MajalahKebaya.com, Jakarta – Keinginan untuk ikut membangun negeri menjadi alasan Heni Smith memutuskan kembali pulang ke Indonesia pada tahun 2015. Kenyamanan tinggal di negara lain tak membuat dirinya melupakan Tanah Air dengan keindahan alamnya yang luar biasa. Di Indonesia, Heni Smith kemudian mengembangkan usaha di bidang pariwisata dengan nama The Lodge Maribaya yang berlokasi di Lembang, Bandung.
“Sebelumnya saya tinggal di Inggris dan Malaysia mengikuti suami bekerja di sana. Pada tahun 2015 kami pulang ke Indonesia karena sangat menyukai suasana alam di Indonesia. Kami senang camping di Malaysia maupun Inggris dengan fasilitas yang nyaman dan tertata baik. Namun saat itu, sekitar tahun 2013, saya melihat tempat camping di Indonesia masih belum memiliki fasilitas yang memadai, seperti toilet yang nyaman. Padahal, mengenalkan alam kepada anak-anak sejak dini adalah hal yang penting. Dari situlah muncul keinginan untuk menghadirkan tempat camping yang nyaman, bukan glamping (glamour camping), melainkan camping dengan fasilitas yang baik,” kenang Heni yang pernah merintis usaha event organizer Satoe Komunika pada tahun 1998–2022.
Sebelumnya, Heni dan suami membeli tanah di Lembang, Bandung pada tahun 2004 yang berlokasi dekat hutan lindung. “Waktu itu jalannya masih banyak yang rusak, tetapi saya melihat lokasinya sangat bagus dengan pemandangan 360 derajat untuk menikmati sunrise dan sunset. Awalnya lokasi tersebut merupakan lahan pertanian, lalu kami membangun vila dan saung untuk tempat liburan keluarga. Kami juga memelihara kuda dan kelinci, sehingga setiap akhir pekan kami selalu menghabiskan waktu bersama anak-anak di sana,” tambahnya.

Saat itu, bersamaan dengan mulai booming-nya media sosial termasuk Instagram, Heni mengunggah beberapa foto yang menampilkan keindahan alam di lokasi tersebut. Tanpa diduga, foto-foto itu viral dan menjadikan lokasi tersebut dikenal sebagai salah satu spot wisata paling instagramable di Bandung. Tempat camping itu pun kemudian dibuka untuk umum sejak tahun 2015.
“Banyak masyarakat datang untuk menikmati keindahan alam The Lodge Maribaya yang kami bangun dengan fasilitas yang nyaman, lengkap dengan tempat untuk ngopi sambil menikmati sunrise dan sunset. Antusiasme masyarakat saat itu luar biasa, pengunjung bisa mencapai 10 ribu orang per hari dan jumlah karyawan kami mencapai 500 orang,” ujarnya.
Namun, tingginya jumlah pengunjung juga mulai menimbulkan berbagai tantangan, termasuk terhadap lingkungan. Heni dan suami bahkan sempat ingin menutup usahanya pada tahun 2017. Namun ternyata para karyawan tidak ingin berhenti bekerja.
“Mereka semua berasal dari masyarakat sekitar dan tetap ingin menjadi bagian dari perjalanan ini. Warga setempat juga meminta agar usaha camping ini tidak ditutup. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap menjalankan usaha ini dengan mendonasikan Rp1.000 dari setiap tiket masuk untuk The Lodge Foundation yang saya dirikan pada tahun 2017, dengan fokus pada lingkungan hidup, pendidikan, dan budaya,” jelas Heni.
Sejak saat itu, Heni bersama suami mulai memperbaiki akses jalan menuju lokasi camping, membuka kursus bahasa Inggris gratis untuk masyarakat sekitar Lembang, hingga memberikan pelatihan tari bagi warga di sekitar lokasi usaha.
Memberi Manfaat bagi Banyak Orang
Pengunjung yang datang hingga ribuan setiap hari bukan hanya mendatangkan keuntungan secara bisnis, tetapi juga menghadirkan tantangan baru. Sebelum pandemi, tingginya jumlah pengunjung berdampak signifikan terhadap peningkatan volume sampah. Karena itu, Heni dan suami membangun bank sampah untuk mengelola limbah sekaligus membuka peluang kerja bagi para ibu rumah tangga.
