Cover Story

Paramita Edward S.I.Kom, S.H, M.H, Suara Perempuan, Integritas, dan Keteguhan di Dunia Hukum

MajalahKebaya.com, Jakarta – Di balik ketegasan argumen dan ketelitian analisis hukum, ada sosok perempuan yang percaya bahwa hukum bukan sekadar profesi, melainkan ruang pengabdian. Paramita Edward — akrab disapa Mita — adalah representasi generasi lawyer muda yang memadukan intelektualitas, empati, dan integritas dalam satu napas perjuangan.

Di usia 31 tahun, lulusan Magister Hukum ini telah membangun reputasi sebagai advokat yang tidak hanya memahami pasal demi pasal, tetapi juga memahami manusia di balik setiap perkara.

“Perjalanan karier saya dimulai sejak saya menyadari bahwa hukum bukan hanya sekadar aturan, tetapi instrumen untuk menciptakan keadilan. Saat kuliah S1 Hukum, saya mulai tertarik pada bagaimana regulasi memengaruhi kehidupan masyarakat secara langsung,” kenang Mita.

Setelah lulus, Mita memulai karier sebagai Associate di sebuah firma hukum. Di tahap itu ia banyak belajar bukan hanya tentang penyusunan dokumen atau menghadapi persidangan, tetapi juga tentang tekanan, etika, dan ketegasan. Sebagai lawyer muda dan perempuan, tentu ada tantangan tersendiri, tetapi justru dari situ ia belajar membangun kredibilitas melalui kerja keras dan konsistensi.

“Saya kemudian memutuskan melanjutkan S2 untuk memperdalam analisis hukum dan memperkuat posisi profesional saya. Pendidikan tersebut membantu saya melihat hukum bukan hanya secara tekstual, tetapi juga strategis dan kontekstual. Seiring waktu, saya mulai dipercaya menangani kasus-kasus yang lebih kompleks. Titik balik saya adalah ketika saya dipercaya memimpin penanganan perkara besar. Dari situ saya belajar tentang kepemimpinan, manajemen risiko, dan pentingnya ketenangan dalam tekanan,” ungkapnya.

Hari ini, Mita melihat perjalanan ini bukan sebagai pencapaian akhir, tetapi proses yang terus berjalan. Baginya, menjadi lawyer adalah tentang integritas, keberanian, dan komitmen untuk terus belajar. Dan ia percaya, setiap fase — baik yang mudah maupun yang sulit — adalah bagian dari pembentukan profesionalismenya.

Panggilan untuk Bersuara

“Yang melatarbelakangi saya memilih profesi ini sebenarnya berangkat dari kesadaran sederhana, bahwa hukum adalah alat yang sangat kuat — tetapi tidak semua orang memiliki akses atau keberanian untuk menggunakannya,” ujar Mita.

Sebagai perempuan, Mita melihat dan merasakan sendiri bagaimana perempuan terkadang dipandang sebelah mata, baik dalam ruang sosial maupun profesional. Masih banyak perempuan yang mengalami ketidakadilan, tetapi tidak tahu haknya atau tidak tahu harus berbicara kepada siapa.

“Saya sering melihat kasus di mana perempuan sebenarnya berada di posisi yang benar secara hukum, tetapi tidak memiliki keberanian atau pendampingan yang tepat untuk memperjuangkannya. Dari situ saya merasa bahwa perempuan membutuhkan representasi yang bukan hanya paham hukum, tetapi juga memahami perspektif dan pengalaman perempuan itu sendiri,” tambahnya.

Profesi advokat bagi Mita bukan hanya tentang memenangkan perkara, tetapi tentang memberikan ruang aman bagi perempuan untuk bersuara secara legal. Mita ingin menjadi bagian dari sistem yang tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga memberdayakan. “Karena saya percaya, ketika seorang perempuan memahami hak hukumnya, ia tidak hanya membela dirinya sendiri — tetapi juga membuka jalan bagi perempuan lain untuk berani bersuara.”

Tantangan sebagai Perempuan di Dunia Hukum

Mita menilai prospek bidang hukum di tahun 2026 dan selanjutnya semakin dinamis dan strategis. Saat ini merupakan era di mana hukum tidak lagi hanya berfungsi sebagai aturan statis — tetapi juga sebagai alat adaptif untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan teknologi. Dalam beberapa tahun terakhir, regulasi di bidang teknologi, perlindungan data, hak digital, dan kebijakan perusahaan berkembang sangat cepat. Ini menciptakan ruang baru bagi para lawyer untuk tidak hanya memahami undang-undang, tetapi juga bagaimana hukum berpadu dengan inovasi.

