MajalahKebaya.com, Jakarta – Menjadi perempuan itu tidak pernah mudah. Begitu banyak persoalan yang dihadapi perempuan. Tetapi kalau perempuan tidak terus berjalan dan menghadapi persoalan-persoalan itu, maka perempuan tidak akan pernah sampai dan terus menjadi susah. Sebuah refleksi perjalanan dan perjuangan Dr. Atika Candra Larasati S.IP., M.Si yang akrab disapa Atika, dalam menggapai kesuksesan dalam hidup. Seperti quote favoritnya dari tokoh Afrika Selatan, Nelson Mandela: There is no easy walk to freedom anywhere!!
Diakui Atika, masalah perempuan dan anak di Indonesia masih menjadi perhatian dan kepedulian serius baik oleh pemerintah, masyarakat, maupun perempuan itu sendiri. Khususnya yang paling utama masih tentang kekerasan dan perkawinan anak. “Semua ini jelas karena adanya norma patriarki, masalah ekonomi dan kemiskinan yang melekat pada perempuan juga beban ganda, dan lemahnya penegakan hukum, ditambah literasi yang rendah. Harapannya, perempuan dan anak di masa sekarang bisa menikmati dan sadar akan pendidikan yang lebih baik, keberpihakan pemerintah di berbagai bidang juga masyarakat sudah melek budaya bahwa laki-laki dan perempuan sama saja, harus saling menghormati,” imbau Atika.
Sebagai perempuan, Atika sangat peduli dan mendukung kemajuan perempuan Indonesia agar semakin berdaya dan tidak berhenti berkarya hanya karena persoalan-persoalan klasik domestik dan stigma yang melekat di dalam masayarakat. Baginya perempuan itu harus maju, mandiri, berdaya, dan diandalkan dalam semua aspek kehidupan.
“Saya akan menjadi orang yang mendukung perempuan paling depan, jika perempuan mau bergerak dan maju. Dan saya adalah orang yang juga paling bangga, melihat perempuan-perempuan yang bisa berkembang, bahkan duduk di kursi-kursi strategis untuk menghasilkan kebijakan, terutama untuk kaum perempuan sendiri,” ungkapnya.
Atika selalu menggugah semangat sesama perempuan, bahwa sebagai perempuan kita ini adalah makhluk yang diam saja bisa salah. Maka ketika terus bergerak, jangan lupa bergerak dengan benar, terus maju di jalan yang benar, sehingga tidak ada yang bisa menghentikan kita, karena kita yakin dan tahu jalannya sudah benar. “Perempuan-peremmpuan juga tolong lah, jangan mundur ke belakang, saya percaya pendidikan, dan ekonomi yang baik adalah kunci menyelamatkan diri kita,” bijak Atika.
Karena itu, di luar kesibukannya sebagai dosen, sejak dulu Atika aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, khusus perempuan dan anak-anak, seperti memberi pelatihan terutama kepada UMKM perempuan, mahasiswa, dan masyarakat umum. Ia ingin terus melakukan upaya-upaya pemberdayaan, dan ingin dirinya lebih dikenal sebagai perempuan yang bermanfaat dan membawa kebaikan, khususnya kepada sesama perempuan.
“Saya akan terus menjunjung tinggi nilai, dan moral saya sebagai perempuan di dalam pekerjaan. Loyalitas berkerja saya juga tidak perlu dipertanyakan, karena sebagai perempuan saya menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab dan profesionalisme di mana pun saya berada. Bukannya sebagai perempuan kita sudah sewajarnya begitu? Karena buat saya, perempuan itu sangat mudah dijatuhkan, apalagi kalau masalah moral. Makanya, jangan sampai jatuh hanya karena urusan ini,” ungkapnya.

Screenshot
Tantangan dan Peluang bagi Perempuan di Masa Kini
Tidak bisa dimungkiri, Atika merasa kuatir dengan pesatnya kemajuan teknologi yang serba digital saat ini, terutama bagaimana perempuan dan anak-anak memandang dunia sekarang. Apalagi generasi-generasi baru, ia sangat kuatir mereka pesimis dengan dunia sekarang. “Kalau bicara tentang Generasi Z dan Alpha, mereka sangat lekat dengan digitalisasi/ perkembangan teknologi yang cepat, mereka terkadang terlihat cenderung individualis, dan sedikit-sedikit sudah kena mental,” ungkapnya prihatin.
Padahal, lanjut Atika, media digital bisa dijadijan sebagai alat perang para perempuan. Ribuan kesempatan kerja, komunitas, dan wadah pengasahan skill tersedia di media digital. Cukup berbekal wawasan dan jejaring sosial, seluruh kesempatan itu dapat dengan mudah diraih sebagai bekal juang perempuan masa kini. Jika sulit menjumpai sistem kerja berbasis gender yang ramah perempuan, media digital menyediakan solusinya.
