Cover Story

Karina Rasmita Sembiring, ‘Kartini’ Berdaya: Berani Bersuara, Bertumbuh dan Berkembang, Berkarya untuk Perubahan

MajalahKebaya.com, Jakarta – Karina Rasmita Sembiring adalah President Director Focus Inter Media, seorang motivator dan profesional instruktur skala Nasional dan International dan praktisi komunikasi yang berfokus pada Konsultan Bisnis, Pendidikan, Lembaga Pelatihan Pengembangan Diri dan Kepemimpinan, serta industri kreatif berbasis teknologi serta penulisan dan penerbitan buku.

Tak hanya itu, perempuan berdarah Batak ini juga aktif sebagai trainer dan public speaker, yang berinteraksi langsung dengan berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, profesional muda, hingga para pemimpin organisasi. “Fokus saya adalah membantu orang lain menemukan potensi terbaik dalam dirinya, membangun kepercayaan diri, serta berani melangkah melampaui batas yang selama ini mereka anggap sebagai penghalang.”

DIALOG: Menguasi Diri & Membangun Pengaruh

Saat ini, Karina juga sedang menyiapkan peluncuran sebuah buku berjudul DIALOG yang akan resmi rilis pada 21 April 2026 bertepatan dengan Hari Kartini. Buku ini berisi kumpulan refleksi, motivasi, dan percakapan batin yang lahir dari pengalaman serta perjalanan yang dekat dengan realitas banyak orang, tentang luka, proses, dan keberanian untuk tetap bertumbuh.

DIALOG diharapkan tidak hanya menjadi sebuah bacaan, tetapi juga ruang bagi pembaca untuk berdialog dengan dirinya sendiri, menemukan makna, memulihkan, dan melangkah kembali dengan lebih utuh. Buku ini akan tersedia dengan harga Rp210.000/exp, sebagai investasi kecil untuk perjalanan besar dalam mengenal dan memahami diri sendiri.

“Penerbitan buku DIALOG ini bukan semata-mata sebuah karya komersial biasa. Hasil penjualan buku ini sebagian akan disumbangkan kepada Yayasan Focus Karya Bangsa, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dalam pemberdayaan SDM & SDA di Indonesia,” ujar Karina yang gemar menulis sejak kecil.

Dana hasil penjualan buku tersebut akan diperuntukkan bagi Perempuan Pekerja Migran Indonesia (PMI Perempuan) yang menghadapi berbagai tantangan dan kerentanan di perantauan; perempuan di daerah terpencil dan tertinggal di seluruh wilayah Indonesia yang masih minim akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi; perempuan di lapas & rutan seluruh Indonesia; program literasi dan penguatan kapasitas perempuan dalam rangka menyambut dan memperingati Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April.

Karina menguraikan sinopsis buku DIALOG yang merupakan undangan untuk berdialog dengan diri sendiri, -sebuah perjalanan pulang menuju keutuhan yang dimulai dari keberanian jujur pada luka dan kelelahan yang selama ini disembunyikan. Dengan kerangka DIALOG, Karina Sembiring membedah secara mendalam bagaimana menguasai diri sebelum berbicara, karena kekuatan sejati bukan pada kerasnya suara, melainkan pada ketenangan sebelum bereaksi.

Dari pengalaman pribadinya tentang hancur dan bangkit, Karina memandu pembaca, khususnya para perempuan, untuk mengenali emosi, membangun stabilitas, menyelaraskan ucapan dan tindakan, serta mengekspresikan diri dengan elegan. Buku ini menjelajahi berbagai dimensi kehidupan: pola pikir bertumbuh, kepemimpinan perempuan yang berkelas, dinamika keluarga dan cinta, krisis makna di usia 30-40 tahun, hingga pentingnya kecerdasan emosional dalam kepemimpinan.

“Lebih dari sekadar motivasi, DIALOG adalah ruang sunyi untuk berefleksi, sekaligus panduan strategis bagi siapa pun yang ingin bertumbuh tanpa kehilangan jati diri. Pada akhirnya, buku ini mengajarkan bahwa menjadi utuh bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang berani hadir sepenuhnya dalam setiap peran dengan kesadaran yang jernih dan ketenangan yang berkelas,” tegasnya.

