MajalahKebaya.com, Jakarta – Kesuksesan yang instan sangat berisiko membuat kita lengah dan jumawa. Sebaliknya, proses panjang yang berliku-likulah yang sebenarnya membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh, berkarakter kuat, dan tahan banting. Itulah kekayaan sejati yang akan bertahan bahkan setelah kesuksesan materi tercapai. Sebuah refleksi perjalanan karier Evi Susanti atau lebih popular dengan Evie Alice, Owner Restoran Daoen Djati – fokus menyajikan masakan Nusantara, Euphoria Cafe and Bakery, dan Miracle Education – kursus hardksill dan soft skill dari usia 5 hingga tanpa batasan usia dan LPK bahasa asing (Jepang, mandarin, dan Jerman).
Meskipun merasa belum mencapai kesuksesan, namun Avie sangat yakin akan menuju ke sana dengan prinsip-prinsip juang yang dijalaninya saat ini. “Jujur, saya merasa belum sampai di puncak kesuksesan yang saya impikan. Saat ini, saya sedang dalam perjalanan, fokus untuk meletakkan fondasi yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Prinsip-prinsip yang dipegang teguh dan sedang dijalani Evie setiap hari, antara lain: Konsistensi adalah Kekuatan Super, – tekun, sabar, dan disiplin dalam hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari akan membawa hasil yang besar dalam jangka panjang; Adaptif terhadap Perubahan, – dunia terus berubah, kiat menghadapinya adalah selalu mau belajar, menerima perubahan, dan mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal; Financial Prudence, – selalu berhati-hati dan bijak dalam mengelola keuangan perusahaan: tidak boros, realistis, dan alokasikan dana hanya untuk hal-hal yang produktif; Investasi Tak Kenal Henti, – meski dari nilai yang kecil, ia selalu menyisihkan untuk terus berinvestasi, baik dalam pengembangan bisnis, ilmu pengetahuan, maupun diri sendiri.
Intinya, menurut Evie, untuk meraih kesuksesan harus fokus pada proses, bukan hanya hasil. Dengan membangun fondasi yang benar, ia percaya kesuksesan yang sejati dan berkelanjutan akan mengikuti di kemudian hari.

Perjalanan Karier
Dapur Sekolah Pertama. Evie terlahir dari keluarga yang bergelut di dunia kuliner. Sejak kecil, dapur sudah seperti ‘sekolah’ pertama baginya. Di sanalah ia tak hanya belajar memasak, tetapi juga belajar kesabaran, ketelitian, dan arti menghargai proses. Kakek, ayah,hingga sepupunya memiliki usaha di bidang kuliner.
Meski demikian, Evie memulai bisnisnya dari nol. Mulai dari pesanan rumahan, pelan-pelan, sampai akhirnya ia memberanikan diri membuka tempat sendiri, tanpa bantuan finansial langsung dari orang tua. Warisan terbesar yang ia terima justru semangat pantang menyerah, cita rasa, dan etos kerja yang kuat.
“Dari sanalah keyakinan saya tumbuh: makanan bukan sekadar pengisi perut, tapi juga bahasa cinta yang mampu menyatukan hati. Sebuah hidangan lezat bisa menghadirkan canda tawa, kehangatan keluarga, bahkan menciptakan kenangan yang melekat seumur hidup,” ungkap Sarjana S1, kelahiran Cirebon/13 Oktober ini.
Passion Kuat di Dunia Pendidikan. Selain kuliner, Evie memiliki ketertarikan besar di dunia pendidikan. Sejak remaja, ia sudah antusias belajar berbagai keterampilan. Baginya, belajar adalah proses seumur hidup, tak peduli berapa pun usia, selama ada kemauan membuka diri, di situlah kesempatan untuk berkembang hadir. Itulah mengapa ia tertarik membuka bisnis di dunia pendidikan yang fokus untuk pengembangan dalam hal teknis (hard skill) maupun kemampuan interpersonal seperti public speaking.
