MajalahKebaya.com, Jakarta – Profesi Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika bagi dr. Belinda Faustinawati penuh tantangan. Setiap hari wanita kelahiran Semarang, 26 Maret ini, dihadapkan pada beragam kasus dengan kompleksitas yang berbeda.
“Saya belajar bahwa setiap pasien datang dengan cerita yang berbeda, keluhan yang tidak selalu bisa dijelaskan hanya lewat buku teks, namun harus berjalan beriringan dengan ketelitian, kesabaran, dan kepekaan dalam menangkap detail klinis untuk memberikan diagnosis dan pengobatan yang akurat. Bagi saya ini berlaku baik untuk pasien dengan masalah kulit atau kelamin serta untuk pasien sehat yang ingin meningkatkan kualitas kulitnya secara estetik.”
Lulusan pendidikan Dokter Spesialis Kulit, Kelamin, dan Estetika/Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika ini, banyak belajar menggabungkan ilmu medis dengan sentuhan seni, menghadirkan perawatan yang tidak hanya aman dan efektif, tetapi juga natural dan sesuai dengan kebutuhan pasien.
“Saya juga belajar memahami bahwa di balik setiap kondisi yang terlihat, ada cerita pasien yang perlu didengarkan. Ada kekhawatiran, rasa tidak percaya diri, bahkan beban psikologis yang sering kali menyertai. Dari situlah saya mulai membangun cara pandang yang lebih holistik, bahwa menjadi dokter bukan sekadar menyembuhkan, tetapi juga mendampingi,” tandasnya.

Karier dr. Belinda sebagai Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika dimulai setelah ia menempuh pendidikan dokter selama 5,5 tahun (2013-2019), mengikuti program internsip dari Pemerintah selama 1 tahun (2019-2020), lalu bekerja sebagai Dokter Umum di Parakan, Kabupaten Temanggung selama 1 tahun (2020-2021). Kemudian ia melanjutkan studi Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika selama 3,5 tahun.
Selama menempuh pendidikan, internsip, dan bekerja sebagai Dokter Umum, banyak variasi kasus kulit dan kelamin yang dijumpa. Terutama saat ia bekerja sebagai Dokter Umum pernah menemui kasus kulit mengelupas pada bayi karena toksin bakteri (Staphylococcal Scalded Skin Syndrome), bercak putih autoimun pada kulit (vitiligo), cacar api pada anak yang menyebabkan asimetri wajah dan gangguan pendengaran (ramsay hunt syndrome) yang belum mendapatkan pengobatan memadai karena rendahnya kesadaran akan kesehatan kulit dan masih belum banyak Dokter Spesialis Kulit, Kelamin, dan Estetika pada saat itu. Selain itu banyak kasus infeksi menular seksual yang ada di tempat asal dr. Belinda yaitu di Kabupaten Temanggung yang turut menyumbang angka pengidap HIV/AIDS di Jawa Tengah. Hal inilah yang membuat dirinya terpanggil untuk memperbaiki kualitas kesehatan kulit di daerah tempat tinggalnya.
“Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis, kesibukan saya adalah berpraktik di RSK Ngesti Waluyo Parakan Temanggung, White and Young Dermatology Clinic Semarang, dan Elia Skincare Clinic Semarang. Saya juga aktif meningkatkan keilmuan dan pengembangan diri dengan mengikuti berbagai simposium dan workshop nasional maupun internasional untuk memastikan setiap perawatan yang saya berikan kepada pasien tetap optimal, efektif, aman, dan sesuai dengan bukti dan standar terbaru (Evidence Based Medicine). Saya juga senang berbagi pengalaman dan edukasi kesehatan kulit, kelamin, dan estetika kepada masyarakat dan melalui sosial media,” paparnya.
Perjalanan dr. Belinda berawal dari sebuah rasa penasaran yang sederhana. Ia sering bertemu pasien dengan keluhan kulit yang sekilas terlihat ‘ringan’ namun ternyata membawa dampak besar pada kehidupan mereka. Misalnya ada pasien yang kehilangan kepercayaan diri karena jerawat, kerontokan rambut, ada yang menarik diri dari lingkungan sosial karena penyakit kulit kronis yang tidak kunjung sembuh, dan lain sebagainya. Ternyata kesehatan kulit punya dampak yang sangat esensial dalam kehidupan individu.
