MajalahKebaya.com, Jakarta – Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan era Presiden Joko Widodo, Susi Pudjiastuti memang lekat dengan keberanian mengambil keputusan dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat. Kini, semangat itu memasuki ruang baru melalui perannya sebagai Komisaris Utama Independen Bank BJB.
Bukan sekadar menduduki posisi strategis, sosok fenomenal yang karib disapa Susi ini, membawa gagasan agar perbankan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dari memperluas akses pembiayaan hingga membenahi tata kelola, ia ingin Bank BJB hadir sebagai kekuatan yang mendorong ekonomi daerah tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan.

Babak Baru. Memasuki dunia perbankan, Susi tetap membawa karakter yang selama ini menjadi kekuatannya, yakni berani melihat persoalan secara langsung dan mencari jalan keluar yang berdampak. Baginya, bank tidak semestinya hanya menjadi tempat menghimpun dan menyalurkan dana, tetapi juga memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.
Salah satu perhatian yang disorot Susi adalah besarnya ketergantungan masyarakat terhadap pinjaman Online (pinjol). Di Jawa Barat, nilai pinjol disebut mencapai sekitar Rp19,5 triliun. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Bank BJB untuk menghadirkan alternatif pembiayaan yang lebih sehat dan terjangkau.
Menurut Susi, Bank BJB perlu mengambil peran lebih besar dengan menawarkan pembiayaan berbunga lebih rendah, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap kredit yang aman dan bertanggung jawab.“Bank harus hadir memberikan alternatif pembiayaan yang lebih murah dan lebih sehat bagi masyarakat,” ucapnya.
Lawan Kredit Macet. Ketegasan Susi juga terlihat dalam cara pandangnya terhadap persoalan kredit macet. Semangat “tenggelamkan” yang dahulu begitu lekat dengan kiprahnya di sektor kelautan, kini menemukan konteks baru di dunia perbankan.
Bagi Susi, debitur yang sengaja tidak memenuhi kewajiban tidak boleh dibiarkan menjadi beban bagi institusi dan masyarakat. Karena itu, penguatan pengawasan dan tata kelola menjadi bagian penting dari perannya sebagai komisaris.
Namun ketegasan tersebut berjalan beriringan dengan keberpihakan. Ia melihat perbankan harus mampu membedakan antara debitur yang tidak memiliki iktikad baik dengan pelaku usaha yang sesungguhnya memiliki potensi, tetapi membutuhkan pendampingan dan ruang untuk bertumbuh. “Yang harus ditenggelamkan adalah yang nakal, bukan yang sedang berjuang,” tekan Susi.
Keberpihakan Susi juga diarahkan pada sektor produktif, terutama UMKM yang menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah. Ia mendorong agar perbankan tidak terlalu kaku dalam melihat pelaku usaha kecil, selama terdapat prospek dan iktikad baik untuk berkembang.
Menurutnya, modal yang mudah diakses dan tidak membebani dapat menjadi pintu bagi lebih banyak masyarakat untuk naik kelas. Perbankan pun memiliki kesempatan untuk hadir bukan hanya sebagai pemberi kredit, tetapi sebagai mitra pertumbuhan.
Di sinilah kepemimpinan Susi menemukan maknanya. Ketegasan tidak harus berjarak dengan keberpihakan. Justru melalui pengawasan yang kuat, tata kelola yang sehat, dan keberanian membuka akses pembiayaan, perbankan dapat memberi manfaat yang lebih luas.

Ubah Cara Pandang. Bagi Susi, membangun ekonomi tidak cukup hanya dengan mengejar angka pertumbuhan. Di balik setiap angka terdapat pelaku usaha, keluarga, pekerja dan masyarakat yang berharap memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik.
Peran barunya di Bank BJB menjadi babak berbeda dalam perjalanan Susi Pudjiastuti. Dari laut hingga ruang perbankan, benang merahnya tetap sama, yakni keberanian mengambil sikap, menjaga kepentingan masyarakat dan mendorong perubahan yang memiliki dampak nyata.
Kini, tantangannya adalah bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan yang mampu membuat Bank BJB semakin kuat sekaligus semakin dekat dengan masyarakat Jawa Barat. Laili
