MajalahKebaya.com, Jakarta – Kreativitas dan inovasi tak hanya muncul dari kota-kota besar. Banyak anak muda kreatif yang tinggal di pedesaan dan dihadapkan dengan permasalahan fasilitas untuk mewadahi setiap ide dan kreativitas. Menurut Nana, sapaan akrab jurnalis cantik dan energik kelahiran Makassar, 16 September 1977, anak-anak muda milenial memiliki kesempatan yang jauh lebih luas dan panjang, energi yang luar biasa, dan potensi diri yang besar, untuk menjawab tantangan-tantangan perubahan di era yang sangat dinamis saat ini. Anak muda harus digerakkan, difasilitasi, dan didorong melakukan inovasi dan kreativitas dalam berbagai bidang, sehingga mereka akan menjadi agen perubahan yang andal menuju Indonesia sejahtera, maju, dan berdaulat.

Sebagai bentuk kepedulian dan tekad mewujudkan misi pemberdayaan anak-anak muda, pada tahun 2020 Nana menginisiasi dan merancang sebuah movement event bertajuk ‘Indonesia Butuh Anak Muda’ atau IBAM sebagai upaya mengajak anak-anak muda terus bergerak dan berkarya untuk melakukan perubahan. Sebagaimana ‘Mata Najwa’ yang sudah lebih dulu sangat populer di tengah masyarakat, IBAM pun menuai antusiasme yang besar, terutama dari kalangan anak muda. Saat itu Nana sudah mengundurkan diri dari Metro TV, mendirikan Narasi bersama dua orang temannya, dan tetap menghidupkan ‘Mata Najwa’ yang tayang di Trans 7. Sejak tahun 2022, ‘Mata Najwa’ mulai fokus di dunia digital, tayang eksklusif di kanal Youtube Najwa Shihab.
Jurnalis Pemberani Berprestasi
Siapa yang tidak kenal dengan Najwa Shihab…15 tahun menggawangi ‘Mata Najwa’, program acara yang selalu dinanti masyarakat. Gayanya yang khas, lugas, kritis, penuh percaya diri mengajukan pertanyaan-pertanyaan bernas argumentatif, terkadang menohok, kepada narasumber untuk menggali dan menemukan jawaban atau kebenaran dari suatu masalah. Tidak heran masyarakat kemudian mengidolakan dirinya sebagai jurnalis yang tidak punya rasa takut demi sebuah kebenaran, seorang jurnalis pemberani.

Salah satu keberanian Nana yang luar biasa dan selalu dikenang pemirsa, ketika ia meliput secara langsung kondisi Aceh pasca-bencana besar gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004. Saat itu Nana masih sebagai jurnalis lapangan. Dengan berderai air mata, ia menggambarkan kepada masyarakat betapa mengenaskan dan luluh lantaknya Aceh dilanda bencana.
“Bencana terdahsyat abad ini. Itu benar-benar liputan yang tidak akan saya lupakan. Mengerikan ketika melihat gelimpangan jenazah, bau anyir, terkadang masih melekat di ingatan,” tutur Nana seperti dikutip Kompas.com saat itu.
Nana menyaksikan sendiri dan merasakan duka yang sangat mendalam bagi masyarakat yang tertimpa bencana. Hatinya bergetar pilu melihat hamparan jenazah yang bergelimpang, sementara keluarga atau saudara para korban meratap, menatap pasrah tak berdaya.
“Salah satu adegan yang tidak akan pernah saya lupakan saat melihat seorang anak yang menolak ajakan relawan dan ia hanya duduk diam di samping jenazah ibunya sepanjang malam. Anak itu berusaha membangunkan ibunya karena ia menyangka ibunya hanya tidur dan akan bangun. Peristiwa itu sangat membekas,” ucap Nana sendu.
Khusus untuk liputan bencana Aceh, Nana mendapatkan prestasi dan pengakuan serta penghargaan dari PWI Pusat dan PWI Jaya. Liputan dan laporannya dianggap memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesadaran dan empati masyarakat terhadap tragedi kemanusiaan Aceh.
Keberanian lain Nana ketika di ‘Mata Najwa’ ia mengangkat masalah PSSI yang selama ini bisa dibilang susah tersentuh. Dampaknya, Kepolisian langsung membentuk Satuan Tugas Anti-Mafia Bola dan menangkap terduga pelaku pengaturan skor. Juga ketika Nana mengangkat isu umrah palsu. Masih banyak isu sensitif lain yang diangkatnya dan sangat berdampak baik pada kebijakan publik, maupun narasumber. Menurut Nana, jurnalisme memang seharusnya dan sesungguhnya dapat berdampak bagi khalayak banyak.
“Jurnalisme itu bisa berdampak dan beraksi nyata di akar rumput lewat Komunitas Mata Kita yang merupakan perpanjangan tangan tayangan televisi ‘Mata Najwa’, juga harus berani mengungkap kebenaran,” tegasnya.