“Ilmu kulit dan kelamin selalu memiliki daya tarik tersendiri. Berbeda dengan beberapa bidang lain, masalah pada kulit dapat langsung terlihat mata saat pertama kali bertemu pasien. Namun, justru di situlah letak tantangannya. Kelainan kulit bisa memiliki banyak variasi klinis dan sering kali tampak serupa, tetapi memiliki makna berbeda sehingga diperlukan kejelian, ketelitian, seni, pengalaman, dan kepekaan dalam membaca detail kecil. Hal inilah yang menjadi tantangan dan semangat bagi saya untuk terus memperdalam ilmu sehingga bisa memberikan diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat bagi pasien secara personal,” ungkapnya.
Ketertarikan dr. Belinda pada bidang estetika muncul dari pengalaman melihat bagaimana kesehatan kulit dan penampilan dapat berdampak langsung pada interaksi sosial, produktivitas, dan rasa percaya diri seseorang. Dari sinilah ia melihat estetika sebagai jembatan antara ilmu medis dan seni, yang memungkinkan pasien merasa lebih baik dan mampu mengekspresikan versi terbaik diri mereka, tidak hanya dari kesehatan kulit, tetapi juga dari sisi psikologis.
“Saya ingin menjadi bagian dari transformasi itu dengan meningkatkan kualitas kulit secara maksimal, memberikan hasil natural, dan personalized untuk setiap pasien. Estetika bukan sekadar mempercantik atau mengubah penampilan, tetapi bagaimana memulihkan harapan dan kualitas hidup seseorang,” tandasnya.
Prospek dan Tantangan
Dokter Belinda meyakini kesehatan kulit, kelamin, dan estetika adalah bidang yang terus dinamis dan berkembang, bukan hanya berbicara mengenai kebutuhan namun juga pemahaman masyarakat tentang kesehatan kulit, kelamin dan estetika yang semakin berkembang dengan terbukanya informasi. Masyarakat kini semakin sadar bahwa kulit bukan hanya ‘lapisan luar’, tetapi organ yang mencerminkan kesehatan, gaya hidup, dan kesejahteraan psikologis seseorang. Pasien kini datang bukan hanya untuk mengatasi penyakit kulit seperti eksim, jerawat, infeksi kulit dan kelamin tetapi juga untuk konsultasi estetika dan perawatan anti-aging, yang bertujuan memberikan hasil natural namun dengan versi lebih baik dan sesuai kebutuhan individual. Hal ini membuat kebutuhan akan perawatan yang tepat, aman, dan berbasis ilmu dan bukti ilmiah menjadi semakin tinggi.
Selain itu, perkembangan teknologi dan penelitian di bidang Dermatologi, Venereologi, dan Estetika terus berkembang pesat, baik teknologi dari segi terapeutik (terapi regeneratif dengan stem cell dan secretome, teknologi laser terbaru untuk tidak hanya untuk kasus estetik namun juga penyakit kulit seperti vitiligo) maupun diagnostik (dermatologic ultrasound untuk diagnosis beberapa masalah kulit) membuka peluang baru dalam diagnosis dan tatalaksana yang lebih efektif dan sesuai kebutuhan masing-masing individu.
“Dengan meningkatnya permintaan layanan yang berkualitas dan bertanggung jawab, serta dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi, saya berharap profesi ini akan terus relevan dan terus bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup banyak orang secara nyata.”
Tantangan yang sering dihadapi dr. Belinda dalam menjalani profesinya terutama ketika menghadapi pasien dengan kondisi yang kompleks yaitu pasien memiliki permasalahan kesehatan kulit disertai dengan kondisi kesehatan lainnya dimana pengobatan kulit yang diberikan bisa memberikan efek samping kurang baik untuk masalah kesehatan lain pasien. Misalnya pasien dengan alergi obat, kulitnya mengelupas seluruh tubuh, tapi juga menderita diabetes. Pasien membutuhkan obat antiinflamasi untuk mengobati alergi obatnya yang memiliki efek samping menaikkan gula darah. “Perlu kolaborasi dan diskusi dengan teman sejawat dokter di bidang lain untuk bersama-sama memberikan pengobatan terbaik untuk pasien dengan efek merugikan paling minimal.”
Tantangan lainnya adalah ekspektasi pasien. Tidak jarang pasien yang mengharapkan suatu hasil pengobatan yang cepat, instan, dan langsung terlihat. Sedangkan pengobatan penyakit kulit kelamin maupun perawatan estetika terkadang membutuhkan proses dan kesabaran. Setiap individu merespons pengobatan secara berbeda, dan banyak faktor yang mempengaruhi seperti disiplin mengikuti anjuran, menghindari hal-hal yang dapat memperburuk kondisi, serta gaya hidup sehari-hari. Bagian tersulit, tapi juga paling penting, adalah membantu pasien memahami bahwa perubahan yang nyata dan aman adalah hasil dari proses yang konsisten, bukan instan.
