MajalahKebaya.com, Jakarta – Nilai-nilai perjuangan RA Kartini tidak hanya sebatas emansipasi atau persamaan hak dan kedudukan dengan laki-laki dalam segala aspek kehidupan. Lebih dari itu, setiap perempuan harus mampu mengeksplorasi dan mengembangkan semua potensi diri dalam karya nyata untuk kesejahteraan dan kebahagiaan, bukan saja untuk dirinya, tapi juga keluarga dan masyarakat, tanpa mengabaikan kodratnya sebagai seorang ibu dan istri yang di pundaknya terpatri tanggung jawab menyiapkan masa depan generasi penerus yang unggul.
Bagi RA Wulanayu atau akrab disapa Wulan, perjuangan RA Kartini adalah tentang keberanian, tekad baja untuk melakukan perubahan dan maju, kerja keras tanpa gengsi, tidak ada kata lelah dan menyerah, tahan banting, serta semangat untuk terus belajar memperkaya diri dengan ilmu tiada henti. Dengan nilai-nilai juang inilah Wulan membuktikan diri bisa mencapai level membanggakan sebagai seorang perempuan sukses dalam bidang digital marketing. Seorang Advertiser, Konsultan, Educator handal Digital Marketing Tiktok, Shopee dan Meta Ads, yang sanggup melejitkan omset klien berkali lipat, dari yang semula hanya beromset kecil bahkan tanpa omset sama sekali kini beromset hingga puluhan miliar.
Rahasia sukses Wulan tidak hanya karena konsisten berpedoman pada nilai-nilai tersebut dalam perjalanan dan perjuangan meniti kariernya, tapi ia sempurnakan semua itu dengan doa, sedekah, dan menyertakan Allah dalam setiap langkah yang dilaluinya. “Yang tak kalah penting, ridho suami bagi saya adalah paling utama. Kesuksesan yang saya raih adalah karena ridho suami…keuskesan saya adalah kesuksesan suami juga,” ucap Wulan bijak.
Menurut Wulan, perempuan masa kini meskipun dinafkahi suami, tetapi juga harus tetap bisa mandiri berkarya sendiri. “Karena saya sudah menikah, suksesnya seorang wanita terutama seorang istri tidak lepas dari ridho suami serta do’a suami karena surga seorang istri terletak di kaki suami, jika suami tidak ridho dengan apa yang kita kerjakan maka Alloh juga tidak akan meridhoi dan itu bisa menjadi salah satu penghalang sukses karir seorang wanita bersuami. Kalau belum menikah, suksesnya perempuan atas ridho kedua orang tua terutama ridho dan do’a dari ibu. Namun satu hal yang pasti, bagi saya semangat Kartini yang tergambar dalam perjalanan saya adalah tidak ada kata lelah dan menyerah.”

Perjalanan Penuh Liku dan Terjal
Terlahir dari keluarga yang kurang mampu, ayah seorang sopir dan ibu seorang penjual kue di Tuban – Jawa Timur, tidak menyurutkan tekad dan kemauan keras Wulan untuk kuliah. Ia sangat paham kondisi ekonomi keluarganya tak kan mampu memenuhi keinginannya. Karena itu, selama kuliah ia rajin mengerjakan paper hingga skripsi teman-teman untuk membiaya kuliahnya sendiri, sampai menamatkan pendidikan sebagai Sarjana S1 Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia.
Berkat kemampuan akademisnya yang mumpuni, Wulan kemudian menjadi guru Sekolah Dasar dan Konsultan Pajak. Cukup lama menggeluti kedua profesi ini, hingga di satu titik ia menyadari kariernya hanya berjalan di tempat dan begitu-begitu saja. Ia pun berkeinginan untuk menikah dan memiliki anak. Karena itu, dengan tekad bulat Wulan melepas pekerjaannya dan menikah pada tahun 2009.