“Secara khusus, di bidang yang saya tekuni — yaitu litigasi dan advokasi — saya melihat kebutuhan akan representation yang kuat terus meningkat, terutama untuk klien yang selama ini kurang terwakili. Banyak perempuan dan kelompok masyarakat yang semakin sadar akan haknya, tetapi masih membutuhkan pendampingan hukum yang empatik dan kompeten. Ini menjadi peluang besar bagi profesi kami untuk memberikan kontribusi yang nyata,” papar Mita.

Selain itu, perkembangan legal tech — seperti AI untuk riset hukum, sistem manajemen perkara digital, dan aplikasi compliance otomatis — membuka peluang baru sekaligus menuntut dirinya untuk terus upgrade kemampuan. Seorang lawyer tidak lagi hanya sekadar memahami hukum, tetapi juga memahami teknologi yang mengelilingi praktik hukum itu sendiri.

“Tantangannya tentu ada — termasuk bagaimana kita menyeimbangkan antara teknologi dan etika profesional di ranah hukum. Namun saya melihat ini sebagai momentum besar: profesi hukum akan semakin relevan, strategis, dan inklusif,” tandasnya.

Ke depan, Mita optimis profesi ini tidak hanya akan tumbuh secara kuantitas, tetapi juga kualitas — dengan lebih banyak perempuan dan generasi muda yang mengambil peran penting di ranah hukum, tidak sekadar menjadi pengikut, tetapi juga pemimpin perubahan. Mita menilai tantangan di dunia hukum saat ini tentu tidak ringan, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Dunia hukum adalah dunia yang kompetitif, penuh tekanan, dan menuntut ketelitian serta ketegasan dalam mengambil keputusan.

Namun sebagai perempuan, ada tantangan tambahan yang terkadang tidak terlihat secara langsung. Misalnya, masih ada stereotip bahwa perempuan dianggap kurang tegas atau terlalu emosional dalam menghadapi perkara. Di beberapa situasi, Mita merasakan bahwa kredibilitasnya perlu dibuktikan lebih dulu sebelum benar-benar diakui.

Tantangan lainnya adalah representasi. Di level senior atau pengambil keputusan, jumlah perempuan masih relatif lebih sedikit. Ini membuat perempuan yang berada di ruang tersebut harus mampu menjaga performa sekaligus menjadi representasi yang baik bagi generasi berikutnya.

“Tetapi saya tidak melihat ini sebagai hambatan, melainkan sebagai ruang pembuktian. Saya percaya kompetensi, konsistensi, dan integritas akan selalu berbicara lebih kuat daripada stereotip. Justru sebagai perempuan, saya merasa memiliki keunggulan dalam hal empati, ketelitian, dan kemampuan membangun komunikasi yang efektif — yang dalam praktik hukum sangat dibutuhkan. Jadi bagi saya, tantangan itu nyata, tetapi bukan sesuatu yang membatasi. Itu adalah bagian dari proses pembentukan profesionalisme.”

Bagi Mita, kunci utama dalam menghadapi tantangan adalah integritas dan konsistensi. Dunia hukum adalah dunia yang sangat bergantung pada kepercayaan. Sekali integritas kita diragukan, akan sangat sulit membangunnya kembali. Ia selalu menjaga prinsip itu dalam setiap keputusan.

Kiat kedua adalah disiplin dalam belajar. Hukum itu dinamis. Regulasi berubah, interpretasi berkembang. Mita selalu membiasakan diri untuk terus membaca, memperbarui pengetahuan, dan tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dicapai.

Selain itu, Mita percaya pada persiapan yang matang. Dalam setiap perkara, ia tidak hanya melihat satu sisi, tetapi mencoba memetakan risiko dan kemungkinan dari berbagai sudut. Ketelitian dan kesiapan mental sangat membantunya merasa lebih percaya diri saat menghadapi tekanan.

“Dan sebagai perempuan, saya juga memegang satu hal penting: jangan pernah merasa perlu mengecilkan diri untuk diterima. Profesionalisme tidak ditentukan oleh gender, tetapi oleh kualitas kerja dan karakter. Jadi bagi saya, selama kita terus belajar, menjaga integritas, dan konsisten dalam proses, tantangan sebesar apa pun akan selalu bisa dihadapi dengan kepala tegak,” tegas Mita. EK

Membaca dan Menjelajah Dunia

Sebagai seorang lawyer, ritme pekerjaan Mita cukup intens dan penuh tanggung jawab. Karena itu, ia percaya me time bukan sekadar waktu luang, tetapi bagian dari menjaga keseimbangan diri. Salah satu hal yang paling ia nikmati adalah membaca. Mita selalu meluangkan waktu untuk membaca — bukan hanya buku hukum, tetapi juga biografi, sosial, dan literatur yang memperluas perspektif baginya. Membaca membantunya tetap tajam secara intelektual sekaligus reflektif secara pribadi.

