MajalahKebaya.com, Jakarta – Wa Ode Suliana pernah menghadapi dilema dalam perjalanan kariernya. Selain sebagai birokrat, ia juga terjun di dunia usaha dan organisasi. Ia pun memutuskan untuk fokus pada pengembangan usaha di bidang pertambangan, sebagai bentuk dukungan kepada suaminya yang saat itu merintis usaha di bidang pertambangan.
“Saya pernah menjadi tenaga medis di lingkup Dinas Kesehatan Kota Bau-Bau Provinsi Sulawesi Tenggara. Saya juga suka berbisnis dan berorganisasi. Waktu itu saya kembangkan usaha di bidang estetik dan kecantikan serta catering dan wedding organizer. Tapi dalam menjalankan dua profesi ini rasanya kok sulit ya, ditambah lagi dengan peran saya sebagai istri dan ibu dari anak-anak saya,” kenang wanita cantik yang akrab disapa Anna ini.
Keputusan Anna untuk berkiprah di dunia pertambangan tak lepas dari nasehat dari Sang Ayah yang menjadi motivator dan penasehat terbaik bagi keluarganya. “Saat itu Ayah meminta saya untuk ikut serta di dalam kegiatan usaha pertambangan. Tentu ini cukup membuat saya terkejut saat itu. Semula saya katakan pada Ayah bahwa saya tetap akan fokus pada dunia estetik saja karena saya sudah terbiasa dengan dunia itu. Namun Ayah mengatakan bahwa estetik adalah jiwa dan rumah bagi saya dan tidak harus saya tinggalkan. Tapi saya harus support usaha yang baru dirintis oleh suami. Akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dalam perseroan ini sebagai Direksi. Nah syarat umum menjadi Direksi pada saat itu saya tidak boleh menjabat sebagai birokrat,” papar wanita kelahiran Kota Bau-Bau, 30 Agustus ini.
Anna bersama suaminya, La Ode Kais, mengembangkan usaha pertambangan nikel dengan menjadi pemegang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) hingga berkembang ke pertambangan bauksit dengan menjadi pemegang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Khusus (IUP OPK). Kini Anna dan suami telah melakukan ekspansi mengembangkan smelter bauksit. “Satu tahun setelah saya menjadi pengusaha di bidang tambang bersama suami, ayah saya meninggal dunia,” kenang Ana haru.

Perempuan Berdaya dan Mandiri
Bagi Anna, keputusan meninggalkan jalur birokrasi adalah langkah untuk menyelaraskan minat dan potensi dirinya. Ia menilai bahwa langkah yang dipilih adalah wujud dari tanggung jawabnya sebagai perempuan modern yang tetap harus berdaya menjunjung tinggi nilai budaya.
“Saya memang ingin menyalurkan kegemaran berorganisasi untuk membangun sistem dukungan sesama wanita, mengembangkan ketertarikan dalam dunia usaha secara lebih luas serta dapat memanfaatkan waktu yang lebih fleksibel untuk menjalani peran ganda sebagai istri dan juga sebagai ibu dari anak-anak saya. Namun saya tetap berkarya secara bermakna sekaligus saya masih bisa hadir sepenuhnya menjadi penopang dan support sistem terbaik bagi keluarga saya,” tandasnya bangga.
Ilmu dan pengalaman yang diperoleh Anna selama berkarier di lingkungan birokrasi justru menjadi pelajaran berharga dan bekal terbaik, menjadi landasan kokoh yang menopang langkahnya sebagai pengusaha dan sebagai aktivis, sebagai pelaku politik dan berwirausaha dengan senantiasa mengutamakan integritas dalam setiap langkah dan keputusannya seperti halnya pada saat ia menjadi seorang birokrat.
Sebagai pengusaha perempuan di bidang pertambangan, Anna merasakan tantangan tersendiri mengingat stigma, stereotip yang sudah mengakar bahwa dunia tambang dikenal sebagai dunia maskulin.
“Lanskap pertambangan yang selama ini meragukan perempuan, baik secara fisik, teknis, perspektif, lingkungan, dan bahkan kebijakan-kebijakan di dunia organisasi dan lapangan pekerjaan dunia pertambangan itu sendiri,” ujarnya.
Kondisi tersebut merupakan tantangan yang cukup inklusif bagi Anna. Ia pun berharap di tengah gencarnya program hilirisasi untuk Indonesia yang saat ini sedang digadang-gadang oleh pemerintah, menjadi momentum bagi para perempuan Indonesia untuk turut andil mensukseskan dan menjadi bagian dari program tersebut.
Apalagi keberagaman gender terbukti meningkatkan produktivitas dan membawa pendekatan lingkungan yang baik. Sebab perempuan mempunyai naluri perempuan, naluri keibuan yang lebih besar, sehingga lebih mudah menciptakan penyelesaian masalah yang inklusif serta tata kelola sosial yang lebih baik.
