Cover Story

Dr. Ir. Hanifah Handayani MT, Terpanggil untuk Membentuk Tunas Bangsa yang Tangguh dan Berkarakter

MajalahKebaya.com, Jakarta – Perjalanan karier Dr. Ir. Hanifah Handayani, M.T. merupakan representasi dari dedikasi yang sangat panjang.  Karier wanita cantik yang akrab disapa Hani ini, diawali dari fondasi pendidikan Teknik yang kuat dipadukan dengan Ilmu Komunikasi sehingga membentuk pola pikir analitis, sistematis, dan berorientasi pada penyelesaian masalah.

“Sejak muda saya sangat aktif di berbagai organisasi sehingga membentuk karakter dan pribadi yang kuat serta berwawasan luas. Dulu waktu muda saya sebagai pengurus KNPI Kabupaten Indramayu, Ketua Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Indranayu dan sebagainya,” kenang wanita kelahiran Indramayu, 31 Oktober ini.

Awal karier Hani bekerja di industri petrokimia. Di usia yang masih muda 35 tahun, ia pun memutuskan mendirikan akademi minyak dan gas balongan yang dikenal luas sebagai Akamigas Balongan di tahun 2002. Sejak saat itulah Hani menjadi tenaga pendidik dan akademisi, dengan fokus pada pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pada fase awal ini, Hani aktif dalam membangun kapasitas akademik melalui pengembangan materi pembelajaran, penyusunan kurikulum, serta pendampingan mahasiswa dalam bidang teknik dan K3. Komitmen tersebut menjadikan Hani dikenal sebagai sosok akademisi yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami kebutuhan praktis dunia industri.

“Saya pernah menjabat sebagai Direktur Akamigas Balongan selama 2 periode dan karir saya pun terus meningkat hingga sekarang saya menjadi Rektor di Instituut Teknologi Petroleum Balongan selama 2 periode juga.  Dalam dunia akademik, saya juga berperan aktif dalam pengembangan institusi pendidikan tinggi, khususnya di lingkungan Institut Teknologi Petroleum Balongan (ITPB),” papar perempuan yang menyelesaikan pendidikan Doctor di Sahid University, Jakarta.

Pada tahap ini, karier Hani berkembang dari sekadar pengajar menjadi figur yang terlibat dalam pengembangan standar mutu akademik, penyusunan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), perencanaan strategis institusi, serta penguatan kerja sama industri. Peran ini menunjukkan transformasi perjalanan karier Hani menuju posisi yang lebih strategis dalam kepemimpinan akademik.

Hani juga aktif menjembatani kebutuhan dunia akademik dengan industri melalui berbagai kunjungan industri, forum profesional, kerja sama kelembagaan, dan penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan sektor energi nasional. Keterlibatan Hani dalam forum-forum seperti penguatan kerja sama dengan industri migas dan energi menjadi bukti bahwa perjalanan kariernya terus bergerak pada jalur yang relevan dengan perkembangan zaman.

Hani semakin dikenal sebagai penulis, peneliti, dan pengembang konsep inovatif dalam bidang K3.  Banyak buku yang sudah ditulis Hanifah Handayani seperti ‘Pentingnya Komunikasi Di Bidang K3’, ‘Komunikasi Contractor Safety Management System’, ‘Strategi Komunikasi Kepemimpinan di Bidang HSE’, dan lain lain.

Aktif Berorganisasi

“Selain berkiprah dalam pendidikan tinggi, saya juga aktif di berbagai organisasi, salah satunya menjadi  Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Vokasi Keselamatan Kesehatan Kerja Indonesia (APTVK3I), pengurus di Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta (ABPPTSI) Jawa Barat, pengurus Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI) Jawa Barat, Ketua IWAPI Kabupaten Indramayu dan Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Indramayu,” jelas lulusan Master, Universitas Indonesia, Depok dan S1 Institut Pertanian Bogor.

