Profil

Eka Wenny Irianningsih: Single Mom Tangguh yang Tiada Henti Berjuang

MajalahKebaya.com, Jakarta – Keadaan terkadang dapat menyulutkan semangat tiap orang. Namun, hal ini tidak berlaku bagi orang-orang yang pantang menyerah dan terus ingin memperjuangkan kehidupannya. Hal inilah yang dapat dilihat pada sosok Eka Wenny Irianningsih. Wanita yang diakrab dipanggil Wenny ini, adalah seorang entrepreneur yang terus setia pada proses dan tak mau menyerah pada keadaan. Sempat bertempat tinggal di Papua karena mengikuti orang tuanya berdinas, Wenny pun memulai kisah perjalananan hidup yang penuh warna saat memutuskan kuliah di Malang, kota kelahirannya.

Berkarier dan Mengoptimalkan Semua Peluang. Wanita cantik kelahiran Malang, 13 Desember ini, mengingat dengan jelas setiap langkah yang dilewatinya dalam merintis karier. Ada banyak tempat serta cerita di dalamnya yang turut menghiasi perjalanannya. Saat itu, ia mulai ingin merasakan dan terlibat langsung dalam dunia kerja, kendati sedang berkuliah.

Usaha pertama yang digeluti Wenny adalah kos-kosan. Saat itu ia mulai belajar untuk menjaga usaha kos-kosan milik ibunya. Tak cukup sampai di situ, ia pun mencoba untuk merambah ke dunia modeling, di mana akan lebih banyak hal-hal baru dan tentunya berbeda, serta banyak ilmu yang didapatkan dari seorang model. ”Di Malang, saya belajar untuk menjaga kos-kosan milik Ibu. Selain itu, karena saya seorang feminist juga, saya memberanikan diri untuk menjadi model. Ditambah lagi, di tahun-tahun itu yang menjadi model masih sedikit. Bersyukurnya, pada tahun 1996 saya pun terpilih menjadi Kakang Mbakyu atau Duta Wisata Kota Malang,” ujar wanita tamatan Universitas Brawijaya ini.

Menjadi model bukanlah suatu hal yang benar-benar baru bagi Wenny saat itu. Sebelumnya ia juga pernah menjadi finalis Putri Indonesia dan runner up Putra-Putri Indonesia di Papua.

Selepas masa kuliah, Wenny pun bekerja di perusahaan developer. Pada suatu kesempatan, ketika sedang berdinas di Surabaya, ia pun bertemu untuk pertama kalinya dengan alm. suaminya yang sedang berdinas di Madura. Ketika itu, mereka bertemu pada suatu pameran real estate. Seiring berjalannya waktu, mereka pun menikah di tahun 1998.

Seiring perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga, ternyata takdir berbicara lain. Almarhum suami tercinta, Zulfihansyah Kamil yang bekerja di sektor BUMN, pada tahun 2013, mendapat musibah mengenai kesehatannya, yaitu terserang penyakit Cancer. Segala upaya dan ikhtiar pun tiada henti dilakukan Wenny, baik pengobatan di dalam maupun luar negeri demi kesembuhan sang suami. Namun, meskipun berbagai upaya telah dilakukan demi pengobatan mendiang suami, pada akhirnya, beliau tetap harus berpulang ke hadirat Tuhan YME.

“Sebelumnya, saya sangat salut melihat kegigihan dan perjuangan suami saat menghadapi penyakitnya. Hal ini sangatlah inspiratif. Namun, saat beliau harus pergi, sebagai ibu rumah tangga, banyak hal yang saya khawatirkan. Bermodalkan kekuatan dan keinginan untuk kebahagiaan masa depan kedua buah hati saya, perlahan usaha kos-kosan yang saya rintis bisa berjalan,” tutur Wenny.

Wenny yang tak mau menyerah pada keadaan, ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah wanita yang kuat dan bisa diandalkan. Semua peluang dan kesempatan pun hendak ia optimalkan sebaik mungkin demi kelangsungan hidup keluarganya. Bermodalkan uang tabungan yang ada, Wenny perlahan mulai menjajaki jalannya untuk menjadi seorang pengusaha kos-kosan yang sukses.

“Uang tabungan yang ada saya pergunakan untuk membangun usaha kos-kosan di Malang pada tahun 2018. Kos-kosan itu saya beri nama Dewandaru. Bersyukurnya, usaha ini terbilang sukses karena setiap tahun jumlah penghuni kos terus bertambah,” ucap ibunda dari Lafikasya Puteri Kamilia (Mahasiswi Univ Brawijaya Fakultas Hukum Semester 7), dan Novanisya Shada Ramadhany (Mahasiswi Univ Brawijaya Fakultas Ekonomi Semester 3) ini.

Pantang Menyerah pada Keadaan. Selama masa pandemi, Wenny mengakui usaha miliknya itu terkena imbas yang cukup besar. Namun, ia kembali tak ingin menyerah pada keadaan. Melalui inisatifnya menurunkan harga, usaha kos-kosannya tetap dapat berjalan dan tetap ramai peminat. Ia pun tak mau berhenti sampai di situ. Menghadapi masa pandemi, ia mencoba peruntungannya yang lain dengan menjual tas-tas miliknya yang sudah tidak terpakai lagi. Akhirnya bisnis tas branded baik yang second maupun baru ini, menjadi keterusan hingga sekarang.

“Usaha penjualan branded bags baik new maupun second di Jakarta dan Malang. Saya pun membuka outlet di rumah dan pavilion di lokasi kosan milik saya. Namun, kerena masih masa pandemi saya pun memcoba untuk berjualan via online,” ujar Wenny. Ia pun menambahkan bahwa kedua anaknya juga dilibatkan dalam bisnis barunya ini. Wenny ingin agar anak-anaknya dapat produktif dan mulai terlibat dalam dunia bisnis.

Wenny berharap semua bisnisnya dapat tetap berjalan dengan baik. Ia akan terus berjuang dalam menghidupi semua usahanya ini, entah apapun hambatan atau halangannya. Namun, harapan terbesar baginya saat ini adalah terus diberikan kesehatan. Ia tak mau terlalu muluk mengingingkan segala hal karena baginya yang terpenting adalah kesehatan.

Sosok Ibu yang Menginspirasi. Wenny mengakui bahwa ibunya adalah sosok yang memiliki peranan yang besar dalam hidupnya. “Sosok Ibu sangatlah luar biasa bagi saya. Pengajaran dan pendidikannya tentu saja tak akan terlupa, serta menjadi mirror bagi saya untuk mendidik dan membesarkan anak-anak saya. Sosoknya yang sederhana dan selalu ada untuk anak-anaknya sangatlah menginspirasi bagi saya,” tegas Wenny.

Inspirasi dari ibunya itu pun terus melekat dan menjadi mirror dalam diri Wenny untuk kedua anaknya. Di balik kesibukannya bekerja, ia tetap ingin menjadi ibu yang baik dan tetap memberikan waktunya bagi kedua anaknya. “Terutama pada masa pandemi ini, saya dan anak-anak saya biasa menghabiskan waktu dengan menonton film bersama di Netflix,” tegas wanita yang menyukai traveling dan kuliner ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × 1 =

To Top