MajalahKebaya.com, Jakarta – Memulai bisnis bagi sebagian orang, terutama perempuan, seringkali dihadapkan pada rasa takut. Takut rugi, takut gagal, takut tidak sanggup bersaing. Namun bagi pengusaha kawakan asal Batam, Suliastini, S.Si, semua itu hanyalah bagian dari proses yang harus dihadapi dengan keberanian.
“Saran saya bagi pemula, jangan pernah takut. Kadang kita terlalu banyak mikir ketakutan duluan sebelum mulai. Padahal semua itu bisa dihadapi kalau kita langsung terjun. Pasti ada solusi untuk setiap kendala, yang penting berani saja dulu,” ujarnya.
Bagi Sulis, kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari perjalanan menuju kesuksesan. “Proses itu tidak akan selalu mulus. Tapi kalau kita bisa belajar dari kegagalan, kita akan jadi lebih kuat dan siap menghadapi tantangan berikutnya.”
Kembangkan Bisnis Baru. Sulis, pemilik Tasniem Gerai Inspirasi dan distributor resmi cat Jotun di Kepulauan Riau, terus menunjukkan perkembangan bisnis yang signifikan. Tahun 2024 menjadi tahun penuh capaian, khususnya dalam lini usaha distribusi cat.
“Alhamdulillah, rekap tahun 2024 menunjukkan pertumbuhan penjualan Jotun hingga 30% dibanding tahun 2023. Ini tentu menjadi sinyal positif bahwa kami semakin dipercaya pasar dan optimis menyambut tahun 2025,” ujar Sulis.
Sulis juga mulai merambah sektor komoditas ekspor, khususnya kakao. Menurutnya, sektor ini memiliki potensi besar karena permintaan pasar internasional yang terus meningkat. “Untuk bisnis baru kami di bidang ekspor kakao, Alhamdulillah tahun ini volume ekspor meningkat. Karena itu, kami melakukan penambahan gudang di beberapa daerah strategis. Kami tidak memiliki gudang di Batam, hanya kantor pusat saja di sini. Gudang pertama ada di Lampung, kemudian di Kendari (Sulawesi), dan terbaru di Payakumbuh,” jelasnya.
Pemilihan lokasi gudang bukan tanpa alasan. Sulis menekankan pentingnya kedekatan dengan pusat produksi. “Kami memang membuka gudang di lokasi-lokasi yang memiliki banyak petani kakao. Ini strategi agar rantai pasok lebih efisien. Ke depan, kami juga sedang membidik wilayah Jawa.”
Saat ini, komoditas kakao yang dikumpulkan Sulis dari petani lokal diekspor ke Malaysia. Namun, tidak menutup kemungkinan akan memperluas pasar ke negara-negara lain di masa depan.
Dengan pertumbuhan di dua lini bisnis, yakni industri cat dan ekspor kakao, Sulis membuktikan bahwa keberanian dalam diversifikasi usaha bisa membawa hasil positif. Ia menjadi contoh wirausahawan perempuan yang adaptif dan penuh visi.

Terjun Langsung. Dalam dunia bisnis, intuisi dan kedekatan langsung dengan lapangan sering kali menjadi kunci sukses. Karena itu, Sulis tak ragu untuk turun langsung ke lapangan demi menggali potensi bisnis baru.
“Kami lebih banyak belajar secara otodidak. Kalau melihat ada potensi bagus, ya kami langsung terjun. Misalnya saat ini kami melihat peluang di daerah Jawa, kami langsung turun ke sana, bertemu dan membangun hubungan dengan para petani, khususnya untuk bisnis komoditas kakao,” ujar Sulis.
Berbeda dengan lini bisnis cat Jotun yang lebih mengandalkan kekuatan relasi dan jaringan lama, usaha ekspor kakao menuntut pendekatan berbeda. “Kalau untuk Jotun, kekuatan kita di relationship. Banyak pelanggan lama yang merekomendasikan kami untuk proyek pengecatan. Tapi kalau komoditas kakao, kami membangun jaringan langsung dari petani,” tambahnya.
Sulis maupun sang suami Robhi Tasniem, juga aktif mengikuti seminar dan kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah, seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), sebagai sumber informasi awal. “Informasi mengenai daerah penghasil kakao biasanya kami dapat dari seminar Disperindag. Dari situ kami telusuri lagi, gali informasi, sampai akhirnya dapat kontak para petani,” jelasnya.
Meskipun bukan rekanan resmi di pemerintahan, Sulis tetap aktif memanfaatkan undangan seminar sebagai pintu masuk. “Kami memang tidak punya rekanan langsung, tapi kami rajin ikut seminar. Dari sana biasanya terbuka jaringan baru,” katanya.