Buku ini lahir dari pengalaman, perenungan, serta interaksi Karina dengan banyak individu yang sedang berjuang dalam diam. Harapannya, DIALOG bisa menjadi teman bagi siapa pun yang sedang mencari arah, kekuatan atau sekadar ingin merasa tidak sendirian dalam proses hidupnya. “Bagi saya, pekerjaan dan karya yang saya lakukan hari ini bukan hanya tentang profesi, tetapi tentang bagaimana saya bisa meninggalkan makna,” tegas perempuan yang sedang menyelesaikan pendidikan di Institute of Business Law and Management (IBLAM) ini.

Catatan Penulis

Kontemplasi Sunyi

Dalam hidup saya, pernah ada masa

di mana semuanya terlihat baik-baik saja…

namun tidak ada yang benar-benar utuh di dalam.

Saya tersenyum,

berbicara seperti biasa,

menjalankan peran tanpa jeda—

seolah tidak ada yang terjadi.

Tetapi di antara sunyi

dan malam-malam yang terlalu panjang,

ada percakapan yang tidak pernah selesai.

Percakapan dengan diri sendiri.

Tentang lelah yang saya sembunyikan.

Tentang harapan yang terlalu tinggi saya bebankan pada diri sendiri.

Tentang keinginan untuk terlihat kuat—

padahal diam-diam,

saya hanya ingin dipeluk… oleh diri saya sendiri.

Saya pernah hancur.

Bukan hanya karena keadaan,

tetapi karena saya terlalu lama menahan semuanya sendirian.

Dan di titik itu,

saya belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun:

Bahwa tidak semua luka harus disembunyikan.

Bahwa tidak semua air mata adalah kelemahan.

Bahwa hancur… bukan akhir dari siapa kita.

Buku ini lahir dari serpihan-serpihan itu.

Dari percakapan yang jujur.

Dari keheningan yang akhirnya berani saya dengarkan.

DIALOG bukan sekadar tulisan.

Ia adalah perjalanan.

Perjalanan seorang perempuan

yang berhenti menyalahkan dirinya sendiri,

yang belajar memeluk luka tanpa membencinya,

yang mengerti bahwa kedewasaan

bukan tentang terlihat kuat—

tetapi tentang berani jujur pada apa yang sedang dirasakan.

Saya, Karina Sembiring,

menulis bukan sebagai seseorang yang sempurna,

tetapi sebagai perempuan yang memilih untuk bangkit

meski berkali-kali merasa runtuh.

Saya memilih untuk berdiri kembali.

Saya memilih untuk membangun diri saya sendiri.

Dan saya memilih untuk tidak bergantung

pada siapa pun selain kekuatan yang saya temukan di dalam diri.

Perjalanan itu membawa saya

pada dunia pendidikan dan pengembangan diri—

bukan hanya sebagai profesi,

tetapi sebagai jalan pulang.

Jalan untuk mengenal diri.

Jalan untuk bertumbuh.

Jalan untuk kembali utuh… dengan cara yang baru.

Saya percaya,

setiap perempuan memiliki ruang sunyi

yang tidak pernah ia tunjukkan kepada dunia.

Di ruang itulah,

keputusan besar lahir.

Di ruang itulah,

karakter ditempa.

Di ruang itulah,

kita memilih…

tetap berpura-pura kuat,

atau benar-benar menjadi kuat.

Dan sering kali, perubahan tidak datang dari luar.

Ia datang dari satu momen hening—

ketika kita akhirnya jujur pada diri sendiri:

Bahwa kita lelah.

Bahwa kita takut.

Bahwa kita ingin lebih.

Bahwa kita pantas hidup dengan tenang.

Buku ini adalah undangan.

Untuk berhenti sejenak.

Untuk bernapas lebih dalam.

Untuk membaca dengan hati, bukan hanya dengan pikiran.

Dan yang paling penting—

untuk berdialog… tanpa penonton.

Kepada setiap perempuan yang membaca ini,

yang sedang berjuang dalam diam,

yang sedang belajar berdiri kembali setelah jatuh…

Ketahuilah,

Anda tidak sendiri.

Dan Anda tidak harus menunggu siapa pun

untuk menjadi kuat.

Karena kekuatan itu…

sudah ada di dalam diri Anda.

Jika suatu hari,

Anda menemukan satu kalimat di buku ini

yang terasa seperti suara hati Anda sendiri—

mungkin sejak awal,

kita memang sedang mengalami dialog yang sama.

