Cover Story

Siti Aisya, A.Md., S.T., M.M., Konsisten dan Fokus Kembangkan Bisnis Supplier Besi Baja dan Kebutuhan Peralatan Kapal

MajalahKebaya.com, Jakarta – Pengalaman karier di perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) Korea mendorong Siti Aisya untuk merintis usaha sendiri di bidang yang sama. Ia mulai berkarier tahun 1998 di PMA Korea yang men-supply baja dan peralatan pembuatan kapal. Dan, tahun 2009 ia memutuskan resign untuk merintis usaha sendiri.

Wanita cantik kelahiran Surabaya, 15 Desember, yang akrab disapa Aisya atau Isa, mendirikan CV Dana Karya Abadi yang di-upgrade tahun 2014 menjadi PT Fortuna Badja Inti seiring meningkatnya omset usaha. “Saat itu, di tahun 2014 kita sudah mulai banyak menjalin interaksi bisnis dengan pabrikan di luar negeri . Jadi kami impor item besi baja dan peralatan kapal untuk memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia, karena memang kebanyakan masih bergantung dari luar,  apalagi  item baja yang kami supply merupakan spesifikasi grade khusus yang masih belum bisa diproduksi dalam negeri,” papar lulusan S2 (Magister Management) Universitas Ciputra Surabaya ini.

Sebagai perusahaan dagang yang bergerak di bidang supplier besi baja dan kebutuhan peralatan kapal, PT Fortuna Inti Badja berusaha memenuhi kebutuhan customer sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan, waktu pengiriman terbaik dan harga yang bersaing.

Lingkup bisnis PT Fortuna Badja Inti menyediakan item besi dan baja berdasarkan spesifikasi yang dibutuhkan dan peralatan kebutuhan pembangunan kapal. Perusahaan customer yang merupakan target pasar dari PT Fortuna Badja Inti adalah perusahaan di bidang galangan kapal, industri manufacture, industri peralatan pabrik gula, petrochemical, refinery dan pembangkit listrik.

Fokus utamanya mencakup pekerjaan supply dalam pembangunan, dan pemeliharaan kapal dan beberapa  peralatan yang lain. PT Fortuna Badja Inti juga supply ke bidang defense industry.

“Beberapa material dan peralatan yang kami adakan dari luar negeri meliputi plat pipa baja spesifikasi khusus, peralatan kapal, cargo handling, pembuatan crane, heli facility support, dan lain sebagainya. Kebutuhan secara mayoritas salah satunya kami dapatkan dari negara Korea, Taiwan, Singapura, dan Malaysia,” jelas Aisya sambil menambahkan, PT Fortuna Badja Inti juga menyediakan produk keselamatan kerja dan kebakaran (tire safety) antara lain fire extinguisher, hydrant project, alarm installation dan safety equipment.

Hadapi Tantangan dengan Bijak

Tantangan di bisnis ini menurut Aisya terutama dari sisi operasional yang memerlukan proses cukup lama hingga berbulan-bulan. Seperti misalnya pekerjaan pengadaan peralatan kapal yang membutuhkan waktu cukup lama dimulai dari evaluasi teknis sampai dengan pengadaan peralatan tersebut.

“Jadi pendapatan kita juga menunggu proses pekerjaan sampai selesai. Dan juga menghadapi proses penagihan invoice yang mundur terlalu lama. Tantangan lain yang dihadapi beberapa menghadapi partner luar negeri yang tidak berkomitmen menjalankan kewajibannya dalam pembayaran fee, DP, dan lain-lain,” jelas Aisya.

Strategi menghadapi tantangan dan usaha supaya terus berkembang, Aisya berusaha menjaga network dalam bisnis. Ia juga tetap konsisten dan fokus menjalankan bisnisnya. “Dulu ibu saya menjalankan home industry dan saya dididik untuk fokus dalam bekerja. Jangan sering pindah-pindah supaya bisa benar-benar menguasai. Pesan ibu saya kalau kamu jadi yang spesial nantinya akan dicari orang,” kenang Aisya.

Jaga Keseimbangan Hidup

Di luar kesibukan karier, Aisya masih berusaha meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan beberapa organisasi, salah satunya IWAPI dan beberapa kegiatan bakti sosial. la juga berusaha meluangkan waktu untuk traveling di luar waktu kesibukan.

“Saya suka travel seasonal dan traveling bersama teman-teman, keluarga, dan anak-anak. Kebetulan anak sulung saya sedang menempuh pendidikan kuliah di Korea, jadi saya lebih sering berpergian ke Korea karena urusan pekerjaan dan sesekali mengunjungi anak di sana,” jelas ibu dari Briana Sekar Veasna Ayu (Kuliah jurusan International Study di Korea University, Seoul, South Korea), Davin Danadipa Yuniarko (Kelas 11 Science di Surabaya Cambridge School) don Bianca Kei Namira (Kelas 3 SDI Al­Azhar 11 Surabaya) ini.

Aisya bersama putra-putrinya meluangkan waktu bersama dengan menonton bioskop dan mengunjungi tempat-tempat baru. “Anak-anak mungkin dulu saat masih di kandungan sudah biasa ikut bepergian, kebanyakan memang urusan pekerjaan, misalnya ada undangan conference dari salah satu pabrikan kita di Swedia. Di sana juga sekaligus mengunjungi tempat yang baru dan akhirnya terbiasa sampai sekarang,” ujarnya.

Dalam karier dan menjalankan bisnis Aisya banyak terinspirasi dari kedua orang tuanya. Bahkan usaha orang tuanya sebagai pelaku UMKM di bidang kerajinan tas tetap eksis hingga saat ini, yang diteruskan oleh saudara dari ayahnya.

“Dulu orang tua saya ingin anak-anaknya bisa sekolah tinggi, jadi kami tidak diminta untuk ikut terlibat dalam menjalankan bisnis tersebut. Pasti setiap orang tua ingin anaknya bisa mendapat pekerjaan bogus setelah lulus kuliah. Padahal apabila usaha orang tua dikembangkan bisa menjadi lebih baik dan justru bisa membuka lapangan pekerjaan,” terangnya. EK

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top