Profil

Nasya Collyer, Perempuan Harus Pintar, Memiliki Skill Agar Bisa Mandiri dan Berdaya

MajalahKebaya.com, Jakarta – Kecintaan dan passion pada dunia fashion, sudah tertanam kuat pada diri Nasya Collyer, sejak masih berusia sangat muda. Ia terus mengasah kemampuan dan keterampilan menjadi seorang desainer, baik secara otodidak maupun memperdalam ilmu ‘kanuragan’-nya di sekolah Fashion Design & Pattern, Esmod Jakarta. Terbukti kini, brand Nasya Collyer Fashion semakin dikenal luas, bukan saja di dalam negeri, tapi hingga mancanegara.

“Saya sangat suka membuat coretan-coretan gambar desain baju sejak masih kecil. Berbeda dengan ibu saya dan anggota keluarga yang lain, mereka lebih ke farming (bertani). Saya ikut dengan bude saya..juga sama-sama mondok dengan beliau. Bude mempunyai mesin jahit, saya selalu perhatikan beliau saat menjahit, saya pun ikut belajar. Saya juga belajar menyulan kain Usus Lampung (Pakaian tradisional Lampung yang terkenal dengan sulamannya yang unik menyerupai usus, biasanya digunakan pada pakaian adat, khususnya untuk penutup dada atau ‘bebe’ pada pakaian pengantin wanita Lampung. Selain itu, sulam usus juga digunakan untuk sarung bantal atau telapak meja). Bahkan waktu kecil saya sudah bisa membuat baju sendiri,” kenang Nasya.

Wanita cantik bernama asli Nasya Samidin kelahiran Belitung, 14 April ini, mendirikan Nasya Collyer Fashion pada tahun 2010. Ia menambahkan marga suaminya yang berkebangsaan Inggris untuk brand fashion. Sejak pertama kali berdiri, Nasya Collyer Fashion sudah fokus dan selalu konsisten mengangkat kain Tapis Lampung Motif Abung sebagai ciri khas utama sekaligus DNA-nya di dunia fashion.

Tapis Lampung Modifikasi Modern

Lebih dari satu dekade, ibunda dari Michie Reisya Collyer (14 tahun) dan Richmond James Collyer (12 tahun) ini, berkiprah di dunia fashion. Karya-karya desainnya sangat khas dan memiliki ciri khas yang unik. Itu juga menjadi keunggulan yang membedakan dengan desainer lain.

Ciri khas dan keunggulan utama Nasya adalah kain Tapis Lampung motif Abung yang dimodifikasi menjadi modern. Desain-desain unik modern menghasilkan gaun-gaun pesta, gaun pengantin dan gaun malam (evening gown) yang modern, elegant, classy, smart, mewah, sexy dan high-end. 

“Saya memilih motif Abung karena menurut saya sangat eksotik dan indah. Ada garis-garis seperti crown, dan setiap garis memiliki filosofi atau makna tersendiri. Dan, setiap kali orang melihat motif ini, langsung tau.. oh ini Nasya Collyer. Karena memang saya telah melakukan branding lebih dari 5 tahun, sehingga bisa tercipta brand awareness seperti itu. Jadi kalau ada yang bertanya, sebagai seorang desainer apa DNA saya..ya itulah DNA saya,” ungkap Nasya dengan bangga.

Kiprah Nasya di dunia fashion dengan koleksi hasil rancangan dan karyanya, telah ia tunjukkan di berbagai ajang pagelaran akbar seperti Indonesia Fashion Week (IFW), Jakarta Fashion Food Festival (JFFF), Indonesia Creative Week (ICW), hingga Fashion & Culture di KJRI New York, ASC Fashion Week, Remarkable Indonesia Fair di Kanada, Singapore Top Make Up Artis Crowning Event, dan masih banyak lagi.

Berbagai penghargaan dan prestasi pun sudah banyak ditoreh Nasya. Berkat ketekunan dan konsistensinya di bidang fashion industry, Ia meraih beberapa penghargaan seperti Top Inspiring Women, Best Innovative Fashion Designer & Entrepreneur, Indonesia Women Achievements Inspiring & Creativity dan lain-lain.

Karya-karyanya pun mendapat sambutan hangat dari para kalangan menengah atas, banyak customer mancanegara, serta tokoh-tokoh besar, para pengusaha, tokoh politik, celebrity, Miss Indonesia, dunia pageant atau kontestan kecantikan, TV host/presenter, para sosialita Ibukota dan masih banyak lagi yang memakai hasil rancangannya. 

 “Kita harus menjaga konsistensi dalam perkembangan pasar serta memenuhi kebutuhan akan high-end dan couture fashion. Dengan sentuhan ethnic Nusantara, NASYA COLLYER Brand selain customize, ready to wear, juga menyewakan sample dari koleksi-koleksi yang telah dibuatnya. Selain offline store, NASYA COLLYER | Luxury Evening Dress| Wedding Dress juga mempunyai website usaha online (www.nasyacollyer.com) untuk memasarkan karya di dunia bisnis fashion,” papar Nasya.

Bijak Hadapi Persaingan

Persaingan bagi Nasya bukan kendala atau tantangan yang harus ditakuti. Justru sebaliknya, semakin banyak pesaing, ia merasa senang karena customer akan diberi banyak pilihan. Banyak UMKM atau pengusaha terbantu. Lebih dari itu, ia ikut membantu para pengrajin tenun meningkatkan kesejahteraannya.