Suami menyarankan Wulan untuk berkarya dan menjalankan usaha dari rumah saja. Apalagi ketika ia sudah memiliki anak tahun 2014. Sebelum menikah maemang Wulan sudah mengikuti kursus menjahit, sehingga ia pun mulai mengembangkan kemampuan menjahitnya, memproduksi pakaian, khususnya pakaian anak-anak perempuan. Mulai dari desain, pola, mencari bahan, hingga menjahit Wulan lakukan sendiri. Bahkan memposting hasil-hasil karyanya di internet, saat itu Facebook, tapi masih secara organik sebatas meng-upload foto-foto produk.
Produk-produk Wulan cukup diminati pasar, karena saat itu ia menemukan ada produk fashion, terutama hijab dan pakaian muslim anak perempuan, usia bayi hingga 9 tahun, dari Malaysia yang sangat bagus dan laku, dan ia jadikan itu sebagai referensi dalam memproduksi. Usaha yang dilakukan Wulan pun berkembang cukup bagus, sampai ia mempekerjakan seorang karyawan dan memiliki kurang lebih 50 distributor.
Namun seiring waktu, Wulan merasa ada yang kurang dengan usaha yang dijalankannya ini. Ia merasa kurang srek, dan lebih jauh ia seperti merasa terjebak dalam situasi yang bukan passion-nya. Apalagi ia melihat omset yang diraihnya tidak berkembang, sementara teman-teman yang lain sudah maju dengan omset yang terus meningkat. Akhirnya Wulan nekad menghentikan usahanya.
Saat itu, Wulan sudah bergabung dengan beberapa komunitas seperti sesama seller, dan komunitas-komunitas perempuan lainnya. Kepada teman-teman komunitas ia menyampaikan bahwa usaha pakaiannya telah ia tutup dan tidak tahu apa usaha selanjutnya yang akan ia lakukan. Teman-teman komunitas kemudian menyarankan Wulan untuk menjalankan usaha iklan, artinya mengerjakan iklan produk orang lain. Karena mereka melihat dan menilai Wulan bukan tipikal orang produksi, tapi dengan kemampuan komunikasi yang bagus, ia bisa menjadi seorang marketer yang bagus. Mereka melihat Wulan adalah orang panggung, seorang artis yang berbakat.
“Dari mana mereka menilai saya seperti itu? Padahal saya termasuk orang yang introvert, tidak cantik, tidak suka tampil, apalagi berfoto-foto. Tapi mungkin mereka ada benarnya juga, setelah saya disarankan untuk mengikuti test psikologi, ternyata memang benar saya tidak pas di produksi, saya bukan orang produksi, tapi jiwa saya senang melayani. Kalau ada yang meminta saya mengerjakan sesuatu untuk mereka, saya akan kerjakan dengan sungguh-sungguh, allout,” kenang wanita sederhana kelahiran Tuban, 20 Agustus ini.
Oleh teman-teman Wulan disarankan untuk mengerjakan iklan-iklan mereka. Ia pun bertekad untuk belajar cara mengiklankan produk. Ia mengikuti berbagai kelas workshop hingga mengikuti seminar-seminar tentang advertising. Untuk itu tentu dibutuhkan biaya yang tidak kecil. Ia pun rela menjual mobilnya demi membekali diri dengan ilmu. Namun, pada saat yang bersamaan, bisnis sang suami mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kondisi ekonomi keluarga pun terpuruk. Namun tekad Wulan tidak goyah, ia harus belajar untuk menguasai ilmu advertising/digital marketing, meskipun untuk itu harus menggadaikan rumah di bank.
“Rumah dari suami tidak saya tempati, digadaikan ke bank. Kami kemudian ngontrak bahkan sampai lima kali. Baru pada kali kelima ngontrak saya baru memiliki rumah sendiri. Keadaan ekonomi saya waktu itu sangat terpuruk. Saya terlilit utang yang banyak, dan rasa-rasanya tidak bisa saya bayar. Setiap hari orang bank menelepon nagih…dan saya selalu menjawab besok akan saya bayar.. tapi saya tetap mengikuti kelas workshop, sampai-sampai adik saya bertanya, ‘apa yang harus kamu lakukan untuk mengatasi keadaanmu saat ini?’.. dan saya menjawab dengan yakin, ya dengan ilmu. Saya sangat yakin bahwa ilmu akan bisa mengatasi persoalan saya,” tegas Wulan.
