MajalahKebaya.com, Jakarta – Indonesia sempat memasuki fase darurat literasi. Di tengah gempuran era digital dan beragam media sosial yang menarik, generasi muda saat ini atau yang sering disebut Gen Z mulai berpaling dari kebiasaan membaca yang sangat bermanfaat itu. Minat membaca sepertinya mulai tergeser dengan berbagai konten-konten di media sosial yang kini semakin rimbun pertumbuhannya.
Prihatin dengan isu ini membuat seorang gadis berbakat Angelica Baebie Tjandra atau yang akrab disapa Anggie, tak tinggal diam. Sejalan dengan passion membaca yang dimilikinya, Anggie berusaha agar Gen Z kembali memiliki minat pada bacaan berkualitas. “Berawal dari brainstrorming untuk tugas akhir kuliah dan melihat lemahnya minat membaca di generasi ini, saya berfikir bagaimana untuk kembali membangkitkan minat tersebut melalui sarana yang lebih menarik dan interaktif,” ungkap gadis kelahiran 1 September 2004, pemilik akun Instagram @cerita.official__ ini.

Ide Solutif nan Inpiratif
Melalui usaha brand Ceri(t)a, Anggie memberikan jasa anotasi dan ilustrasi sisi buku pada novel bergenre fiksi sejarah, yang sudah ada di toko-toko buku dan dijual untuk umum, agar novel lebih mudah dipahami dan dinikmati Gen Z. Untuk saat ini masih khusus untuk buku bergenre historical fiction. Kedua hal ini menurut Anggie sangat berperan penting untuk menumbuhkan minat dan menambah pengalaman baru di dunia membaca khususnya untuk generasi muda saat ini.
Genre historical fiction dipilih bukan tanpa alasan, Anggie berharap novel bergenre historical fiction dapat membuat Ilmu Sejarah dapat lebih dinikmati dibandingkan buku ilmu pengetahuan sejarah pada umumnya. “Selain itu novel-novel ini juga dapat lebih dalam mengulik suatu peristiwa sejarah karena bukan hanya pengetahuan sejarahnya saja yang dipaparkan namun juga perasaan di dalamnya,” papar gadis yang sedang berkuliah di Universitas Kristen Petra jurusan Desain Komunikasi Visual ini.
Anggie melihat bahwa adanya unique selling point (USP) yang ia hadirkan menjawab selera Generasi Zoomers (Gen Z) yang karakter umumnya adalah menyukai sesuatu yang asli, unik dan berbeda dengan yang lain. Anggie menganggap kecenderungan Gen Z sebagai Digital Natives yang lebih menyukai sesuatu yang instan adalah sebuah tantangan tersendiri untuk selalu menghadirkan inovasi dalam usahanya.

Screenshot
Konsistensi Hasilkan Segudang Prestasi
Menerapkan prinsip play hard work hard, Anggie selalu berusaha untuk konsisten dalam melalukan kebaikan apapun. Menurutnya meski terdengar sederhana, namun konsistensi memegang peran penting ketika menjalani karier dan kehidupan profesional. Tanpa adanya konsistensi akan sulit membagi waktu dan tenaga untuk meraih target dalam hidup.
“Mengingat usaha saya masih berjalan untuk tugas akhir kuliah, saya memang belum punya waktu yang sistemastis seperti layaknya orang kantoran namun saya tetap punya target sendiri setiap hari. Saya menerapkan to do list versi saya sendiri yang saya targetkan selesai dalam waktu nine to five,” ujar gadis peraih Juara 1 Fun Chinese Calligraphy, Juara 3 Langsong & Erge Competition, Juara 1 Ujian ANZCA, dan Juara 3 Ujian ABRSM Penampilan Terbaik Tingkat Pemula.
Anggie memaparkan bahwa target yang ia terapkan tidaklah muluk dan ia yakin bahwa bahkan setiap langkah kecil yang dibuat itu juga sebuah kemajuan. Prinsip ini menjadikan Anggie menjadi lebih relaks saat meraih target-targetnya.
Sebagai perempuan, Anggie sangat menyadari potensi dan kelebihan yang dimilikinya, namun juga menyadari tantangan yang dihadapi perempuan tidak kecil. Karena itu, sejak dini, bahkan sejak remaja, ia sangat bersemangat mengeksplor semua kemampuan diri dan meraih prestasi membanggakan.
Saat ini Anggie melihat wanita Indonesia semakin banyak yang menjadi independent woman yang memiliki perkerjaan dan dapat membahagiakan diri sendiri maupun keluarga serta tidak bergantung dengan orang lain. Ia pun terpacu untuk menjadi wanita mandiri, kuat, dan diperhitungkan dalam banyak hal. “Tidak salah sesekali bergantung, namun seringkali kekecewaan yang didapat karena kita tidak dapat mengontrol atas diri orang lain. Jadi sebaiknya wanita dapat berdiri di atas kakinya sendiri, dengan begitu wanita akan mendapatkan kepuasan dan kebanggaannya sendiri,” ujar gadis yang suka menulis prosa, menonton film dan bernyanyi ini.

Dukungan Keluarga adalah Bagian Penting
Anggie sangat bersyukur memiliki privilege yang bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk keberhasilan di masa depan. Ia memiliki keluarga yang sangat men-support apapun kegiatan baik yang ia lakukan. Sosok yang selama ini banyak menginspirasi Anggie adalah Sang Ibu. Ibunda di mata Anggie adalah seorang pekerja keras yang tidak pernah mengeluh, selalu bersyukur dan menjalani hidup dengan rasa bahagia. Beliau juga selalu menyempatkan diri untuk quality time bersama keluarga di atas segala kesibukannya.
Melalui usaha Ceri(t)a yang Anggie jalankan saat ini, ia berharap para pembaca terutama dari kalangan generasi muda akan semakin paham pentingnya dan menyukasi literasi. “Literasi itu bukan hanya baca tulis semata, tetapi juga kemampuan untuk memahami, mengolah dan mendapatkan informasi dari sebuah teks yang dibaca. Selain itu saya juga berharap kemajuan dan kemudahan akses teknologi dapat dimanfaatkan dengan maksimal untuk menunjang kemajuan literasi generasi saat ini,” pungkas Anggie dengan senyum hangat. AP