“Pada akhirnya, saya melihat kuliner dan pendidikan punya kesamaan mendasar: keduanya adalah kebutuhan pokok yang memberi energi positif. Satu mengisi tubuh, satunya mengisi jiwa. Dan yang terpenting, ketika dikerjakan dengan senang hati maka keduanya bisa menjadi sumber kebahagiaan, tak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain,” ujar wanita cantik yang hobi olahraga (angkat beban), traveling, membaca, menulis, mendengarkan musik dan merawat kucing ini.
Cerdas dan Bijak Hadapi Tantangan
Menurut ibunda dari Victoria Alice (SMA), Alessandra Belle (SMP), dan Clifford Henry (SD) ini, menghadapi era digital saat ini seperti berjalan di dua dunia yang sama-sama menuntut perhatian penuh, dunia usaha dan dunia keluarga. Sebagai seorang pengusaha kuliner dengan tiga orang anak sekaligus penopang ekonomi keluarga, ia sering berada di titik di mana harus benar-benar pandai menjaga keseimbangan.
“Di sisi karier, tantangan terbesarnya adalah membagi waktu untuk terus belajar dan beradaptasi. Dunia digital berkembang begitu cepat, sementara usaha kuliner saya masih berbasis konvensional. Kadang saya ingin mengikuti tren, memahami tools digital baru, atau memperluas promosi secara online, tapi di sisi lain, keterbatasan waktu dan cash flow membuat langkah saya harus lebih realistis. Saya juga harus bersaing dengan para pelaku startup muda yang geraknya sangat cepat. Itu membuat saya sadar bahwa keunggulan bukan hanya di teknologi saja, tapi di pengalaman, cita rasa, dan ketulusan dalam melayani pelanggan,” ungkap Evie.
Sementara di sisi keluarga, tantangannya menurut Evie, lebih pada beban mental ganda. Sebagai ibu dan pengusaha, ia sering merasa harus bisa sempurna di dua peran sekaligus, menjadi ibu yang ideal di rumah dan pemimpin yang tangguh di pekerjaan. Kadang lelah, tapi ia belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti harus melakukan semuanya sendiri. Ada saatnya ia pergi berlibur untuk memberi ruang untuk diri sendiri.
“Saya juga berusaha membimbing anak-anak menghadapi derasnya arus informasi di dunia digital. Saya ajarkan mereka untuk tidak mudah percaya pada apa yang mereka lihat di media sosial, tidak malas untuk selalu cek dan ricek, mencari tahu kebenaran, dan juga melatih mereka untuk berani berpikir kritis. Saya ingin mereka tumbuh bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga bijak, berempati, dan punya integritas,” tegas Evie.
Dan yang paling berat dari semuanya, lanjut Evie, adalah mental load dan menjaga harmoni. Ia selalu merasa harus bisa mengerjakan semuanya sendiri sambil tetap tersenyum, kuat dan tegar. Antara bisnis dan keluarga, antara tanggung jawab dan hati. Tapi selama ia bisa menjalani semuanya dengan cinta, Evie yakin semua akan menemukan jalannya.

Lakukan Terobosan dan Inovasi Tiada Henti
Menghadapi berbagai tantangan, terutama persaingan yang semakin sengit saat ini, Evie tida henti melakukan inovasi dan terobosan kreatif agar bisnisnya terus berkembang. Dalam bidang kuliner, ia menghidupkan kembali warisan rasa. Evie memulai dengan melihat sebuah peluang dari warisan kuliner yang sudah ada. Nasi Jamblang khas Cirebon, misalnya, yang meskipun lezat, seringkali disajikan dengan cara yang sangat tradisional sehingga kebersihannya kurang terjaga.
Inovasi yang dilakukan Evie adalah mengangkat masakan tradisional naik kelas. Ia amenyajikannya lebih modern dengan metode ‘bain-marie’ yang menjaga makanan tetap hangat sempurna, serta melengkapinya dengan pelindung kaca bening. Cara ini bukan hanya menjamin kebersihan dari debu dan serangga, tetapi juga memberikan pengalaman bersantap yang lebih nyaman dan premium bagi pelanggan dan tentunya dengan harga yang ekonomis dan ramah di kantong sehingga dapat dinikmati semua kalangan.
