Profil

Yusmayanti: Kartini Sejati Tidak Gampang Menyerah Tapi Terus Berkarya

MajalahKebaya.com, Jakarta – Tantangan yang harus dihadapi para pengusaha, terutama womanpreneur, di masa-masa sekarang terasa sangat berat. Bukan saja karena pandemi yang tidak pandang bulu menghempas hampir semua sektor kehidupan, tapi juga laju pertumbuhan dan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Tak terhitung jumlah usaha yang harus gulung tikar, banyak karyawan jadi korban PHK, dan berbagai kelesuan lainnya. Namun, bagi wanita cantik, lembut, dan sederhana bernama Yusmayanti, atau akrab disapa Maya, apa pun rintangan dan kendala harus bisa diatasi dan dilewati. Sebagai perempuan pengusaha, atau pun perempuan bekerja, harus mampu menjadi Kartini modern yang tiada henti berjuang dan berkarya, sebagaimana dulu sosok RA. Kartini.

“Bagi saya, para perempuan Indonesia saat ini harus mau dan mampu menjadi sosok Kartini era digital, mengingat siapapun pasti mengalami dampak hebat dari pandemi ini. Jangan putus asa, harus tetap aktif dan bangkit. Mulailah dengan mengikuti perkembangan jaman tekhnologi. Apa yang bisa kita kerjakan dari rumah itu bisa dilakukan kok… Misal dengan berjualan via online. Foto lalu share via Whatsapp. Selama ada niat, pasti ada jalan dan harus terus kreatif.”

Maya sangat menyadari bahwa para Kartini era sekarang adalah Kartini-Kartini modern yang semakin dekat dengan tekhnologi, semakin dimudahkan dalam segala hal. Sekarang apapun juga bisa dilakukan dari rumah tanpa meninggalkan kewajiban dan kodrat sebagai seorang perempuan, namun juga dapat menghasilkan yang bisa membantu keluarga.

“Maka jadilah Kartini sejati dengan terus berkarya dan tidak gampang menyerah,” tegas Maya yang membuktikan dirinya tetap survive di masa-masa sulit selama dua tahun terakhir ini dan terus memecut diri menjadi wanita yang tangguh, disiplin, mandiri, dan pantang menyerah.

Kreatif dan Survive di Masa Sulit

Hantaman pandemi Covid’19 di awal-awal tahun 2020 berimbas ke semua sektor bisnis, tidak terkecuali usaha-usaha milik Maya. Salah satu bisnis Maya, yaitu kursus musik, yang telah beberapa tahun dijalankannya terpaksa harus tutup untuk sementara, dan ia harus terus bergerak menemukan solusi, terutama agar tidak merumahkan para karyawan.

“Sulit kami mendapat pemasukkan jika latihan musik via online. Meski kami pernah mencoba dengan memberikan kursus musik via zoom, tapi tetap hasilnya tidak maksimal. Akhirnya dengan berat hati, saya putuskan untuk ditutup sementara,” ungkap wanita yang gemar traveling ini.

Maya kemudian lebih fokus mengurus dua bisnis lain miliknya, yaitu salon kecantikan yang sudah berdiri sejak tahun 2015 dan bisnis travel sejak tahun 2019. Meski diakuinya, kedua bisnis ini pun tetap berisiko tinggi untuk dapat berkembang di tengah pandemi. Namun, Maya yakin masih ada celah dan peluang yang bisa diambil di masa-masa ini. Kuncinya adalah harus kreatif, cerdas memanfaatkan semua kemudahan di era digital ini, lakukan inovasi, dan terobosan-terobosan marketing yang kekinian.

Salon Mayana, brand salon kecantikan miliki Maya, hingga kini tetap eksis meskipun tidak seramai sebelum pandemi. Ia mengawali bisnis salon kecantikan ini karena memang hobi merawat diri ke salon. Meskipun demikian, Maya terus memperdalam pengetahuan dan info seputar dunia kecantikan untuk mendukung dan menjaga kualitas treatment-treament yang diberikan di salon miliknya. Apalagi ia melihat, prospek bisnis kecantikan tetap bagus sampai kapan pun karena sudah menjadi kebutuhan kaum perempuan di mana pun berada.

“Wanita itu butuh perawatan agar tetap cantik, setidaknya kita bisa kasih solusi dengan fasilitas yang salon Mayana miliki,” ujar Maya dengan antusias.
Sementara itu, Maya pun terus mengembangkan bisnis travel dengan nama Travel Delisha miliknya. Ia menyadari bisnis travel adalah salah satu bisnis yang sangat terdampak pandemi Covid, karena otomatis semua masyarakat tidak melakukan perjalanan wisata. Namun, Maya tetap optimis dan gencar menemukan peluang di tengah keterbatasan, tentu dengan menjalankan protokol keseheatan yang ketat.

