Cover Story

dr. Ruankha Bilommi, Sp.BA.(F), FIAPS, Mendedikasikan Diri untuk Kesehatan Anak-anak Indonesia

MajalahKebaya.com, Jakarta – Dari sebuah mimpi sederhana saat masih di bangku SD, Ruankha Bilommi kini sukses menjadi Dokter Spesialis Bedah Anak. “Sejak saya masih SD ingin sekali kalau sudah besar bisa menolong orang sakit. Sejak saat itu, satu kalimat tertanam kuat dalam hati saya, bahwa saya  ingin jadi orang yang bisa menyelamatkan nyawa,” kenang wanita cantik yang akrab disapa dr. Ruru ini.

Saat duduk di bangku SMU, wanita kelahiran  Jakarta, 8 Agustus ini, mulai tertarik dengan pelajaran IPA terutama Biologi & Kimia, mempelajari anatomi tubuh manusia dan makhluk hidup lain serta reaksi berbagai zat kimia. “Rasanya sangat menyenangkan, hingga saya memutuskan mengambil kuliah Kedokteran. Saya diterima di salah satu fakultas kedokteran di Jakarta pada tahun 2000. Saat kuliah sebagai mahasiswa belajar teori dasar anatomi, fisiologi, patologi anatomi dan lainnya. Banyak hafalan dan pemahaman konsep, ujian ketat dan berkelanjutan,” kenang dr. Ruru.

Di tahun 2004, akhirnya dr. Ruru berhasil lulus  menjadi S.Ked atau sarjana S1 Kedokteran, dilanjutkan dengan pendidikan Profesi Koas selama 1,5 tahun dan lulus menjadi dokter di tahun 2006. Setelah lulus dr. Ruru bekerja sebagai dokter selama 1 tahun di Rumah Sakit.

“Saat koas  saya merasakan pengalaman jaga malam tanpa tidur, melihat pasien menangis dan kesakitan, berbagai kelainan gawat darurat yang datang ke UGD. Bahkan perasaan kehilangan pasien untuk pertama kalinya. Di sanalah saya paham bahwa menjadi dokter berarti siap menghadapi kenyataan yang tidak selalu indah,” paparnya.

Pengalaman menarik saat koas dialami dr. Ruru saat pertama kali masuk ke kamar operasi. Waktu itu ia  ikut serta menangani operasi seorang anak kecil. Di sana, ia melihat seorang anak kecil yang tetap tersenyum meski kesakitan dan orang tua yang berharap keajaiban. “Di titik itu, hati saya bertekad ingin mengabdikan diri untuk anak-anak ini,” ujarnya.

Suatu malam saat dr. Ruru sedang jaga malam, ia semakin yakin dengan keinginannya hanya mau menjadi Dokter Bedah Anak seumur hidup sampai akhir hayat. “Hanya itu mimpi  dan cita- cita saya. Semakin hari saya semakin yakin, walaupun banyak orang berkata jangan ambil bedah, terlalu berat. Ada juga yang bilang kamu perempuan, ngapain sih ambil yang berat-berat. Ambil yang lain saja yang tidak ada jaga, tidak ada sekolahnya dan yang bisa menjadi ibu rumah tangga, mengurus rumah. Nanti  tidak ada lho yang mau menikahi kamu. Banyak yang berkata bedah saja sudah berat, apalagi bedah anak. Pasiennya lebih sensitif, tindakannya lebih kompleks, tanggung jawabnya lebih besar. Semua ucapan negatif tersebut anehnya malah membuat saya merasa terpanggil,” lanjutnya dengan semangat.

Apapun perkataan orang lain tidak pernah mengurangi niat dr. Ruru untuk menggapai mimpi, hingga di akhir tahun 2007 ia melamar dan mengikuti ujian sebagai Peserta Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Anak (PPDS Bedah Anak).

“Alhamdulillah saya diterima untuk memulai pendidikan di Januari 2008. Menjadi residen bedah anak bukan sekadar belajar. Hari-hari saya diisi dengan operasi berjam-jam tanpa henti, tanggung jawab besar di setiap tindakan. Terkadang terasa lelah tapi setiap kali melihat orang tua pasien tersenyum setelah operasi berhasil, saya merasakan kebahagiaan dan kembali mengingat mimpi saya. Karena pada setiap tindakan operasi bedah anak selalu terselip makna ‘tubuh kecil, harapan besar dan masa depan yang panjang’.”

Walaupun terasa berat, seiring waktu berjalan, dr. Ruru semakin mencintai pekerjaannya. Ia pun berhasil lulus sebagai Dokter Spesialis Bedah Anak pada Mei 2013. Dan pada tahun 2021 mendapatkan gelar Fellowship Endolaparoscopy Anak. “Jadi bila dikalkulasi pendidikan saya dari mulai mengambil kuliah kedokteran sampai menjadi Dokter Spesialis dan Fellowship kurang lebih 15 tahun atau 24 tahun sejak bangku Sekolah Dasar,” kenangnya bangga.

