MajalahKebaya.com, Jakarta – Susiana Hendro sudah akrab dengan dunia kecantikan sejak kecil. Orang tuanya memiliki usaha salon di tahun 1970 dan membuka kursus kecantikan bekerja sama dengan Mustika Ratu untuk wilayah Jawa Barat di tahun 1977.
“Sejak saya umur 5 tahun orang tua sudah memperkenalkan saya dengan Ibu Mooryati Soedibyo, saya juga ikut kegiatan Ngadi Saliro Ngadi Busono yang pertama untuk di Jawa Barat. Jadi dari kecil saya sudah familiar dengan luluran, pijat, mandi susu. Papi sampai membuat bathtub di kamar mandi buat mandi susu, mandi rempah. Dan saya waktu itu senang sekali merasa seperti berada di kolam renang,” kenang wantia cantik berusia 54 tahun ini.
Kedua orang tua Suzie juga mengenalkan anak-anaknya minum jamu sejak dini. Kebiasaan yang erat dengan budaya tradisional inilah yang kemudian membuat Suzie tertarik membuka usaha SPA saat sudah dewasa. Di tahun 2000 saat sedang mengandung anak pertama, Suzie bersama adiknya merintis usaha SPA di rumah orang tua yang berlokasi di Cihampelas, Bandung dengan modal seadanya.

Risntis Usaha SPA Secara Otodidak
“Pada waktu itu SPA belum dikenal banyak kalangan. Produk SPA saat itu masih dimonopoli brand besar yang berlokasi di hotel berbintang yang tidak terjangkau oleh banyak kalangan karena harga mahal. Akhirnya kita kembangkan SPA dengan otodidak dan dengan pengetahuan kita. Apalagi Mami punya salon yang kosmetiknya diracik sendiri, seperti lulur, masker buat jerawat dan lainnya. Jadi kita bisa buat SPA dengan harga lebih terjangkau karena produknya kita buat sendiri seperti sabun, lulur dan lainnya,” kenang lulusan S1 Ekonomi Manajemen, dan Magister Manajemen dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung ini.
Kebetulan di tahun 2001 Suzie dipercaya sebagai Manager sebuah brand kosmetik yang kerap berkeliling Pulau Jawa dan bertemu dengan para tukang jamu saat pergi ke Solo dan Jogja. Ia pun mendapat tambahan ilmu membuat lulur kuning dan banyak lagi hal-hal baru yang dijumpai.
“Dulu belum ada internet, jadi kalau mau belajar harus terjun langsung ke lapangan dan otodidak. Kita juga bisa membaca berbagai macam literatur di perpustakaan atau toko buku,” ujarnya.
SPA pertama yang dirintis Suzie diberi nama Ida SPA, yang merupakan nama ibunya. “Waktu itu salon Mami namanya Salon Ida, kursusnya juga diberi nama Kursus Kecantikan Ida. Tapi pada akhirnya usaha kursus ditutup oleh Papi karena alasan tertentu. Jadi kita hanya konsentrasi di salon kecantikan,” tambahnya.

Usaha Pelatihan dan Konsultan SPA
Di tahun 2004 pertama kali dicanangkan bahwa pemilik usaha SPA harus mempunyai sertifikat kompetensi. Suzie diundang untuk mengikuti Pelatihan Asesor SPA yang pertama diselenggarakan oleh Kemendikbud tahun 2006, berkoordinasi dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). “Tapi setelah itu tidak ada follow up, akhirnya tahun 2007 saya ikut pelatihan lagi yang difasilitasi oleh Disnaker Provinsi Jawa Barat,” papar Suzie.
Di tahun 2009 pertama kali Suzie melakukan uji kompetensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) SPA Nasional. Kemudian tahun 2010 Kemendikbud launching Lembaga Sertifikasi Kompetensi. “Nah saya jadi penguji SPA di sana. Sejalan dengan itu akhirnya saya terpikir membuka Kursus SPA yang belum ada di Kota Bandung,” jelasnya.
Saat itulah, Suzie mulai mencetak terapis-terapis dan mengembangkan layanan di SPA yang tidak hanya pijat, lulur atau berendam. “Kita mulai dengan slimming, jadi kita memadukan berbagai teknologi dari dalam dan luar negeri. Kemudian di tahun 2006 kita mengubah brand SPA menjadi Swana Loka Dipa,” tuturnya.
Dari awal Swana Loka Dipa sudah dirancang untuk menjadi holding dari beberapa usaha yang dikembangkan yaitu SPA, sekolah, hingga konsultan sejak tahun 2008. “Jadi kalau ada orang yang mau buka SPA bisa kerja sama dengan kita. Baik mulai awal konsep, kemudian butuh terapis atau kita buatkan program,” tambahnya.
Tingkatkan Kompetensi Diri dengan Ilmu
Suzie juga terus mempelajari ilmu mengenai SPA, antara lain kuliah S1 Program Dharma Usada Universitas Nalanda Jakarta di tahun 2018 yang mempelajari kesehatan tradisional. Ia juga belajar pengobatan tradisional Tiongkok dengan mengambil D4 Program Pengobatan Tradisional Tiongkok Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri tahun 2023, Diplome International SPA Therapy dari CIDESCO International Zurich, Swiss tahun 2017, Diplome International Beauty Therapy, Cidesco Comitee International Zurich, Switzerland tahun 2021. Ia juga lulus dari Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Aufa Royhan Padang Sidempuan tahun 2025 dan saat ini sedang menempuh studi doktoral (PhD Candidate) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, dengan riset tentang sejarah SPA Indonesia di Jawa.