Passion Evie tidak berhenti di situ. Sebagai putri Cirebon, ia memiliki misi yang lebih besar: ‘memperkenalkan kekayaan kuliner Jawa Barat kepada dunia.’ Ia percaya, setiap hidangan adalah duta budaya. Dengan mencintai masakan lokal, kita turut melestarikan identitas bangsa. Evie sering mengedukasi pelanggan tentang rempah-rempah Nusantara beserta khasiatnya. “Kita harus bangga! Indonesia pernah diperebutkan dunia karena rempahnya. Mengapa kita tidak melanjutkan warisan itu di meja makan kita sendiri?”
Ke depan, Evie bercita-cita menciptakan bumbu dasar masakan Nusantara seperti pasta bumbu empal gentong atau bumbu ayam goreng khas Sunda dalam kemasan higienis, tanpa pengawet, dan siap ekspor. Ini adalah langkah strategis untuk membawa rasa Indonesia go-international.
Sebagai seorang pegiat angkat beban, Evie juga paham betul pentingnya asupan protein tinggi. Oleh karena itu, ia juga ingin mengembangkan line produk frozen food berbahan daging berkualitas berikut bumbu pastanya yang praktis, higienis, dan menjamin nutrisi tetap terjaga, khusus untuk mereka yang menjalani gaya hidup sehat.
Di bidang bakery, Evie memadukan kenikmatan dan kesehatan. Ia mengurangi kadar gula dalam hampir semua produk. Ia juga bereksperimen membuat snack modern yang ‘gluten-free’ dan lebih menyehatkan, tanpa mengorbankan cita rasa.
“Semua inovasi ini adalah hasil dari ‘proses trial and error yang panjang’ dapur. Puluhan kali percobaan gagal, tetapi itu semua adalah proses pembelajaran berharga yang akhirnya melahirkan produk-produk yang tidak hanya enak, tetapi juga membawa nilai lebih bagi kesehatan dan pelestarian budaya.
Sementara di dunia pendidikan, Evie menggugah kesadaran di masyarakat bahwa edukasi karakter adalah fondasi mutlak edukasi formal. Masyarakat masih cenderung menggunakan nilai akademik sebagai tolok ukur dasar keberhasilan atau perkembangan seseorang, dan itu menurutnya sebuah kekeliruan.
“Knowledge atau pencapaian akademik memang penting, namun jika tidak dilandasi karakter yang kuat, malah bisa menjadi bumerang. Intelektual adalah 2 mata pedang, bisa digunakan untuk hal baik namun juga sangat bisa dimanfaatkan untuk hal buruk yang merugikan. Di Miracle Education, pemahaman itulah yang menjadi dasar penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar; menjadi sebuah wadah positif bagi siswa/i didik untuk dapat mengembangkan ilmu dan keterampilan mereka dengan didasari pembentukan karakter,” terang Evie.
Terobosan Evie adalah menempatkan diri sebagai rumah kedua seorang anak, dengan metode pengajaran terpersonalisasi yang ditujukan tidak hanya untuk mengakomodasi kesulitan mereka di bidang akademik, namun juga pendampingan intensif dari guru sebagai orang tua ketiga anak yang berperan vital dalam pengembangan watak dan karakter mereka.

Prestasi Membanggakan
Meskipun bisnis kuliner Evie terbilang masih muda, ada beberapa hal yang ia syukuri dan banggakan. Ia berhasil membangun kepercayaan dari pelanggan setia yang tidak hanya berasal dari kota Cirebon, tetapi juga dari berbagai kota lainnya. Beberapa produk unggulannya telah menjadi ‘best-seller’ dan terus dicari karena konsistensi kualitasnya. Boleh dibilang, Evie berhasil menciptakan standar rasa dan kualitas yang unik di kelasnya.