Karena pada akhirnya,

hidup tidak berubah ketika dunia mendengar kita…

hidup berubah

ketika kita berani mendengar diri kita sendiri.

Dengan penuh kejujuran dan harapan,

untuk setiap perempuan yang sedang berjuang…

Pada akhirnya, hidup tidak pernah benar-benar tentang apa yang terjadi di luar diri kita.

Ia selalu kembali…

pada bagaimana kita berbicara dengan diri sendiri.

Buku ini tidak lahir dari kesempurnaan.

Ia lahir dari percakapan yang tidak pernah selesai—

dari luka yang tidak selalu terlihat,

dari kelelahan yang tidak selalu bisa dijelaskan,

dan dari usaha untuk tetap berdiri,

meskipun tidak selalu kuat.

Saya tidak menulis buku ini untuk mengajarkan Anda menjadi seseorang yang baru.

Saya menulis buku ini…

untuk mengingatkan Anda,

bahwa versi paling utuh dari diri Anda

sudah selalu ada.

Ia hanya tertutup oleh suara-suara yang terlalu bising,

oleh ekspektasi yang terlalu berat,

dan oleh dialog yang selama ini tidak pernah Anda sadari.

Jika ada satu hal yang ingin saya tinggalkan dari buku ini,

bukanlah motivasi…

tetapi kesadaran.

Bahwa saat Anda mulai jujur pada diri sendiri,

saat Anda mulai mendengar tanpa menyangkal,

saat Anda mulai berdamai tanpa berpura-pura—

di situlah hidup Anda benar-benar berubah.

Tidak selalu cepat.

Tidak selalu mudah.

Tetapi… nyata.

Terima kasih telah sampai sejauh ini.

Dan jika suatu hari Anda merasa kehilangan arah,

jangan buru-buru mencari jawaban di luar.

Pulanglah sejenak ke dalam diri.

Karena seringkali,

yang Anda butuhkan bukan jawaban baru…

melainkan dialog yang lebih jujur dengan diri sendiri.

Karina Rasmita Sembiring

(DIALOG bukan buku tentang bagaimana berbicara.

Ini adalah buku tentang bagaimana menjadi pribadi yang layak untuk didengar.

DIALOG adalah perjalanan untuk mengenal diri, menenangkan emosi, dan membangun kekuatan yang tidak berisik— tetapi berpengaruh)

Memberdayakan Perempuan

Di luar aktivitas utama, Karina juga menjalankan berbagai kegiatan yang masih selaras dengan passion-nya, yaitu pengembangan diri dan pemberdayaan perempuan. Ia aktif mengembangkan kelas-kelas pelatihan, mulai dari public speaking, personal branding, hingga leadership. Selain itu, Karina juga terlibat dalam dunia beauty dan grooming, termasuk mengelola kelas make up dan pengembangan kepercayaan diri perempuan melalui penampilan.

Tidak hanya itu, Karina juga memiliki ketertarikan di bidang kesehatan dan kebugaran, sehingga ia pun aktif sebagai instruktur Zumba (ZIN). Baginya, ini bukan sekadar olahraga, tetapi bagian dari caranya mengajak orang lain untuk mencintai diri mereka sendiri, secara fisik maupun mental.

Karina juga membekali diri dengan ilmu bela diri sehingga tak ragu melindungi orang lain dalam situasi genting. “Saya tidak setuju kalau perempuan disebut lemah. Perempuan itu harus punya pertahanan, baik fisik maupun mental,” katanya dengan mantap.

Menjadi pemimpin perusahaan sekaligus penggerak sosial tak membuat Karina berhenti menantang dirinya sendiri. Di usia matang, ia justru semakin aktif bergabung dengan berbagai komunitas, dari yang berskala lokal hingga internasional.

“Di sisi lain, saya juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan komunitas, khususnya yang berfokus pada pemberdayaan perempuan. Semua ini berjalan seiring dengan proses kreatif saya dalam menulis buku DIALOG, karena banyak cerita, pengalaman dan pertemuan dengan berbagai karakter manusia yang akhirnya menjadi bahan refleksi dalam tulisan tersebut. Saya percaya bahwa setiap aktivitas yang kita jalani, sekecil apa pun, selalu memiliki kontribusi dalam membentuk siapa kita dan apa yang bisa kita bagikan kepada orang lain,” papar Redaktur media online Focusitm News ini.

