Cover Story

Dr. Ratih Pratiwi, S.Pd., M.Si., M.M., Tumbuh dan Berkembang dalam Prinsip Melayani dengan Hati

MajalahKebaya.com, Jakarta – Sejak usia cukup muda, Dr. Ratih Pratiwi, S.Pd., M.Si., M.M sudah berkarier sebagai pendidik. Awalnya ia mengajar sebagai guru TK yang memberikan pelajaran banyak hal. Tak hanya soal ilmu, melainkan tentang kesabaran, ketulusan, komunikasi, dan membentuk karakter manusia sejak dini. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidupnya.

“Saya kemudian melanjutkan karier di dunia Perguruan Tinggi sebagai dosen, dengan fokus awal pada bidang Manajemen Pariwisata. Dunia pariwisata mengajarkan saya tentang pelayanan, komunikasi, jejaring, dan bagaimana membangun pengalaman yang bernilai bagi orang lain,” jelas wanita cantik yang akrab disapa Rara ini.

Seiring perkembangan akademik dan pengalaman profesional, lulusan S3 Program Doktor Ilmu Manajemen Unissula Semarang ini, semakin mendalami bidang Manajemen Ekonomi dan Bisnis, khususnya pada pengembangan sumber daya manusia dan kewirausahaan. Rara melihat bahwa kualitas SDM dan kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan zaman.

“Dalam perjalanan tersebut, saya dipercaya mengemban berbagai amanah struktural hingga saat ini menjadi Wakil Rektor III Universitas Wahid Hasyim Semarang yang membidangi kemahasiswaan, kewirausahaan, alumni, kerja sama, hilirisasi, dan internasionalisasi,” ujar wanita kelahiran Kendal, 28 November ini.

Bagi Rara, setiap fase perjalanan memiliki makna. Dari ruang kelas TK, ruang kuliah, hingga ruang kepemimpinan, semuanya mengajarkan satu hal penting: pekerjaan yang dilakukan dengan hati akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk bertumbuh dan memberi manfaat.

Karier di dunia pendidikan menjadi pilihan Rara karena ia percaya perubahan besar selalu dimulai dari manusia yang terdidik. Ia pun merasa memiliki panggilan hati untuk berada di lingkungan yang dinamis, penuh ide, dan dekat dengan anak muda.

Selain itu, Rara memiliki ketertarikan besar pada pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan perempuan, kewirausahaan, dan kepemimpinan. Dunia kampus memberi ruang yang luas untuk menggabungkan semuanya dalam bentuk program-program yang berdampak langsung bagi masyarakat. “Saya selalu percaya bahwa pendidikan tidak boleh berhenti di ruang kelas. Pendidikan harus hadir dalam bentuk solusi, inovasi, dan kebermanfaatan nyata,” terang istri Dr. M. Saleh, S.T., S.H., M.En., ini.

Kunci Sukses

Rara menilai pentingnya komitmen dan integritas sebagai fondasi utama dalam kehidupan profesional. Kompetensi bisa dipelajari, tetapi integritas adalah karakter yang dibangun dan dijaga setiap hari. Ketika seseorang memiliki integritas, ia akan tetap bekerja dengan sungguh-sungguh meskipun tidak dilihat orang lain. Ia menjaga amanah, konsisten antara ucapan dan tindakan, serta berani bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.

“Bagi saya, dalam dunia kerja dan kehidupan sosial, kepercayaan adalah hal yang sangat mahal. Dan kepercayaan itu lahir dari komitmen serta integritas yang dijaga secara konsisten. Saya percaya pencapaian bisa datang dan pergi, tetapi nama baik, kejujuran, dan cara seseorang memperlakukan orang lain akan selalu diingat dalam jangka panjang.”

Tantangan terbesar dalam dunia pendidikan saat ini menurut Rara adalah perubahan yang sangat cepat. Karakter mahasiswa berubah, teknologi berkembang, dan dunia kerja terus bergerak dinamis. Seorang pengajar dituntut untuk terus belajar agar tidak tertinggal dan mampu mengikuti perkembangan jaman.

Tantangan lainnya adalah menjaga keseimbangan antara profesionalitas, empati, dan ketegasan. Menjadi pengajar hari ini tidak cukup hanya pintar secara akademik. Pengajar juga harus mampu menjadi pendengar, motivator, bahkan lebih sering menjadi tempat pulang bagi mahasiswa yang sedang menghadapi persoalan hidup.

