MajalahKebaya.com, Jakarta – Perjalanan spiritual Nur Cahyaningsih membawanya menemukan titik balik dalam hidup dengan memutuskan berhijab syar’i. Dari titik balik itulah, wanita ramah yang disapa Enche jatuh hati di bisnis fashion muslim sejak tahun 2012 dan khusus untuk fashion muslim syar’i dimulai dari tahun 2017.
“Saya melihat peluang banyak mayoritas masyarakat Indonesia muslim dan sebagian besar berhijab. Dari peluang tersebut akhirnya saya berpikir bisnis ini cukup sustainable. Faktor lain adalah ketenangan hati yang membuat saya memilih untuk memutuskan usaha fashion muslim,” papar wanita kelahiran Sragen, 24 September ini.
Enche menilai bisnis di bidang fashion muslim berbeda dengan bisnis lain karena ada aturan dari sisi agama yang harus diikuti. Ia melihat bisnis fashion muslim cukup menarik, berbeda dengan fashion pada umumnya. “Dari agama sudah ada aturannya, batasannya seperti tidak boleh ketat, tidak boleh terbuka, tidak boleh menerawang,” tandasnya.
Dari aturan itu pebisnis fashion muslim ditantang untuk berkarya membuat busana yang fashionable, tetap enak dilihat. “Tentu tidak mudah bikin baju yang bagus dengan beberapa aturan sesuai syariat. Tapi itu yang paling menarik, justru itu tantangannya,” ujar lulusan D3 Perpajakan ini dengan semangat.

Prinsip dan Kiat Sukses
Dalam berkarya, Enche selalu memegang beberapa nilai atau prinsip, sekaligus sebagai kunci suksesnya. Ketika prinsip-prinsip itu dipegang teguh dan dijalankan secara konsisten, diyakininya, kesuksesan pasti akan mudah diraih.
Secara garis besar Enche mengungkapkan prinsip atau kunci sukses utama yang selalu dipedomaninya. Pertama, melakukan apapun dengan sepenuh hati, penuh kesungguhan. Ia tidak suka melakukan sesuatu hal setengah-setengah. “Kita selesaikan pekerjaan sepenuh hati dan sungguh-sungguh, barulah kita lakukan pekerjaan lain.”
Kedua, ia tidak mau menunda suatu pekerjaan. “Kalau kita sudah memiliki mimpi dan sudah ada suatu pekerjaan di depan mata, jangan ditunda. Kalau kita menunda pekerjaan yang sudah ada di depan mata atau menunda mimpi, itu sama dengan menunda keberhasilan.”
Ketiga, ia tidak mudah puas dengan apa yang sudah diraih. Artinya ia tidak mau terjebak dan terbuai dalam zona nyaman. “Tambahkan terus value diri kita, jangan buang-buang waktu karena begitu kita stuck itu sama saja dengan jalan di tempat,” tegasnya.
Dalam menjalani karier atau kehidupan profesional, Enche mempunyai visi dan misi yang jelas. Ia selalu membuat peta perjalanan hidup atau perjalanan bisnisnya agar tujuan dan arah jelas. Selain itu, Enche melatih kekuatan mental sehingga apapun masalah yang dihadapi ia tidak akan mudah menyerah.
Demikian pun integritas, bagi Enche merupakan suatu nilai yang sangat penting. Ia tidak mau menyalahgunakan suatu amanah. Tanggung jawab yang diberikan akan ia kerjakan semaksimal mungkin. Saat customer mempercayakan sesuatu kepadanya, ia berusaha menjaga amanah itu.
“Selanjutnya disiplin dan konsisten. Mungkin kita pernah gagal, tapi kalau kita mau disiplin dan konsisten, tidak menyerah, maka tidak mungkin kita tidak bisa mendapatkan sesuatu yang kita impikan. Satu lagi manajemen waktu sebagai pebisnis harus bagus. Kalau kita suka menunda itu sama dengan kita menunda suatu kesuksesan. Sebenarnya banyak sekali yang menjadi pegangan hidup saya, tapi itu coba saya rangkum beberapa hal,” paparnya.

