Cover Story

Hj. Nawal Arafah Yasin, M.S.I, Srikandi Muslimah yang Mengabdi untuk Jawa Tengah

MajalahKebaya.com, Jakarta – Ratusan tahun lalu mungkin hanya ada R.A Kartini yang menjadi pelopor kemajuan Wanita Indonesia. Seiring berjalan waktu bermunculan srikandi-srikandi dari berbagai penjuru Indonesia yang kiprahnya layak disebut sebagai Kartini masa kini. Adalah Hj Nawal Arafah Yasin yang akrab disapa dengan Ning Nawal, Istri dari Wakil Gubernur Jawa Tengah H. Taj Yasin Maimoen ini, adalah Srikandi Muslimah yang visi dan misinya sangat menginspirasi dan mampu membawa perubahan bagi kaum wanita khususnya di daerah Jawa Tengah.

Aktif di Berbagai Kegiatan Pemberdayaan dan Majelis Ilmu

Wanita kelahiran Cirebon 3 Agustus ini, menuturkan bahwa ia terbiasa menjalankan banyak aktivitas. Ning Nawal menjalankan berbagai kegiatan dalam rangka menjalankan amanah, tugas dan fungsinya sebagai Ketua beberapa organisasi/lembaga yang melekat sebagai peran isteri Wakil Gubernur di antaranya adalah  Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Ketua TP Posyandu Provinsi Jawa Tengah, Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Tengah, dan Ketua BKOW Provinsi Jawa Tengah. Selain itu Ning Nawal  juga menjalankan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi yang diberikan Pemerintah Pusat sebagai Bunda PAUD Provinsi Jawa Tengah, dan Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah.

Aktivitas penting kedua adalah tentu kegiatan-kegiatan yang terkait dengan posisinya sebagai ibu dari keempat anaknya. Seperti menemani bermain, bercerita, belajar atau mendampingi pendidikan mereka, berkumpul bersama keluarga, berekreasi dan sebagainya. “Meskipun sesibuk apapun, saya harus tetap menyadari dan melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab saya sebagai orang tua dan ibu dari anak-anak saya,” ungkap Dosen Tetap di Sekolah Tinggi Agama Islam Al Anwar Sarang Rembang ini.

Bersamaan dengan itu, Ning Nawal juga terus melakukan kegiatan-kegiatan terkait posisinya sebagai isteri orang nomor 2 di Jawa Tengah, seperti mendampingi suami dalam sejumlah aktivitas saat membersamai Masyarakat. Contohnya  seperti kunjungan ke masyarakat yang terdampak bencana seperti banjir, longsor, tanah gerak dan sebagainya, atau kunjungan ke desa-desa atau ke keluarga miskin atau miskin ekstrim untuk mendengarkan kepentingan/kebutuhan mereka serta mengupayakan dukungan yang diharapkan masyarakat dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Selanjutnya  kegiatan-kegiatan Ning Nawal  selaku pengasuh pondok pesantren Al-Anwar IV Sarang, Rembang, serta Dosen di STAIN Al-Anwar Rembang, seperti kegiatan mengajar santri dan mengajar mahasiswa. “Saya berusaha untuk istikomah mengajar santri-santri meski harus bolak-balik dari Semarang ke Rembang. Bahkan dengan Dharma Wanita UNDIP kami ada ngaji hadist rutin 2 minggu sekali,” tutur Ning Nawal. Selain itu ia juga masih aktif mengisi pengajian atau penceramah di majelis-majelis ilmu masyarakat dan berbagai kalangan seperti dari Muslimat, Fatayat, Aisiyah, Takmir Masjid, Kampus/Perguruan Tinggi, PKK dan sebagainya.

Peka dengan Masalah Krusial di Masyarakat

Peran Ning Nawal sebagai Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, TP Posyandu Provinsi Jawa Tengah, Dekranasda Provinsi Jawa Tengah, dan BKOW Provinsi Jawa Tengah, serta Bunda PAUD Provinsi Jawa Tengah, dan Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah membuat dirinya menyadari bahwa ada beberapa isu krusial yang terkait dengan kesejahteraan keluarga, pemberdayaan dan pelindungan perempuan dan anak, layanan PAUD dan literasi. Salah satunya adalah ingginya kasus KDRT, Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), Trafficking/TPPO, kekerasan terhadap anak, perkawinan anak dan perceraian.