“Era digitalisasi ini dapat menjadi instrumen penguatan identitas yang prima bagi perempuan. Kita bukanlah second-class citizen melainkan warga negara utuh Indonesia, lengkap dengan hak dan tanggungjawabnya. Perkaya diri dengan skill, pelatihan, ilmu dan dialog-dialog yang bermutu. Tinggalkan diskusi-diskusi yang nir manfaat, utamanya yang opresif terhadap gender dan seksualitas,” tegas Atika.
Kolaborasi Unik Perkuat UMKM Perempuan
Selain usaha food and beverage (FnB), Atika juga memiliki usaha digital agency yang dibangun sebelum Covid-19, di mana kesadaran masyarakat saat itu masih sangat kurang, terutama dalam memanfaatkan media sosial untuk berjualan. “Fokus saya memang untuk membantu UMKM agar bisa berjualan atau memasarkan produk-produknya lewat sosial media. Jadi ketika Covid menyerang, agency saya sangat laku keras. Karena saya juga menawarkan keunggulan yang menguntungkan UMKM. Walau kami menjual jasa, tapi juga mengajarkan pada pemilik usaha untuk bisa mandiri setelah lepas dari kami,” ungkapnya bangga.
Atika aktif memberikan pendampingan UMKM secara gratis di agency miliknya. “Para pelaku usaha boleh berkonsultasi dan memberikan foto produknya serta membuat logo gratis khusus untuk UMKM. Pelatihan yang diselenggarakan kelompok-kelompok kecil juga gratis, jika mengundang saya dan tim. Karena saya ingin UMKM kita semua naik kelas, dan bisa bersaing di pasar digital,” tegasnya.
Sementara itu, usaha kuliner mie, dengan brand Warung Mie Cendana milik Atika juga sangat viral, terutama di Pasar Klojen Malang. “Saya membangun usaha kuliner di dalam area pasar yang sebelumnya sangat sepi. Saat itu memang saya ingin sekali punya usaha di pasar, karena ada kenangan masa kecil sering diajak makan oleh ibu dan bapak saya di dalam pasar. Apalagi pasar di Malang, banyak sekali yang sudah SNI. Bersih dan bisa untuk wisata belanja, dan sangat layak kalau kita makan di dalam pasar,” jelas Sarjana S3 Sosiologi Politik ini dengan yakin.
Ternyata mie yang dijual Atika langsung booming dan ‘meledak’. Penjualan setiap hari bisa sampai 300 porsi, sejak dibuka pukul 7 hingga pukul 9 pagi ia sudah bisa pulang, karena semuanya sudah laku. Sejak itu, sebagai dampak yang dirasakan Atika, pasar menjadi ramai, kios-kios yang tadinya kosong menjadi banyak peminat. Bahkan sekarang pasar sudah menjadi tempat tongkrongan anak muda atau kalcer.
“Cukup bangga, walau bukan pionir, tapi karena niat tulus dan juga branding yang tepat, pasar ini ternyata ikut hidup kembali. Keunggulan produk saya dari segi harga yang murah, menggeser kebiasaan masyarakat ‘masa pagi sarapan mie’ ternyata malah bener-bener mau antri mie pagi hari hehehe… Tentu juga karena rasa mie yang saya tawarkan berbeda dari yang lain, harga terjangkau cuma Rp 15 ribu per porsi, aman, sudah tersertifikasi halal, juga tidak pakai pengawet,” tutur Atika dengan bersemangat.
Hingga saat ini, Atika sedang bersemangat bersama banyak UMKM perempuan untuk maju bersama Mie Cendana dalam sebuah kolaborasi yang sehat dan menguntungkan. “Warung Mie Cendana ini kan cukup ramai dan sangat viral ya…saya lalu merangkul dan mengajak para pelaku UMKM perempuan yang memiliki produk kuliner juga, yaitu makanan atau kudapan pendamping untuk dijual di warung saya. Di buku menu kami ditulis nama produk dan usaha mereka, karena tujuan saya bukan cuma untung tapi juga memperkenalkan produk-produk UMKM lain, dan kalaupun mereka juga bekerja sama dengan yang lain itu tidak masalah bagi saya.”
Kolaborasi unik dengan merangkul pelaku UMKM perempuan sekitar, bagi Atika merupakan cara ia menjembatani UMKM lokal untuk naik kelas dan meraih sukses bersama-sama Mie Cendana. Ia menyediakan etalase berbagai menu side dish produk UMKM ini, yang juga tidak kalah enak dan menarik seperti donat, dimsum, dan berbagai minuman. Menurutnya, kolaborasi ini bentuk keberpihakan nyata terhadap pelaku usaha kecil yang didominasi perempuan yang seringkali menghadapi tantangan klise.