“Saya juga belajar bahwa perempuan yang memimpin sering kali harus bekerja lebih keras untuk membuktikan kapasitasnya. Namun saya memilih menjawab semuanya melalui kerja nyata, konsistensi, dan hasil,” tambah Rara.

Aktif Melakukan Upaya Pemberdayaan Perempuan

Di tengah kesibukannya berkarier sebagai dosen, Rara diberi amanah sebagai Ketua Srikandi, yang menjadi ladang belajar dan pengabdian bersama teman-temannya. “Visi kami sederhana saja. Kami ingin jadi rumah yang menumbuhkan perempuan Indonesia yang berdaya, beradab, dan berdampak. Berdaya itu artinya perempuan punya pegangan ekonomi sendiri, jadi kalau ada apa-apa dia nggak panik. Beradab artinya selagi dia maju dan cerdas, hatinya tetap lembut dan akhlaknya tetap terjaga. Dan berdampak artinya hidupnya nggak hanya untuk dirinya sendiri, tapi bisa jadi teduh untuk orang lain di sekitarnya,” paparnya.

Untuk mewujudkan itu, Rara mengadakan beberapa kegiatan antara lain program Srikandi Mandiri, tempat belajar bersama ibu-ibu komunitas mengenai skill praktis dan pendampingan legalitas usaha dasar supaya bisa mandiri.

“Selain itu ada Srikandi Mengajar dan Menyapa, di situ kami duduk lesehan bareng anak-anak muda untuk ngobrol soal mimpi, soal pergaulan, soal mental health. Kami juga belajar bareng orang tua lewat Kelas Orang Tua Hebat, karena rumah yang beradab itu mulai dari orang tuanya. Dan kami juga rutin turun untuk aksi sosial, sekecil apapun, selama itu bisa meringankan beban saudara kita,” jelas Rara.

“Alhamdulillah sesuai bidang keilmuan saya, kami coba hadir lewat kegiatan-kegiatan kecil yang istiqamah. Kami sadar nggak bisa mengubah banyak hal, tapi semoga seuprit ini bermanfaat,” tambah Rara.

Di bidang SDM Kewirausahaan, ada program sederhana untuk ibu-ibu komunitas. Selain belajar membuat produk, pendampingan mengurus NIB, PIRT, dan cara menghitung modal yang benar agar usahanya halal, tertib, dan tidak rugi. “Kami nggak muluk-muluk mau mencetak pengusaha besar. Cukup kalau ibu-ibu jadi lebih tenang dan mandiri jalankan usahanya,” ujar Rara.

Di bidang Tata Kelola Pariwisata, diberikan pendampingan kelompok sadar wisata di daerah pesisir dengan membantu menyusun paket wisata yang sederhana dan mengedukasi hal-hal dasar: senyum, sapa, jaga kebersihan. “Niatnya biar wisatawan nyaman, warga dapat manfaat, tapi alamnya tetap terjaga. Jujur kami juga banyak belajar dari kearifan mereka.”

Dan yang paling dekat di hati Rara adalah bidang Konseling Remaja, dengan membuka ‘Ruang Cerita’ untuk remaja yang suasananya santai, lesehan, tanpa sekat. Anak-anak diperbolehkan bercerita apa saja, dari galau pergaulan sampai mimpi mereka. “Tim kami bertugas hanya mendengar dan bantu mereka menemukan kekuatannya sendiri. Kecil sekali, tapi semoga bisa jadi rumah yang aman untuk mereka. Semua ini masih jauh dari sempurna dan kami terus belajar. Mohon doanya agar kegiatan kecil ini terus istiqamah dan bisa makin bermanfaat untuk orang lain,” harapnya.

Dalam menjalankan berbagai program tersebut, Rara merasa bersyukur dibantu oleh para sahabatnya.  Ibarat tumbuhan, ada sahabat yang berperan seperti akar, mereka adalah para mentor yang menancapkan nilai dan mengingatkan supaya tidak melenceng dari tujuan program . Ada sahabat yang menjadi batang, mereka membentuk tim yang terjun ke lapangan bertemu dengan ibu-ibu dan adik-adik, mengajar, mendampingi dan mengurus acara. Dan ada sahabat yang menjadi daun, mereka adalah relawan dan donatur diam-diam yang membuat program kerja menjadi teduh dan bermanfaat.