Berdasarkan data Catatan Komnas Perempuan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan dan kasus kekerasan terhadap anak di Jawa Tengah selalu menunjukkan angka tertinggi kedua atau tertinggi ketiga secara nasional. Kasus perceraian di Jawa Tengah juga masih tinggi meskipun ada tren penurunan selama 5 tahun. Tahun 2025 kasus perceraian tercatat ada 67.500 kasus.

Meningkatnya kasus kekerasan dan bullying di pesantren dan sekolah-sekolah baik sekolah negeri maupun sekolah milik masyarakat juga menarik perhatian Ning Nawal. Selain itu ada pula kasus kematian ibu, bayi, balita dan stunting. Meskipun di Jawa Tengah tren kasus telah menurun paska Covid-19 dan sudah di bawah angka nasional, namun angkanya masih tinggi, misalnya tahun 2021 angka AKI di Jateng mencapai 1.011. “Alhamdulillah melalui berbagai program di antaranya Speling Melesat (Spesialis Keliling) dan program KENCAN BUMIL (Kenali dan Cek Kesehatan Ibu Hamil) angka tersebut turun siginifikan meski di tahun 2025 tercatat masih ada 337 kasus kematin ibu.

Kemudian ada isu kemiskinan keluarga karena pendapatan yang rendah, kurangnya akses pekerjaan formal, ketrampilan usaha ekonomi yang minim, serta kurangnya literasi  keuangan dan perbankan. Selanjutnya masalah akses layanan PAUD berkualitas yang belum merata di Jawa Tengah khususnya di perdesaan, daerah miskin dan perbatasan dengan Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur. Angka partisipasi kasar (APK) PAUD Jawa Tengah tahun 2024 itu hanya 47,65% (BPS), kemudian Ning Nawal beserta jajarannya melakukan berbagai usaha kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk dengan BBPMP Jawa Tengah, UNS, UNDIP, IGTKI, Himpaudi dan CSR sehingga di akhir tahun 2025, APK PAUD naik hampir di angka 60% (Dapodik).

Ada pula isu-isu terkait kebencanaan, penanganan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan khususnya di daerah pesisir pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah. Tahun 2025, masyarakat Jawa Tengah mengalami ujian yang sangat berat karena mengalami berbagai bencana, seperti banjir karena rob (air permukaan laut naik) atau karena curah hujan lebat, bendungan sungai jebol, tanah longsor, tanah gerak, angin puting beliung dan sebagainya. Kondisi ini memengaruhi kemiskinan dan kesejahteraan keluarga serta kelompok-kelompok rentan seperti perempuan, anak, penyandang disabilitas, lansia khususnya yang hidup di wilayah bencana. Dalam setiap bencana, perempuan, anak, peyandang disabilitas serta lansia adalah kelompok yang paling banyak terdampak karena sebagian besar aktivitasnya berada di rumah.

Terakhir masalah sampah, khususnya pengelolaan sampah rumah tangga. Tahun 2025 diperkirakan sampah di jawa Tengah rata-rata per tahun mencapai 6 juta ton sampah atau 17.000 ton sampah per hari dan mayoritas sampah tersebut dari rumah tangga. Baru sekitar 41% sampah tersebut dikelola dengan baik sehingga Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur sangat sungguh-sungguh menangani permasalahan sampah ini untuk mendukung kebijakan Indonesia Zero Sampah dari Presiden Prabowo.

Luncurkan Aneka Program Unggulan Berkualitas untuk Masyarakat

Sebagai wujud konstribusi dalam menangani berbagai isu-isu yang ada, Ning Nawal meluncurkan beberapa program unggulan atau inovasi di antaranya:

Program Kader PERAK yaitu Kader Paralegal PKK Penggerak Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak. Tugasnya memberikan informasi hukum (Kadarkum) di Tingkat Desa atau Kecamatan, menerima pengaduan kasus KDRT, Trafficking/TPPO, TPKS, kekerasan terhadap anak, perkawinan anak, memberikan penanganan dasar kepada korban dan keluarganya, melakukan rujukan dan memberikan pendampingan kasus ke UPTD PPA, atau ke kepolisian, Puskesmas/RSUD, Psikolog, OPD terkait dan sebagainya. Program ini merupakan implementasi dari program PKK Pusat seperti KISAH (Keluarga Indonesia Sejahtera Harmonis), KILAS (Pembinaan Keluarga Indonesia Lindungi Anak dari Kekerasan Seksual), KIAT (Keluarga Indonesia Anti Trafficking) – KRISAN (Indonesia Sehat Tanpa Narkoba) dan KADARKUM.