“Banyak dari mereka, terutama ibu rumah tangga memiliki produk bagus tapi sulit akses pasar dan modal. Belum lagi keterbatasan waktu karena harus mengurus rumah tangga. Kami usahakan hadir mengisi celah dengan memberikan jalan kecil-kecilan, siapa tahu jadi peluang besar ke depannya. Meski begitu, kualitas tetap menjadi yang utama. Setiap produk yang masuk tetap melalui proses kurasi ketat, mulai dari rasa hingga tampilan yang estetik. Prioritas utama kita adalah mereka yang memiliki niat paling besar dan tentu saja mengedepankan kualitas,” jelas Atika.
Lebih jauh Atika menekankan bahwa solidaritas antar-perempuan dalam berbisnis harus terus diperkuat. Sesama perempuan pelaku usaha bisa saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Dan, langkah kolaborasi ini merupakan tindak lanjut semangat ekosistem kreatif yang sedang dibangun Mie Cendana di Malang melalui inisiatif seperti diskusi santai bertajuk ‘Kecil-kecilan Dulu Ya’. Sebuah forum yang digelar bulanan, yang menjadi ruang curhat dan pendampingan berkelanjutan pelaku UMKM. ”Kami masih berpegangan pada semangat awal kami bahwa kunci agar UMKM sukses terletak pada kolaborasi, tidak hanya bantuan modal,” tegasnya.
Selain kuliner mie, sebenarnya Atika sudah banyak memiliki usaha kuliner jenis lain. Tapi diakuinya, yang paling epik memang Warung Mie Cendana yang saat ini pun sudah membuka cabang di Jogja.

Perempuan Cerdas dan Berempati
Jiwa juang dan entrepreneurship dalam diri Atika, sudah tertanam sejak muda. Ketika berkuliah S1 di Malang, tahun 2008, ia sudah aktif berkerja paruh waktu. Apalagi ia seorang anak rantau, berasal dari Balikpapan. Meski demikian, Atika tetap fokus pada pendidikan, sehingga tak menunggu lama, setelah lulus S1, ia segera mengambil S2, mumpung selama ini biaya pendidikan separuhnya dari beasiswa.
Setelah lulus S2, Atika mendaftarkan diri sebagai Dosen LB (Luar Biasa atau tidak terikat kontrak) di Universitas Islam Negeri Malang. Semangat belajarnya begitu kuat, sehingga sambil mengajar ia meneruskan kuliah S3. Saat itu usianya baru 23 tahun.
Sejak tahun 2012 hingga saat ini, Atika tetap menjadi dosen Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan masih menyandang status Dosen LB, karena ia juga memilih mengembangkan diri di luar kampus, yaitu berwirausaha dengan membangun agency sosial media, dan usaha kuliner. “Semua saya jalani dengan mengalir saja, namun punya target setiap tahun yang saya lewati. Gunanya agar tidak hilang arah atau berputus asa,” wanita cantik kelahiran Balikpapan, 22 Mei ini.
Berkat keuletan dan ketekunannya, usaha-usaha yang dijalankan Atika mengalami perkembangan yang menggembirakan dan sukses. Dan, didorong rasa kepedulian sosial yang tinggi, ia tidak berhenti hanya pada kesuksesan dirinya semata. Bahkan, dari zaman masih kuliah, Atika sudah aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Seperti kegiatan membantu anak-anak di wilayah-wilayah yang paling banyak angka putus sekolah, Atika terlibat memberikan bimbingan belajar dan mencuci otak anak-anak agar tidak memilih putus sekolah. Ia ikut menjadi relawan untuk mengajar, mengkoordinir sedekah untuk panti asuhan, tapi lebih fokus pada sedekah susu segar. Begitupun ketika usaha Mie Cendananya booming, Atika merangkul dan mengajak para perempuan pelaku usaha kuliner lain untuk bersama-sama maju dan sukses, dengan konsep kolaborasi woman support woman.
Kini Atika fokus mengembangkan usaha kuliner, bukan saja karena hobinya suka memasak dan senang mencoba-coba makanan baru, lebih karena menurutnya, usaha makanan tidak akan pernah mati, apalagi balik modalnya cepat dan memberikan keuntungan bisa dua kali lipat dari HPP (harga pokok produksi), dengan catatan kalau produknya benar dan layak.
“Menurut saya, bisnis makanan tidak ada matinya, bahkan sampai kapan pun. Prospeknya sangat bagus. Dan di tahun 2026 ini, sepertinya bisnis makanan sehat akan booming, karena sejalan dengan tren masyarakat yang mulai menjalankan pola hidup sehat dan rajin berolahraga. Tren ini semakin kuat dan merasuki semua kalangan usia,” jelas ibu dua anak, dan istri dari Muhammad Anas Muttaqin, Anggota DPRD Kota Malang, yang mengisi me time-nya dengan baca buku dan qualitiy time bersama keluarga ini. DW