“Alhamdulillah untuk bisnis travel, masih tetap jalan. Terbukti di akhir tahun 2021 lalu, kami melayani paket gathering untuk corporate seperti Perusahaan Pegadaian, dengan jumlah yang lumayan. Selain itu juga kami masih meng-handle paket-paket Bulan Madu ke Bali atau juga yang hendak ke Turki atau ke mana saja, kami masih siap melayani,” tegas Maya dengan optimis.
Menghadapi persaingan bisnis di era digital saat ini, Maya telah menyiapkan dan menjalankan strategi-strategi khusus, baik di media sosial maupun perluas jaringan bisnis secara online dan offline. Untuk itu, ia terus memperkuat SDM yang mumpuni, menyebar e-flyer dengan memberikan potongan atau discount yang berbeda-beda setiap bulan, terutama salon. Dan pastinya meningkatkan mutu pelayanan sehingga customer puas dan memberikan rekomendasi ke orang lain.

Ke depan, Maya terus mengeksplor diri dan potensi yang ada untuk dikembangkan. Antara lain, ia ingin merambah bisnis kuliner yang saat ini sedang dipersiapkannya. “Saya sedang mempersiapkan usaha baru yang bergerak di bidang kuliner. Rencananya tahun ini. Tempat, sistem franchise-nya seperti apa sudah saya pelajari. Insha Allah tahun ini akan saya mulai. Selain itu saya mempunyai impian memiliki kantor sebagai holding-nya. Jadi saya tinggal kontrol report dari kantor tersebut.”

Tidak Mau Merumahkan Karyawan

Karyawan bagi Maya adalah aset penting perusahaan yang harus dirangkul, dirawat, dan diperlakukan secara profesional dan kekeluargaan. Karena itu, ia sangat peduli pada semua karyawannya. Meskipun kondisi sedang sulit karena imbas pandemi, di mana omset usaha Salon Mayana dan Travel Delisha menurun secara signifikan, Maya tidak mau menutup usaha-usahanya, dan karyawan tetap bekerja normal dengan gaji tidak dipotong.

“Saya percaya rezeki selalu ada. Mungkin sekarang sepi, tapi pasti akan ada saatnya ramai lagi. Nah, tinggal pintar-pintarnya kita subsidi silang saja. Tapi karyawan kalau di-PHK atau gaji dipotong, mereka juga sulit cari kerja di tempat lain atau buka usaha. Saya tidak mau menunda gaji pegawai. Saya selalu ingat kata-kata Almarhum Papa, ‘itu hasil keringat pegawai jangan sampai ditunda, karena pasti keluarga mereka menunggu hasilnya di rumah’,” ujar Maya dengan bijak.

Sikap sekaligus prinsip seperti itulah yang membuat bisnis salon dan travel Maya yang berlokasi di Kota Wisata – Cibubur tersebut, bisa terus berjalan dan semakin berkembang. Ia sangat menyadari betapa sulitnya berada pada posisi karyawan di saat-saat seperti ini. Ia pun dulu, sebelum berwirausaha, mengalami pahit getirnya berjuang meniti karier sebagai karyawan kecil, seorang staff administrasi kantor.

“Dulu, saya bekerja naik bis harus lari-larian ngejar bis, sudah di dalam bis penuh sesak, panas dan bau. Belum lagi sampai kantor terlambat, gaji dipotong padahal karena ada demo. Nunggu di depan halte kadang kehujanan, kadang kepanasan. Pokoknya lebih prihatin dari saat ini. Itu juga yang sering saya sampaikan ke pegawai-pegawai saya, biar mereka termotivasi,” lirih Maya.

Me Time Bersama Keluarga

Meskipun wanita energik kelahiran Jakarta, 29 Mei ini, lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ibunda tercinta dan keluarganya, tapi ia masih menyempatkan diri untuk memanjakan diri dengan menyalurkan hobinya, berolahraga dan traveling. Business trip juga adalah salah satu kegiatan yang ia gemari, karena dengan melakukan business trip adalah salah satu caranya menghilangkan kebosanan di tengah rutinitas mengurus keluarga dan bisnis, berjalan-jalan tapi tetap menghasilkan cuan.
Sosok yang lemah lembut ini memang sangat mencintai dan memprioritaskan keluarganya. Kepribadiannya yang penyayang namun tegas dalam prinsip, terutama berkait bisnis, tak lepas dari figur dan didikan ayahnya. Karena didikan orang tua seperti itulah, ia kini menjadi sosok yang disiplin, tangguh, mandiri, dan pantang menyerah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 + twelve =

To Top