“Bagi saya stereotip itu bukan akhir dari jalan, melainkan tantangan yang harus dijawab dengan bukti nyata. Walaupun seringkali hasil itu lebih sering dijawab atau sudah dipikirkan lebih awal sebelum hasilnya keluar.
Penilaian bahwa dunia pertambangan adalah dunia maskulin justru menjadi pendorong kuat bagi Anna untuk berusaha membuktikan bahwa perempuan bisa hadir, bisa berkarya, dan memimpin di sektor apapun termasuk pertambangan, tanpa harus mengubah jati diri.
“Perempuan yang berkiprah di dunia pertambangan dapat tetap anggun, tetap berprinsip, dan tetap memberikan kontribusi yang bermakna. Saya pun terpikir membuat suatu buku yang saat ini sedang proses penerbitan. Judul buku saya tentang tetap estetik menembus stereotip energi. Buku ini menceritakan pengalaman saya yang memiliki background estetik harus masuk ke dunia maskulin dengan stigma stereotip yang cukup besar,” terangnya.

Prinsip Sukses
Dalam menjalankan usaha di bidang pertambangan, Anna menjadikan integritas sebagai landasan utama setiap keputusan dan tindakan. Ia meyakini bahwa kepercayaan adalah aset paling berharga yang dibangun melalui konsistensi, keterbukaan dan kepatuhan pada prinsip kebenaran.
“Dulu almarhum Ayahanda menyampaikan bahwa kepercayaan itu tidak dibangun nanti, tapi kepercayaan itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat kamu ulang lagi. Jadi berbicara tentang kepercayaan itu kita tidak berbicara tentang berapa lama waktu yang akan kita rencanakan, tetapi sudah berapa detik waktu yang telah kita tinggalkan dengan sebuah kepercayaan. Artinya kepercayaan itu menjadi pokok penting saat kita berupaya dan berusaha sepanjang hidup,”papar Anna.
Sebagai perempuan, Anna juga menerapkan naluri yang peka dan menyeluruh. Tidak hanya mengejar keuntungan semata sebagai pelaku usaha, tapi senantiasa mempertimbangkan dampak bagi masyarakat sekitar, kesejahteraan rekan kerja, serta kelestarian lingkungan.
Selain itu Anna melakukan pendekatan yang menciptakan hubungan harmonis, rasa saling memiliki dan keberlangsungan usaha yang berakar kuat pada dukungan bersama. Dalam menjalin hubungan dengan pemerintah dan instansi terkait, ia mengedepankan semangat kerja sama yang konstruktif. Anna memandang aturan bukan sebagai pembatas, melainkan sebagai kerangka yang melindungi kepentingan semua pihak.
“Di tengah kondisi bangsa saat ini di mana kebijakan terkadang berubah, peraturan yang kadang juga tiba-tiba kita butuh penyesuaian, melalui komunikasi yang terbuka dan sikap saling menghargai, akhirnya juga terjalin kemitraan yang saling menguntungkan sehingga usaha dapat berkembang secara sah, tertib dan memberikan manfaat yang seluas-luasnya,” paparnya semangat.

Keluarga Support System Paling Utama
Kesibukan sebagai pengusaha, politikus maupun kemasyarakatan, organisasi, dan lain-lain, tak mengurangi peran utama Anna sebagai seorang ibu dan istri. Selain berkarya di luar rumah, Anna bertekad menjadi istri yang baik dan penopang bagi suami. Salah satu wujudnya adalah mendampingi suami dalam berbagai kegiatan, menjadi tempat berbagi pikiran serta memberikan dukungan agar langkahnya semakin mantap dan mensukseskan misi suamin untuk menjadi imam terbaik bagi keluarganya.
“Di samping itu juga saya fokus mendampingi pendidikan dan pembentukan karakter anak-anak saya. Saya berpikir bahwa ruang dan waktu yang cukup untuk mendampingi mereka itu sangat penting. Untuk itu dalam keseharian saya masih berusaha untuk meluangkan waktu untuk mendampingi mereka di luar pendidikan sekolah,” jelas ibu dari La Ode Al Zyaher Kaisman (11 tahun) dan La ode Az Khan Ahmed Kaisman (9 tahun) ini.
Saat ini, di luar aktivitas sebagai pengusaha, Anna juga menjabat sebagai Direktur PT Tambang Indonesia Sejahtera, Direktur Utama PT Iworth Global Mining.inc., Komisaris Global International Singapura, Komisaris PT Gunung Bintan, owner Barbeauderm Clinic , Dewan Penasehat Girls Squad Comunity, Ketua Bidang Kesetaraan Gender PP Angkatan Muda Partai Golkar, Ketua Bidang Kesehatan DPP KNPI, Kompartmen Kesehatan BPP HIPMI.