Perjalanan Karier
Putri kedua dari mantan Menteri Agama Kabinet Pembangunan VII Quraish Shihab serta keponakan dari mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab ini, memulai karier sebagai wartawan magang di RCTI sebelum akhirnya bergabung dengan Metro TV pada tahun 2000 sebagai reporter. Kemudian Nana menjadi anchor dalam beberapa program berita prime time seperti Metro Hari Ini dan Suara Anda.
Pada tahun 2009, Nana mendapatkan kesempatan untuk memiliki program gelar wicara sendiri yang diberi nama ‘Mata Najwa’. Saat itu ia baru saja menyelesaikan studi Program Magister Hukum di Universitas Melbourne, Australia, melanjutkan studi S1 yang ditempuhnya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Setelah 8 tahun memandu ‘Mata Najwa’, pada Agustus 2017, Nana mengundurkan diri dari MetroTV dan kembali tampil di Trans7 melalui acara ‘Mata Najwa’ pada 10 Januari 2018 hingga akhir tahun 2021.
Pada tahun 2017, Nana bersama dua temannya mendirikan sebuah perusahaan di bidang digital content, yaitu PT Narasi Citra Sahwahita, yang saat ini lebih dikenal dengan Narasi. Sudah banyak content dan acara yang dibuat Narasi, dan ditayangkan baik di TV atau pun channel Youtube. Seperti acara “Shihab dan Shihab” di Youtube, Nana tampil bersama ayahnya, Quraish Shihab, membahas beragam topik populer dan dari pertanyaan para netizen terkait ajaran Islam. Dokumentasi dari perbincangan tersebut tertuang dalam buku ‘Shihab & Shihab’.
Selain sebagai jurnalis, Nana juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia pernah dipercaya menjadi Duta Baca Indonesia oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dari tahun 2016 hingga 2020. Tugasnya adalah menyebarkan minat baca ke seluruh penjuru negeri. Nana juga menjadi Duta Pustaka Bergerak yang tugasnya mendorong dan mendukung pengadaan perpustakaan bergerak di berbagai wilayah Indonesia. Melalui program ini, buku-buku disebar menggunakan berbagai sarana seperti kuda, pedati, perahu, dan vespa, dengan tujuan untuk meningkatkan minat baca di Indonesia.
Hobi membaca dan menulis Nana yang cukup besar, mendorongnya menulis beberapa buku, antara lain ‘Mantra Layar Kaca’ (2015), ‘Catatan Najwa’ (2016), ‘Shihab & Shihab’ (2019), ‘Berguru News Anchor pada Najwa Shihab’ (2019), dan ‘Catatan Najwa 2’ (2020).
Raih Berbagai Penghargaan
Prestasi dan reputasi Nana di dunia jurnalis telah mendapatkan banyak pengakuan dan penghargaan. Selain penghargaan dari PWI karena liputan pasca-bencana Aceh, pada tahun 2006, ia mendapatkan penghargaan sebagai Jurnalis Terbaik Metro TV dan masuk nominasi Panasonic Award kategori Pembaca Berita Terbaik. Masih di 2006, Nana terpilih menjadi peserta Senior Journalist Seminar yang berlangsung di beberapa kota di Amerika Selatan, diikuti mayoritas wartawan terpilih dari berbagai negara. Juga menjadi pembicara pada acara ‘Konvensi Asian American Journalist Association’.
Tahun 2007, Nana masuk nominasi Panasonic Award dan di tingkat Asia, ia masuk nominasi Asian Television Award kategori Best Current Affairs atau Talk Show Presenter. Tahun 2010, terpilih sebagai nominasi Panasonic Award kategori Presenter Berita Terbaik. Tahun 2011 mendapatkan penghargaan Young Global Leader, yang diselenggarakan oleh World Economic Forum (WEF), sebuah organisasi nirlaba internasional berpusat di Jenewa, Swiss.
Beberapa penghargaan lainnya, baik di tingkat nasional maupun internasional seperti masuk dalam daftar Tops 2020’s and 2019’s Indonesia’s Most Admired Woman, berdasarkan survey independen global yang dilakukan YouGov, The Influential Woman of The Year dari Elle Magazine tahun 2016, Most Progressive Figure dari Forbes Magazine tahun 2016, Australian Alumni Award for Journalism and Media, tahun 2019, National Award for Journalistic Contribution to Democracy, tahun 2019, Alumni of The Year Australia Awards Indonesia 2022, Most Popular Inspirational Public Figure Indonesia Television Awards 2022, Most Powerful Women 2022 oleh Fortune Indonesia, Most Powerful Woman oleh Globe Asia (2018), Most Progressive Figure oleh Forbes Magazine (2014).
Reputasi Nana sebagai jurnalis juga patut diacungi jempol, karena telah banyak mewawancarai public figure terkenal dari berbagai bidang profesi dan latar belakang. Lewat ‘Mata Najwa’ ia telah menghadirkan berbagai tamu terkenal seperti mantan Presiden B.J. Habibie, Megawati Soekarnoputri, Boediono, Jusuf Kalla, dan Joko Widodo. DW
