang pertambangan. Tapi dia mandiri, memilih langkah bergabung dalam dunia pertambangan di pulau Sulawesi di perusahaan mertuanya. Saya dalam ketidak berdayaan lumpuh di tempat tidur tetap difungsikan anak sebagai Komisaris. Setelah bisa duduk dan bergerak saya belajar tanda tangan pakai tangan kiri dan cap jempol yang harus disahkan di Notaris,” lirih Alida. DW