Program RABU PON (Gerakan Ibu Menanam Pohon), adalah program yang menggerakkan penanaman pohon di area pekarangan rumah atau lahan-lahan kosong milik masyarakat atau milik desa untuk menambah serapan air, mencegah banjir dan longsor, mengurangi pemanasan global serta menambah gizi dan pendapatan keluarga karena yang ditanam bisa tanaman buah-buahan asli lokal atau tanaman obat-obatan. Program ini dilakukan juga dalam rangka mengimplementasikan program TP PKK Pusat seperti program Ketahanan Pangan Berbasis Masyarakat–Menuju Indonesia Emas (KETAPANGMAS), program Revitalisasi Rumah dan Tata Laksana Rumah Tangga Bersih, Sehat,  Rapi, dan Inovatif (REHARTA BERSERI) dan program Mageri Segoro serta Penghijauan dari Gubernur & Wakil Gubernur Jawa Tengah.

Program PKK SIGAB (PKK Siaga dan Tanggap Bencana) yang dilaksanakan di wilayah terdampak bencana dan potensial bencana untuk memperkuat kemampuan keluarga dan masyarakat terkait mitigasi kebencanaan, rehabilitasi sosial dan layanan kesehatan mental masyarakata terdampak bencana bekerja sama dengan Fakultas Psikologi UNDIP, RSUD dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak.

Program KAPULAGA (Kelompok Usaha Berbasis Keluarga) merupakan wadah kelompok usaha kecil menengah berbasis keluarga yang didampingi TP PKK Provinsi Jawa Tengah Alhamdulillah KAPULAGA sudah ada di beberapa kabupaten/kota dengan dukungan dari OPD terkait, BAZNAS dan Bank Jateng.

Program PANDU CINTA (Pelayanan Terpadu untuk Pencegahan & Penanganan Perkawinan Anak Jawa Tengah) yang terdiri dari Pengadilan Agama, Kanwil Kemenag, Dinkes, RSUD, Dinsos, Dinas Perempuan dan Anak, Dukcapil, MUI & Ormas Keagamaan, dan NGO Perempuan dan Anak serta program Kampanye “Jo Kawin Bocah” (Jangan menikah dengan anak). untuk pencegahan dan penanganan perkawinan anak yang mayoritasnya adalah anak-anak perempuan, ada program Pelatihan Keuangan bagi perempuan kepala keluarga, ada program bantuan RTLH bagi perempuan kepala keluarga tidak mampu, ada bantuan rumah-rumah apung bagi perempuan kepala keluarga tidak mampu yang tinggal di pesisir pantura khususnya di Sayung, Kabupaaten Demak.

Program KENCAN BUMIL (Kenali & Cek Kesehatan Ibu Hamil), merupakan program kolaborasi antara kader PKK, Kader POSYANDU, Tim Pendamping Keluarga (TPK), dan petugas kesehatan dalam pencegahan AKI, AKB, AKABA dan stunting dari mulai fase usia subur, pra nikah, kehamilan, persalinan dan paska persalinan. Program ini sedang diujicobakan di 4 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Bersama Dinkes, TP PKK, dan TP POSYANDU. Di dalamnya ada layanan cek USG gratis minimal 2 kali, layanan dokter spesialis keliling /SPELING, kelas ibu hamil untuk literasi kesehatan ibu dan anak, serta kopi darat ibu hamil atau jadwal khusus Bumil dan Dokter di Puskesmas.

Program GEMAH RIPAH (Gemar olah sampah, rizki keluarga melimpah) dengan program bank sampah, sedekah sampah, serta pengumpulan limbah jelantah rumah tangga untuk dijual (Jelantah jadi rupiah).

Sementara itu  di BKOW Provinsi Jawa Tengah Ning Nawal juga meluncurkan  program Pesantren PENAK (Pesantren Ramah Perempuan & Anak), program PAPUKI (Paguyuban Perempuan Usaha Kecil) yaitu wadah kelompok peremupuan usaha kecil dampingan BKOW Provinsi Jawa Tengah, Rembuk Perempuan Pesisir (untuk memperkuat suara, keteribatan dan pengaruh kelompok perempuan terdampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan di kawasan pesisir dalam pembangunan), program DESTARA (Desa Ramah Perempuan dan Anak), Sosialisasi HAM bagi pelajar atau sekolah ramah HAM dengan Kementerian HAM RI.