Tantangan Sebagai Dokter Bedah Perempuan

Setelah lulus menjadi Dokter Spesialis Bedah Anak, dr. Ruru bekerja di D.K.I Jakarta. Saat ini ia bekerja di RS Kanker Dharmais, RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, & RS Mitra Keluarga Bekasi Timur. “Seumur hidup saya hanya ingin mengabdi untuk kesehatan anak anak Indonesia dan saya ingin menolong banyak anak Indonesia yang membutuhkan operasi untuk menyelamatkan nyawa atau menyembuhkannya dari kelainan atau penyakit yang diderita. Serta membantu penyembuhan kanker yang saat ini banyak juga diderita anak- anak,” tegasnya.

Menurut dr. Ruru profesi Dokter Spesialis Bedah Anak masih sangat dibutuhkan di Indonesia terutama di daerah-daerah terpencil atau sangat terpencil. Ia menilai tantangan profesi ini bagi perempuan cukup besar, salah satunya anggapan masyarakat terhadap dokter bedah perempuan. Banyak yang meragukan perempuan bisa jadi dokter bedah, “Perempuan kuat nggak di bedah?  Nanti bagi waktu dengan keluarga gimana? Suami siapa yang merawat? Anak siapa yang merawat? Setiap orang meragukan tapi di benak saya selalu terpatri bahwa aku perempuan, aku bisa, aku punya mimpi, dan jalan hidupku di ruang operasi,” tandasnya.

Memang pada umumnya menjadi Dokter Spesialis Bedah sangat berat karena berhubungan dengan kasus-kasus yang mengancam nyawa dan darurat sehingga kapan pun dan di mana pun seorang Dokter Spesialis Bedah harus bersedia dipanggil ke RS karena nyawa pasien adalah prioritas utama di atas kepentingan keluarga sendiri. “Untuk itu saya  menjalani dengan profesional, selalu bersabar dan berdoa sebelum melakukan pekerjaan dan selalu mengingat bahwa semuanya bukan tentang diri saya, tetapi harapan bagi pasien dan saya selalu ingin menjadi inspirasi bagi perempuan lain.”

Saat ini teknologi kedokteran di bidang bedah anak menurut dr. Ruru sangat baik baik dalam proses operasi dan terapi dengan laparoscopy, endoscopy dan menuju ke perkembangan robotic surgery. “Harapannya layanan kesehatan untuk bayi baru lahir dan anak-anak yang membutuhkan operasi lebih maju lagi dan merata di seluruh tanah air Indonesia,” pungkasnya. EK

Wujudkan Semangat Kartini dalam Diri Perempuan 

Dokter Ruru menilai  perempuan Indonesia saat ini sudah semakin banyak yang berpendidikan tinggi, Aktif bekerja dan berkarier dan banyak juga yang sudah mampu mandiri secara finansial. Banyak perempuan Indonesia kini mampu menjalani banyak peran sekaligus: profesional di tempat kerja, ibu rumah tangga sebagai ibu, istri, sekaligus individu yang punya mimpi.

Bagi seluruh perempuan Indonesia, dr. Ruru berpesan untuk meraih mimpi setinggi langit. “Jangan kecilkan mimpimu hanya karena kamu perempuan. Justru dunia butuh keberanianmu. Mimpimu penting! Suaramu penting. Langkahmu berarti. Kamu tidak harus sempurna untuk mulai, cukup berani untuk mencoba. Di balik perempuan yang hebat, ada dirinya sendiri yang tidak pernah menyerah,” pesan dr. Ruru dengan bijak.

Satu kata untuk menggambarkan semangat Kartini pada diri dr. Ruru adalah emansipasi. “Perempuan sukses itu adalah perempuan yang berhasi meraih mimpinya, mampu menjadi versi terbaik dirinya sendiri, punya tujuan hidup dan menjalani tujuan hidupnya serta yang terpenting mempunyai makna dan memberikan kebaikan di setiap hari dalam kehidupannya, baik dalam karier, keluarga, maupun dirinya sendiri.”

Bersyukur, berdoa, bersabar menjadi kiat sukses dr. Ruru dalam menjalani kariernya sebagai Dokter Spesialis Bedah Anak. Satu prinsip yang dipegang teguh bahwa ia ingin menyelamatkan kehidupan anak-anak Indonesia, memberikan mereka harapan untuk mencapai mimpi masa depan yang masih panjang.

Dokter Ruru sangat mengidolakan Ibu Tien Soeharto yang sederhana namun berwibawa, setia mendampingi suami sejak awal karier sampai selama masa kepresidenan, “Beliau juga sangat peduli terhadap budaya, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan memiliki peran besar dalam berbagai kegiatan sosial dan pembangunan. Beliau adalah inspirasi bagi perempuan Indonesia untuk tetap berperan aktif di masyarakat,” jelas dr. Ruru yang hobi bernyanyi dan traveling.

Sementara dari mancanegara, sosok inspiratif bagi dr. Ruru adalah Ratu Elizabeth I, salah satu ratu paling terkenal dalam sejarah Inggris. Ia memerintah dari tahun 1558 hingga 1603 dalam periode masa keemasan Inggris. “Ratu Elizabeth I dikenang sebagai pemimpin perempuan yang kuat di dunia patriarki, simbol kecerdasan, strategi, dan keberanian. Bukti bahwa perempuan mampu memimpin bangsa besar,” tandas dr. Ruru yang juga hobi berolahraga dan menonton pertunjukan theater serta kuliner.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top