Profil

dr. Cut Hafiah Halidha Nilanda, SpGK, FINEM, ‘Seni Hidup Sehat’ Pilihan Cerdas Raih Kebahagiaan

MajalahKebaya.com, Jakarta – Dedikasi diri yang tinggi untuk fokus menjalankan profesi sebagai Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Cut Hafiah Halidha Nilanda, SpGK, FINEM terus memacu diri untuk tiada henti mengkampanyekan dan mengedukasi pola hidup sehat kepada masyarakat luas. Tidak hanya kepada para pasien, dr. Cut yang saat ini bekerja full time dari Senin sampai Jumat, bahkan Sabtu, di Skin Clinik, daerah Senopati Jakarta Selatan, sebagai Dokter Spesialis Dokter Gizi Klinik, tapi juga kepada lingkungan sekitar, hingga masyarakat umum. Beberapa waktu lalu ia meluncurkan platform Seni Hidup Sehat, yang mempromosikan, mengedukasi, menguraikan, dan mengajak masyarakat untuk menjalankan gaya hidup sehat. Kesehatan dari segala aspek, bukan dari makanan atau olahraga saja tapi juga dari mental health. Bahkan sebagai practitioner, dr. Cut juga menyediakan catering sehat sebagai penunjang pola makan sehat.

Demi pengabdian dan pelayanan yang optimal, dr. Cut terus belajar untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bidang gizi klinik, bahkan hingga ke luar negeri. Hingga detik ini, ia aktif mengikuti berbagai seminar maupun workshop, guna meng-upgrade kemampuan.

“Buat saya, penting sekali meningkatkan kemampuan terutama yang berhubungan dengan karier dan profesi saya. Mulai dari menambah ilmu dan pengetahuan terkait nutrisi, wellness health dan  kesehatan. Bukan hanya fisik saja tapi kesehatan dari dalam juga. Untuk itu saya mengambil beberapa diploma untuk mencapai itu semua. Jadi kesehatan bukan hanya dari dalam, tapi dari luar juga. Bukan hanya terlihat secara fisik tapi terlihat secara mental juga. Bagian wellness inilah yang sedang dan akan saya tekuni,” tutur dokter cantik ini. 

Sejak mengantongi gelar Spesialis Gizi Klinik, dr. Cut giat mengikuti berbagai pelatihan terkait gizi dan kesehatan, baik di dalam maupun luar negeri. Sebut saja Fellowship In Nutrition And Environmental Med Soukhyadi India dan Vietnam, Sport Nutrition Paifori Bandung dan National Academy Of Sport Medicine (NASM), di AmerikaSerikat. “Saya sedang menjalani diploma American Lifestyle Board Medicine (ABLM). Untuk porsi study di Amerikanya sudah selesai dan sudah lulus, tetapi harus di-confress ke Malaysia, itu yang belum saya lakukan, harusnya saya lakukan tahun kemarin tapi karena banyak pekerjaan saya hold, tahun ini saya akan menyelesaikan diploma ABLM saya di Malaysia.”

Dokter yang hobi olahraga, menjalankan pola makan sehat, dan gaya hidup sehat ini, sangat enjoy menggeluti profesi dan kariernya. “Buat saya pencapaian saat ini cukup baik. Saya bisa menjalankan karier yang sesuai passion. Dan ilmu yang saya dapatkan dari spesialis gizi serta beberapa course atau sub spesialis mengenai bidang nutrisi, dan juga olahraga, bisa saya aplikasikan kepada pasien-pasien, ke diri saya sendiri, dan kepada masyarakt luas, sehingga kita bisa membangun hidup yang lebih sehat lagi. Saya berniat akan melakukan olahraga lari ke berbagai daerah dan Negara.. rencananya memang tahun ini saya lebih ke olahraga.” tutur dokter berdarah Aceh, lulusan S1 Kedokteran Universitas Yarsi dan S2 Gizi Klinik di Universitas Indonesia ini.

