MajalahKebaya.com, Jakarta – Labuan Bajo menjadi salah satu destinasi primadona bagi wisatawan lokal hingga mancanegara. Cecilia Shelvy bersama suaminya, Robin Cahyadin dengan jeli dan sigap menangkap peluang bisnis yang cukup potensial di ujung barat Pulau Flores NTT ini. Dan tahun 2012, ia dan suaminya mulai merintis bisnis pembuatan kapal wisata dengan brand Cajoma Indonesia di Labuan Bajo.
“Setelah menikah tahun 2009, saya bersama suami merintis usaha toko yang menjual general engines baik untuk marine maupun pertanian, general spareparts, alat teknik, supply perkapalan dan bengkel motor. Sekarang toko kami ada dua cabang di Labuan Bajo dengan nama Toko Surya Motor (PT Marina Surya Teknik). Nah di tahun 2012 kami melihat peluang bisnis kapal wisata di Labuan Bajo,” jelas wanita cantik kelahiran Denpasar, 27 Oktober 1981 ini.

Bisnis kapal wisata yang dirintis Shelvy bersama suami, berkembang cukup pesat. Setelah berhasil menjual 2 unit kapal phinisi dan saat sedang membangun kapal ke-3 (Cajoma III) berkapasitas 8 orang, di tahun 2014 keduanya memutuskan untuk membuka kantor tour and travel di bawah bendera PT. Komodo Panorama Indah, dengan brand Cajoma Indonesia, yang memiliki website produk www.cajoma.co.id.
“Saat itu karena baru memulai dan bisnis kapal wisata di Labuan Bajo belum se-booming sekarang, kami berencana untuk bisa menjangkau semua lapisan wisatawan, mulai yang backpacker, kelas menengah sampai wisatawan kelas luxury baik untuk keperluan leisure maupun diving,” kenang wanita yang pernah kuliah di LP3I, Public Relations tahun 1999 – 2001 ini.
Shelvy dan suaminya kemudian membangun dua tipe kapal yang disebut Local Boat (Non Phinisi), Cajoma Koe berkapasitas 4 dan Cajoma Eco berkapasitas 13 orang. Ini ditujukan untuk economy budget travelers.
“Setelah itu, kami membangun kapal phinisi ke- 4 (Cajoma IV) dengan konsep private and luxury berkapasitas 10 orang. Kapal ini selesai dibangun tahun 2016,” tambah Shelvy.
Seiring waktu, Shelvy dan suaminya merasa masih mampu memenuhi kebutuhan pasar dengan permintaan kapasitas yang lebih besar. “Kami pun membangun kapal phinisi Cajoma V yang berkapasitas 20 orang. Kapal ini selesai dibangun tahun 2018. Untuk kapal daily dive kami memiliki 2 unit kapal kayu tanpa cabin dengan nama Cajoma Dive berkapasitas 15 pax dan Malaso Dive berkapasitas 23 pax,” terangnya.
Tahun 2018 Cajoma Indonesia beroperasi dengan total 7 kapal. Namun seiring berjalan waktu, ketika Shelvy dan suaminya sudah bisa menentukan target market yang tepat dari brand Cajoma Indonesia, mereka memutuskan untuk berjalan hanya dengan kapal phinisi dan kapal daily dive.
“Keputusan ini kami ambil setelah kami berhasil melewati masa-masa sulit, ketika lockdown Covid-19 terjadi hampir selama 2 tahun dan hampir melumpuhkan seluruh kegiatan pariwisata kami dan Labuan Bajo secara keseluruhan,” kenangnya.
Banyak faktor pertimbangan lain yang memperkuat keputusan Shelvy dan suami untuk hanya menjalankan kapal phinisi dan daily dive. Seperti faktor jumlah local boat yang sudah semakin banyak di Labuan Bajo, faktor safety, efisensi operasional dan faktor personal branding yang telah otomatis terbentuk bahwa kapal Cajoma Indonesia lebih kuat di kapal phinisi. “Jadi ketika kami mulai beroperasi lagi tahun 2022 setelah lockdown, kami berjalan dengan 3 kapal phinisi dan 2 kapal daily dive,” tambahnya.
