Profil

Endang Tri K. Sukarso SE.MM, Sukses adalah Ketika Bisa Menebar Kebaikan

MajalahKebaya.com, Jakarta – Endang Tri K. Sukarso adalah sosok perempuan karier yang berprestasi dan menginspirasi. Ketua Bidang Pendidikan & Pelatihan Dewan Pengurus Pusat (DPP) PERPINA (Perempuan Pemimpin Indonesia) ini, memiliki lebih dari 40 tahun pengalaman bekerja secara progresif. Ia merupakan lulusan Ekonomi Manajement yang memiliki expertise dalam pengembangan Sumber Daya Manusia. Dalam manajemen kepemimpinannya, Endang fokus meningkatkan kualitas dan proses bisnis di perusahaan yang pernah ia pimpin. Ia aktif menulis artikel tentang SDM di sejumlah majalah seperti “Jejak Langkah Menuju SDM Unggul Tanggap Jaman”, dan menulis buku yang menjadi best seller berjudul “Agent Of Change”, penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Karier kepemimpinan Endang tumbuh di kalangan profesional yang diawali dari Ketua Bidang Pendidikan & Pelatihan Dewan Pengurus Pusat (DPP) PERPINA – hingga kini; Director Fajar Group Real Estate – hingga kini; Pendiri & Ketua Umum Pilar Budaya Indonesia  (PBI)– hingga kini; Director Kiky Creative Production Buku Tulis, 4 tahun; Director Authority Financial Services, 3 tahun; AVP (Assisant Vice President) Citibank Indonesia 22 tahun; EVP (Executive Vice President) UOB (United Overseas Bank), 6 tahun; Assist. Mr. Ali Sadikin (Governor DKI), 4 tahun; Manager Drilling Company, 3 tahun.

Sebagai Public Speaker, kesuksesan yang diraih Endang bermuara pada SDM Unggul yang berkualitas, dengan misi Bekerja Keras, Tegas, dan Multitasking. Sebagai Human Capital Director yang ia kontribusikan di bebeapa perusahaan yang dipimpinnya, dengan berbagai terobosan dan inovasi, ia mampu membuat efisiensi dan efektifitas bekerja yang sangat menguntungkan persuhaan. Diakui Endang, dalam implementasinya, tentu tidak sedikit rintangan yang dihadapi, karena yang ia kelola adalah Sumber Daya Manusia. “Mengubah mindset tidak bisa secepat membalik telapak tangan, diperlukan effort yang sangat tinggi dan penuh kesabaran,” jelas wanita energik kelahiran Solo, 10 Juli 1958 ini.

Tantangan dan Kiat Menciptakan SDM Unggul

Endang menegaskan, tantangan paling berat dalam menyiapkan dan membina SDM yang unggul adalah mengubah mindset, karena yang diubah bukan tatanan organisasi, operasional dan juga bukan sistem teknologi, melainkan perubahan mindset. Untuk itu diperlukan strategi khusus, antara lain: Perubahan gaya kepemimpinan (Changes Leader Style). Pemimpin menjadi role model bagi satuan kerja masing-masing. Tugas utamanya adalah menularkan semangat perubahan budaya kerja dalam organisasi atau perusahaan untuk menjadi lebih baik. 

Menurut Endang, pemimpin hari ini adalah pemimpin yang mampu mengikuti perubahan perbaikan. Perubahan itu banyak jenisnya, ada perubahan yang disebabkan karena krisis, sehingga mau tidak mau organisasi atau perusahaan harus berubah. Ada pula perubahan yang menyangkut operasional perusahaan, dan perubahan dalam cara berpikir. Kepemimpinan tidak akan efektif atau berkurang bila pemimpin tidak mau mengerti dan mengikuti perubahan, baik yang disebabkan karena budaya maupun kemajuan teknologi. Seperti saat ini, dampak globalisasi semua serba teknologi, suka tidak suka, mau tidak mau kita harus sadar bahwa pemimpin harus bisa beradaptasi (melek IT).