Dengan kiprahnya di IWAPI dan GOW, sebagai seorang wanita Hani ingin wanita-wanita Indonesia bisa berkiprah baik itu di dunia bisnis maupun kemasyarakatan.  “Peran wanita itu penting dalam kehidupan keluarga, berbangsa dan bernegara.  Karena di tangan wanita inilah akan dilahirkan tunas-tunas bangsa yang tangguh.  Dan negara ini ke depan tergantung dari bagaimana tunas-tunas bangsa ini dididik untuk berkembang,”tandasnya.

Banyak penghargaan yang telah diraih Hani berkat kiprahnya, antara lain Runner up Wanita Favorit Indramayu tahun 2010, The Best Academic Leadership Achievement 2023, Inovator Transformasi Pendidikan  2023, Akademisi Perempuan Indramayu 2023, AWEN 2024, Awards Asia Pacific Sustainability 2025, Award From Word Safety Organisation 2025.

Pendidikan, K-3, dan Prospek ke Depan

Hani memutuskan aktif sebagai pendidik karena jiwa yang terpanggil.  Dari SMP hingga kuliah ia suka sekali mengajari teman-temannya. “Ada perasaan bahagia apabila apa yang saya bisa orang lain juga bisa lakukan.  Itu yang memotivasi saya untuk menjadi seorang pendidik sampai sekarang. Pendidik merupakan tugas yang mulia karena bisa membentuk tunas-tunas bangsa yang berkarakter dan menguasai bidang keahlian,” jelasnya bangga.

Bidang Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) menarik bagi Hani karena ilmu ini unik yang merupakan perpaduan antara keselamatan, kesehatan dan lingkungan. Ilmu ini mengajarkan bagaimana kita bekerja agar aman, selamat, dan sehat dengan memperhatikan lingkungan sekitar tempat kerja kita. ”Sebagai seorang pendidik yang telah cukup lama berkecimpung di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), saya melihat bahwa prospek profesi ini pada tahun-tahun mendatang, khususnya memasuki tahun 2026, justru semakin cerah dan memiliki posisi yang sangat strategis,” tandasnya.

Menurut Hani, K3 saat ini tidak lagi dipandang sebagai sekadar kewajiban administratif atau pelengkap dalam sebuah organisasi. Dunia industri mulai menyadari bahwa keselamatan kerja adalah fondasi utama bagi keberlanjutan usaha, produktivitas, dan perlindungan sumber daya manusia. Pemerintah Indonesia pada 2026 menempatkan penguatan K3 sebagai agenda nasional, dengan fokus pada digitalisasi layanan, penguatan sertifikasi Ahli K3, dan pembudayaan Sistem Manajemen K3 (SMK3).

“Bagi saya, hal ini menunjukkan bahwa profesi K3 akan semakin dibutuhkan, bukan hanya di sektor industri berat seperti migas, konstruksi, pertambangan, dan manufaktur, tetapi juga di sektor kesehatan, pendidikan, logistik, energi baru terbarukan, hingga fasilitas publik. Hampir seluruh sektor kerja kini dituntut untuk menerapkan budaya kerja yang aman dan sehat. Karena itu, kebutuhan tenaga profesional di bidang K3 akan terus meningkat dari tahun ke tahun,” paparnya.

Yang menarik, memasuki 2026 Hani melihat adanya pergeseran paradigma dalam profesi K3. Jika dahulu fokus utama K3 adalah mencegah kecelakaan yang sudah terlihat risikonya, maka ke depan profesi ini akan lebih mengarah pada pendekatan prediktif dan preventif berbasis teknologi. Artificial Intelligence, Internet of Things (IoT), wearable devices, smart PPE, hingga sistem monitoring berbasis data akan menjadi bagian penting dari praktik K3 modern.