Dengan terus berusaha memenuhi permintaan pasar untuk wisata cepat, tahun 2024 Sherly dan suami meluncurkan produk kapal speed boat dengan kapasitas 18 pax dengan nama Cajoma Leva. “Kami ingin hadir untuk memberikan opsi seluas-luasnya bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Labuan Bajo,” tandas Shelvy.

Shelvy dan suami juga memutuskan mengembangkan satu lagi kantor tour and travel tahun 2024, di bawah CV. Trijaya Sukses Mandiri, dengan brand Oaseast.
“Di perusahaan ini saya berharap lebih luas lagi bisa mempromosikan Labuan Bajo dengan menjual paket-paket tour-nya, transportasi, hotel booking serta perjalanan wisata dengan menggunakan kapal-kapal kolaborasi dengan sesama pemilik kapal, sehingga opsi berlibur ke Labuan Bajo dapat dibuat benar-benar secara customized mengikuti usia, selera, budget dan kemampuan tamu,” papar Shelvy.
Hadirkan Keunggulan Menjawab Kebutuhan Pasar
Dalam menjalankan bisnis, Shelvy berupaya menawarkan produk dengan berbagai keunggulan, salah satunya, di toko mesin dan spareparts dengan produk yang lengkap mulai dari mesin penggerak, dinamo, generator set, mesin kapal, traktor, mesin perontok padi, mesin giling padi/tepung, alat-alat pertukangan dan bangunan, berikut dilengkapi dengan sparepart-nya.
Di bidang perkapalan juga ada beberapa pilihan unit kapal phinisi, yaitu berkapasitas 10 dan 20 pax, 2 kapal daily dive dan 1 speedboat. Kapal yang berkapasitas 20 pax juga beroperasi di Alor – Banda – Raja Ampat, selain di Komodo ( Labuan Bajo). Jadi Shelvy cukup memiliki opsi untuk ditawarkan kepada konsumen. “Kami juga sangat memerhatikan maintenance dan safety kapal-kapal kami karena kami juga bisa men-supply sendiri segala kebutuhannya,” terangnya.
Sementara bisnis tour and travel, kantor operasionalnya berbasis di Labuan Bajo dan terdaftar sebagai perusahaan/travel agen resmi sehingga mudah ditemukan dan untuk mengurangi kecurigaan konsumen sebagai agen yang abal-abal. Sedangkan kantor marketingnya ada di Surabaya.
“Berdiri sejak 2014, cukup membuat kami memiliki network dan kerja sama dengan agen-agen besar dan kami belum pernah mengalami distrust dari agen lain. Walaupun bukan berarti kami tidak pernah mengalami masalah, namun cukup membuktikan apapun masalah yang terjadi baik di darat maupun di laut ketika berlayar, mampu kami solusikan dengan baik,” tambah Shelvy.
Potensi Bisnis Menjanjikan
Bisnis yang dikembangkan Shelvy dan suaminya memiliki prospek dan potensi yang begitu besar di Labuhan Bajo, termasuk potensi bisnis toko mesin yang dirintis pertama kali pada tahun 2003. Saat itu Labuan Bajo menjadi kota kabupaten yang baru mekar (dari Kabupaten Manggarai, dipecah menjadi Manggarai dan Manggarai Barat. Labuan Bajo ada di Kabupaten Manggarai Barat). Shelvy dan suaminya yang baru saja menikah waktu itu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena yakin Labuan Bajo akan berkembang pesat ke depan.
Saat akan merintis bisnis wisata kapal phinisi, kapal dive dan speedboat yang dimulai tahun 2014, Shelvy dan suaminya juga melihat potensi bahari Labuan Bajo sebagai destinasi yang sangat indah dan yakin bahwa ini akan menjadi ‘ sesuatu’ yang booming di kemudian hari.
“Maka kami pun memulai dengan membangun kapal phinisi, membuat kantor, dan menjalankan bisnis pariwisata ini. Sekali lagi intuisi kami tidak salah, terbukti ketika Presiden Jokowi menetapkan Labuan Bajo sebagai destinasi premium /prioritas di tahun 2020. Dan semua persiapan infrastruktur telah disiapkan sejak tahun 2018 – 2019,” ungkapnya.