Lebih lanjut Endang menegaskan, dalam persaingan usaha yang semakin kompleks dan mengglobal, perusahaan yang mampu membangun SDM yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mumpuni, serta berkarakter (attitude) yang baik, sudah pasti akan kokoh dan memiliki keunggulan bersaing. Sehubungan dengan itu pengembangan karyawan (Development People) merupakan modal dasar dalam menyusun program pengembangan SDM. Manajemen pun dituntut untuk mencermati dan mengenali dinamika yang terjadi dalam persaingan di industri-industri yang ada di Indonesia saat ini. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam penataan SDM yang sistematis, terencana dan tepat waktu, sehingga perusahaan mampu berlaga di medan bisnis yang penuh dengan persaingan.

Penerima Award “Anugerah Perempuan Indonesia” yang ke-6 sebagai Professional SDM 2018-2019 oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, Prof. Dra. Yohanna Susana Yembise, MSc.,PhD, menyebutkan terobosan-terobosan yang ia lakukan ketika diberi amanah untuk mengubah PT Solo Murni atau dikenal sebagai Perusahaan Buku Tulis KIKY dan beberapa perusahaan lain seperti Fajar Group yang fokus pada industri real estate yang terbesar di Solo Raya, yaitu perubahan secara besar-besaran. Ada satu perubahan penting yang menyangkut manusia, yaitu transformasi budaya menuju SDM unggul tanggap jaman. Salah satunya adalah meningkatkan pengetahuan karyawan melalui Program Pendidikan & Pelatihan sesuai dengan satuan kerja di unit masing-masing.

Maka dari itu, ditegaskan Endang, kunci sukses suatu perusahaan terletak pada kwalitas SDM-nya, sehingga pendidikan berperan sangat penting dalam pengembangan diri seseorang, yang selanjutnya berdampak pada peningkatan kinerja karyawan. Tetapi apabila bicara tentang pengembangan karier (Career Development) seseorang maka pengetahuan yang diperoleh tidak akan berdiri sendiri-sendiri. Penyabet Penghargaan Human Capital Award – ke-5 (2019) dan ke-6 dengan kategori The Best Human Capital Director in Empowerment Leader –(2020) ini, menegaskan bahwa seorang pemimpin harus mengerti bagaimana caranya mewujudkan pengetahuan agar dapat diimplementasikan di dalam pekerjaan sehari-hari.

Prestasi dan Penghargaan

Prestasi yang pernah diraih Endang berawal dari Juara PON ke-VII (Pekan Olah Raga Nasional) untuk Bidang Atletik, mewakili Jawa Tengah. Medali Emas telah disematkan oleh Gubernur Jawa Tengah Munadi pada tahun 1972.  Ketika itu  ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama tepatnya di SMP-1 Salatiga. Sebuah penghargaan tingkat provinsi yang tak pernah dilupakannya.

Endang juga menerima Penghargaan ASTD (American Society Training Development-UOB Singapore, 2008-2011); Best Leadership & Service Excellent, Citibank; Human Capital Award ke-4 & 5 oleh Menteri Ketenagakerjaan RI (2014-1019), Muhammad Hanif Dhakiri S.Ag.M.Si.; Anugerah Perempuan Indonesia (2020) oleh I Gusti Ayu Bintang Puspayoga/Menteri Pemberdayaan Perempuan &Perlindungan Anak, yang dikukuhkan melalui Organisasi PERPINA (Perempuan Pemimpin Indonesia) sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah Jawa Tengah saat itu; serta masih banyak lagi prestasi lain yang sudah diraihnya.

Selain itu, Endang juga didaulat untuk mendampingi delegasi Indonesia ke luar negeri, dalam rangka peningkatan UMKM dan mempromosikan Budaya Indonesia ke kancah international. Selain itu, pehobi menulis, olahraga, traveling, dan shopping ini, juga menjadi public speaker yang bermuara pada SDM unggul dan berkualitas, sebagai Leadership Trainer, dan Penulis.

Sang Ibu Inspirasi Mandiri

Endang lahir dari keluarga yang sederhana di kota Solo, 67 tahun lalu. Ia merupakan putri bungsu dari 5 bersaudara. Tri K. Sukarso, pensiunan pegawai perbankan adalah suami yang selalu mendampingi  dengan sabar hingga kini. Keduanya dikaruniai 2 orang anak yaitu Prisca Trisendy Sukarso (S2 – womanpreneur), dan Ozzy Trikendy Sukarso (S1 – wiraswasta), serta memiliki 2 orang cucu yaitu Kastara Khandika dan Khalifa Shahdeka.