Sebagai contoh, kamera berbasis AI kini mulai digunakan untuk mendeteksi penggunaan APD, perilaku tidak aman, serta potensi bahaya di area kerja secara real-time. Sensor wearable juga dapat memantau tingkat kelelahan pekerja, suhu tubuh, detak jantung, bahkan posisi pekerja di area berisiko tinggi. Menurut Hani, inilah wajah baru profesi K3 di masa depan: lebih digital, lebih cepat, dan lebih berbasis data.

Selain aspek teknologi, Hani juga melihat bahwa peran K3 akan semakin dekat dengan isu ESG (Environmental, Social, Governance) dan sustainability. Saat ini, perusahaan tidak hanya dinilai dari sisi keuntungan, tetapi juga dari bagaimana mereka melindungi pekerja, menjaga kesehatan tenaga kerja, dan membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, indikator K3 seperti angka kecelakaan kerja, tingkat absensi akibat penyakit kerja, dan budaya keselamatan menjadi bagian penting dalam penilaian keberlanjutan perusahaan.

“Saya melihat perkembangan ini sebagai peluang besar bagi dunia pendidikan tinggi. Kurikulum K3 ke depan tidak cukup hanya mengajarkan regulasi dan prosedur keselamatan, tetapi juga harus mulai mengintegrasikan analisis data, teknologi digital, kecerdasan buatan, ergonomi modern, serta aspek psikososial di tempat kerja. Tahun 2026 akan menjadi momentum penting untuk menyiapkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga siap menghadapi tantangan industri masa depan,” jelasnya.

Perempuan dan Tantangan

Di tengah dunia industri yang selama ini identik dengan lingkungan kerja yang keras, teknis, dan sering didominasi oleh laki-laki, Hani berusaha hadir sebagai sosok perempuan yang membuktikan bahwa kompetensi, ketekunan, dan kepedulian dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun budaya keselamatan kerja.

“Sebagai seorang pendidik dan profesional di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), dalam perjalanan karier saya tidak selalu berjalan mudah. Saya harus menapaki jalan yang penuh tantangan, terutama karena bidang yang digelutinya sering kali masih dipandang sebagai wilayah yang lebih dekat dengan profesi laki-laki,” kenangnya.

Pada awal perjalanan, Hani sering menghadapi pandangan bahwa bidang bidang yang ia tekuni ini  lebih cocok untuk laki-laki karena banyak berkaitan dengan pekerjaan lapangan, inspeksi industri, dan pengambilan keputusan yang dianggap membutuhkan ketegasan tinggi.  Namun baginya, tantangan tersebut bukan alasan untuk mundur. Justru dari sanalah semangatnya tumbuh. Ia memilih menjawab keraguan dengan prestasi, kompetensi, dan konsistensi dalam bekerja. “Perempuan memiliki potensi besar untuk berkembang di berbagai bidang. Ketelitian, kepedulian terhadap detail, kemampuan komunikasi, serta empati dalam memahami kondisi pekerja menjadi nilai tambah yang sangat penting bagi perempuan.”

Tantangan lain yang tidak kalah besar yaitu menjaga keseimbangan antara peran profesional dan kehidupan personal. Dunia kerja menuntut dedikasi tinggi, sementara peran sebagai perempuan sering kali juga bersinggungan dengan tanggung jawab keluarga dan sosial.

Hani hanya ingin menunjukkan bahwa keberhasilan seorang perempuan tidak diukur dari mudahnya perjalanan yang ditempuh, tetapi dari bagaimana ia mampu menghadapi tantangan dan mengubahnya menjadi kekuatan.  Berhasil dalam keluarga dan berhasil dalam karir.

“Saya mengakui bahwa membagi waktu antara pekerjaan, pengembangan diri, dan keluarga membutuhkan kedisiplinan serta dukungan lingkungan yang baik. Namun, semua itu justru mengajarkan arti ketangguhan dan manajemen diri,” ujar ibu dari dr. Rien Herdiyani MM (33 tahun), Lia Kholifiah B.Sc (29 tahun), Sava Salsabila (16 tahun).