Cerdas Hadapi Tantangan
Shelvy optimis Labuan Bajo akan tetap menjadi prospek bisnis yang bagus ke depan. Tentu saja bukan tidak ada tantangan yang menyertai. Ia bersama suaminya berhasil melewati banyak masa-masa krisis, seperti masalah cuaca ekstrem yang menghambat proses logistik kelangkaan BBM, kesusahan air bersih, signal internet, pemadaman listrik, SDM yang terbatas, bahkan puncak krisis ketika pandemi dan lockdown wisata dialami hampir 2 tahun.
Namun dengan kerja sama dan koordinasi yang baik antara stakeholder dengan Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat, masalah-masalah tersebut bisa teratasi dengan baik. “Saya tetap melihat potensi pariwisata di Labuan Bajo masih sangat terbuka lebar, selama kita tetap konsisten dan tetap ‘barrier resistance’ menghadapi berbagai masalah,” yakinnya.
Dari pengalaman Shelvy, ada banyak faktor penyebab kondisi bisnis di Labuan Bajo kadang terasa sangat sulit. Contoh paling krusial adalah kurangnya supply BBM ketika musim ramai wisata. Terjadi ketimpangan besar antara supply dan demand dari kapal-kapal wisata sehingga kadang menyebabkan trip dibatalkan.
Tantangan lain perlunya waktu dan kesabaran untuk membina SDM sehingga benar-benar sesuai dengan yang dibutuhkan. Selvy melihat pesatnya pembangunan di Labuan Bajo kurang berjalan seiring dengan kemajuan pendidikan untuk SDM tenaga kerja.
Kebijakan Pemerintah Pusat juga turut berpengaruh, misalnya ketika terjadi pemotongan anggaran dari Pemerintah Pusat yang berdampak pada perputaran ekonomi di Labuan Bajo. “Mungkin tidak hanya di Labuan Bajo saja terasa efeknya. Namun sebagai kota yang menjadikan pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian, hal ini benar-benar membuat seluruh mata rantai perekonomian tidak berputar karena tidak ada pembelanjaan dari Pemerintah, baik dari pusat maupun daerah. Sehingga baik hotel, restoran, UMKM, logistic supply, pemilik kapal dan lain-lain yang biasanya menggerakkan roda perekonomian jadi jalan di tempat,” paparnya.
Berbagai tantangan dalam bisnis dapat diatasi Shelvy dan suaminya dengan baik. Semua itu tak lepas dari niat baik dalam menjalankan bisnis, komunikasi yang baik dengan pihak-pihak terkait dan keseimbangan terhadap social culture dan nature, patuh aturan, maka semua akan tetap berjalan dengan baik.
“Intinya ketika kita serakah dan hanya mementingkan kepentingan kita saja, mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari alam dan lingkungan sosial maka kita tidak akan bertahan,” ujarnya.
Ke depan, Shelvy ingin memulihkan usaha yang masih terasa agak sulit sejak pandemi dan masih berlanjut hingga sekarang rerutama untuk bisnis toko mesin. “Ekspansi bisnis untuk beberapa bidang yang sebelumnya sudah ada seperti Villa dan Guesthouse, namun kami ingin lebih di-organize dengan baik,” harapnya.
Resolusi di tahun 2026 yang ingin dicapai Shelvy antara lain lebih mengembangkan diri dengan belajar hal-hal baru misalnya di dunia kuliner, investasi saham, digital marketing dan lain-lain, serta memperluas network bisnis.
Tips Sukses dalam Bisnis
Shelvy memutuskan tinggal dan berkarya di Labuan Bajo pada tahun 2003, setelah ia resign dan pindah dari Bali. “Saat itu saya berusia 22 tahun dan Labuan Bajo masih minim infrastruktur. Saya merasa bahwa keputusan itu adalah suatu ‘keajaiban’. Hanya dengan suatu intuisi/perasaan tanpa disertai fakta atau pengetahuan tentang rencana-rencana pembangunan dari Pemerintah bahwa Labuan Bajo akan menjadi destinasi premium suatu hari. Ternyata 17 tahun kemudian yang terjadi di luar ekspektasi saya. Saya merasa dituntun dan diberikan rencana terbaik oleh Tuhan,” kenangnya.
“Semua keputusan itu saya ambil setelah menimbang 2 hal: apakah saya ingin menjadi ikan teri di samudera atau ikan paus di kolam. Dan saya memutuskan ingin menjadi ikan paus di kolam,” tegasnya.
