Profil

Ditha Sukesna: Menjadi Besar Tanpa Mengecilkan Orang Lain

MajalahKebaya.com, Jakarta – Langkah pencapaian yang berhasil ditorehkan dalam perjalanan kehidupan merupakan suatu kebanggaan. Bukan hanya dengan rencana atau target, tetapi ketulusan hati untuk memberikan tujuan baik di dalam setiap usaha akan menghasilkan sesuatu yang baik. Prinsip sederhana yang ditanamkan seorang perempuan cantik bernama Ni Luh Ketut Prabadita, IWS. Perempuan kelahiran Jayapura, 29 Juni, yang akrab disapa Ditha Sukesna ini, percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan akan memberikan hasil terbaik dengan jalan yang seringkali tidak terduga. Ini yang menjadi pengalamannya ketika mulai membesarkan hobi berdagang sampai ia memiliki bisnis sendiri.

Istri dari Adi Aris Usman yang bekerja sebagai Brand Marketing di salah satu perusahaan start up terbesar di Asia Tenggara ini, sejak masa kanak-kanak sudah hobi berdagang. Dari Sekolah Dasar, Ditha menjual berbagai produk seperti aksesoris, makanan, baju dan lain-lain. Berdagang menjadi hobi yang menarik dan tidak lepas dari kesibukannya. Pada 2014, seorang sahabat menawarkan bisnis jual beli barang-barang branded. Dari sana ia mulai bertualang dengan bisnis yang belum pernah digeluti sebelumnya.

“Saya ditawari bisnis jual beli barang-barang branded. Masih awam untuk menjalankan bisnis ini. Ada barang baru dan barang second. Meskipun masih awam, saya belajar cara promosi baik lewat media sosial, dari mulu ke mulut dan endorse. Jadi awalnya bisnis ini punya teman dan dia kasih saya untuk mengganti bisnis. Sahabat saya tahu saya masih awam, jadi dia yang membantu memperkenalkan ke senior dan sampai sekarang berkembang.”

Setelah melewatkan perjalanan dan mendapatkan pengalaman, Ditha memberanikan diri untuk membuka butik sendiri pada 2017. Ia tidak menyangka, butik dengan satu orang karyawan ini mendapat respon yang luar biasa.

“Saya buka butik dan punya karyawan satu orang. Waktu itu saya buka di daerah Lamandau, Jakarta Selatan dengan ukuran kecil 4×3 m. Responnya sangat luar biasa sampai barang tidak tertampung di sana. Akhirnya selang satu tahun, di 2018 saya pindah dari Lamandau tapi masih di daerah Jakarta Selatan. Tapi karena akses dan parkir susah, jadi hanya dua tahun. Saya pindah lagi ke daerah Blok M sampai sekarang. Alhamdulillah sekarang berkembang dengan lima orang karyawan. Sekarang followers di Instagram sudah banyak dan penjualan sampai 150 barang setiap bulan.”

Ditha mengusung tema one stop shopping untuk branded stuff. Ia juga bekerja sama dengan salah satu authenticator branded stuff dunia dan bekerja sama dengan Bag Spa ternama di Indonesia. Dalam berbisnis, Ditha memprioritaskan kepercayaan, servis maksimal, memberikan barang berkualitas dan bergaransi. Ia juga mengasuransikan barang dagangannya untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Ditha melakukan terobosan bisnis dengan cara live lelang dan berkolaborasi. Ia berusaha memberikan manfaat kepuasan klien dan memastikan keaslian barang.

Promosi Lewat Media Sosial. Menghadapi era digital dan teknologi yang berkembang pesat, pemilik @Thevintagebag yang berlokasi di Jl. Langsat I No.34, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini, berupaya memaksimalkan media sosial dan menjangkau konsumen dari seluruh Indonesia. Cara promosi yang praktis, tetapi ia tetap harus berhadapan dengan tantangan karena belum ada ketentuan dari Instagram untuk berjualan.

“Seperti pajak dan bagaimana agar account Instagram kami aman. Banyak penipuan online, jadi banyak konsumen ragu untuk membeli. Jadi saya mengakali dengan adanya store offline dan ada toko yang bisa dikunjungi.”