“Saya belajar untuk menyusun prioritas. Ada waktu untuk bekerja secara profesional, ada waktu untuk keluarga, dan ada waktu untuk terus belajar agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.  Saya pun mengajarkan anak-anak saya yang kebetulan perempuan semua akan pentingnya menjadi wanita yang mandiri dan tangguh.  Alhamdulillah sulung sekarang sudah menjadi dokter dan memiliki klinik sendiri di Cirebon dan yang kedua sudah tamat S1 di Jerman dan sudah bekerja di industri energi di Jerman dan sekarang menempuh S2 sambil bekerja, sedangkan yang ketiga masih SMA,” tambah Hani. EK

Terus Belajar, Jaga Integritas, dan Bekerja dengan Hati

Bagi Hani, perjalanan karier dan kehidupan profesional bukanlah sesuatu yang dibangun dalam waktu singkat. Semua membutuhkan proses, kesabaran, dan komitmen yang terus dijaga dari waktu ke waktu. “Jika saya ditanya apa kunci atau kiat sukses yang selalu saya pegang, maka jawaban pertama saya adalah konsistensi dalam belajar dan terus bertumbuh,” ujarnya bijak.

Sukses menurut Hani bukan hanya tentang mencapai posisi tertentu, tetapi tentang bagaimana kita terus memberikan manfaat dan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar. Dalam profesi sebagai pendidik, ia selalu memegang prinsip bahwa ilmu yang dimiliki harus dapat membawa dampak positif, baik bagi mahasiswa, institusi, maupun dunia industri. Ketika seseorang bekerja dengan niat memberi manfaat, maka hasil yang baik biasanya akan mengikuti.

Kunci kedua yang selalu dipegang adalah integritas dan tanggung jawab. Dalam setiap pekerjaan, Hani selalu berusaha menjalankannya dengan sepenuh hati, jujur, dan profesional. Ia meyakini bahwa reputasi seseorang dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten seperti menepati komitmen, menjaga kualitas pekerjaan, menghargai waktu, dan bersikap profesional dalam setiap situasi.

“Selain itu, saya juga selalu berusaha menjaga keseimbangan antara ketegasan dan empati. Sebagai seorang perempuan yang berkarier di bidang yang cukup dinamis, saya belajar bahwa keberhasilan tidak hanya datang dari kecerdasan teknis, tetapi juga dari kemampuan membangun komunikasi yang baik, memahami orang lain, dan menciptakan hubungan kerja yang sehat,” papar Hani.

Di tengah kesibukan pekerjaan, Hani juga menyadari bahwa menjaga diri sendiri sama pentingnya dengan menjalankan tanggung jawab profesional. Karena itu, ia selalu berusaha menyediakan waktu untuk “me time”, meskipun sederhana.

“Bagi saya, me time bukan harus sesuatu yang mewah. Kadang hal yang paling sederhana justru memberikan ketenangan yang besar. Saya senang menghabiskan waktu dengan membaca buku, menulis, atau menyusun ide-ide baru untuk pengembangan karya ilmiah dan buku yang sedang saya kerjakan. Menulis bagi saya bukan hanya bagian dari pekerjaan, tetapi juga menjadi ruang refleksi pribadi yang membuat pikiran terasa lebih tenang,” jelasnya.

Selain itu, Hani juga menikmati waktu santai bersama keluarga. Berkumpul, berbincang ringan, atau sekadar menikmati suasana rumah menjadi cara baginya mengisi ulang energi setelah rutinitas yang padat. Kehangatan keluarga sering kali menjadi sumber kekuatan terbesar dalam menjalani kehidupan profesional.

“Di luar pekerjaan, saya juga menyukai kegiatan yang memberi ruang untuk berpikir dan menyegarkan pikiran, seperti mengikuti kegiatan di organisasi wanita dimana saya dan teman-teman sesama waanita bisa sharing ilmu dan pengalaman.  Kadang saat berkumpul bersama teman-teman di IWAPI atau GOW, kita bisa tertawa lepas menghilangkan kepenatan rutinitas pekerjaan.  Saya juga suka sekali kumpul dengan keluarga dan cucu-cucu saya. Bercanda dengan cucu adalah kebahagiaan tersendiri.  Saya paling suka jalan pagi dengan cucu-cucu saya yang masih berumur 6 dan 7 tahun,” tambahnya.