Lompatan Baru Temukan Solusi
Setelah mendapat dorongan dari teman, Wulan akhirnya memberanikan diri. Ia pun mengerjakan iklan dari temannya, padahal ketika itu ia sama sekali tidak memiliki portofolio di bidang advertising. Wulan pun tidak berani meminta berapa bayaran untuk jasanya, karena baginya dipercaya saja sudah Alhamdulillah. “Kepada teman itu ketika ditanya mau dibawayar berapa, saya hanya jawab seikhlasnya saja…kamu percaya saya saja itu sudah Alhamdulillah banget. Teman-teman merasa yakin saya mampu melakukannya, dan di sini saya merasa Allah membuat jalannya,” lirih Wulan.
Sejak itu, semangat Wulan semakin terpacu untuk memberikan yang terbaik bagi klien. Namanya sudah mulai dikenal, bukan karena ia mengiklankan diri, tetapi pembicaraan dari mulut ke mulut teman-temannya (the power of mouth atau getok tular) kian melambungkan namanya. Rata-rata semua teman yang dibantu Wulan merasa puas dan tidak kecewa dengan hasil kerjanya. “Saya tipikal orang yang kalau mengerjakan sesuatu sangat total, maksudnya, jangan sampai orang itu kecewa ya, saya akan memberikan yang terbaik, dari situ kan mungkin, teman-teman mereferensikan, dari mulut ke mulut, ke calon-calon klien yang lain.”
Karena suka dengan hasil pekerjaannya, Wulan iseng posting, di sosial media, bukan bertujuan mengiklankan diri atau mencari klien. Ia hanya merasa bangga dengan hasil karya yang dikerjakannya sendiri, tidak punya tim, hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang ingin sedikit memiliki penghasilan untuk membantu meringankan beban ekonomi dan utang yang melilit. “Karena sejak awal memang saya fokus kepada mencari solusi, terutama bagaimana melunasi utang-utang, akhirnya ya Allah itu membukakan jalan, ada saja yang entah karena saya posting ada orang yang beli. Akhirnya saya pun mendapat 1-2 klien,” ujar Wulan terharu.
Sedikit demi sedikit Wulan semakin mumpuni dalam dunia digital marketing, ia bisa melunasi utang, hidup keluarga sudah lumayan mencukupi. Ia pun berkomitmen tidak akan mau berutang lagi ke bank.

Next Level yang Menjanjikan
Lompatan berikutnya, Wulan mendapat tantangan baru untuk masuk ke dunia digital marketing yang lebih tinggi lagi. Ketika teman-teman menginginkan dirinya mengerjakan iklan produk mereka untuk ditayang di TikTok, Facebook, dan Shopee, yang artinya harus mempelajari Meta Ads, dengan halus ia jujur menyampaikan tidak memiliki biaya, meskipun ia ingin sekali mempelajari itu.
Di luar dugaan, teman-teman Wulan menyanggupi semua biaya untuk ia belajar, bahkan transportasi Surabaya Jakarta juga Bandung plus uang sangu mereka tanggung. Wulan pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan teman-teman kepadanya. “Makanya, saya tidak pernah melupakan kebaikan teman-teman ya, yang sampai sekarang Alhamdulillah masih menjadi klien saya,” ucapnya terharu.
Setelah menguasai Digital Marketing khususnya apa yang lazim disebut iklan CPAS (Collaborative Performance Advertising Solution), yaitu solusi periklanan kolaboratif antara brand dan seller marketplace yang memungkinkan brand menjalankan iklan di Meta Ads (Facebook & Instagram) dan mengarahkan pengguna langsung ke halaman produk di marketplace (Shopee), lompatan karier Wulan semakin meningkat ke level yang lebih tinggi. Sebelumnya Wulan hanya berkutat di Meta Ads yang mengarahkan pengguna langsung ke website atau landing page pemilik brand atau seller.