Saat Endang duduk dibangku kelas 1 SD, Ayah tercinta pergi untuk selama-lamanya menghadap Sang Khaliq.  Sang Ibunda pun harus menjadi wanita karier dan membesarkan 5 orang anaknya yang masih kecil-kecil seorang diri. Beliau tidak pernah menikah lagi hingga akhirnya menyusul Sang Ayah ketika usianya 85 tahun.

Karier kepemimpinan Endang tidak terlepas dari sosok Sang Ibu yang sangat mandiri, sekaligus menjadi panutan seluruh anak-anaknya. Salah satu inspirasi Sang Ibu, perempuan yang pandai membagi waktu antara berkarier dan mengurus 5 anaknya dengan baik.

Didikan Van De Venter dari Sang Ibu yang tangguh, bijak, sabar, selalu berpikir positif, dan bersyukur atas karunia-Nya, menjadi pondasi yang kuat bagi Endang secara professional berkarier ketika memimpin beberapa perusahaan. Mulai dari instansi perbankan, lembaga negara, perusahaan swasta, maupun BUMN, dan Konsultan SDM yang dimilikinya saat ini. Itu pula yang menjadi dorongan kuat baginya ketika mendirikan Pilar Budaya Indonesia yang berkiprah baik di kancah nasional maupun internasional.

Pilar Budaya Indonesia (PBI)

Lahir dari kepedulian Endang sepagai pendiri untuk tetap melestarikan warisan budaya Indonesia, melindungi dan menjaga kekayaan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia sebagai bingkai persatuan dan kesatuan dalam keberagaman Suku, Adat Istiadat, Seni Tari, Seni Lukis, Seni Musik, Seni Busana (Fashion) hingga kuliner.

“Tujuan saya mendirikan PBI ini adalah agar kita sebagai rakyat Indonesia bisa berperan aktif untuk ikut serta mempromosikan budaya Indonesia melalui industri budaya, sarana dan prasarana budaya sebagai gawang keberagaman budaya melalui ajang seni dan budaya yang dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai acara di kancah internasional,” jelas Endang.

Selain itu, tujuan PBI untuk menginpirasi rakyat Indonesia terus berkarya, berprestasi dan mengaktualisasi pengembangan potensi diri, minat dan bakat, melalui kegiatan seni dan budaya. Ikut memajukan para designer Indonesia, ikut memajukan UMKM dan Pengusaha Batik Indonesia, ikut memajukan komoditas ekspor produk-produk Indonesia.

Semua tujuan tersebut tergambar jelas dalam visi dan misi PBI.  Visi sebagai Gawang (Gate Keeper) yang merupakan tempat meleburnya keberagaman budaya dan benteng yang kuat untuk: Melestarikan (Preserve), Menjaga (Maintain), dan Melindungi (Protect) kekayaan budaya Indonesia baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sementara misi yang diusung adalah: 

  1. Menjadi pondasi yang kokoh untuk membangun bangsa yang kuat dan bersatu melalui upaya kebersamaan/sinergi dengan mempercepat hubungan nasional dan internasional.
  2. Melestarikan, Menjaga dan Melindungi kekayaan bangsa Indonesia dan ikut mempromosikan kebudayaan Indonesia melalui festival budaya, pameran seni dan Pendidikan budaya yang tetap hidup dan relevan.
  3. Memastikan bahwa setiap budaya di Indonesia mendapatkan tempat yang sama dalam panggung nasional.

Sebagai contoh, aktivitas PBI pada tanggal 14 hingga 16 Februari lalu di Thailand, menampilkan Seni Busana (Fashion), Seni Tari, Seni Musik yang dikolaborasikan menjadi satu performing yang dapat memberikan nilai tambah bagi Bangsa Indonesia dengan kekayaan budaya yang kita miliki. Antusiasme pengunjung pun luar biasa memeriahkan pagelaran yang terhitung sukses.