“Saya ini tugasnya cuma merangkai. Jadi kalau ada yang bilang saya hebat, saya langsung luruskan. Yang hebat itu mereka. Srikandi ini rumah kita bersama, bukan rumah saya pribadi. Mohon doanya agar silaturahmi dan kekompakan kami terus dijaga Allah dan amanah kecil ini bisa istiqamah,” ucapnya.

Dalam menjalani karier dan kehidupan profesional, Rara tidak mempunyai kiat khusus yang hebat. Ia hanya memegang prinsip ‘melayani dengan hati’. Di dunia pendidikan ini, ia bertemu dengan para mahasiswa, dosen, rekan kerja yang latar belakangnya berbeda-beda. Ia pun belajar untuk mendengarkan dulu, baru bicara.

“Saya juga selalu tanamkan bahwa  kalau kita tulus membantu orang tumbuh, insyaAllah jalan kita juga dimudahkan. Tapi jujur, saya masih sering salah dan terus belajar. Kuncinya istiqamah dan rendah hati. Istiqamah artinya konsisten walau hasilnya belum kelihatan. Rendah hati supaya saya mau terima masukan dari tim, mahasiswa, bahkan staf. Saya yakin, jabatan itu titipan. Jadi fokus saya bukan ‘sukses’, tapi ‘bermanfaat’. Selebihnya saya pasrahkan dan minta petunjuk Allah,” jelasnya bijak.

Ke depan, Rara akan fokus pada tiga hal. Pertama, menciptakan ruang yang damai untuk belajar dan berdialog. Kedua, membuka peluang anak muda yang produktif lewat karya, bukan hanya wacana. Mereka harus jadi problem solver, bukan problem maker. Ketiga, produktivitas itu harus beretika. Cerdas tanpa adab itu berbahaya, jadi targetnya bukan melahirkan juara kelas saja, tapi melahirkan manusia yang berguna. “Saya sadar ini kerja panjang dan nggak bisa sendiri. Mohon doa dan kolaborasi dari semua pihak. Perempuan Berdaya Indonesia Maju,” pungkasnya.

Menjaga Keseimbangan Hidup

Di luar aktivitas akademik dan sosial, Rara sangat menikmati quality time bersama keluarga dan sahabat. Baginya kebersamaan sederhana sering kali menjadi penguat terbaik setelah rutinitas yang panjang.

“Sesekali saya juga menikmati traveling singkat, mencoba makanan favorit, atau menonton film bersama teman-teman. Hal-hal sederhana seperti itu cukup membantu saya untuk kembali segar dan menjaga semangat tetap baik,” jelas Ibu dari Faradista Sekar Nagari, Dimaciella Vistanada Sekar Langit, dan Kiranayrisya Sekar Larasati ini.

Bagi Rara, me time adalah cara untuk menjaga keseimbangan diri di tengah aktivitas yang cukup padat. Ia lebih menikmati hal-hal sederhana yang membuat pikiran kembali tenang dan hati kembali penuh energi.

“Saya senang membaca buku, terutama buku tentang pengembangan diri, kepemimpinan, manajemen, dan sosial kemasyarakatan. Selain membaca, saya juga menikmati menulis. Biasanya saya mengisi waktu dengan menyusun penelitian, menulis book chapter, atau menuangkan ide-ide yang berkaitan dengan pendidikan, kewirausahaan, dan pengembangan sumber daya manusia. Menulis bagi saya menjadi ruang refleksi sekaligus ruang belajar. Dari proses itu saya sering menemukan banyak perspektif baru dan inspirasi,” ungkapnya.

Ayahanda Sosok Inspirasi

Sosok yang paling menginspirasi Rara dalam hidupnya adalah almarhum ayahnya. Ada banyak hal yang ia lupakan dari masa kecil, tetapi ada satu hal yang selalu ia ingat tentang ayahnya, “Bapak tidak pernah tega melihat orang lain kesulitan. Entah keluarga, tetangga, teman, atau bahkan orang yang baru dikenal, beliau selalu berusaha membantu dengan kemampuan yang dimiliki. Sering kali beliau memberi tanpa banyak bicara, tanpa ingin diketahui, dan tanpa berharap mendapatkan balasan,” kenangnya.