“Dari bank sampah ini, penghasilan mereka bisa mencapai jutaan rupiah setiap bulan. Sampah didaur ulang menjadi berbagai kerajinan, dan sekarang kami juga membangun budidaya maggot untuk pakan ikan. Kami merasa banyak diberkahi oleh alam, sehingga misi saya adalah memberdayakan masyarakat sekitar sekaligus menjaga alam,” papar wanita kelahiran tahun 1969 ini.
Bagi Heni, kepulangannya ke Indonesia untuk mengembangkan bisnis camping bukan sekadar tentang bisnis, tetapi juga bentuk perjuangan bersama masyarakat. “Pasca pandemi, karyawan saya masih ada 250 orang dan kami semua berjuang bersama warga Desa Cibodas untuk bangkit kembali. Kalau dulu kami dikenal lewat spot-spot foto, sekarang saya mulai mengembangkan konsep wellness,” jelasnya.
Dengan luas lahan sekitar 6 hektar, Heni dan suami mengelola The Lodge Maribaya tanpa partner. Berkat kiprahnya membangun usaha berbasis alam, pada tahun 2019 The Lodge Maribaya meraih Juara 2 Tingkat Nasional dalam ajang Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) 2018 dari Kementerian Pariwisata untuk kategori ekowisata.
Heni menganggap masyarakat desa di sekitar lokasi usaha sebagai keluarga sendiri. Ia memberdayakan mereka dengan memberikan kesempatan bekerja meskipun rata-rata memiliki latar pendidikan yang sederhana.
“Banyak orang mengatakan masyarakat desa tidak mampu bekerja secara profesional, padahal semua bisa belajar dan berkembang. Kenapa harus mencari karyawan dari tempat yang jauh jika masyarakat sekitar juga punya potensi? Karena itu, 90% karyawan kami berasal dari masyarakat setempat. Namun untuk level manager tentu membutuhkan pengalaman,” ungkapnya.
Karyawan dididik agar dapat bekerja secara profesional, salah satunya melalui pelatihan barista. Kini, beberapa karyawan yang berasal dari lingkungan sekitar telah berkembang menjadi chef hingga supervisor.
“Ibu Cucu adalah salah satu karyawan yang hingga hari ini, memasuki 11 tahun perjalanan The Lodge Maribaya, masih setia bekerja bersama saya. Jadi bagi saya, The Lodge Maribaya bukan sekadar bisnis, tetapi juga tempat yang menghadirkan kebahagiaan dan membuka peluang baru bagi banyak orang,” tambah wanita yang dipercaya menjabat Sekjen DPP Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) sejak tahun 2022 hingga sekarang.

Dukungan Penuh Keluarga
Heni merasa beruntung dan sangat bersyukur mendapat dukungan penuh dari suaminya. “Saat The Lodge Maribaya ramai pengunjung hingga puluhan ribu orang, suami saya masih menjadi konsultan oil di Petronas. Suami saya kemudian memutuskan keluar dari pekerjaan konsultan untuk bersama mengembangkan usaha ini. Saya bilang ini bukan sekedar uang tapi misi untuk keluarga,” ungkapnya.
Bekerja dengan gembira dan enjoy menjadi kiat sukses Heni dalam membesarkan usahanya. “Saya sangat cinta alam, kita jaga alam ini dan selama kita mencintai pekerjaan tentu tidak ada beban, apalagi didukung penuh oleh keluarga dan manajemen yang baik. Saya juga punya pengalaman mengelola event organizer,” tambah Heni yang menjabat Ketua Harian Dekranasda Kota Bandung.
Ke depan Heni ingin mengembangkan usaha camping yang sama konsepnya di daerah lain. “Saya ingin The Lodge Maribaya jadi contoh baik untuk daerah lain,” harap Heni yang menyukai traveling ke Afrika, Indonesia Timur, dan mengisi waktu me time dengan karaoke, membaca buku, serta hiking bersama suami.
Kini The Lodge Maribaya sukses menjadi ikon wisata alam Lembang yang dikenal hingga mancanegara. Di bawah The Lodge Group, Heni Smith dan suaminya juga mengembangkan beberapa lini bisnis yaitu The Lodge Foundation (sejak 2017), Fairy Garden by The Lodge (sejak 2018), Mulberry Hill by The Lodge (sejak 2018), Hutan Menyala (sejak 2021), Taman Seribu Cahaya by The Lodge (sejak 2023), Kujang Sapasang by The Lodge (sejak 2023) dan Herbal House by The Lodge (2019-2021). EK
A Journey of Heart, Nature, and Meaning
Sebagai ibu dua anak perempuan, Heni berharap anak-anaknya menjadi perempuan yang mandiri dan bermanfaat bagi makhluk hidup yang ada di dunia ini. “Makhluk hidup bukan hanya manusia, apapun makhluk hidup yang ada di dunia. Sekarang anak pertama sudah menjadi scientist dan bekerja di Denmark. Anak kedua kuliah di Korea mengambil Digital Communication dan dia juga seorang jurnalis,” terangnya.