Evie juga bangga dapat menjalankan peran ganda sebagai ibu dan pengusaha, dan tetap bertahan bahkan tumbuh di tengah ketidakstabilan ekonomi. Ketahanan ini sendiri baginya adalah sebuah pencapaian. Dan, yang paling membanggakan adalah ketika ia sering dijadikan contoh oleh wanita-wanita lain tentang bagaimana menciptakan harmoni, bukan sekadar keseimbangan, antara mengelola bisnis, menjaga kehangatan keluarga, dan tetap memprioritaskan kesehatan diri.
Begitupun dengan bisnis pendidikan. Evie bisa berekspansi dengan dibukanya beberapa cabang di berbagai kota dalam kurun waktu yang relatif berdekatan, menunjukkan bahwa brand miliknya terpercaya. Keberhasilan menjual konsep dalam bentuk franchise membuktikan bahwa sistem dan nilai yang dibangun tidak hanya bermanfaat, tetapi juga dapat direplikasi dan dikembangkan secara praktis bersama lebih banyak pihak.
“Dan, dari sisi siswa/i sendiri, banyak sekali prestasi yang sudah ditorehkan mereka selama 8 tahun Miracle Education berdiri, mulai dari taraf kota, provinsi, nasional, hingga internasional, bahkan salah satu murid kami berhasil menjadi juara public speaking tingkat flagship nasional di tahun 2024, jadi untuk kualitas pendidikan sudah tidak perlu dipertanyakan.”
Terapkan Gaya Hidup Sehat
Sebagai perempuan kebutuhan me time sangat perlu, terutama untuk menjaga penampilan tetap bugar, cantik, dan awet muda. Menurut Evie, kunci utamanya ada pada konsistensi, bukan kesempurnaan. Ia telah menerapkan gaya hidup sehat yang sudah dijalani dengan disiplin dan konsisten selama puluhan tahun.
Untuk menjaga kebugaran dan bentuk tubuh, sebagai pegiat olahraga, Evie fokus pada ‘angkat beban’ diselingi dengan kardio seperti joging atau MMA (boxing/muay thai). Aktif bergerak sudah menjadi bagian hidup Evie sejak kecil. Prinsipnya sederhana, ketika sudah berhasil membentuk tubuh lewat kerja keras bertahun-tahun, secara alami kita akan termotivasi untuk menjaganya.

“Saya tidak melakukan ‘diet’ yang menyiksa. Saya masih menikmati semua ‘comfort food’ favorit seperti nasi goreng, gorengan, bakso, bahkan dessert manis. Kuncinya adalah porsi! Pola makan saya kira-kira 80% adalah makanan tinggi protein (yang otomatis lebih rendah karbo dan lemak), dan 20% adalah ruang untuk menikmati makanan yang saya sukai,” jelasnya.
Evie sangat memperhatikan asupan untuk kulit dan otak. Buah-buahan seperti mixed berries, pisang, nanas, serta sayuran hijau dan oranye, kacang-kacangan seperti walnut, selalu ada dalam menu mingguannya. Ia mengonsumsinya secara bergantian, tidak harus semuanya sekaligus setiap hari. “Memiliki massa otot di atas rata-rata wanita kebanyakan adalah salah satu kebanggaan saya. Saya percaya, otot yang kuat adalah ‘investasi’ awet muda yang alami!”
Dalam hal perawatan wajah, rutinitas Evie sederhana saja. facial rutin untuk totok wajah dan pembersihan komedo, memakai masker mingguan, dan menggunakan ‘skincare’yang bagus. Ia merasa belum perlu perawatan yang lebih intens seperti injeksi. Selain toleransi Evie terhadap rasa sakit rendah, jadwal olahraga yang keras juga membuat efeknya tidak bertahan lama. Sehingga, untuk saat ini, cara alami adalah pilihan terbaik baginya.
Dan, untuk ‘mengisi ulang’ jiwa, me time terbaik Evie adalah ‘bertualang’ di alam bebas. Menurutnya, nature healing adalah terapi paling ampuh. Grounding, berjalan tanpa alas kaki di taman rumah di pagi hari sambil menikmati sinar matahari. Evie juga suka bepergian, baik ke luar kota maupun luar negeri, baik bersama keluarga maupun sendiri. Mencicipi kuliner baru sambil mempelajari budayanya adalah cara Evie membuka wawasan dan menyegarkan pikiran.