Beberapa tips sukses dalam berbisnis yang diterapkan Shelvy dan suaminya antara lain menjadikan setiap masalah bukan sebagai bahan untuk menjadi stress dan excuse untuk menghindar. Menjalani dan menghadapi semua masalah dengan tidak menyalahkan orang lain atau keadaan. Belajar hal-hal baru dari masalah yang ada agar lebih kuat dan tidak jatuh lagi ke depan. Tak kalah penting membangun network dan komunikasi seluas-luasnya baik vertikal maupun horizontal dan membangun trust dari personal branding/image yang baik.
Quality Time Bersama Keluarga
Setiap weekend Shelvy dan suaminya melakukan refreshing dengan istirahat di rumah saja atau traveling 2 bulan sekali mengunjungi anak-anaknya yang sedang bersekolah di Surabaya.
“Waktu khusus bersama keluarga biasanya ketika liburan sekolah bulan Juni dan Desember (akhir tahun). Kami berusaha berkumpul dan berlibur dengan anak-anak walaupun tidak selalu terjadi, tetapi setidaknya kami selalu mengusahakan,” jelas ibu dari Patricia Carmelyne Roshelko (kelas 10 SMPK Gloria 2 Surabaya), Aleccia Jocelyne Roshelko (kelas 8, SMPK St. Agnes Surabaya) dan Matthew Davyrenko (kelas 7, SMPK Gloria 2 Surabaya).
Selain itu Shelvy mengikuti kegiatan-kegiatan pameran, promosi atau sales call di luar kota atau luar negeri yang dianggapnya sebagai salah satu cara untuk refreshing.
Saat ini Shelvy bergabung dalam Asosiasi Gabungan Pengusaha Wisata dan Bahari ( Gahawisri) di Labuan Bajo sebagai pengurus dengan jabatan Sekjen. Ia juga mendukung sebuah komunitas perlindungan wanita dan anak yang dibawahi Ordo SSPS (susteran Katolik) di Labuan Bajo, menjadi pengajar Sekolah Minggu di Gereja Kristen GPdI di Labuan Bajo, dan menjadi salah satu anggota UMKM di aplikasi PADI UMKM yang diadakan Rumah BUMN Labuan Bajo.
Dalam mengatur waktu sebagai ibu, istri dan wanita pekerja, tidak ada panduan khusus. Semua dipelajari Shelvy dengan jatuh bangun dan seiring berjalannya waktu ia juga belajar menyelesaikan berbagai masalah.
“Hal paling susah menurut saya adalah ketika saya memiliki 3 anak balita (dengan jarak kira-kira 1,5 tahun tiap anak). Di saat bersamaan harus menjaga sendiri toko yang tanpa sistem mulai jam 7 pagi,” kenang Shelvy.
Solusi yang diterapkan Shelvy antara main dengan time management sebaik-baiknya antara waktu kerja dan istirahat serta waktu bersama anak. Ia juga melakukan delegasi tugas kepada orang lain yang telah dipercaya, misalnya untuk memasak, membantu menjaga anak, membantu pekerjaan rumah, membantu pekerjaan toko. “Ketika kita mencoba menjadi ‘one man show’ dengan tanggung jawab sebanyak itu percayalah bahwa itu sia-sia dan tidak ter-handle dengan baik. Intinya kemampuan memanage dengan baik dapat menyelesaikan banyak tugas secara baik,” ungkapnya.
Solusi berikutnya adalah emotional control management. Dengan melibatkan banyak orang bekerja di sekitar kita pasti banyak sekali hal-hal yang membuat kita marah, sedih, curiga, putus asa dll. Shelvy belajar menjadi orang yang tidak menyelesaikan apa-apa dengan kemarahan. Belajar untuk percaya kepada orang lain dan tetap konsisten untuk memantau tanpa mendikte terus.
Fleksibel juga penting saat bekerja sama melibatkan banyak orang. “Kita tidak bisa selalu memaksakan standard kita dengan kaku yang akhirnya membuat kita selalu kecewa dengan hasilnya. Kita sebaiknya selalu berusaha melihat/mendengar point of view (POV) orang lain dan selalu terbuka untuk diskusi,”pungkas wanita yang hobi traveling, memasak, membuat kue dan merangkai bunga ini. EK