Wulan sangat bersyukur dengan apa yang diyakini dan dipedomaninya selama ini, tidak salah. Bahwa solusi terbaik untuk semua permasalahannya adalah ilmu. Karena itu, tiada henti ia belajar melalui kelas-kelas workshop dan seminar-seminar, bahkan sampai saat ini pun ia terus belajar. Bahkan ia secara khusus menginvestasikan budget untuk belajar, mulai dari kelas yang berbiaya ratusan ribu hingga puluhan juta. “Saya suka mencari ilmu, sampai detik inipun saya masih ikut kelas-kelas, untuk update ilmu yang sudah saya miliki dan ilmu-ilmu baru yang terus berkembang dinamis sesuai perkembangan dan kebutuhan zaman. Menurut saya, ilmu apapun tidak ada yang tidak bermanfaat, pasti satu dua kata dari pembicaranya itu bermanfaat, entah kapan, kalau bukan hari ini oasti suatu saat berguna, saya yakinnya seperti itu,” ungkap Wulan tegas.
Dari seringnya mengikuti workshop, Wulan kemudian bertemu dengan salah seorang teman yang memiliki brand usaha Ayu Citra. Sang teman mempercayakan Wulan untuk mengerjakan iklan produk-produk Ayu Citra (fashion) untuk ditayangkan di ads TikTok, sementara Wulan sama sekali belum pernah belajar tentang iklan di TikTok. Dorongan dan kepercayaan teman yang begitu kuat, menjadi tantangan bagi Wulan. Ia pun menyanggupi dan mengerjakan iklan Ayu Citra. Alhasil, hanya dalam waktu kurang dari dua bulan omset Ayu Citra melejit dari awal sekitar 1 miliaran menjadi 4 miliar lebih dan terus bertambah dengan ROI sebesar 20. ROI (Return on Investment) adalah rasio keuangan yang mengukur efisiensi dan profitabilitas suatu investasi dengan membandingkan keuntungan bersih yang diperoleh terhadap total biaya yang dikeluarkan. Dalam hal ini, Ayu Citra mendapat keuntungan 20 kali lipat dari budget iklannya. Sebuah pencapaian yang luar biasa.
Setelah Ayu Citra, Wulan terus mendapat klien yang rata-rata ‘sakit’. Di tangannya, usaha-usaha para klien itu menjadi sehat. Dari yang beromset kecil, bahkan tanpa omset sama sekali, bisa meraih omset berkali lipat. Ada salah satu klien yang ditangani Wulan sebagai Konsultan mengalami peningkatan omset yang sangat fantastis, dari omset 1 miliar naik menjadi 4 miliar, terus meningkat 10 miliar, bahkan sampai 30 miliar per bulan, dan terus naik.

Raih Prestasi Membanggakan
Melihat kenaikan omset dari produk-produk yang iklannya digarap Wulan, pihak TikTok kemudian membujuknya untuk mau bergabung sebagai Partner TikTok. Awalnya Wulan tidak berminat, karena memang ia tidak ngoyo dan tidak muluk-muluk dalam mengejar target karier. Baginya, pencapaian saat ini sudah lebih dari cukup untuk gaya hidupnya yang sederhana dan apa adanya. Namun karena terus didesak, akhirnya Wulan setuju bergabung dengan TikTok sebagai Partner dengan syarat Wulan harus memiliki perusahaan Agensi.
Wulan lalu mendirikan Agensi dengan nama perusahaan PT. Wulan Gemilang Solusi. Pada level awal, Agensi milik Wulan masuk dalam kategori SMB (Small Medium Business). Ini adalah level paling bawah di TikTok. Setiap agensi akan diberikan challenge mencapai target tertentu setiap tiga bulan sekali. Wulan pun mampu mencapai target yang ditetapkan. Setelah satu tahun di level SMB, ia kemudian direkomendasikan naik tingkat ke level Entreprise karena memenuhi syarat. Kembali Wulan tidak berminat naik level karena sudah cukup puas dengan pencapaiannya saat ini di level SMB, tapi sistem di TikTok mengharuskan untuk pindah level. Jadilah Wulan sebagai pemecah record wanita pertama di Indonesia pemilik agensi yang berhasil masuk level Entreprise yang selama ini didominasi laki-laki.