Prospek dan Tantanga
Enche melihat prospek profesi fashion designer khususnya fashion muslim sangat cerah di masa-masa mendatang. Ia pun sangat optimis karena Indonesia memiliki populasi muslim terbesar secara global. Indonesia juga menduduki peringkat pertama untuk industri fashion muslim secara global. “Dari sisi domestik prospeknya bagus dan dari sisi pasar global juga cukup dilirik. Tentunya itu menjadi dasar optimisme saya bahwa ke depan fashion muslim akan semakin bertumbuh,” antusias dan harapnya.
Besarnya pasar diiringi dengan tantangan yang semakin besar pula, salah satunya adalah kompetitor brand fashion muslim yang cukup banyak dari mulai UMKM kecil sampai skala besar. “Otomatis kita harus punya karakter yang unik sehingga kita bisa bersaing, kita bisa mencuri hati customer, istilahnya branding,” kiat Enche.
Tantangan berikutnya adalah tren yang cepat berubah sehingga pebisnis harus adaptif. Tantangan lain seasonal demand, misalnya penjualan meningkat saat Ramadhan atau menjelang Lebaran, tapi di luar Ramadhan atau Lebaran biasanya penjualan turun. Tantangan lain adalah customer sekarang semakin pintar dan semakin kritis, sehingga pebisnis harus menjaga kualitas produk dengan harga yang sesuai.
Manajemen Waktu dan Jaga Keseimbangan
Enche menjalankan bisnis fashion muslim bersama dengan suaminya. Ia pun berusaha menerapkan manajemen pemisahan pekerjaan dan pemisahan waktu dengan baik. “Sebelumnya kita melalui proses adaptasi yang cukup panjang karena saya dan suami menjalankan usaha yang sama. Kalau saya ambil kesimpulan sebenarnya tentang manajemen pemisahan porsi pekerjaan dan manajemen waktu, kapan harus ada untuk keluarga, kapan harus hadir untuk perusahaan, kapan waktu untuk pasangan dan kapan menjadi partner bekerja,” jelas ibu dari Mysha (9th) dan Jad (4th) ini.
Dari sisi spiritual, Enche sering mengikuti kajian dan acara-acara seperti Quran Healing serta menenangkan diri saat ibadah. Secara fisik self-care, Enche rutin olahraga padel dan renang. “Saya suka olahraga. Saat ini saya lagi hobi padel, dan cukup sering saya masukkan ke dalam jadwal rutin saya untuk melakukan kegiatan olahraga ini. Saya juga suka melukis, biasanya kalau stress saya tuangkan ke dalam bentuk lukisan. Self-care saya secara emosional itu juga suka curhat dengan orang yang saya percaya, seorang yang berilmu tentunya, tidak sembarangan orang,” ungkapnya tersenyum.
Salah satu me time yang disukai Enche adalah waktu bersama anak-anaknya. “Jadi memang obat capek banget kalau bersama anak-anak. Saya sharing sama anak-anak, berbagi pengalaman sama anak-anak,” tambahnya.

Inspirasi dan Motivasi Diri
Enche sangat terinspirasi sosok Rasul Muhammad SAW. “Dengan kesempurnaannya beliau me-manage kehidupan pribadinya, hubungan beliau dengan Tuhannya, hubungan dengan keluarga, dengan dirinya sendiri, dengan umatnya. Betapa sempurnanya beliau sebagai seorang pemimpin di umatnya, pemimpin di keluarganya, bagaimana beliau dalam bertutur, dalam kehidupan sehari-hari beliau itu sangat sempurna dan memang beliaulah sosok yang menginspirasi saya,” jelasnya.
Sebagai pebisnis yang mulai merintis usaha di usia cukup muda 19 tahun dan tanpa modal dari orang tua, atau bisa dibilang dari nol, Enche berpesan pada generasi muda untuk tidak bermalas-malasan. Musuh yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri. “Mulai bikin roadmap yang jelas tentang bagaimana nanti ke depan kehidupan kita dan mapping yang jelas tentang arah bisnis kita mau ke mana. Dari arah yang jelas itu, kita upgrade diri kita. Banyaklah belajar, banyak upgrade diri, karena upgrade diri itu bukan lagi suatu pilihan sekarang, tapi suatu keharusan. Itu karena perjalanan menuju sukses bukan instan, tapi semua ada prosesnya. Jadi jangan mudah menyerah, jangan pantang menyerah, jangan mudah malas untuk belajar. Teruslah kejar mimpi sampai sukses,” pesannya bijak. EK