Bagi Karina, bergabung dengan komunitas bukan hanya soal perluasan jaringan, tapi juga pembuktian bahwa ia bisa memberi manfaat di mana pun berada. “Efeknya tentu besar. Tapi yang utama bagi saya adalah tetap menjadi orang yang bermanfaat. Itu efek terbaik.”

Ia menyebut, melalui komunitas-komunitas itu pula, jejaring bisnisnya berkembang secara organik. “Silaturahmi itu rezeki. Bertemu orang baru itu rezeki. Saya menerima kritik, masukan, bahkan tantangan dari komunitas seperti Zumba yang ternyata bisa memberikan dampak besar. Apalagi jika datang dari jejaring yang lebih luas, tentu efeknya bisa jauh lebih besar,” ucapnya.

Keterlibatannya dalam berbagai jejaring yang luas dan kredibel turut membentuk perjalanan bisnis yang ia bangun hari ini. Melalui proses yang konsisten dan penuh kesadaran, perusahaannya kini tumbuh dengan fondasi yang kuat dan berkelanjutan. “Kami dapat penghargaan sebagai penyedia layanan digital terpercaya. Validasi konten kami jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Dan semua ini, berawal dari keberanian membuka diri dan mau belajar dari siapa pun.”

Beberapa prestasi membanggakan diraih Karina antara lain dari 5 Pilar Media atas dedikasinya dalam bidang pendidikan dan layanan digital, ia dinobatkan sebagai Sosok Inspiring yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui inovasi dan kepemimpinan.

Karina juga meraih penghargaan Asian Most Creativity Women Leadership Award, sebuah apresiasi atas kreativitas dan kepemimpinannya di tingkat Asia. Sebelumnya, ia juga meraih ASEAN The Best Inspiring Woman Award, menandai pengakuan yang terus meningkat dari skala regional ke tingkat Asia yang lebih luas.

Di tengah segudang aktivitas dan prestasi, Karina menyimpan mimpi besar yang sangat mulia. Ia ingin suatu hari nanti mendirikan sekolah yang memberikan beasiswa penuh bagi anak-anak yang memiliki skill, semangat, dan potensi besar untuk berkembang.

Semangat Kartini Masa Kini

Karina menilai perempuan Indonesia masa kini adalah sosok yang sedang mengalami transformasi besar, bukan hanya secara peran, tetapi juga cara berpikir dan cara memandang dirinya sendiri. Hari ini, perempuan tidak lagi hanya ditempatkan dalam satu definisi. Mereka adalah individu yang memiliki kebebasan untuk memilih, menentukan arah hidup, dan membangun identitasnya sendiri.

“Kita melihat perempuan yang berani bersuara, berani mengambil risiko, dan tidak takut untuk gagal. Namun yang paling penting, perempuan Indonesia masa kini mulai menyadari bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang terlihat hebat di luar, tetapi tentang mengenal dan menerima dirinya di dalam. Ini juga yang banyak saya angkat dalam buku DIALOG, -bahwa sering kali, perjuangan terbesar perempuan bukan melawan dunia, tetapi melawan keraguan dalam dirinya sendiri,” tandasnya.

Karina melihat perempuan hari ini adalah mereka yang terus belajar, terus bertumbuh, dan terus mencari makna dalam setiap proses hidupnya. “Sebagai perempuan, kita sering kali memegang banyak peran sekaligus. Maka kesuksesan bukan tentang menjadi sempurna di semua peran, tetapi tentang bagaimana kita bisa menjalaninya dengan utuh tanpa kehilangan diri kita sendiri. Dan pada akhirnya, kesuksesan sejati adalah ketika kita bisa menjadi bermanfaat bagi orang lain, karena hidup yang bernilai bukan hanya tentang apa yang kita capai, tetapi tentang apa yang kita berikan.”

Bagi Karina, kesuksesan adalah sesuatu yang sangat personal. Ia tidak bisa diseragamkan, apalagi dibandingkan. Kesuksesan adalah ketika seorang perempuan mampu hidup dengan kesadaran penuh mengetahui siapa dirinya, apa yang ia perjuangkan, dan mengapa ia memilih jalan tersebut. Sukses bukan hanya tentang pencapaian yang terlihat, tetapi tentang ketenangan yang dirasakan.