Heni dan suami memberikan arahan kepada anak-anaknya dalam hal pendidikan. Anak pertama menyukai sains seperti ayahnya yang juga seorang scientist. “Jadi kita arahkan ke sana, misalnya sering mengunjungi museum. Nah, anak kedua berbeda dengan kakaknya. Dia suka dance, dan setelah tamat SMU tingkat internasional tidak mau kuliah. Saya juga tidak bisa memaksa anak kuliah, tapi saya mengarahkan anak kedua untuk belajar K-Pop ke Korea selama setahun. Anak saya kemudian mengambil Digital Communication di Ewha Womans University, universitas khusus perempuan terbesar dan terbaik peringkat 10 dunia di Korea Selatan. Dia mendaftar sendiri dan sekarang dia berprestasi, sudah bekerja sebagai Direktur sebuah majalah sambil kuliah,” papar Heni yang sangat terinspirasi oleh sosok ibunya.
Bagi Heni, meskipun ibundanya hanya tamat SD dan memiliki 12 anak tapi semua anaknya sekolah. “Saya anak ke-10 dan ibu saya selalu memberikan semangat anak-anaknya untuk sekolah setinggi mungkin,” kenangnya.
Bekerja dan Berkarya dengan Hati
Di masa pandemi usaha Heni sangat terdampak dan untuk bisa tetap eksis, ia berusaha tidak mengurangi jumlah karyawan tapi memilih untuk menjual harta yang ada. “Jual saja harta yang ada, karyawan tidak saya PHK selama 2 tahun sebanyak 500 orang. Memang jadinya tidak bagus untuk bisnis tapi pada saat itu saya merasa waktunya saya harus menolong karyawan. Merekalah yang membuat usaha saya bisa survive,” kenangnya haru.
Bagi Heni, kesuksesan bukan tentang seberapa cepat sampai, tapi tentang bagaimana ia berjalan. Sejak awal, ia percaya bahwa hidup, termasuk dalam membangun bisnis, harus selaras dengan alam. “Alam mengajarkan saya banyak hal tentang kesabaran, tentang keseimbangan, dan tentang bagaimana sesuatu yang tumbuh dengan cara yang benar akan bertahan lebih lama. Saya ingin membangun sesuatu yang hidup, yang punya akar, yang memberi manfaat, dan yang bisa dirasakan oleh banyak orang. Dari sana, saya belajar satu hal penting: ketika kita mencintai alam, kita juga belajar mencintai manusia,” tandasnya.
Bisnis bagi Heni bukan hanya tentang sistem atau strategi, tapi tentang orang-orang di dalamnya. Ia melihat orang-orang di sekitarnya sebagai bagian dari perjalanan ini, bukan sekadar bagian dari pekerjaan.
“Dan mungkin, karena itu juga, saya merasakan cinta yang sama kembali kepada saya. Itu bukan sesuatu yang saya rencanakan, tapi sesuatu yang tumbuh secara alami. Saya juga selalu menjalani apa yang saya lakukan dengan penuh rasa. Saya percaya, passion itu bukan sesuatu yang dicari, tapi sesuatu yang dirawat. Ketika kita bekerja dengan hati, orang bisa merasakannya dan itu membuat semuanya jadi lebih bermakna,” tambahnya.
Di sisi lain, Heni percaya bahwa bisnis harus punya dampak. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk lingkungan dan masyarakat. Ia ingin apa yang dibangun bisa memberi kontribusi, sekecil apapun itu. Karena baginya, kesuksesan adalah ketika perjalanan ini tidak hanya membawa dirinya maju, tetapi juga memberi ruang bagi orang lain untuk ikut tumbuh.
“Jika ada yang bisa saya bagikan sebagai kunci perjalanan ini, mungkin sederhana: tetap selaras, tetap peduli, dan tetap berjalan dengan hati. Karena pada akhirnya, bukan hanya tentang apa yang kita capai, tapi tentang bagaimana kita memberi arti dalam setiap langkah,” ungkapnya bijak. EK