Edukasi dan Penyuluhan kepada Masyarakat. Kesibukan dr. Cut sebagai dokter maupun ibu rumah tangga, tak membuat dirinya mengabaikan orang-orang sekitar. Ia juga meluangkan waktu untuk kegiatan sosial. Bahkan ia tak segan menyusuri daerah-daerah terpencil untuk mengedukasi masyarakat secara langsung. 

“Saya kerap memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang berada di daerah-daerah yang kesulitan  mendapatkan informasi tentang kesehatan maupun gizi, mulai dari gizi anak hingga dewasa. Sehingga mereka mendapatkan informasi yang tepat dan utuh. Bukan sepenggal berita dari media social, tetapi agar mereka bisa memahami teori yang sesungguhnya,” tekan dr. Cut. 

Untuk kebutuhan pribadi, pehobi dan pegiat hidup sehat ini selalu mempertahankan pola hidup seimbang. Mulai dari menjaga kesehatan mental dengan bersosialisasi dan menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sekadar meminum secangkir kopi dan berkumpul dengan teman dekat. 

“Saya lebih senang berolahraga dan menjadi anggota Ikatan Dokter Indonesia Bekasi dibandingkan mengikuti arisan. Saya aktif ikut lari 5 km, 10 km dan 21 km. Lebih sering juga menghabiskan waktu untuk treadmill di rumah bersama anak-anak,” ujarnya.

Selain terus menggali potensi diri dengan mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan terkait gizi dan wellness, dr. Cut juga berencana mempelajari ilmu bisnis. Namun ia menegaskan bidang bisnis bukan tujuan utamanya. “Tujuan utama saya adalah edukasi, bisnis itu merupakan pelengkap karena saya ingin semua orang mendapatkan kesehatan secara menyeluruh bukan hanya secara fisik saja dengan berat badan yang ideal atau dengan tubuh yang sehat, tapi juga mental yang juga sehat,” ujarnya.

Untuk mencapai kesehatan secara menyeluruh, dr. Cut menerapkan berbagai macam teknik seperti teknik olahraga dan bars. Karena ia pun sudah menyelesaikan 3 practitioner yaitu Practitioner Access Bars, Practitioner Face-Lift, dan Practitioner Body Process. “Itu dari segi holistic yang saya dapatkan dan saya inginkan,” tutur dr. Cut yang pada akhir tahun lalu meraih Juara 2 Lari Kategori 10 Meter di Semengyu Malaysia, dan mendapat penghargaan sebagai Perempuan Pemberdaya Perempuan dalam ajang Woman Empower Woman Award 2024 dari Majalah Kebaya Indonesia dan Majalah Inspiratif bekerja sama dengan Kemenparekraf, pada Agustus 2024.

Bebaskan Diri dari Lingkungan Toxic

Menurut dr. Cut, kemerdekaan merupakan kebebasan dalam mengapresiasi semua keinginan tujuan hidup yang bernilai positif, yang berdampak baik terutama untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar yang sangat membutuhkan.

“Merdeka juga bermakna kita bisa mencapai kesehatan mental, sehingga bisa lebih berkembang. Jadi sebelum kita memerdekakan lingkungan sekitar, maka merdekakan dahulu diri kita, untuk menggapai semua yang kita inginkan. Mengolah semua yang kita bisa sehingga dapat dinikmati banyak orang atau untuk bisa dimanfaatkan banyak orang,” ujar perempuan berhijab ini.  

Dr. Cut juga menilai bahwasanya dewasa ini masyarakat Indonesia sudah sangat berkembang, maju dan open minded untuk memaknai kemerdekaan. “Saat ini, saya melihat masyarakat Indonesia terutama kaum wanita di luaran sana sudah paham cara memerdekakan diri terhadap lingkungan toxic. Sehingga kedepan bisa lebih maju dan menjadikan diri lebih berguna bagi masyarakat sekitar,” terangnya. 