Menyeimbangkan Karier dan Bisnis. Sebelum berbisnis, Ditha mengawali karier sebagai Account Executive sejak tahun 2010, hingga sekarang menjadi Senior Account Manager di salah satu perusahaan televisi swasta ternama di Indonesia. Ia juga pernah bekerja di salah satu universitas di Jakarta dan pernah berkarier di perusahaan property. Ditha mengungkapkan bahwa ia bukanlah sosok perempuan yang nyaman berada di satu bidang. Karena itu selain bekerja, Ditha memutuskan untuk membangun bisnis dengan keseimbangan yang tepat. Buktinya ia berhasil memperoleh prestasi membanggakan yang menggambarkan dirinya sangat berharga.

“Semua yang saya lakukan suatu kebanggaan. Mulai dari saya bangun Instagram usaha saya pada 2014 dengan followers 100 sampai saat ini ada 37 ribu. Kemudian kalau saya ikut bazaar barang branded, SPG saya kasih kartu nama dan hampir 90 persen customer info kalau sudah follow IG. Karyawan saya juga lama-lama betah. Dengan proses dari nol hingga saat ini merupakan suatu kebanggaan dan prestasi.”

Tantangan yang dirasakan selama berkarier di perusahaan televisi swasta ketika ia harus berhadapan dengan era digital. Meskipun belum berdampak terlalu besar, tetapi Ditha berusaha mengkolaborasi semaksimal mungkin dengan digital platform yang menghadirkan program-program inovatif. Tentu usaha untuk berpikir kreatif menjadi cara terbaik menghadirkan sesuatu yang menarik.

Rencana ke depan, Ditha ingin membesarkan usaha dan membuka restoran atau coffee shop. Ia menyimpan harapan bisa membangun villa dan disewakan serta keliling dunia untuk menuntaskan hobi traveling-nya.

“Saya punya Tuhan Yang Maha Baik, yang mengatur hidup saya asal tujuan saya baik, saya yakin Tuhan akan berikan yang terbaik. Menjadi besar dengan tidak mengecilkan orang lain. Saya pernah baca jika kamu kerja digaji 5 juta, tapi kerjaan kamu seperti gaji 15 juta. Tidak perlu takut, akan datang rejeki dari jalan yang lain. Lakukan yang terbaik dan jangan menyakiti orang lain.”

Prioritas Keluarga. Ibunda dari Anadia Kara Varisha (Kelas 1 SD) ini, merupakan sosok ibu yang tidak pernah kehilangan kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan buah hati tercinta. Sebagai perempuan ia tetap menyeimbangkan prioritas antara keluarga, bisnis, pekerjaan dan karyawan. Semuanya dipastikan berjalan dengan lancar.

“Kadang saya merasa waktu 24 jam tidak cukup. Kunci saya adalah berusaha semaksimal mungkin dan percaya usaha saya akan mendatangkan kebaikan untuk keluarga. Saya percaya Allah akan memberikan reward.”

Ditha selalu siap sedia mendampingi anaknya dalam penggunaan teknologi melalui gadget. Ia ekstra hati-hati untuk tontonan anak di handphone dan mengarahkan apa yang boleh dan tidak diperbolehkan. Ada batasan yang harus diinfokan kepada anak agar disiplin dan bertanggung jawab dalam penggunaan handphone.

Selain itu, Ditha tidak pernah kehilangan waktu untuk me time. Memanjakan diri sendiri merupakan hal penting agar pikiran kembali segar. Untuk me time, biasanya ia memilih hangout atau traveling bersama teman-teman. Sesekali ia menghabiskan waktu sendiri di kamar untuk melakukan yang disuka seperti main game, nonton dan meditasi. Ditha juga rutin melakukan perawatan kecantikan dan tidak lupa berolahraga teratur.

Positif Hadapi Pandemi. Perempuan wajib berjuang teguh selama menghadapi situasi sesulit apapun termasuk pandemi. Ditha meyakini hal tersebut karena ia diajarkan oleh orang tua untuk mampu berdiri di atas kaki sendiri. Setiap orang tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi yang bisa menolong hanya diri sendiri. Terutama perempuan harus mampu berjuang dan menjadi multitasking. Salah satu caranya dengan cerdas membagi waktu antara keluarga, kerja, entrepreneur dan kehidupan sendiri.

“Saya harus mandiri dan yang ditanamkan pada diri sendiri untuk maksimal dalam bekerja. Prinsip saya ingin menjadi besar dengan tidak mengecilkan orang. Saya punya peran di mana saja misalnya karyawan saya jadi pintar dan saya ikut senang. Intinya saya mau sejahtera dan orang-orang di sekitar saya juga demikian.” WD

Info Lebih Lanjut:

@Thevintagebag
Jl. Langsat I No.34, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

four × 4 =

To Top