“Dalam perjalanan saya, termasuk saat menulis DIALOG, saya menyadari bahwa banyak orang terlihat kuat di luar, tetapi rapuh di dalam. Maka bagi saya, kesuksesan juga berarti mampu berdamai dengan diri sendiri, menerima luka, dan tetap memilih untuk melangkah,” terang ibu dari Deary, Davi dan Cleo ini.

Satu kata yang paling menggambarkan semangat Kartini dalam diri Karina adalah ‘Berdaya’.  Berdaya bukan hanya tentang menjadi kuat, tetapi tentang memiliki keberanian untuk mengenal diri sendiri, menerima proses, dan tetap bergerak meskipun tidak selalu mudah. “Semangat Kartini juga saya maknai sebagai keberanian untuk bersuara, termasuk bersuara kepada diri sendiri. Dalam DIALOG, saya banyak menuliskan tentang percakapan batin, karena saya percaya perubahan besar selalu dimulai dari sana.”

Karina menegaskan, berdaya juga berarti tidak berjalan sendiri. Seorang perempuan yang benar-benar kuat adalah mereka yang mampu menguatkan perempuan lain, membuka jalan, dan menciptakan ruang bagi lebih banyak suara untuk didengar. Karena pada akhirnya, semangat Kartini bukan hanya tentang perjuangan masa lalu, tetapi tentang bagaimana kita melanjutkan perjuangan itu hari ini, dengan cara kita masing-masing.

Karina Rasmita Sembiring

Where Power Is Not Performed, But Lived

Perempuan yang Membangun Kesadaran

Karina Rasmita Sembiring berada pada sebuah spektrum kepemimpinan yang tidak bising, namun memiliki resonansi yang dalam. Ia tidak mendefinisikan kekuatan melalui dominasi, melainkan melalui kemampuan untuk memimpin dirinya sendiri—sebelum memimpin orang lain.

Di dunia yang mengukur kesuksesan melalui kecepatan, skala, dan visibilitas, Karina justru memilih pendekatan yang lebih membangun fondasi manusia. Sebagai President Director Focus Inter Media, ia tidak sekadar mengembangkan entitas bisnis di bidang konsultasi, pelatihan kepemimpinan, pengembangan diri, serta penulisan dan penerbitan buku. Ia merancang ekosistem, -di mana performa tidak dipisahkan dari kesadaran, dan pencapaian tidak mengorbankan keutuhan.

“Leadership tanpa kesadaran hanya akan menciptakan struktur yang rapuh,” ujarnya. Kalimat itu merangkum filosofi kerjanya:

  • Bahwa kualitas manusia adalah infrastruktur paling mendasar dalam setiap sistem.

Namun perjalanan Karina tidak berhenti pada ranah korporasi. Melalui Focus ITM.News, ia masuk ke ruang yang lebih luas, -membaca dinamika sosial, menyaring informasi, dan menjaga integritas narasi di tengah arus digital yang semakin kompleks. Di sisi lain, melalui Yayasan Fokus Karya Bangsa, ia menapaki dimensi yang lebih sunyi: bekerja dengan perempuan dan anak di dalam lapas, rutan, serta komunitas pekerja migran.

Di titik ini, kepemimpinan Karina tidak lagi bersifat structural, tetapi eksistensial. Ia tidak sekadar memberi solusi. Ia menghadirkan ruang untuk kembali mengenali diri. “Ketika seorang perempuan kehilangan arah, yang ia butuhkan bukan selalu jawaban, tetapi keberanian untuk kembali melihat dirinya sendiri.”

Perspektif ini tidak lahir dari teori semata, melainkan dari per jalanan panjang yang ia jalani secara sadar. Di tengah berbagai peran yang ia emban: sebagai pemimpin, pendidik, penggerak sosial, hingga ibu dari tiga anak, Karina tetap mempertahankansatu disiplin yang sederhana namun fundamental: pembaruan diri. Ia membaca. Ia belajar. Ia mempertanyakan.

Disiplin membaca minimal satu jam setiap hari bukan sekadar kebiasaan, melainkan bentuk komitmen intelektual. Hingga kini, ia terus memperdalam ilmunya, termasuk melalui pendidikan di IBLAM, sembari memperkaya dirinya dengan berbagai sertifikasi nasional dan internasional, -dari kepemimpinan hingga estetika personal sebagai Mentor Grooming Attitude dan Make Up Artist, Communication Skill.

