Cover Story

Syendy Emilya, Komitmen dan Integritas Fondasi Kesuksesan Buttonscarves

MajalahKebaya.com, Jakarta – Usaha dengan sistem franchise menjadi pilihan Syendy Emilya dalam mengawali kiprahnya sebagai entrepreneur. Dengan pertimbangan yang matang, Syendy pun memilih Buttonscarves sebagai brand franchise karena kredibilitas dan visinya yang selaras.

“Saya sangat mencintai dunia fashion muslim dan ingin punya usaha sendiri yang berdampak. Passion meets opportunity, saya senang melihat perempuan tampil cantik, elegan, dan tetap syar’i.  Saya memulai dari hal kecil, belajar manajemen, pelayanan, dan selera pasar. Alhamdulillah, dengan komitmen mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) dan kerja keras bersama tim, butik Buttonscarves saya di Banda Aceh bisa tumbuh dan dipercaya oleh para BS Lady,” papar wanita cantik kelahiran Banda Aceh, 19 Oktober ini.

Syendy menilai Buttonscarves memiliki dua keunggulan yaitu produk yang berkualitas dan sistem bisnis yang jelas. Ia pun bisa fokus menghadirkan pelayanan terbaik tanpa harus trial-error dari nol. “Tujuannya sederhana untuk bantu perempuan Aceh tampil percaya diri lewat fashion yang modest tapi fashionable,” ujarnya semangat.

Di luar aktivitas membesarkan butik fashion muslim, Syendy aktif di komunitas Blady Aceh. Ia pun rutin sharing tentang tips styling, merawat hijab, dan edukasi fashion modest yang etis. Syendy memiliki visi Perempuan Aceh Berdaya Lewat Fashion Berintegritas. Adapun misinya adalah menciptakan ruang aman buat perempuan belajar, bertumbuh, dan saling support, tanpa harus jadi pebisnis dulu, karena berdaya itu bisa dimulai dari upgrade diri.


Tantangan dan Kiat Sukses

Sebagai wirausaha franchise, Syendy merasakan beberapa tantangan antara lain pencapaian target penjualan maksimal setiap bulan. Sebagai franchise Buttonscarves, ia punya target dari pusat yang harus dipenuhi. Tantangannya adalah bagaimana cara menjaga stok sesuai SOP, display menarik, dan pelayanan maksimal supaya BSlady Aceh tetap datang dan repeat order.

“Apalagi selera pasar Banda Aceh dinamis, jadi saya harus jeli baca tren dan komunikatif ke tim pusat untuk pilih koleksi. Tapi justru dari target tinggi ini saya dan tim jadi terus belajar, lebih disiplin, dan makin kreatif jualan sesuai standar Buttonscarves,” paparnya.

Syendy memiliki kunci sukses dalam menjalankan usaha ini yang ia beri nama 3K Buttonscarves yaitu Komitmen, Konsisten, Kredibel. “Komitmen ke SOP brand. Konsisten kasih pelayanan terbaik walau hari lagi sepi. Kredibel ke customer dengan jujur mengenai bahan, size, dan ketersediaan. Saya percaya, Buttonscarves besar karena jaga 3K ini dari awal. Tim, saya dan BS Lady tinggal meneladani,” jelasnya.

Bagi Syendy, komitmen dan integritas sangat penting dalam usahanya, karena merupakan fondasi brand Buttonscarves itu sendiri. Komitmen  dalam hal kewajiban menjaga kualitas, display, dan customer experience sesuai standar. Integritas dengan tidak pernah menjual produk KW, tidak mempermainkan harga dan selalu transparan ke BSlady. “Nama Buttonscarves itu amanah besar. Sekali integritas rusak, kepercayaan ribuan customer hancur. Jadi buat saya, integritas bukan pilihan, tapi harga mati,” tandasnya.