Sebagai anak, dulu Rara menganggap itu hal yang biasa. Namun semakin dewasa, ia pun semakin memahami bahwa tidak semua orang memiliki ketulusan seperti itu. Dari sosok ayahnya, Rara belajar bahwa kemuliaan seseorang tercermin dari manfaat yang diberikan kepada orang lain.

“Saya melihat sendiri bagaimana beliau dihormati, bukan karena jabatan atau harta, tetapi karena kebaikan yang beliau tanam dalam kehidupan banyak orang. Hari ini, ketika Bapak sudah tidak lagi bersama kami, saya justru semakin sering menemukan beliau dalam setiap keputusan yang saya ambil. Setiap kali dihadapkan pada pilihan, saya selalu teringat satu pertanyaan sederhana yang seolah beliau titipkan dalam hidup saya: “Apakah yang saya lakukan ini bisa memberi manfaat bagi orang lain?”

“Bapak mungkin telah berpulang, tetapi nilai-nilai yang beliau ajarkan tetap hidup dalam diri saya. Dan jika ada sesuatu yang ingin saya warisi dari beliau, itu adalah kemampuan untuk hadir, membantu, dan menjadi manfaat bagi sesama. Sebab saya percaya, itulah cara terbaik untuk mengenang dan melanjutkan jejak kebaikan yang beliau tinggalkan,” papar Rara haru.

Makna Perempuan Cerdas dan Merdeka

Bicara tentang perempuan Indonesia masa kini, bagi Rara ibarat seperti bambu yang lentur, tapi akarnya kuat. Dia bisa dibengkokkan angin kencang, tapi tidak gampang patah. Dia juga tumbuh membentuk rumpun, bukan sendiri. Satu tumbuh, yang lain ikut menguatkan.

“Nah, perempuan sekarang begitu. Kami hidup di era yang menuntut banyak hal sekaligus. Ada yang mengejar karier, ada yang memilih fokus di rumah, ada yang keduanya. Jalan hidupnya beda-beda, tapi saya lihat semangatnya sama: mau terus belajar, mau terus bertumbuh, dan mau bermanfaat untuk orang lain. Yang saya kagumi, bambu itu kosong di dalamnya. Kosong artinya rendah hati. Makin berisi ilmu dan pengalaman, makin menunduk. Saya rasa itu yang membuat perempuan Indonesia kuat. Kami boleh cerdas, boleh berani bersuara, boleh maju. Tapi tetap menunduk, tetap menjaga adab, tetap ingat dari mana kami berasal,” tandas Rara.

“Tidak apa-apa kalau hidupmu seperti bambu yang sedang ditiup angin. Bengkok sebentar nggak apa-apa, asal akarmu tetap kuat di tanah dan hatimu tetap kosong untuk terus belajar. Karena dari rumpun bambu yang saling menguatkan, insyaAllah akan tumbuh hutan Indonesia yang teduh untuk anak cucu kita,” pesan Rara kepada pembaca majalah Kebaya Indonesia.

Rara menilai perempuan cerdas bukan hanya perempuan yang memiliki pendidikan tinggi atau kemampuan berbicara dengan baik. Perempuan cerdas adalah perempuan yang mampu membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya, mampu berpikir bijak, terus belajar, dan hadir sebagai solusi dalam banyak keadaan.

Sedangkan perempuan merdeka adalah perempuan yang memiliki keberanian untuk menentukan arah hidupnya sendiri, berani berkembang, berkarya, dan mengambil keputusan tanpa kehilangan nilai-nilai keluarga, empati, dan tanggung jawab sosial.

Bagi Rara, kekuatan perempuan juga terletak pada kecantikan hati. Pada kemampuan untuk tetap tenang di situasi yang tidak mudah, tetap tegar saat banyak hal harus dipikirkan, dan tetap hadir menjadi penopang emosional bagi anak-anak serta keluarganya.

Perempuan sering kali menjalankan banyak peran dalam waktu yang bersamaan. Menjadi profesional, ibu, sahabat, pendamping, sekaligus penguat bagi orang-orang di sekitarnya. Dan sering kali, semua itu dijalani tanpa banyak keluhan.

“Menurut saya, di situlah makna “super women” yang sebenarnya. Bukan perempuan yang harus sempurna dalam segala hal, melainkan perempuan yang mampu bertahan, terus bertumbuh, menjaga hati tetap baik, dan tetap memberi manfaat meskipun sedang melalui fase kehidupan yang tidak selalu mudah,” ujarnya bijak.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top