Di balik pencapaian tersebut, terdapat prinsip yang jarang dipertontonkan, tetapi konsisten dijalankan: Bahwa kredibilitas tidak dibangun dari eksposur, melainkan dari integritas yang berulang. Ia tidak mengejar validasi. Ia membangun kapabilitas. Dan dari sana, pengakuan datang sebagai konsekuensi, bukan tujuan. Menariknya, Karina tidak melihat dirinya sebagai sosok yang telah ‘selesai’.

Meski telah meraih banyak penghargaan dari berbagai sektor, Karina tetap berpijak pada satu nilai: integritas. Baginya, kredibilitas tidak dibangun dari pencitraan, tetapi dari konsistensi. Justru di fase hidup yang matang, ia semakin aktif mengeksplorasi berbagai dimensi, -termasuk melalui dunia olahraga. Sebagai Zumba Instructor, ia memahami bahwa tubuh bukan hanya wadah, tetapi bagian dari ekspresi kes adaran itu sendiri. Keseimbangan antara intelektualitas, fisik, dan spiritualitas menjadi arsitektur hidup yang ia jalani.

  • On Indonesian Women: Beyond Roles, Toward Awareness
  • Dalam lanskap sosial yang terus berubah, perempuan Indonesia berada pada titik transisi yang krusial.

Mereka tidak lagi sekadar menjalankan peran yang diwariskan. Mereka mulai mendefinisikan ulang identitasnya. Ini bukan proses yang instan, melainkan sebuah dekonstruksi yang seringkali sunyi dan tidak terlihat. Perempuan masa kini, menurutnya, bukan perempuan yang tanpa konflik. Melainkan perempuan yang berani menghadapi konflik internalnya.

“Kesadaran adalah bentuk kekuatan tertinggi, karena dari sana, semua pilihan menjadi lebih jujur.”

Redefining Success: The Integrity of Being Whole

Dalam narasi mainstream, kesuksesan sering direduksi menjadi angka, posisi, atau pengakuan. Karina melihatnya secara berbeda. Kesuksesan adalah integritas antara diri internal dan ekspresi eksternal. Sebuah kondisi di mana tidak ada lagi fragmentasi antara siapa kita dan bagaimana kita hidup. Ia menolak dikotomi antara ‘berhasil’ dan ‘bahagia’. Baginya, keduanya bukan pilihan, melainkan hasil dari kesadaran yang selaras. “Perempuan yang utuh tidak mudah goyah, karena ia tidak bergantung pada sesuatu di luar dirinya untuk merasa cukup.”

Keutuhan sebuah kondisi di mana seorang perempuan tidak lagi terpecah antara siapa dirinya dan siapa yang ingin ia tampilkan. Ia berdamai dengan masa lalu. Ia jujur pada dirinya. Dan ia hidup selaras dengan nilai yang ia yakini. Dalam dunia yang penuh tuntutan, definisi ini terasa radikal, namun justru di situlah letak kejujurannya.

One Word: Consciousness

Jika semangat Kartini harus direduksi menjadi satu kata dalam konteks modern, Karina memilih:

Consciousness.

Karena dari kesadaran, seorang perempuan mulai melihat dirinya tanpa ilusi. Dari kesadaran, lahir keberanian untuk berubah. Dan dari keberanian, tercipta kehidupan yang tidak lagi dikendalikan oleh keadaan.

Karena di era ini, perjuangan bukan lagi sekadar akses, melainkan kedalaman. Bukan lagi tentang membuka pintu, tetapi tentang memahami ke mana kita ingin melangkah setelah pintu itu terbuka. Kesadaran menjadi bentuk emansipasi yang paling relevan, karena ia membebaskan perempuan dari batasan yang tidak selalu terlihat, tetapi seringkali paling membatasi: dirinya sendiri.

Noted:

Karina Rasmita Sembiring tidak menawarkan definisi baru tentang perempuan. Ia menawarkan sesuatu yang lebih esensial: sebuah undangan untuk kembali. Kembali pada diri. Kembali pada kesadaran. Kembali pada keutuhan. Dan mungkin, di situlah letak kekuatan yang sebenarnya, bukan pada apa yang kita capai, tetapi pada siapa kita saat mencapainya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top