Bijak Menyikapi Perkembangan Zaman

Perkembangan di era digital belakangan ini yang semakin pesat, selain memberi banyak manfaat, dr. Cut juga mengungkapkan kekhawatiran akan dampak social yang negatif.  Banyak orang yang tidak sesuai menggunakan platform digital, terutama yang memiliki niat tidak baik. “Tetapi dalam kemajuannya saya sangat suka sekali karena banyak orang yang bisa saya hire untuk meningkatkan insight di bidang sosial media atau mengambil penelitian-penelitian atau jurnal-jurnal di berbagai negara sehingga bisa diaplikasikan dan diedukasikan ke banyak orang.”

Di era globalisasi seperti sekarang, menurut dr. Cut kita harus mampu beradaptasi dengan baik dan memiliki kemampuan yang diolah dari dalam diri untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi agar dapat bersaing di segala bidang khususnya di dunia kesehatan, dan bisa memberikan pelayanan paripurna.

“Kita harus memiliki kemampuan terutama dari segi sosial atau kebudayaan. Jadi jangan sampai kebudayaan yang kita miliki tergantikan dengan kebudayaan Barat yang dianggap lebih canggih. Boleh kita ambil yang bagus-bagus supaya kita lebih maju, tetapi ciri khas kita dari segi budaya dan sosial tetap dipertahankan,” tegasnya. 

Keluarga Support System Utama

Diakui dr. Cut, berkarier di bidang medis merupakan arahan dari kedua orangtua yang mendamba salah satu anak mereka menjadi seorang dokter. Tak heran bila dukungan penuh keluarga senantiasa tercurah kepada dr. Cut. 

“Saya bersyukur untuk urusan sekolah orangtua selalu mendukung. Saat harus fokus menyelesaikan pendidikan spesialis atau mengikuti berbagi seminar, mereka tidak segan mengasuh anak-anak saya, sehingga saya bisa tenang. Apalagi ibu yang selalu menjadi tempat buat saya mencurahkan masalah yang sulit terpecahkan. Support dan doa mereka sangat berarti bagi saya,” tuturnya. 

Selain orang tua, dukungan dari anaknya, Thaya (11 tahun) sangat luar biasa, karena selalu mendukung cita-cita dan impian dr. Cut. “Sejak usia 1 tahun, Thaya sudah melihat kesibukkan saya sekolah dan meniti karier di rumah sakit dan klinik, sambil mengisi berbagai acara seputar kesehatan. Dia sangat paham padatnya jadwal saya namun selalu mendukung, bahkan memberikan penilaian,” tambah dr. Cut.

Hubungannya dengan Thaya pun terbilang sangat dekat. Bahkan ketika dr. Cut tengah gundah, sang putri bisa ikut merasakan. “Kontak batin kami sangat kuat, dia bisa  tahu saat saya sedih atau lelah. Apalagi tanggal ulang tahun kami juga berdekatan, hanya berbeda 1 minggu. Sejak bayi, Thaya yang terlahir prematur dengan berat badan hanya 2 kg, memang selalu saya bawa kemanapun. Ketika kuliah saya tetap memberikan full ASI kepadanya. Sampai sekarang tidur pun masih sering saya temeni, terkadang hingga dia terlelap. Peran putri saya ini sangat penting buat saya, apa lagi sifat kami mirip. Boleh dibilang dia versi mini me,” terangnya. 

Meski berharap kelak sang putri mengikuti jejaknya sebagai dokter, namun dr. Cut memberikan kesempatan Thaya memilih apa yang diminati. “Saat ini saya melihat dia menyukai bidang seni. Ketika ia hobi bernyayi, saya ambilkan les nyanyi. Kalau bosan, kita cari apa yang saat itu tengah ia sukai. Seperti saat ini, ia menyukai theatre, saya daftarkan ke sanggar theatre. Saya selalu mendukung apa yang membuat dia nyaman. Namun, soal pertemanan saya batasi agar terhindar dari pergaulan yang salah. Alhamudulillah, sejauh ini ia selektif memilih teman,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top