Program Unggulan /Inovasi selanjutnya adalah  Bunda PAUD Provinsi Jateng ada program PAUD EMAS (PAUD Berbasis Masyarakat), SEDULOR PAUD (Siji Deso Loro PAUD/Satu Desa Dua PAUD), program CILUKBA (Crito lan Dolanan Kaliyan Bapak) yaitu program yang dilbuat khusus untuk mengatasi masalah fatherless dalam pengasuhan anak usia PAUD dan program JATENG SAYANG PAUD (Jateng Semangat Nyokong PAUD).

Program Unggulan /Inovasi TP POSYANDU Provinsi Jawa Tengah ada program layanan kesehatan mental, pengaduan terpadu (Linmas, Babinsa, Babinkamtibmas, Satpol PP, Damkar & Peksos), RTLH,  mitigasi kebencanaan, Perpustakaan Desa & Pojok Literasi, Program Unggulan /Inovasi Bunda Literasi Provinsi Jateng ada program Silent Reading, Perpustakaan Desa, & Festival Literasi Terakhir Program Unggulan /Inovasi Dekranasda Jawa Tengah yaitu program untuk merevitalisasi gallery UMKM di Bandara Internasional A. Yani Semarang dan Galery Dekranasda, Jateng Modest Fest, dan Pameran di Luar Negeri.

Peduli Kesejahteraan Keluarga, Anak, Perempuan, Disabiltas, dan Perkembangan Budaya

Perjalanan yang kuat dalam Studi Islam dan latar belakang Ning Nawal yang tumbuh besar di lingkungan pesantren membuat ia merasa percaya diri dan yakin bahwa Agama dan Pesantren juga membawa misi keadilan, kesejahteraan dan penghormatan hak bagi anak dan wanita. Kompetensi dan kualifikasi Ning Nawal di bidang Agama Islam makin memberikan legitimasi ideologis, moral dan spiritual bagi gerakan pemajuan hak-hak anak dan wanita di lingkungan pesantren dan masyarakat.

Provinsi Jawa Tengah memiliki kekayaan wastra yaitu pakaian dan kain tradisional, kuliner dan kriya yang sangat beragam dan diminati pasar domestik maupun internasionl. Jawa Tengah memiliki batik, kain tenun troso khas Jepara, tenun lurik, kerajinan kayu dan rotan, seni ukir, kerajinan monel, keramik dan aksesories serta berbagai produk kerajinan modern lainnya, yang tidak hanya menjadi identitas daerah, namun juga menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.

Berdasarkan data Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kementerian Perindustrian 2024, Jawa Tengah tercatat sebagai Provinsi dengan produksi batik terbesar di Indonesia yaitu mencapai 2.229 unit produsen batik jauh melampaui jumlah produsen batik di provinsi lain. Alhamdulillah ekspor perajin batik Jawa Tengah di tahun 2024 mengalami kenaikan pesat sebesar 76%.

Batik, tenun troso dan tenun lurik telah menjadi inspirasi penting dalam pengembangan industry fesyen baik di pasar domestic maupun internasional. Banyak mode fesyen yang dikombinasikan dengan tenun torso dan tenun lurik khas Jawa Tengah sehingga menjadi unik, khas, otentik serta memberikan karakter dan identitas tersediri bagi pemakaianya.

Jawa Tengah memiliki 4,45 juta unit UMKM dan berada di posisi ketiga tertinggi di Indonesia setelah Jawa Barat dan Jawa Timur (Sistem Informasi Data Tunggal/SIDT-UMKM, 2025). Selain itu Jawa Tengah juga memiliki 3.459 sentra industri yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi kreatif daerah.

Untuk penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Tengah menjadi yang terbesar di Indonesia. Pada periode 2015 sampai 2025 penyaluran KUR di Jawa Tengah mencapai Rp361,36 triliun, dengan 10,31 juta debitur. Untuk Januari sampai Oktober 2025 saja penyaluran KUR mencapai sekitar Rp34,73 triliun.