Pada level Entreprise pun, prestasi Wulan semakin menanjak. Semua target yang diberikan kepada agensinya tercapai. Agensi Wulan pernah terpilih untuk pergi ke Shanghai-China, dan di sana pun diberi challenge-challenge. Beberapa waktu lalu, Wulan kembali terpilih untuk mengikuti acara bergengsi di Singapura, di mana semua agensi berprestasi dan terpilih se-Asia Tenggara berkumpul.
“Saya jadi wanita pertama pemilik agensi dari Indonesia yang terpilih mengikuti acara Agensi Asia Tenggara yang sangat bergengsi di Singapura. Tidak semua agensi bisa masuk ke sana, hanya agensi yang terpilih. Meskipun berada di level Enterprise, tapi kalau GMV tidak memenuhi syarat, tidak diundang (GMV atau Gross Merchandise Value adalah total nilai penjualan kotor barang atau jasa yang terjual melalui situs atau aplikasi e-commerce dalam kurun waktu tertentu). Nah, Alhamdulillah saya memenuhi syarat, dan saya diundang menghadiri acara bergengsi di Singapura pada bulan Februari yang lalu,” bangga Wulan.
Membagi Ilmu
Reputasi Wulan yang gemilang menjadi fokus perhatian dari banyak pihak, terutama dari para pemilik brand dan sesama advertiser atau pun marketer. Laman medsosnya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kiat, cara, dan rahasia kesuksesan yang ia capai. Merasa lelah harus menjawab satu per satu, terbersit dalam benak Wulan untuk membuka kelas saja. Ia pun segera membuka kelas dengan rasa percaya diri yang tinggi karena sudah melewati lebih dari sepuluh klien dengan berbagai macam kategori produk. Itu artinya ia sudah merasa pantas ilmunya dihargai.
Wulan membuka workshop pertama kali di Hotel Four Point Tunjungan Plaza Surabaya, dengan jumlah peserta 70 orang dari berbagai jenis bisnis, dan dari seluruh Indonesia. Workshop kedua, ketiga, dan baru-baru ini workshop keempat, peserta yang hadir lebih dari 100 orang. Rencananya pada November mendatang diadakan workshop kelima.
Saat ini, Wulang sengaja membatasi jumlah klien agar bisa fokus pada workshop dan optimal memberikan yang terbaik pada klien yang ada.

Sukses Atas Izin Allah
Wulan tidak pernah mengklaim kesuksesan yang ia raih adalah karena kehebatannya sendiri. Ia meyakini semua itu atas pertolongan dan izin Allah lewat keteguhan hatinya, kerja sama tim yang baik antara dirinya dan owner brand. “Alhamdulillah klien yang saya pegang itu rata-rata 80% GMV-nya 1 miliar. Kalau belum satu miliar pasti saya push, memberi semangat…’ayo kalau teman-teman lain sudah sampai di angka 30 miliar, kamu belum. Tugas-tugas yang saya berikan banyak yang belum diselesaikan, belum dikerjakan, saatnya kita kejar. 30 miliar tidak harus sekarang, tapi step by step karena 30 miliar itu tidak dicapai dalam semalam, tetapi ketika kamu berproses dengan saya bertahun-tahun, insya Allah itu terjadi’.”
Keyakinan Wulan sangat kuat, bahwa Allah pasti menolong. Motivasi terkuat dalam dirinya untuk sukses adalah masa-masa tersulit dalam hidup yang sudah ia lalui. Kondisi ekonomi keluarga yang berat, utang yang melilit, merelakan semua yang dimiliki demi bertahan hidup, serta keinginan dan harapan untuk bisa mengumrohkan keluarga, adalah sumber energi yang terus memacu semangat Wulan dalam perjuangannya. Ia yakin Allah akan membukakan jalan. Kini semua itu terbukti.