“Semakin banyak pelaku usaha yang sama atau mirip dengan usaha saya, saya akan semakin senang, karena dengan demikian permintaan kain wastra akan semakin tinggi, otomatis itu membantu meningkatkan kesejahteraan para pengrajin atau penenun di daerah, sekaligus ikut melestarikan dan mempromosikan kain wastra. Saya dengan suka hati akan memberikan nomor kontak para pengrajin di daerah bagi siapa pun yang membutuhkan. Hanya dengan begitu saya bisa berkontribusi membantu UMKM darerah, khususnya para penenun,” ujar Nasya.

Memang tidak dipungkiri, kini banyak sekali kain-kain daerah, termasuk Tapis Lampung di pasaran, terutama yang bordiran atau printing, dengan harga yang murah. Nasya tidak menampik itu, namun ia memiliki segmen pasar tersendiri yaitu menengah atas, karena ia hanya menghadirkan Kain Tapis Lampung yang original. Harganya pun cukup mahal dan tidak pasaran. “Customer yang benar-benar menyukai dan cinta kain wastra, pasti tahu membedakan mana yang asli dan mana yang tidak. Mereka juga tahu Tapis Lampung yang original saat ini tidak mudah didapat, karena memang pembuatannya sangat rumit dan lama, apalagi saat ini ketersediaan benang berat semakin langka di pasaran. Tidak heran harga Tapis Lampung tidak murah,” jelas Nasya.

Bukan saja rumit dan lama dalam pengerjaan, Tapis Lampung mengandung nilai-nilai sakral pada setiap gurat di dalamnya. “Saya sampai meminta maaf terlebih dahulu kepada ‘si kain’ sebelum meotong-motongnya untuk dijadikan pola desain. Artinya, nilai kesucian pada Tapis Lampung itu sangat tinggi karena ditenun dengan kemurnian hati untuk menyampaikan nilai luhur oleh para pengrajinnya.”

Perempuan Harus Cerdas Menjaga Keseimbangan

Kunci sukses sebagai seorang womanpreneur bagi Nasya antara lain harus bisa menjaga keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan sosial. Kuncinya adalah manajemen waktu yang baik. Baginya, keluarga tetap menjadi prioritas pertama dan utama, tidak heran ia masih mengantar jemput anak, dan melakukan kegiatan bersama dengan keluarga. Dengan segudang prestasi dan kesibukannya dalam dunia fashion serta beberapa bisnis yang ia miliki, Nasya tetap menjaga, menyeimbangkan dan mengatur semuanya bisa berjalan harmonis. “Prinsipnya adalah everything has to be balance,” katanya.

Nasya juga aktif bersosialisasi untuk kegiatan-kegiatan filantropis kemanusiaan atau pun memperluas networking. Seperti, bergabung dalam komunitas para pengusaha di Indonesia,  serta komunitas Mixed Marriage Community dan komunitas Perempuan Tanpa Tembakau. Fokus penting dalam komunitas atau organisasi yang diikutinya untuk mengajak para perempuan Indonesia terus mengembangkan diri menjadi wanita mandiri dengan pondasi yang kuat dan menjadi wanita yang high value. 

“Support system saya lakukan dengan berkolaborasi dan mendukung para pengusaha dan pekerja perempuan serta ibu rumah tangga terutama di bidang fashion, pendidikan,  pengembangan diri dan kebudayaan,” jelas pehobi mendesain, memasak, dan driving ini.

Selain itu, Nasya mengikuti kegiatan sosial dengan melakukan charity bersama para perempuan yang bergabung dalam komunitasnya ke berbagai kalangan. Kegiatan sosial tersebut di antaranya mengunjungi dan berbagi ke Yayasan Kanker Indonesia, yayasan yatim piatu dan janda tua, para pengrajin. Ia juga mengajak perempuan untuk hidup sehat dengan tidak merokok dan melakukan kegiatan-kegiatan lain yang mendukung kehidupan sosial serta kesetaraan para perempuan.

Nasya menilai pekerja atau pengusaha perempuan memiliki keunggulan dibanding laki-laki karena perempuan bisa multitasking dan lebih bijaksana dalam mengelola keuangan. Selain itu perempuan lebih aktif dalam berinteraksi sosial dan mempunyai kemampuan, keahlian serta kesabaran yang lebih dibandingkan dengan laki-laki.

“Karena itu, menurut saya perempuan harus pintar dan memiliki skill. Bukan saja satu tapi lebih dari satu skill, agar perempuan tidak banyak bergantung pada suami atau orang lain. Perempuan harus bisa mandiri, berdaya, dan diandalkan dalam semua aspek kehidupan. Saya ingin  banyak perempuan bisa mencapai kemandirian finansial, berani speak up, membangun kekuatan dan kesehatan mental serta kehidupan sosial yang lebih sehat, bermartabat dan high value as a woman,” ujar Nasya yang menghabiskan me time-nya cukup dengan menikmati secangkir teh, pergi ke spa, atau jalan sendirian ke mana saja.

Nasya mendapat support 1000 persen dari suami tercinta untuk mengembangkan diri sebesar-besarnya dalam dunia fashion, mengingat jiwa dan passion-nya sangat kuat di dunia ini. Itulah yang memberi keleluasan bagi dirinya untuk mengeksplor diri secara optimal, namun tetap tidak melupakan kodrat sebagai ibu dan istri. 

Semangat dan dedikasi Nasya banyak terinspirasi dari tokoh idolanya, RA Kartini yang memperjuangkan kemajuan perempuan Indonesia setara dengan pria dalam segala bidang. Juga dari tokoh dunia Kate Middleton, Princess of Wales, istri Pangeran William, ahli waris Kerjaan Inggris, yang memiliki gaya berbusana modern style yang bagus, namun tetap humble. Sejalan dengan prinsipnya, ‘Do the best you can, keep humble and low key but let the success speaks. Life is precious. Use it wisely’.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top