Bagi Endang, kesuksesan tersebut menunjukkan bahwa, Pilar Budaya Indonesia dapat ikut berperan aktif untuk membawa para UMKM yang ingin berkompetisi dengan produk- produk internasional sehingga dapat menjadi peluang untuk ekspor ke negara Asean, dalam kunjungan Bazaar UMKM di Thailand tersebut.

PBI terus berperan aktif ke depan, mengikuti acara di berbagai negara Eropa. PBI akan berkontribusi untuk Pasar Indonesia di Den Haag pada tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 2025 mendatang. Untuk dapat memasarkan produk-produk UMKM dari Indonesia dan mempromosikan kekayaan Budaya Bangsa Indonesia melalui Pasar Malam di Den Haag, dengan berbagai keterampilan yang kami suguhkan di negara lain.

Selain aktivitas eksibisi budaya dan perdagangan (UMKM), PBI juga aktif dalam bidang kuliner, dengan berperan aktif dalam beberapa festival yang diadakan di Kota Solo, seperti Festival JENANG pada 27 Februari 2025. “Harapan saya sebagai bangsa Indonesia yang setia adalah mendapatkan dukungan sepenuhnya dari Pemerintah untuk terus mengawal Warisan Budaya Indonesia, jangan sampai warisan kita berpindah ke negara lain. Melalui Pilar Budaya Indonesia kita bisa bersinergi dan berkolaborasi untuk ikut berperan aktif dengan program-program Pemerintah.”

Juga dalam bidang pendidikan, PBI terus memberikan edukasi kepada para profesional perbankan, para ASN di Indonesia melalui Program Pendidikan Kepemimpinan di beberapa Lembaga Pemerintah, Perusahaan BUMN, Perusahaan Swasta, dan para UMKM sehingga PBI dapat mendukung program Pemerintah untuk memaksimalkan dan terciptanya SDM Unggul.

“Ilmu memegang peran penting agar seseorang dapat berpikir secara sistematis dan memperkaya diri dengan perkembangan baru. Tetapi yang lebih penting adalah pada yang berkepentingan diberikan authority (kewenangan) untuk melaksanakan apa yang ia pikirkan. Pemikiran hanya 20% dan yang 80% adalah pelaksanaannya (Execution/Implementation),” ujar Endang.

Agar proses eksekusi berjalan optimal, lanjut Endang, setidaknya ada 4 sumber yang harus diikuti yaitu: Market Ability (kemampuan berkompetisi), Operational Ability (kemampuan mengembangkan produk secara efisien dan efektif), Financial Ability (Kemampuan menciptakan modal yang produktif), dan Personal Ability (membangun pemimpin masa depan). Terobosan yang harus segera dilakukan adalah mencetak future leader, yang dapat dijadikan sebagai agent of changes ayau agen perubahan di masing-masing fungsi kerja, sehingga dengan berjalannya waktu agen-agen tersebut dapat mengubah segera perusahaan yang masih tradisional menjadi profesional.

Makna Kesuksesan

Bagi Endang, kesuksesan adalah ketika bisa menebar kebaikan. Hidup adalah perbuatan, suatu saat kita akan menuai perbuatan kita, maka pastikan kita selalu menebar perbuatan yang baik, semua orang itu mempunyai kemampuan masing-masing. Semua orang punya mimpi, maka dari itu perlu aksi untuk mewujudkannya. Sukses berawal dari mimpi. Tapi mimpi tanpa eksekusi itu hanya sebuah ilusi. Mencari 100 orang musuh gampang, mencari 1 teman yang baik itu ssangat sulit. Kita hidup butuh orang lain, karena kita tidak bisa hidup sendirian, maka dari itu, kita jalin hubungan yang baik. 

Dalam kelas Leadership Endang lebih banyak mengajarkan style secara psikologis, karena masing-masing leader mempunyai cara atau style untuk dapat mengendalikan emosi seseorang. “Saya tumbuh dan ekspertise di bidang SDM. Tantangannya hanya satu yaitu mengubah mindset, diperlukan kesabaran, waktu dan pendekatan khusus, karena yang akan diubah seseorang yang mempunyai karakter yang sudah melekat pada dirinya.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top