Anna juga meluangkan waktu me time dengan menyalurkan hobi yang kebetulan sama dengan hobi anak-anaknya, yaitu melukis. Bagi Anna, melukis melatih ketelitian. Dan saat ini ia sedang aktif menulis dan menyusun buku sebagai wadah untuk menuangkan pengalaman dan pemikiran.
Dalam hidupnya, Anna sangat terinspirasi dengan sosok sang suami yang memiliki makna besar dalam hidupnya. Di balik setiap langkah dan pencapaian yang diraihnya pasti ada dukungan dan kepercayaan yang tidak tergoyahkan dari suaminya.
“Kepercayaan itu penting. Beliau tidak hanya mendukung mimpi dan karier saya, tetapi juga sangat menghargai peran saya sebagai penopang dan sistem dukungan bagi kesuksesan serta perjalanan hidupnya. Dia selalu menyatakan kepada saya bahwa andil saya sebagai pendamping dalam meraih kesuksesan itu cukup penting baginya. Ini juga menjadi seperti supporter terbaik bagi kita. Dengan begitu kita semakin mengenali diri kita bahwa saya sudah berada dalam perjalanan untuk bisa mewujudkan cita-cita menjadi istri yang baik bagi suami. Alhamdulillah, bagi kami juga hubungan sejauh ini berjalan dua arah,” papar Anna.
Bagi Anna, suaminya selalu memberikan ruang dan kebebasan untuknya berkarya, sementara ia hadir mendampingi dan dapat mendukung setiap langkah suaminya. “Beliau bagi saya adalah mitra hidup yang menginspirasi, tempat berbagi pikiran dan alasan mengapa saya dapat melangkah dengan lebih mantap dan percaya diri. Kemudian juga bersama-sama, saya dan suami menjadikan almarhum Ayahanda La Ode Maniana, sebagai panutan dan inspirator utama dalam hidup kami. Bahkan bagi suami saya sendiri, nilai-nilai yang diajarkan Ayahanda itu tetap dipegang teguh. Agak melow kalau soal Ayah. Jadi sejak kecil Ayahanda selalu berpesan bahwa sebutan Wa Ode di awal nama saya itu bukanlah sekedar gelar bangsawan Buton atau pelengkap nama semata. Beliau selalu mengatakan bahwa itu bukan sekedar pelengkap nama, melainkan sebuah amanah dan tanggung jawab besar,” tandasnya.
“Jadi gelar itu mengandung makna untuk senantiasa menjadikan kita sebagai teladan, memiliki dedikasi yang tinggi, menjaga adab yang luhur, serta memegang teguh warisan budaya yang harus dijunjung tinggi. Kata ayah saya, ke mana pun kamu pergi, kau tetap Wa Ode dan kau tetap perempuan Buton,” tambahnya.
Sang Ibu juga menjadi sosok paling penting dalam hidup Anna, yang menjadi pelengkap dari nilai-nilai perempuan yang dianutnya hari ini. Ibunya memilih mengabdikan dirinya sebagai ibu rumah tangga walaupun pada saat itu jika ingin berkiprah di luar rumah seharusnya bisa.
“Beliau sejak kecil menjadi mentor terbaik bagi kami, anak-anaknya. Beliau yang membentuk kepribadian, mengajarkan kami untuk menjadi penurut, punya pendidikan yang cukup, mengajar pendidikan, mengemban karier, dan berkarya seluas mungkin,” kenangnya bangga.
Anna ingat nasehat ibunya bahwa menjadi perempuan yang cerdas dan mampu mengikuti perkembangan zaman itu sangat baik, namun jangan pernah melupakan jati diri serta kodrat sebagai seorang perempuan. Ingatlah selalu bahwa perempuan adalah rumah bagi keluarga dan walaupun secara fisik dinyatakan kaum yang lemah, tetapi semangat dan dedikasinya tetap menjadi pilar utama dalam membangun generasi selanjutnya.

Makna Perempuan Cerdas dan Merdeka
Bagi Anna, perempuan Indonesia masa kini idealnya adalah sosok yang mandiri dan berprestasi. Namun di balik kemandirian dan prestasi, ia tetap tidak kehilangan jati diri sebagai perempuan yang lembut dan bijaksana. Kemudian ia mampu menembus berbagai batasan bidang pekerjaan, menembus stereotip seperti yang ia lakukan hari ini dengan berkiprah d bidang usaha yang selama ini dianggap maskulin, tapi tetap mempertahankan keanggunan, ketelitian, dan kepekaan hati sebagai seorang perempuan.