Kreatif Hadapi Tantangan
Tantangan dirasakan Suzie di masa pandemi karena pada saat itu SPA adalah bidang usaha yang paling pertama kali harus tutup dan terakhir dibuka. SPA baru boleh buka setelah endemi, sekitar 4 tahun kemudian setelah pandemi.
“Saat itulah saya berpikir untuk mengubah sistem usaha menjadi Home Service di bawah brand Pijatku Home SPA. Ternyata booming-nya luar biasa karena orang di rumah saja merasa pegal badannya. Dan itu berkembang sampai sekarang. Saat itu walaupun pandemi banyak orang tidak takut juga untuk menggunakan layanan SPA karena merasa nyaman,” jelas pengusaha di bidang industri Wellness & SPA Auditor ini.
Suzie yang berada di lingkup Asosiasi SPA Indonesia dan Asosiasi SPA Terapis Indonesia sebagai mitra dari Pemerintah, turut merumuskan protokol kesehatan di masa pandemi seperti tetap harus pakai masker dan face shield. Untuk layanan massage home service klien membawa lulur sendiri atau bisa memakai produknyayang dikemas per sachet, jadi benar-benar hanya untuk satu orang.
“Kita mau menjaga higienis, kualitas produk dan itu membuat kita bertahan sampai sekarang. Setelah pandemi banyak orang menjadi sangat-sangat aware dengan kesehatan dan wellness. Nah wellness ini menjadi trending, demikian juga asosiasinya bergerak ke sana,” terang Suzie.
Wellness Cultural Architect Menjadi Personal Branding
“SPA berasal dari kata solus per aqua, yang artinya kesehatan dari air. Jadi perawatan SPA itu sebetulnya bukan pijat lulur, tapi hidroterapi. Makanya SPA-SPA kita lihat minimal mereka punya fasilitas seperti bath up. Tujuan akhir SPA adalah kesehatan mind body and soul. So it’s not only physic, but it’s also body and mind. Nah yang digaungkan sekarang adalah wellness. Di Indonesia, wellness ini juga mengikuti tren dunia. Sekarang ini yang lagi tren adalah wellness tourism dan health tourism,” tambah Suzie.
Dari sana, Suzie terus mengembangkan diri untuk bisa memberikan satu treatment wellness. Kini wellness cultural architect menjadi personal branding dirinya, karena ia membantu orang yang mau baik untuk kemajuan perkembangan pribadi atau orang yang mau membuka bisnis terutama di bidang wellness. “Indonesia itu luar biasa banget local wisdom-nya (kearifan lokal). Itu yang membuat saya selalu memasukkan unsur-unsur budaya di dalam setiap kali saya membantu orang untuk membuat konsep bisnis di bidang wellness,” tandasnya.
Mengacu pada global wellness international, ada 8 pilar wellnes yaitu physical wellness seperti olahraga, pijat, hidroterapi, makanan, nutrisi, dan lain-lain. Kemudian mental wellness, spiritual wellness, environment wellness (trekking naik gunung atau marathon trekking, healing dengan memelihara binatang, bercocok tanam, dll). Berikutnya social culture wellness (bersosialisasi), occupational wellness (kesejahteraan kerja) dan financial wellness.