Pendekatan langsung juga menjadi strategi utamanya. Baik dirinya maupun sang suami tak segan hadir langsung dalam berbagai pertemuan dan kunjungan lapangan. “Beberapa waktu lalu suami saya diundang Disperindag ke Lampung, dan dari situ bisa langsung menggali informasi. Saya sendiri juga hadir di seminar Disperindag Jawa Timur untuk hal serupa,” tuturnya.
Ketekunan dan keberanian untuk terjun langsung ke lapangan membuat Sulis mampu membaca peluang lebih dalam, membangun kepercayaan dan menjalin relasi dari akar rumput. Inilah kunci yang membuat usahanya terus tumbuh dan berkembang, baik di bidang distribusi cat maupun ekspor komoditas.
Bangun Hubungan dengan Ketulusan. Sejauh ini, hubungan baik antara Sulis dan para relasi senantiasa terjaga dengan baik. Menurutnya, membangun hubungan yang solid bukanlah hal mudah, tetapi sangat penting untuk keberlangsungan usaha. “Memang tidak gampang. Yang utama kita harus menjaga komitmen. Selain itu, saya juga tidak pelit memberikan apresiasi berupa souvenir atau reward kepada pelanggan dan rekanan yang sudah setia. Bentuk penghargaan tidak melulu harus besar, tapi bermakna. Misalnya, untuk pelanggan yang mencapai penjualan tertentu, kami berikan reward. Kalau omset mereka sudah di atas target, seperti satu miliar rupiah, biasanya kami kasih kejutan seperti tiket liburan ke Bali,” jelasnya sambil tersenyum.
Pendekatan personal seperti itu terbukti membuat pelanggan menjadi lebih loyal. Mereka merasa dihargai, dan hubungan bisnis pun semakin erat. Sulis juga tak segan memberikan komisi kepada pihak luar yang membantu memberikan informasi proyek atau membantu pemasaran. Ia percaya bahwa strategi ini efektif memperluas jaringan secara organik. Bagi Sulis, menjaga hubungan dengan klien dan relasi bukan sekadar strategi bisnis, melainkan komitmen jangka panjang yang dijaga dengan kejujuran, ketulusan, dan rasa saling menghargai.

“Marketing bukan cuma dari tim internal. Siapa saja yang bantu kami dapat proyek, tentu kami beri apresiasi. Misalnya, baru-baru ini kami menangani proyek pengecatan di Payakumbuh. Itu hasil dari informasi relasi, dan kami langsung kirim tim ke sana,” ungkap Sulis, yang juga menangani proyek pengecatan di berbagai kota di Sumatra, termasuk Medan, Pekanbaru, dan Padang.
Fokus dan Jemput Bola. Dalam dunia bisnis yang kompetitif, membedakan diri dari pesaing adalah kunci bertahan dan berkembang. Bagi Sulis, pelayanan menjadi pembeda utama. “Kami memberikan service lebih, bahkan untuk pembelian dalam jumlah kecil pun tetap kami antar. Kadang pelanggan hanya tinggal telepon, dan barang langsung kami kirim. Karena mereka sudah loyal ke kami, kami pun harus loyal ke mereka,” ujarnya.
Kepercayaan pelanggan yang tinggi tak lepas dari pendekatan personal yang diterapkan Sulis, termasuk strategi jemput bola, yaitu kunjungan langsung ke calon konsumen, dari rumah ke rumah maupun ke gedung perkantoran.
“Setiap hari tim kami wajib melakukan kunjungan. Misalnya, melihat rumah yang catnya mulai pudar, itu langsung jadi PR untuk ditindaklanjuti. Bahkan saya sendiri kadang ikut turun ke lapangan pagi-pagi, lalu memberi arahan ke tim untuk menawarkan solusi pengecatan. Gebrakan ini dimulai sejak 2015, saat kami mulai fokus penuh di bisnis Jotun setelah sebelumnya berkutat di usaha travel. Hasilnya sangat signifikan, omset meningkat hingga 300% dalam satu tahun,” ungkap Sulis, yang juga aktif ikut komunitas dan forum bisnis sehingga brand semakin dikenal luas.
Dengan pendekatan agresif dan konsisten, Tasniem Gerai Inspirasi kini menjadi top leader market untuk penjualan cat Jotun di wilayahnya. Target pasar yang dibidik pun bukan sembarangan—mereka menyasar proyek-proyek besar seperti perumahan mewah dan bangunan komersial.
Sukses Berbisnis Berkat Ibunda
Di balik perjalanan suksesnya, ada satu sosok yang paling mempengaruhi cara pandang Sulis dalam berbisnis, yaitu ibunda tercinta. Bagi Sulisi, Ibunda bukan hanya sekadar orang tua, tetapi juga panutan dan guru utama dalam dunia usaha.Sejak kecil, ia sudah terbiasa terlibat dalam aktivitas berdagang bersama ibunya.