Mita juga sangat menyukai traveling. Baginya, traveling bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi tentang memahami dunia dan manusianya dari sisi yang berbeda. Ketika kita berada di negara atau budaya lain, kita belajar bahwa setiap masyarakat memiliki cara pandang, sistem nilai, dan cara menyelesaikan masalah yang unik. Pengalaman itu memperkaya caranya melihat suatu perkara. Ia menjadi lebih terbuka, lebih empatik, dan lebih objektif. Traveling mengajarkan dirinya bahwa hukum tidak pernah berdiri sendiri — ia selalu hidup dalam konteks sosial dan budaya. “Jadi bagi saya membaca menjaga kedalaman berpikir, dan traveling menjaga keluasan perspektif. Keduanya sangat membantu menjadi pribadi dan profesional yang lebih seimbang,” ujarnya.

Inspirasi dan Keteladanan

Salah satu sosok yang menginspirasi Mita adalah Prof. Dr. Otto Hasibuan, S.H., M.M. Beliau bukan hanya dikenal sebagai advokat senior, tetapi juga sebagai figur yang konsisten menjaga integritas profesi hukum di Indonesia. “Yang menginspirasi saya adalah bagaimana beliau mampu berdiri teguh dalam berbagai dinamika perkara besar, tetap profesional, dan selalu menempatkan hukum sebagai landasan utama. Dalam dunia yang penuh tekanan dan opini publik, menjaga objektivitas dan keberanian bukan hal yang mudah,” jelas Mita.

Selain itu, Mita melihat Prof. Dr. Otto Hasibuan, S.H., M.M sebagai contoh bagaimana seorang lawyer tidak hanya berperan di ruang sidang, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan organisasi dan pendidikan hukum. Itu menunjukkan bahwa profesi ini bukan hanya tentang individu, tetapi tentang membangun sistem yang lebih baik.

“Sosok seperti beliau mengajarkan bahwa menjadi lawyer bukan sekadar soal kepintaran, tetapi tentang karakter, ketegasan, dan tanggung jawab moral. Itu yang selalu saya pegang dalam perjalanan karier saya.”

Pesan Sederhana untuk Sesama Perempuan

Mita menegaskan bahwa dunia profesional bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, tetapi siapa yang paling siap ketika kesempatan datang, dan kesiapan itu tidak mengenal gender. Jika satu perempuan maju dengan integritas, ia tidak hanya mengubah hidupnya sendiri. Ia menjadi referensi. Ia menjadi bukti. Ia menjadi preseden bahwa ruang itu memang bisa ditembus.

“Apakah kita akan terus menunggu dunia memberi ruang, atau mulai berdiri dan menciptakan ruang itu sendiri? Berapa banyak perempuan yang sebenarnya memiliki kapasitas, tetapi memilih diam karena merasa belum cukup percaya diri? Berapa banyak yang sebenarnya benar secara hukum, tetapi tidak berani bersuara karena takut dianggap berlebihan?”

Kita hidup di zaman di mana akses pendidikan terbuka, informasi tersedia, dan peluang semakin luas. Namun pertanyaannya bukan lagi apakah kita bisa, melainkan apakah kita berani. Keberanian itu bukan berarti tanpa rasa takut. Ia lahir dari kesiapan. Dari pengetahuan. Dari kerja keras yang konsisten. Dari pengalaman yang ditempa oleh proses, bukan oleh pengakuan instan.

Sejarah dan realitas menunjukkan satu hal yang empiris: perempuan yang teredukasi dan memahami haknya akan memiliki posisi tawar yang berbeda. Ia tidak mudah ditekan. Ia tidak mudah dipatahkan. Ia tahu kapan harus berbicara, dan bagaimana berbicara dengan tepat.

“Jadi, apakah kita akan terus meragukan diri sendiri? Atau mulai memperlengkapi diri dengan kompetensi? Apakah kita akan menyesuaikan mimpi agar terlihat “wajar”? Atau membangun kapasitas agar mimpi itu realistis dan terukur?”

“Maka pesan saya sederhana: Bangun dirimu. Bekali dirimu. Kenali hakmu. Jangan kecilkan dirimu. Karena ketika perempuan berdiri dengan pengetahuan dan karakter, ia tidak sedang meminta tempat — ia sedang menunjukkan bahwa ia memang pantas berada di sana,” tandas Mita.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top