Kembangkan Wellness ke Berbagai Daerah hingga Mancanegara
Usaha Suzie sudah berjalan 26 tahun, sukses berkembang di wilayah Jabodetabek, dan beberapa daerah seperti Bandung, Solo, Jogja, Semarang, Surabaya, Malang dan Bali. Suzie menjalankan usaha ini dengan dasar passion, apalagi kedua orang tuanya sudah mengenalkan dirinya dengan budaya tradisional Indonesia. Ia pun sangat ingin mengangkat wellness Indonesia ke tingkat dunia.
“Kalau di Bali dikenal dengan atribut Balinya, tapi Bali Medicine tidak pernah diangkat padahal banyak sekali local wisdom di sana. Kalau di Jawa seperti Keraton Solo atau Keraton Jogja banyak sekali wisdom-nya. Maka dari itu saya sekarang sedang mengambil S3 di Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Program Sejarah. Disertasi saya mengenai sejarah SPA Indonesia di Jawa, jadi saya memang ingin sekali meneliti dan mengangkat wisdom kita ke tingkat dunia,” papar Suzie.
Suzie menilai Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa di bidang kesehatan melalui tradisi dan kearifan lokal turun temurun. “Contohnya pijat di Jawa itu berbeda dengan pijat di Bali. Betawi juga punya Pijat Betawi, ada juga pijat Sumatra yaitu Kusuk Batak, di Bali ada Boreh, di Jawa ada Parem Juga mandi uap rempah seperti Batimung di kalimantan dan Empon-empon di Jawa. Di setiap pelosok Indonesia itu punya wisdom berdasarkan kekayaan di daerah tersebut. Mulai dari budayanya, tanamannya, dari rempahnya. Ini yang ingin sekali saya angkat ke dunia. Jadi dunia jangan hanya tahu Ayurveda dari India atau SPA yang dari Eropa.”
Untuk mengenalkan local wisdom Indonesia ke dunia, menurut Suzie perlu ada investor yang bisa mengangkat ini menjadi satu bisnis. Ini menjadi tantangan bagi dirinya dan ia pun terbuka untuk bekerja sama dengan investor. “Kita bisa menyesuaikan local wisdom dengan kebutuhan modern, mengemasnya menjadi sesuatu yang memang lebih bisa dinikmati,” tambahnya.
Selama ini Suzie menilai pemerintah sangat support, seperti halnya Kementerian Pariwisata sangat mendukung perkembangan usaha yang mengangkat budaya Indonesia. Kemenpar juga membuat program Wonderful Indonesia Wellness pada November 2025 di Jawa Tengah yang kegiatannya dimotori oleh Kasunan Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Selain itu ada kegiatan Bali Wellness Festival setiap tahun.
Ke depan, Suzie ingin mengembangkan wellness destination yang sangat kental dengan nuansa Indonesia. Saat ini ia sedang membuat proyek Wellness Destination di Jakarta.
Rutin Meditasi Sebelum Tidur
Bagi Suzie penting untuk menjaga keseimbangan dalam hidup. “Menurut pengobatan tradisional Tiongkok hidup itu akan sehat pada saat kita balance, saat yin dan yang seimbang. Nah konsep ini yang juga saya pegang dengan berusaha menyeimbangkan hidup saya,” jelasnya.
Saat malam hari, Suzie meluangkan waktu untuk meditasi sebelum tidur agar bisa menghilangkan stres setelah seharian beraktivitas. “I need to gain my energy and grounding, dengan mengeluarkan energi-energi toxic yang ada di badan lalu kita grounding ke bumi. Kita juga mengakses energi dari alam. Saya juga rutin olahraga dan bersosialisasi dengan teman-teman di saat olahraga. Misalnya ikut main padel. Saya juga suka ballet, muay thai, aqua zumba. Baru saja saya ditawari ikut kelas Ballet for Gold,” ungkapnya.

Ibunda Sosok Inspiratif
Suzie sangat terinspirasi dengan sosok Sang Ibu yang sederhana, pekerja keras dan suka belajar. Ibunya bahkan sudah lulus S1 yang ketiga di usia 79 tahun. “Ketekunan Mami untuk terus belajar menjadi inspirasi saya, pertama karena pekerjaan saya ini adalah ilmu yang memang seumur hidup harus belajar, harus ada teknologi yang selalu update. Kedua, ilmu ini sangat holistik dan manusia itu punya berbagai sisi. Treatment yang sangat holistik itu harus dipelajari dari berbagai modalitas, sehingga akhirnya kita bisa punya satu kesimpulan yang lebih utuh,” paparnya.
Suzie bersyukur bisa membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Saat ini ada seribu orang terapis yang bekerja dengannya. Ia juga membentuk tim untuk membangun wellness destination. “Di timku itu ada yang pegang arsiteknya, strategic bisnis, ada juga tim operasional pijat,” ujarnya.
Suzie menerapkan sistem kemitraan untuk para terapis. Layanan home service SPA yang ditawarkan juga sangat terjangkau harganya. “Terutama untuk pijat harganya sangat merakyat. Untuk pijat panggilan ke rumah satu jam cuma Rp 125.000, itu sudah termasuk transport dan produk. Para terapis bekerja secara freelance dan telah melewati seleksi, kemudian kita training. Mereka harus mengikuti standar operasional prosedur (SOP) kita, misalnya dengan mengenakan seragam, menggunakan produk yang mereka beli dari kita. Selain menjaga kualitas pelayanan, kita juga menjaga kualitas etika,” tandasnya.
