Cover Story

Luh Asri Martani S.Pd., M.M: Perempuan mandiri yang cakap membaca peluang bisnis

MajalahKebaya.com, Jakarta – Kemandirian yang tertanam dalam diri Luh Asri Martani sejak belia, sanggup membentuk karakter struggle dalam dirinya. Sejak usia sekolah, ia bahkan menyisihkan waktu mengajar bahasa inggris untuk anak-anak, membuat pembawaannya kian bijak dan mampu memecahkan masalah.

Sehingga ketika ditinggal wafat sang papa di usia muda, perempuan asal Bali ini pun mampu memutuskan hal terbaik dari harta peninggalan mendiang. “Karena ibu saya hanya IRT biasa, akhirnya saya berpikir bagaimana caranya agar warisan peninggalan papa tidak habis untuk biaya hidup kami sehari-hari. Karena bagaimana pun perjalanan hidup kami masih panjang. Selain saya yang kuliah semester awal, ketiga adik juga masih bersekolah,” kenang perempuan kelahiran Sidoarjo,17 Agustus ini.

Dari Toko Klontong ke Minimarket. Demi mengejar goals agar uang warisan ayahnya bisa menghasilkan uang kembali, Asri memutuskan untuk membuka beberapa usaha, yakni toko kelontong, toko sembako, kos-kosan dan fotocopy. Ia pun banyak membantu ibunya dalam mengelola dan mengembangkan bisnis-bisnis tersebut hingga terus bertumbuh.

Namun, setelah dipersunting oleh dr. Anak Agung Gde Yuda Asmara,Sp.OT(K) dan memiliki 3 orang anak, yakni Gung Yuri, Gung Anom dan Jung Hana, Asri yang berprofesi sebagai guru Komputer di salah satu SMA di Bali ini, juga sempat ikut sang suami melanjutkan pendidikan spesialis di Jakarta. Sehingga, ia tidak terlalu fokus mengontrol toko.

“Untuk toko klontong dalam perjalanannya berkembang pesat, ibu saya bahkan mempercayakan pengelolaannya kepada seorang manager. Tetapi ternyata manager Ibu tidak amanah. Dia membawa pergi semua penghasilan toko. Karena kebetulan latar belakang saya sebagai Sarjana Pendidikan Ekonomi, akhirnya saya putuskan untuk menghandel toko tersebut,” runut Asri.

Di saat yang sama, jaringa bisnis retail mulai masif saat itu, membuat Asri berpikir untuk mengubah toko kolontong menjadi toko modern yang memiliki sistem. “Kalau hanya toko kelontong sepertinya sulit berkembang, akhirnya saya ciptakan brand minimarket baru, yakni Toko HePPY. Jadi semuanya saya modernisasi, mulai dari pegawai yang mengenakan seragam hingga pengawasan lewat CCTV. Dengan jam operasional 24 jam non stop, minimarket lokal ini lumayan sukses. Beberapa waktu kemudian saya sudah bisa buka cabang,” terangnya.

Sayang, di toko kedua penjualan Toko HePPY kurang begitu bagus, bahkan untuk operasional harus subsidi dari toko pertama. Tak ingin terus menggerogoti toko pertama, Asri memutuskan untuk menutup cabang tersebut.

“Setelah kegagalan tersebut, saya mencoba belajar lagi tentang business planning secara otodidak dan menutup bisnis fotocopy agar bisa fokus ke minimarket. Kemudian saya cari lokasi kedua dan boom sekali, karena sudah dapat alurnya dan menyelami tentang bisnis minimarket. Sekarang Toko HePPY sudah berkembang dengan 5 outlet tanpa hutang dan semuanya lancar,” tutur Asri, bangga.

Unggulkan Pelayanan. Meski waralaba minimarket begitu menjamur di Bali dan berani memberikan penawaran harga yang lebih murah, namun Asri tak gentar. Ia menyakini jika Toko HePPy memiliki keunggulan yang mampu menarik customer lebih loyal. Salah satunya dengan mengedepankan pelayanan prima.

Agar pelayanan tersebut bisa dijalankan para karyawan dengan baik, Asri berupaya untuk memperlakukan mereka sebaik mungkin layaknya keluarga. “Saya berprinsip kalau kita menghargai mereka dan membuat mereka nyaman bekerja, maka lebih mudah bagi saya untuk mengatur mereka. Ketika melayani konsumen juga mereka lebih ramah dan sigap,” tambahnya.

Ditekankan Asri, ia juga berusaha meminimalisir kehilangan barang yang bisa membebani karyawan. Salah satunya dengan meniadakan gudang, sehingga tiap supplier datang langsung ke masing-masing outlet Toko HePPY. Kemudian barang diterima oleh karyawan untuk kemudian didisplay dan diinput jumlahnya di mesin kasir.

“Ketika controlling, saya cukup cross-chek ke masing-masing divisi di tiap toko. Cara tersebut selain meminimalisir ongkos kirim, juga meminimalisir jumlah kehilangan barang. Karena kejadian adanya barang yang hilang itu sering kali bukan karena karyawan di toko, tapi juga karena sistem ataupun human error saat input jumlah barang mulai dari gudang hingga ke outlet. Ketika karyawan tidak khawatir harus bertanggung jawab jika ada barang yang hilang, mereka juga bisa bekerja dengan nyaman. Sehingga meski salary yang mereka terima hanya UMR tapi mereka juga tidak beban, karena jika ada kehilangan tidak banyak, karena sistemnya jelas,” tekan Asri.

Ekspansi Bisnis. Munculnya brand-brand skincare baru mendorong Asri untuk menjalani ekspansi bisnis di bidang tersebut. Apalagi, ia memiliki suami yang berprofesi sebagai dokter dan sedikit banyak mengetahui tentang kesehatan kulit. Namun, agar bisa masuk ke semua pengguna brand skincare, Asri memilih skincare additional berupa Sheet Mask berlabel HIMAGlow.

“Untuk sementara penjualan offline masih terbatas, hanya dijual Toko HePPY dan beberapa toko milik teman-teman saya. Sedangkan untuk online bisa sekitar Jawa dan Bali,” ujar perempuan yang juga menekuni karier sebagai konsultan minimarket ini.

Kemampuan Bisnis. Kesanggupan Asri dalam mengelola warisan sang papa tidak bisa lepas dari kemauan besarnya untuk belajar. Hingga kini, ia bahkan selalu meng-upgrade kemampuan diri sesuai perkembangan zaman.

“Profesi sebagai guru Laboratorium Komputer di salah satu SMA Negeri di Bali, memudahkan saya belajar hal baru. Jadi saya cukup mengikuti perkembangan teknologi yang sejalan dengan hobi saya yang gemar berjualan dan mengajar. Ada kebanggan tersendiri ketika kita bisa belajar membangun brand bisnis baru yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang,” katanya.

Untuk itu, tiap kali menjadi pembicara dalam suatu seminar yang mengangkat tema tentang wanita, Asri selalu mengajak mereka untuk menjadi pribadi mandiri. “Tugas kita sebagai perempuan itu banyak dan dituntut untuk perfect. Tetapi setidaknya wanita harus punya literasi finansial yang mumpuni. Karena kita tidak pernah tahu hal apa yang menimpa kita kedepan. Satu hal yang harus diingat, di setiap situasi yang sulit pasti ada hal yang baik. Jika dulu saya sedih karena papa saya meninggal, tapi nyatanya itu yang membawa saya menjadi seperti sekarang,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seventeen − 9 =

To Top