Selain nilai-nilai kerja yang dipedomani, Wulan juga tidak pernah lupa melakukan hal utama yang diyakininya sangat berpengaruh besar dalam perjalanan meraih kesuksesan. Yaitu: Doa malan, Sholat malam, dan Sedekah. Hingga kini ia tidak pernah lupa menyisihkan 2.5% dari penghasilannya untuk sedekah. Bahkan Wulan tidak pernah menghitung untuk sedekah. Ia berbagi atau memberi kepada yang membutuhkan bukan pada saat ia sudah memiliki uang yang berlebih. Dalam keadaan susah pun ia rela berbagi. “Sedekah itu bukan dalam keadaan sekarang saya punya banyak rezeki, tapi ketika saya sempit, saya sering menyedekahkan uang saya sepenuhnya bahkan untuk makan keluarga besoknya tidak saya pikirkan, sampai suami saya komplain, ‘Mbak, kan nggak punya uang?.. Terus besok makannya apa?’..saya hanya menjawab, besok pasti ada saja rezeki untu kita.”
Wulan yakin Allah pasti menolong. “Alhamdulillah ya kita selamat sampai hari ini dan diganti rezekinya berkali-kali lipat dan bahkan, bukan hanya bisa umroh untuk lima orang anggota keluarga inti, sampai sepupu dan karyawan saya semuanya saya berangkatkan umroh. Saya pun berkesempatan Haji Furoda yang seumur hidup tidak pernah terbayangkan.”
Lebih jauh Wulan menegaskan keyakinannya, jika kita melibatkan Allah dalam setiap usaha kita, pasti Allah akan memberikan jalan. “Tidak mungkin Allah tidak memberikan jalan. Jadi yakin bismillah kita pasti berhasil. Kita kan sudah melakukan effort, sudah melakukan A, B, C step by step, Allah pasti memberikan jalan, petunjuk, makanya kalau bersama saya harus yakin seperti itu dan pasti sukses.”
Didik Anak Bermental Kuat
Pendidikan akademik dan karakter bagi anak sangat diutamakan Wulan. Karena itu, jauh sebelum punya anak, ia sudah memiliki cita-cita anaknya kelak harus mendapat pendidikan yang bagus dan berkualitas, baik dari sisi ilmu maupun akhlak dan agama. “Sudah menjadi cita-cita saya ketika nikah dulu, anak-anak saya harus sekolah di Al Azhar, karena di sana semua fasilitas untuk pendidikan anak lengkap, termasuk ilmu agamanya,” jelas ibunda dari Yazida Sania Ramadhani (12th SDI Al Azhar 11 Surabaya), dan Naryama Allie Abimata (TK Al Azhar 35 Surabaya) ini.
Bersama suami, Abdul Hafid Fadli, yang saat ini dipercaya sebagai Manager PT. Wulan Ayu Gemilang Solusi, keduanya saling support dalam membesarkan dan mendidik anak-anak mereka. Wulan selalu menanamkan nilai-nilai juang kepada buah hatinya, dan tidak memanjakan mereka, Kalau anak menginginkan sesuatu, Wulan selalu menekankan, harus berusaha. Ia tidak mau hanya memberi dan memberi apa keinginan mereka, tapi anak-anak harus memperjuangkannya.
“Misalnya mengajak anak saya yang sudah remaja untuk bikin konten affiliate, meskipun hanya sekadar iseng ya. Nah, Alhamdulillah dari sana itu minimal ia mendapat satu juta lah ya dia gajian dari konten. Jadi anak saya didik kalau menginginkan HP seperti iPhone, ya kerja dulu dong, bukan dari Mami. Mereka harus berusaha dulu sendiri. Seperti Ramadhan kemarin dia mendapat fee 5 juta, dan dia senang sekali. Saya bilang kepadanya, karena uang jajan sudah dari Mami, uang dari affiliate harus kamu manfaatkan untuk membeli yang urgent-urgent saja, dan sisanya harus ditabung,” ungkap Wulang bahagia.
Kepada anak-anaknya, Wulan selalu mencontohkan dirinya, jika menginginkan sesuatu harus bekerja keras dulu, harus ada effort. Itu dilakukan Wulan, agar kelak anak-anaknya bermental kuat dan tahan banting.
Kebersamaan dengan anak juga merupakan hal terpenting bagi Wulan, meskipun hanya sekadar jalan-jalan di mall, makan di luar bersama keluarga, dan melakukan kegiatan bersama seperti memasak dan traveling. Itu juga menjadi me time dan quality time Wulan bersama keluarga, terutama dengan anak-anak. DW