Pada Tahun 2025, 5 UKM Jawa Tengah menjadi juara Dekranasda Awards 2025, yaitu : Selendang Batik Tulis Tambah 101 dari Kota Pekalongan; Koko Art Boomerang dari Kabupaten Sragen; Naruna Keramik dari Kota Salatiga; Madani Biola Bambu dari Kabupaten Kudus, dan Furniture Design dari Kabupaten Jepara. Prestasi ini adalah bukti majunya produk UMKM di Jawa Tengah.

Untuk wisata dan kuliner, Jawa Tengah juga tidak kalah dengan daerah lain. Jawa Tengah punya tujuan wisata yang sudah mendunia seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur dan Karimun Jawa. Ada wisata sejarah dan religi seperti Keraton Surakarta, Masjid dan Makam Sunan Kudus, Masjid Agung Demak, Makam Sunan Kalijogo, Makam Sunan Muria. Juga wisata berbasis alam yang digemari wisatawan domestik seperti Kawasan Dieng, Merapi, dan Rawa Pening.

Untuk kuliner, Jawa Tengah juga unggul dan sangat beragam. Ada Jenang Kudus, Lumpia Semarang, Wingko, Bandeng Presto, Tahu Bakso, Manisan Carica Wonosobo, Ikan Asap, Nasi Gandul Pati, Nasi Pindang Kudus, Soto Kudus, Soto Boyolali, Selat Solo, Tengkleng Solo, Nasi Liwet Solo, Serabi Solo, Tahu Gimbal Semarang, Nasi Grombyang Pemalang, Sate Kambing Muda Tegal, Tempe Mendoan Banyumas, Getuk Magelang, Es Dawet Banjarnegara, Lontong Tuyuhan Rembang, Nasi Tiwul Wonogiri, Nasi Jagung, Nasi Pecel Semarang, Enting-Enting Gepuk Salatiga, Wedang Ronde Salatiga, Sate Suruh Salatiga, Sego Megono Batang, Nasi Becek Grobogan dan sebagainya.

Inspirasi Menuntun Visi Misi

Dedikasi yang kini Ning Nawal jalani salah satunya terisnpirasi oleh orang tuanya khususnya Moro Sepuh alias Mertuanya sendiri  yaitu KH. Maimun Zubair serta guru-guru. “Tentu juga ya RA Kartini, beliau perempuan jawa dan santri yang sangat pintar, taat pada guru dan kedua orang tuanya. Beliau berjuang tidak hanya untuk dirinya atau keluarganya tetapi untuk Masyarakat dan khususnya seluruh perempuan melalui jalan pendidikan, menulis buku, membentuk mejelis/komunitas-komunitas ilmu dan pemberdayaan. Meskipun beliau Perempuan Jawa dan santri tetapi beliau berani menyuarakan nasib perempuan Jawa yang hidup di bawah kolonialisme,” papar peraih penghargaan Perempuan Inspirasi Indonesia atas Program Inovasi DESTARA (Desa Ramah Perempuan dan Anak) ini.

Sebagai perempuan yang juga berperan menjadi seorang istri dan ibu, Ning Nawal juga membutuhkan me time sebagai recharge energi dan kekuatan untuk kembali mengabdi dan berdedikasi kepada masyarakat. Hal pertama yang ia lakukan adalah berkumpul bersama-sama dengan suami dan anak-anak dan melakukan hal-hal menyenangkan seperti mengobrol dan bercanda dengan anak-anak, membaca buku serta mengunjungi saudara/keluarga khususnya orang tua. Ia juga sering berkumpul bersama komunitas pesantren untuk melakukan aktivitas favoritnya yaitu mengaji atau mengisi kajian bagi para santri.

Meskipun sibuk dengan seabrek kegiatan, Ning Nawal masih bisa mengaktualisasi diri dalam bidang pendidikan. “Alhamdulillah atas dorongan serta dukungan suami, anak-anak serta keluarga, saya masih bisa melanjutkan studi S3, kemudian ‘ngulang ngaji’ di pesantren kami serta di berbagai Majelis Taklim dan organisasi masyarakat. Alhamdulillah Allah SWT masih menganugerahi saya kekuatan untuk terus berkhidmah dalam ilmu, karena ini adalah pesan atau wasiat dari orang tua, moro sepuh (mertua) serta para guru-guru kami agar tidak putus/berhenti  mencari ilmu serta agar tidak meninggalkan ‘ngulang ngaji’ di pesantren dan di masyarakat,” ungkap syukur wanita penulis Buku ‘Pesantren Anti Bullying dan Kekesaran Seksual’ ini. AP

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top