Dalam menjalankan bisnis, Syendy terinspirasi dengan Linda Anggrea, Founder Buttonscarves. Ia pun banyak belajar bahwa bisnis fashion bisa tumbuh besar tanpa mengorbankan nilai kualitas, etika, dan pemberdayaan perempuan. “Semangat beliau ‘membangun dari passion’ jadi pengingat saya setiap kali capek. Bukti nyata kalau komitmen dan integritas bisa membawa brand lokal mendunia,” terangnya optimis.

Me Time dan Aktif dalam Kegiatan Berbagi 

Kesibukan dalam berbisnis tak menghalangi Styendy untuk me time dengan mengikuti perkembangan dunia fashion melalui media digital dan berbagai konten inspiratif. Ia senang mempelajari tren terbaru, gaya berpakaian, serta strategi branding yang sedang berkembang untuk menambah wawasan dan inspirasi. Terkadang Syendy mengikuti gathering santai bersama BS Lady Aceh sambil sharing ide, ngobrol santai, atau mini workshop styling. “Itu cara saya recharge ide dan energi. Karena orang fashion, healing-nya ya tetap seputar estetika dan ngobrol bareng sesama pecinta modest fashion,” ujar Syendy yang hobi bernyanyi.

Selain sibuk mengembangkan Buttonscarves, Syendy juga aktif dalam kegiatan sosial. Salah satunya ikut memfasilitasi acara anniversary yang diadakan Buttonscarves pusat setiap tahun termasuk di setiap daerah franchise-nya seperti Banda Aceh.

“Untuk kegiatan berbagi goodiebag produk, itu adalah program dan hak mutlak dari Buttonscarves pusat. Sebagai franchisee, kami bersyukur bisa ikut memfasilitasi dan menyalurkan kebahagiaan itu ke BS Lady Aceh serta masyarakat sekitar,” jelas ibu dari Rayyan Eltasya Ramadhana (14 thn), Radhyn Eltasya Khafady (8 thn), dan Reyhana Eltasya Shafwah (6 thn) ini.

Syendy juga turut serta dalam kegiatan berbagi takjil di bulan Ramadan yang diadakan Buttonscarves Aceh setiap tahun di bawah arahan Modinity Group. Takjillangsung dibagikan oleh BSlady Aceh ke masyarakat dan pengguna jalan. “Buat saya, dua kegiatan ini adalah bentuk integritas dan syukur. Kalau brand-nya bertumbuh dan berbagi, kami di daerah juga siap dukung agar manfaatnya sampai ke lebih banyak orang,” tambahnya.

Ke depan Syendy ingin memperluas dampak positif Buttonscarves di Aceh. Targetnya ingin buka cabang butik ke-2 dan membesarkan komunitas BSlady Aceh menjadi wadah belajar dan networking yang solid. Ia pun berharap bisa terus mendukung program-program baik dari Buttonscarves pusat seperti anniversary, pembagian goodiebag, dan kegiatan berbagi takjil Ramadan dari Modinity Group, supaya dampaknya ke masyarakat Banda Aceh bisa semakin luas. “Sukses buat saya bukan cuma omzet, tapi berapa banyak perempuan yang jadi lebih percaya diri karena brand ini,” ujarnya.

Makna Perempuan Cerdas dan Merdeka

Syendy melihat perempuan Indonesia masa kini “modest but bold” yang ingin tampil tertutup tapi tetap stylish dan kekinian. Perempuan Indonesia cerdas memilih dengan mencari brand yang sesuai value, bukan cuma ikut tren. “BSlady Aceh menurut saya adalah contohnya: elegan, percaya diri, dan punya purchasing power yang cerdas,” terangnya.

Menurut Syendy perempuan cerdas adalah yang paham value dirinya, jadi belanja fashion itu investasi, bukan impulsif.  Perempuan merdeka adalah yang punya kendali atas pilihan dan finansialnya sendiri. “Merdeka itu ketika perempuan berani berkarya, berani belajar, dan berani ambil keputusan untuk hidupnya. Itu yang saya dorong lewat komunitas BSlady Aceh,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top