Evie termasuk selektif dalam bersosialisasi. Ia jarang hangout hanya untuk obrolan basa-basi. Pertemanannya sedikit, tetapi sangat berkualitas. Me time Evie lebih sering dihabiskan dengan ngopi dan menikmati dessert bersama satu atau dua sahabat yang berarti.
“Kebugaran, kecantikan, dan keremajaan adalah hasil dari gaya hidup yang seimbang antara disiplin pada tubuh, kecerdasan dalam memilih nutrisi, dan kebahagiaan untuk jiwa.”
Di tengah kesibukan, Evie sangat disiplin menjaga keseimbangan. Olahraga angkat beban masih menjadi rutinitas intinya, 4-5 kali seminggu dan cardio seminggu 2-3x untuk menjaga kebugaran fisik dan mental. Sisa waktunya didedikasikan sepenuhnya untuk dua hal berharga: kualitas waktu bersama anak-anak dan menjalin kehangatan bersama lingkaran pertemanan yang positif dan mendukung. “Bagi saya, energi dari keluarga dan sahabat adalah penyemangat terbaik untuk terus berkarya.”
Makna Hari Ibu
Bagi Evie, Hari Ibu adalah momen khusus untuk berhenti sejenak, bernapas, dan merefleksikan perjalanan hidup sebagai seorang ibu. Ini adalah hari di mana kita bebas mengekspresikan rasa syukur dan terima kasih, tidak hanya kepada semua ibu di dunia, tetapi juga kepada diri sendiri atas segala usaha, pengorbanan, dan cinta yang telah diberikan.
“Saya juga melihatnya sebagai kesempatan untuk membuka ruang dialog dengan anak-anak. Bertanya pada mereka, ‘Apa kalian bahagia?’ atau ‘Adakah masukan untuk Ibu?’ menjadi cara saya belajar dan berintrospeksi. Dan yang tak kalah penting, Hari Ibu adalah pengingat untuk memanjakan diri sendiri, karena ibu yang bahagia adalah sumber kebahagiaan bagi keluarganya,” ungkap istri dari Henry Susanto, seorang pengusaha alat rumah tangga ini.
Evie sangat mengagumi ibunda tercintanya, sosok yang mengajarkan arti dedikasi tanpa pamrih kepada dirinya. Sementara kepada ketiga anaknya, Evie tidak banyak ceramah. Ia melihat anak-anaknya diam-diam meniru apa yang ia lakukan: ikut aktif angkat beban, gemar membaca, dan dengan lucunya mewajibkan diri makan buah dan sayur setiap hari dengan alasan ‘harus sehat seperti Mama.. Pengalaman ini mengajarkan Evie sebuah prinsip yang sangat dalam: ‘Anak-anak tidak mendengarkan perkataanmu, mereka meniru tindakanmu’.
Harapan ke Depan
Harapan terbesar Evie adalah dapat berpartisipasi aktif dalam menciptakan perubahan positif bagi negara tercinta ini. Jika diberikan kesempatan, ia ingin menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk ikut membangun negeri melalui dua pilar yang ia yakini sebagai fondasi sebuah peradaban: pangan dan pendidikan.
“Mengapa keduanya? Pangan adalah fondasi kesehatan, kebahagiaan, dan ketahanan sebuah bangsa. Melalui kuliner Nusantara, saya ingin memperkuat identitas budaya dan mencukupi gizi generasi penerus. Pendidikan adalah fondasi kemajuan pemikiran dan karakter. Melalui pengembangan soft skill dan hard skill, saya ingin membekali masyarakat dengan kemampuan untuk bersaing dan berkontribusi di tingkat global. Sehingga pada akhirnya, bagi saya, kesuksesan bisnis bukan hanya diukur dari laba, tetapi dari seberapa besar kontribusi yang dapat kita berikan untuk kemajuan bangsa,” tandas Evie.
