Profil

Mesiana Surya, S.S, Inovatif dan Gencar Promosi Wastra Indonesia ke Korea dan Negara-Negara Lain

MajalahKebaya.com, Jakarta – Mesiana Surya merupakan satu dari sedikit sosok perempuan Indonesia yang sukses membawa wastra mendunia khususnya di Korea Selatan. Perempuan cantik yang akrab disapa Meisy Chang ini, semula berkarier di perusahaan garmen di Jakarta sebagai merchandiser, juga perusahaan tekstil di Korea dan Indonesia sebagai Manager Marketing Export teksil dari Indonesia ke mancanegara. Kemudian ia mendirikan Lembaga Kursus dan Pelatihan Bahasa Korea yang bekerja sama dengan berbagai instansi Pendidikan di Indonesia dan Korea sejak tahun 2011.

“Pada saat Pandemi untuk membantu teman-teman di Korea awalnya, saya mencoba untuk bernegosiasi dengan airline dan Pemerintah Korea untuk suplai bahan logistik dari Indonesia pada tahun 2020 dan akhirnya berdiri PT Plan Logistik International Indonesia sampai saat ini dengan melayani berbagai kebutuhan logistik ke beberapa negara selain Korea Selatan,” papar perempuan kelahiran Jakarta, 7 Februari ini. 

Di tahun 2024 Meisy Chang mulai membuka Galery Seni Wastra Indonesia berlokasi di Kota Gimhae, Busan, Korea Selatan dan merupakan galeri yang pertama dan terbesar dengan berbagai produk bertemakan Wastra Indonesia.

“Banyak para desainer Indonesia bidang fashion yang mendukung galeri saya, antara lain: Adinda Moeda, Li-Uli By Ida Rebecca, Fenty Batik, Indah Darry, Melia Batik, Fey Kayo, Denim.Co, Batikeun & Rosmalina, Yashoky by Flo, Nilla Baharuddin, Kinanti Muslim Fashion, Java East, Dinnie Katumbiri. Juga desainer tas seperti Nebby Bags untuk produksi tas kulit ular, Paduzee, Ticha Bags, Glams Bags,  Zante Bags, Raphael Kitchen and Craft,” ucap lulusan S1  Fakultas Sastra dan Bahasa China ini.

Inovasi terus dikembangkan Meisy Chang untuk membuat galeri miliknya semakin diminati masyarakat di Korea. Pada Mei 2025, Galeri Seni Wastra Indonesia akan membuka Akademi Wastra Indonesia bekerja sama dengan Busan Presbyterian University dengan berbagai jurusan seni seperti Kelas Seni Tari Indonesia, Kelas Membatik, Kelas Tenun, Kelas Musik Tradisional Indonesia, Kelas Fashion, Kelas Tata Rias Rambut dan Kecantikan Busana Pengantin Tradisional Indonesia dan Kerajinan Bertemakan Wastra, dan Kelas Indonesia Modelling untuk baju baju wastra dan kebaya.

“Di bulan Mei 2025, Galeri Seni Wastra Indonesia juga akan berkolaborasi dengan World Multicultural Society Cooperative dan Busan Presbyterian University (BPU) untuk mengadakan Malam Budaya dan Gala Dinner Indonesia di Busan, Korea Selatan dengan mengundang artis dan seniman Indonesia serta para desainer yang akan memperagakan busana wastra dengan menampilkan para perempuan Indonesia yang berdomisili di Korea Selatan sekaligus peresmian Academy Wastra Indonesia yang pertama di Luar Negeri berpartner dengan Prof. Dr.Hj. Anna Mariana, S.H., M.H. MBA, sebagai Founder dan saya sendiri sebagai Co-Founder. Academy Wastra Indonesia mempunyai target Pendidikan Budaya Indonesia untuk para warga negara asing yang berdomisili di korea dan sebagai ikatan Kerjasama Budaya dengan Pemerintah Korea Selatan,” papar Meisy Chang bangga.

Istri dari Chris Chang, pengusaha dan pengajar Bahasa Korea ini, menilai kehadiran wastra fashion di Korea Selatan memiliki banyak kelebihan serta tantangan tersendiri.  Wastra hadir di tengah kehidupan masyarakat Korea yang masih terlihat unik sehingga banyak dari tamu yang datang bertanya lebih jauh tentang batik, tenun, songket dan ulos. “Produk Wastra Indonesia dengan kerumitan desain dan karyanya membuat hasil-hasil karya Indonesia sangat dihargai atas kekayaan budayanya dari masyarakat Korea dan warga asing lainnya,” jelas Ketua Umum Indonesia Korea Women Association ini.