” Ibu adalah sosok yang sangat berpengalaman dalam dunia dagang. Beliau juga tidak mengenal batasan dalam bergaul. Walaupun saat itu hanya pengusaha kecil, Ibu bisa bergaul dengan siapa saja. Itu mengajarkan saya bahwa dalam dunia bisnis, kita perlu memiliki banyak teman dan relasi. Ibu selalu mengingatkan untuk selalu jujur, bekerja keras, dan tidak takut untuk belajar dari siapa pun,” kata Sulis mengenang masa kecilnya.
Dalam bisnis, lanjut Sulis, kita perlu berhubungan dengan banyak orang. Pergaulan yang luas akan membuka banyak kesempatan dan memberikan perspektif baru. pengalaman masa kecil itulah yang membentuk mentalitas dan sikapnya dalam berbisnis. Bagi Sulis, sukses itu tidak datang dengan cepat, tetapi melalui proses panjang yang penuh pembelajaran dan penyesuaian diri dengan dinamika pasar dan lingkungan sekitar.
Selain itu, sebagai seorang distributor Jotun, Suliastini selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan. Tidak hanya fokus pada penjualan produk, ia juga mengedepankan pelayanan yang ramah dan menjaga hubungan baik dengan setiap pelanggan.
Karena kepercayaan pelanggan adalah hal yang paling penting dalam bisnis. Ia selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik dan siap mendengarkan kebutuhan pelanggan.
Sulis juga menekankan pentingnya terus berinovasi. Dengan adanya teknologi dan berbagai platform digital, peluang untuk mengembangkan bisnis semakin luas. Oleh karena itu, ia tidak pernah berhenti untuk mencari cara baru dalam mengembangkan usaha dan menjangkau pasar yang lebih luas.
“Saya percaya bahwa setiap langkah kecil yang kita ambil dengan penuh kesungguhan akan membawa kita lebih dekat pada kesuksesan. Tidak ada jalan pintas, tetapi dengan kerja keras, ketekunan, dan dukungan orang-orang terdekat, kita pasti bisa mencapai tujuan,” tambahnya.
Lebih dari itu, perjalanan bisnis yang dimulai dari ajaran Ibunda tercinta bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang memberi manfaat bagi orang lain dan menciptakan hubungan yang langgeng. Seperti yang ia percaya, sukses dalam berbisnis adalah tentang terus belajar, berkembang, dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Memperluas Bisnis dan Menyongsong Masa Depan yang Lebih Besar
Sebagai pengusaha tangguh, Sulis memiliki visi yang jelas dalam mengembangkan bisnisnya di masa depan. Dengan pengalaman panjang dalam dunia usaha, ia memiliki tujuan jangka panjang yang ambisius untuk mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar sekaligus menambah keberagaman dalam usahanya.
Sulis terus memperluas jangkauan bisnisnya dengan menambah lebih banyak outlet di masa depan. Juga rencana untuk mengembangkan bisnis ke arah yang lebih besar, yakni go public, yang saati ini masih dalam tahap proses dan persiapan. Go public adalah salah satu cara untuk memperluas jangkauan bisnis dan meningkatkan kepercayaan pasar terhadap perusahaan. “Dengan go public, kami berharap bisa lebih transparan dan dapat menjangkau lebih banyak investor yang akan membantu bisnis ini tumbuh lebih besar lagi.”
Suliastini juga memiliki harapan besar untuk berkontribusi pada pembangunan kota Batam, khususnya dalam hal pembangunan infrastruktur dan estetika kota. “Melalui bisnis Jotun yang kami jalankan, kami berharap dapat berkontribusi dalam mempercantik kota Batam. Kami percaya bahwa setiap bangunan yang indah dan berkualitas dapat menjadi simbol kemajuan kota ini,” ujar Sulis.
Demikian juga dengan bisnis kakao. Sulis berharap bisnis ini dapat terus berkembang dan mencapai tahap yang lebih tinggi. “Harapan kami, bisnis ini dapat berkembang pesat dan menjadi salah satu perusahaan yang terdaftar di bursa saham, atau go public.”
Ia menambahkan bahwa bisnis yang dijalankannya tidak hanya untuk kepentingan perusahaan semata, tetapi juga untuk memberikan dampak positif pada lingkungan sekitar. “Sebagai bagian dari komunitas Batam, kami merasa penting untuk ikut serta dalam memperindah kota ini, tidak hanya melalui produk yang kami tawarkan, tetapi juga dengan berpartisipasi dalam pembangunan fisik yang menjadi ikon kota Batam,” jelasnya.
Bisnis Kuliner. Meskipun baru berjalan, bisnis kuliner yang dijalankan Sulis sudah mulai dikenal di Batam. “Untuk bisnis baru, saya menambah usaha di bidang kuliner, khususnya menu Sop Ikan khas Batam. Resepnya diberikan oleh sahabat saya, dan ternyata banyak yang menyukai, jadi kami mulai jualan,” katanya.