“Perempuan Indonesia idealnya memahami bahwa kesuksesan bukan hanya soal pencapaian pribadi, melainkan juga kemampuan menjadi teladan, mendukung orang-orang terkasih, mendukung sesama perempuan, serta meneruskan nilai-nilai baik kepada generasi berikutnya. Seperti yang tadi saya sampaikan bahwa ibu saya berpesan perempuan adalah pilar utama, perempuan adalah rumah dan tempat kita mendedikasikan kita sebagai perempuan yang sebenarnya dengan membentuk generasi-generasi yang terbaik di masa mendatang. Untuk itu, perempuan Indonesia harus berdaya untuk dapat menciptakan generasi emas bagi bangsa ini,” tutur Anna bijak.
Adapun perempuan yang merdeka bagi Anna bermakna harus dimerdekakan. Tetapi sebelum dimerdekakan, ia harus dapat memerdekakan dirinya sendiri. Jadi mesti mengenali dirinya sendiri, dapat membuat sebuah ruang untuk dirinya sendiri, di mana ruang itu dapat digunakan untuk merdeka sebebas-bebasnya, untuk bergerak atau memiliki penghasilan sendiri, dan dapat menentukan keputusan. Selain itu ia bisa memiliki pilihan, memegang prinsip, dan juga tentunya tidak terbelenggu oleh stereotip lama.
“Jadi dari ruang ini perempuan merdeka bisa tahu kekuatan dirinya, tahu kepekaan dan ketelitian serta keteguhan hatinya. Merdeka berarti mampu mengembangkan potensi diri secara utuh, berperan aktif di berbagai bidang, sekaligus tetap menjaga keseimbangan peran sebagai insan, ibu, dan bagian dari masyarakat. Jadi yang terpenting bagi perempuan yang merdeka dan cerdas itu tidak membuatnya menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan budaya, justru menjadikannya lebih mampu memberi manfaat bagi keluarga, lingkungan dan bangsa,” tandas Anna.
Dan yang tak kalah penting adalah perempuan yang merdeka secara rohani, memiliki cukup ruang untuk mensyukuri dirinya dan mensyukuri nikmat dari Yang Maha Kuasa, dari Allah sebagai Tuhan yang telah menciptakan dan memberi ia ruang dalam kehidupan ini.

Pemberdayaan Perempuan dan UMKM
Saat ini Anna menjalankan berbagai upaya pemberdayaan dengan pendekatan yang menyeluruh di lingkungan organisasi kewanitaan untuk pemberdayaan dan UMKM maupun ruang politik. Ia pun aktif menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan yang berfokus pada pemberdayaan dan edukasi bagi perempuan, tentang kewirausahaan maupun UMKM. Tujuannya adalah membuka wawasan, menubuhkan rasa percaya diri, serta menyadarkan perempuan akan hak dan potensi yang dimiliki agar dapat berperan aktif dan setara dalam pembangunan.
Di sisi lain melalui usaha pertambangan yang dijalankan, Anna berusaha memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Ia pun membuka lapangan pekerjaan seluas mungkin di beberapa sektor usaha, bahkan telah merekrut lebih dari 100 orang per site, per lokasi, lebih dari 100 orang pekerja tanpa mempersyaratkan kualifikasi pendidikan yang tinggi.
“Bagi saya ini adalah bentuk kesempatan yang setara, memberikan ruang bagi siapa saja yang memiliki kemampuan untuk bekerja dan berkembang sehingga keberadaan usaha ini benar-benar dirasakan manfaatnya bagi kesejahteraan dan kemajuan lingkungan sekitar tempat kami melakukan kegiatan berusaha tersebut. Kemudian dalam mengembangkan cakupan usaha saya yang lain, saya juga menjalin kolaborasi dan afiliasi dengan mitra dari luar negeri, termaksud bersinergi dengan Novotel Group pada saat ini untuk mengembangkan usaha perhotelan di Shanghai,” jelas Anna.
Langkah tersebut menjadi babak baru bagi Anna untuk memperluas jaringan, menerapkan standar pengelolaan yang lebih profesional, serta membawa nama baik dan nilai-nilai yang ia pegang ke lingkup yang lebih luas lagi. “Pada akhirnya saya akan mendapatkan sebuah pengalaman berarti setelah mencoba dengan berkiprah di usaha yang berbeda dan di luar Indonesia,” ujarnya.
Anna berharap nantinya bisa memperoleh edukasi maupun pengalaman yang pada akhirnya dapat ia persembahkan kepada perempuan-perempuan Indonesia dalam bentuk tulisan atau menjadi narasumber tertentu di momen-momen tertentu, sehingga bisa menjadi literasi bagi perempuan Indonesia untuk berani melangkah dan menunjukkan kepada dunia bahwa perempuan Indonesia adalah perempuan yang dapat berkiprah tidak hanya di Indonesia tapi hingga ke internasional.