Di tengah situasi ekonomi global yang saat ini tidak menentu, Meisy Chang menilai kondisi ini berpengaruh terhadap turunnya daya beli masyarakat di hampir semua negara termasuk Korea Selatan. Banyak industri yang melakukan pengurangan pekerja termasuk pekerja asing. Tetapi ia tetap berusaha untuk gigih mempromosikan wastra dengan penjualan online dan media sosial serta melakukan kerja sama promosi dengan para WNI yang ada di Korea.

“Saya bersyukur wastra Indonesia di Korea juga banyak mendapat support dari berbagai instansi di Korea Selatan sehingga sampai saat ini walaupun penjualan tidak tinggi tetapi masih bisa melakukan banyak promosi dan kerja sama di Korea Selatan,” terang Meisy Chang semangat.

Kiat Hadapi Persaingan dan Kunci Sukses

Dalam menghadapi persaingan, Meisy Chang pun berusaha untuk tetap fokus dan konsisten serta komitmen dengan semua usaha yang dilakukan tanpa merasa tersaingi, dan tetap berusaha untuk memikirkan inovasi dengan mencoba hal-hal baru.

Dalam berkarya, Meisy Chang memiliki kunci sukses antara lain melatih kesabaran, ketekunan serta mental yang kuat untuk siap dengan berbagai kondisi dan tidak menyerah dalam situasi apapun. Perlahan tetapi pasti, ia berusaha untuk terus maju dan berkembang disertai dengan doa kepada Yang Maha Kuasa agar semua bisa berjalan sesuai atas ijin Tuhan.

Para pengusaha perempuan Indonesia yang sukses menjadi dorongan semangat bagi Meisy Chang untuk terus belajar. “Terima kasih saya ucapkan kepada para sahabat-sahabat saya di Korea dan di Indonesia  yang terus memberikan semangat dan juga terutama suami saya yang selalu optimis dan menjadi pendorong di setiap cita cita saya,” ujarnya ramah.

“Rencana ke depan, saya ingin Galeri Seni Wastra Indonesia akan terus berkembang lagi di berbagai bidang termasuk mempromosikan kuliner Indonesia dengan fine dining restaurant sebagai salah satu menu Nusantara yang dapat dinikmati dengan konsep budaya dan estetik,” harapnya. 

Me Time dan Kecintaan pada Wastra

Meisy Chang juga meluangkan waktu untuk me time cukup dengan nonton Netflix film dan drama Korea atau menikmati sea food kesukaannya. “Buat saya ini sudah menyenangkan dan bertemu dengan orang-orang sukses merupakan hal yang menyenangkan buat saya untuk bertukar pikiran atau diskusi,” jelas ibunda dari Terry Chang (30 th) yang saat ini bekerja sebagai Jababeka Golf Manager dan Intsructur Pro Golf, dan Shelby Nadya Caroline Chang (19 th), mahasiswa.

Begitu pun kecintaan pada kebaya dan wastra fashion lain seperti tenun, songket, batik dam lainnya, mendatangkan kesenangan tersendiri baginya. Ada satu pengalaman yang membuat Meisy Chang akhirnya menyukai wastra. Semula ia merasa tidak pernah percaya diri untuk mengenakan kain kebaya karena memang tidak terbiasa. Tetapi ketika ia suatu kali mencoba memakai kebaya, ternyata banyak yang menilainya terlihat cantik dan elegan.

“Sejak saat itu saya mulai mau mengenakan kebaya sewaktu-waktu untuk acara tertentu. Saya menyukai kebaya dengan konsep yang sportif di mana kebaya modern bisa dipadankan dengan celana panjang. Begitu pula dengan wastra, saya menyukai tenun yang dibuat sebagai blazer atau coat yang terlihat berkharisma dan modern. Saya berharap kebaya atau wastra fashion bisa mendunia dan menjadi kebanggaan serta jati diri bangsa Indonesia. Dukungan Pemerintah perlu terus dilakukan agar kebaya atau kain wastra bisa lebih dikenal dunia bahwa Indonesia adalah negara besar yang kaya akan budaya,” antusiasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top