Meskipun belum ada peresmian atau launching besar, bisnis kuliner Sulis sudah berjalan selama sekitar tiga bulan. “Kita sudah punya gerai, dengan tiga orang karyawan. Selain Sop Ikan Batam, juga terssedia menu lainnya, seperti Tekwan, Pempek, dan cemilan yang terbuat dari ikan segar. Makanan-makanan tersebut dipilih karena banyak digemari oleh penduduk lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Batam.”
Strategi Menjaga Daya Saing
Ketika Donald Trump mengobarkan perang dagang, dampaknya juga memengaruhi pasar lokal. “Saya rasa dampaknya pasti besar, terutama untuk bisnis yang bergantung pada bahan baku impor dari negara seperti Amerika. Untuk Jotun sendiri, ada kemungkinan akan terjadi kenaikan harga bahan baku, yang secara otomatis bisa berpengaruh biaya produksi. Mengingat banyak bahan baku yang digunakan dalam industri cat dan pelapis, misalnya, berasal dari luar negeri, perubahan harga bahan baku atau kebijakan impor dari Amerika bisa memengaruhi proses produksi di Indonesia, bahkan merembet pada harga jual,” ungkap Sulis.
Namun, Sulis menanggapi dengan optimisme dan strategi yang matang. “Kami sudah mulai mengantisipasi hal ini dengan menjajaki kemungkinan untuk mengganti sumber bahan baku dari negara lain. Kami tidak bisa sepenuhnya bergantung pada satu negara, jadi kami terus mengevaluasi opsi dan mencari cara untuk memitigasi dampaknya.”
Sulis melihat ada sisi positif dari persaingan global ini, terutama bagi UMKM. Ini bisa menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk lebih giat mengembangkan produk lokal. UMKM kita sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama dengan meningkatkan produk dalam negeri yang berkualitas.
“Indonesia harus lebih mengutamakan kualitas dan inovasi. Produk lokal kita harus memiliki daya saing, bukan hanya dari segi harga, tetapi juga dari segi kualitas dan keberlanjutan. Harus lebih fokus pada pengembangan produk yang memiliki ciri khas dan daya tarik tersendiri. UMKM Indonesia memiliki keunggulan dalam hal kreativitas dan inovasi, jadi seharusnya ini bisa menjadi keunggulan kompetitif di pasar global,” kata Suliastini.
Meskipun tantangan ekonomi global bisa memengaruhi banyak sektor bisnis, Sulis optimis dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia. “Kita harus lebih kreatif dan adaptif dalam menghadapi perubahan ini. Dengan berkolaborasi antar sektor dan mengembangkan sumber daya lokal, saya yakin kita bisa mengatasi tantangan ini dengan lebih baik,” kata Sulis

Dukung Peran Pengusaha Perempuan
Sulis merupakan anggota aktif Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) di Kota Batam. “Organisasi seperti IWAPI memberikan banyak peluang untuk saling bertukar pengalaman, belajar, dan memberikan dukungan kepada sesama pengusaha perempuan. Saya merasa sangat terbantu dengan bergabung di sini karena banyak pengusaha perempuan yang saling mendukung dan memberikan inspirasi,” ungkapnya.
Bagi Suliastini, bergabung dengan komunitas dan organisasi sangat penting bagi pengusaha. Dengan bergabung dalam berbagai organisasi, tidak hanya memperluas jaringan, tetapi juga bisa mempromosikan brand usaha. Dan, melalui kegiatan sosial, kita bisa membangun citra yang positif untuk perusahaan, serta memberi kontribusi langsung kepada masyarakat.
Perempuan berwajah ayu ini juga sangat mendukung pertumbuhan wirausaha perempuan. Ia percaya pemberdayaan perempuan dalam dunia usaha adalah kunci untuk menciptakan lapangan kerja dan mendorong perekonomian yang lebih inklusif.
Sulis juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, baik yang berkaitan dengan pengajian maupun kegiatan amal. “Kami memiliki beberapa kegiatan sosial, salah satunya di golf. Di sini, kami tidak hanya berfokus pada bisnis, tetapi juga saling mendukung dalam hal sosial dan ibadah,” jelas Sulis.
Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Sulis dan perusahaan yang dipimpinnya sering terlibat dalam kegiatan sosial. Salah satunya adalah membantu pengecatan masjid dan kegiatan sosial lain, seperti sedekah. Tidak hanya di Batam, perusahaan Sulis juga tengah menjalankan proyek pembangunan masjid di Bangka Belitung. Sulis berharap setiap langkah yang diambil oleh perusahaan yang dipimpinnya dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi pemilik dan karyawan, tetapi juga bagi masyarakat luas.