Pada akhirnya, kunci sukses yang selalu dipegang Hani adalah terus belajar, menjaga integritas, bekerja dengan hati, dan tidak lupa memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dan menikmati hidup.

Inspirasi dan Keteladanan

Menurut Hani ada dua sosok perempuan yang menginspirasi dalam hidupnya yaitu Siti Khodijah dan Siti Aisyah istri baginda Rosullah Muhammad SAW. Keduanya bukan hanya dikenal sebagai istri Rasulullah, tetapi juga sebagai perempuan luar biasa yang memiliki kecerdasan, kekuatan iman, keberanian, dan kontribusi besar bagi peradaban Islam.

Sebagai perempuan yang menjalani dunia profesional, Hani sangat terinspirasi oleh bagaimana Siti Khadijah memadukan kecerdasan, kepemimpinan, dan kasih sayang. Beliau menunjukkan bahwa menjadi perempuan sukses tidak membuat seseorang kehilangan sisi kelembutan dan perannya sebagai pendamping yang kuat.

Sosok kedua yang juga sangat menginspirasi Hani adalah Siti Aisyah. Jika Siti Khadijah menginspirasi melalui kekuatan dan keteguhan, maka Siti Aisyah menginspirasi melalui kecerdasan intelektual dan keberanian berpikir.

Siti Aisyah dikenal sebagai perempuan yang sangat cerdas, kritis, dan memiliki keluasan ilmu yang luar biasa. Banyak hadis Nabi yang diriwayatkan melalui beliau, sehingga perannya dalam menjaga dan menyebarkan ilmu sangat besar. Bahkan hingga saat ini, pemikiran dan riwayat beliau menjadi rujukan penting dalam ilmu Islam.

Yang paling dikagumi dari kedua sosok ini adalah bahwa mereka menghadirkan dua bentuk kekuatan perempuan yang saling melengkapi. Siti Khadijah mengajarkan tentang keteguhan hati, kepemimpinan, dan dukungan yang tulus, sementara Siti Aisyah mengajarkan tentang kecerdasan, wawasan, dan keberanian intelektual.

Pesan Sederhana untuk Sesama Perempuan

“Sebagai penutup, ada satu pesan yang selalu ingin saya sampaikan kepada para pembaca, khususnya kepada para perempuan, generasi muda, mahasiswa, dan siapa pun yang sedang berjuang meniti jalan hidup serta kariernya. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Tidak semua jalan akan selalu mudah, tidak semua proses akan selalu berjalan sesuai rencana, dan tidak semua usaha langsung membuahkan hasil. Namun justru di situlah makna dari sebuah perjalanan hidup. Setiap tantangan, setiap kegagalan, dan setiap proses yang kita lalui sesungguhnya sedang membentuk kekuatan diri kita,” harapnya.

Hani mendorong para perempuan  dan generasi muda agar jangan pernah merasa kecil hanya karena berada di lingkungan yang penuh tantangan. Jangan pernah ragu dengan kemampuan diri sendiri. Kadang yang kita butuhkan bukan kesempatan yang sempurna, tetapi keberanian untuk memulai dan ketekunan untuk terus melangkah.

Perempuan memiliki potensi yang sangat besar untuk berkarya, memimpin, dan memberi manfaat. Perempuan mampu menjadi sosok yang lembut namun kuat, cerdas namun rendah hati, dan profesional tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Jangan pernah merasa bahwa ada bidang tertentu yang bukan tempat bagi perempuan. Selama kita memiliki ilmu, kemauan belajar, dan integritas, maka kita memiliki ruang untuk tumbuh di mana pun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top