Sebagai perempuan, tantangan tersendiri yang cukup sering dihadapi adalah ketika berhadapan dengan pasien venereologi yang memiliki penyakit menular seksual. Beberapa pasien terutama laki-laki dengan keluhan venereologi yang tertutup ketika digali soal riwayat faktor risiko penyakit menular seksual, merasa tidak leluasa atau malu bercerita riwayat penyakitnya sehingga seringkali tidak memberikan keterangan yang sebenarnya. Solusinya adalah bekerja sama dengan pihak ketiga (tim konseling Provider Inisiated Testing and Counseling laki-laki) untuk duduk bersama menggali riwayat pasien, sehingga saran pengobatan dan tindakan yang diberikan bisa maksimal.

Dokter Belinda menilai perkembangan teknologi di bidang Dermatologi, Venereologi, dan Estetika saat ini sangat pesat baik dalam segi diagnostik maupun terapi penyakit kulit, kelamin, dan estetika. Di sisi diagnostik, misalnya saat ini ada High-Frequency Ultrasound untuk melihat kelainan kulit terluar sampai dengan lapisan pembungkus otot, dalam hal ini memungkinkan dokter mendiagnosis kondisi dermatologi dan estetik dengan lebih akurat serta memberikan tatalaksana dengan lebih tepat sasaran. Dari sisi terapi, misalnya saat ini ada pendekatan terapi regeneratif seperti stem cell, secretome, PRP dan exosome yang berpotensi meregenerasi jaringan kulit seperti untuk anti-aging, mengatasi kerontokan rambut, maupun kondisi kelainan kulit kronis seperti psoriasis dan vitiligo, dan masih banyak perkembangan teknologi di bidang dermatologi, venereologi, dan estetika lainnya.
“Harapan saya untuk layanan kesehatan kulit, kelamin, dan estetika adalah agar teknologi terbaru yang sudah ada maupun yang sedang dikembangkan dapat diakses lebih luas oleh masyarakat tidak hanya di kota besar, namun juga daerah-daerah dengan fasilitas terbatas. Saya juga berharap dengan adanya keilmuan mengenai kesehatan kulit, kelamin, dan estetika yang dinamis, berpadanan juga dengan adanya peningkatan standar keselamatan dan edukasi pasien sehingga setiap prosedur medis maupun estetika, dilakukan secara aman, nyaman, dan bertanggung jawab.”
Yang tidak kalah penting, dr. Belinda berharap layanan kesehatan kulit, kelamin, dan kecantikan tidak hanya fokus pada perawatan fisik, namun juga menggunakan pendekatan holistik yaitu memperhatikan psikologis pasien, rasa percaya diri, dan kualitas hidup secara menyeluruh sehingga pasien mendapatkan pelayanan yang efektif, aman, dan memberdayakan.
Kunci Sukses
Bagi dr. Belinda, kunci sukses dalam menjalani karier dan kehidupan profesional tidak hanya ditentukan oleh ilmu dan kemampuan teknis, tetapi juga oleh konsistensi, integritas, dan empati. Konsistensi berarti selalu berkomitmen untuk belajar seumur hidup dan memperbarui pengetahuan, karena dunia dermatologi, venereologi, dan estetika berkembang begitu cepat. Teknologi baru, terapi inovatif, dan penelitian terbaru terus bermunculan.
Integritas berarti selalu menjalankan praktik medis dengan etika dan tanggung jawab, memastikan setiap tindakan yang diambil adalah yang terbaik dan aman bagi pasien. Sedangkan empati adalah kemampuan untuk mendengarkan dan memahami pasien secara holistik, bukan hanya kondisi fisik tetapi juga psikologis dan sosialnya.
“Selain itu, saya percaya bahwa mengatur keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sangat penting. Mengelola waktu dengan baik, menjaga kesehatan mental dan fisik, serta memberi ruang untuk refleksi membuat saya tetap fokus dan bersemangat dalam memberikan yang terbaik bagi pasien,” jelasnya.
Yang paling utama dari semuanya bagi dr. Belinda adalah kekuatan doa. Setinggi dan sekeras apa pun usaha dan pekerjaan yang kita jalani, tetap ada batasan sebagai manusia. Doa bukan berarti menggantikan usaha, tetapi justru menguatkan setiap langkah yang diambil. Doa memberi ketenangan, menjaga niat tetap lurus, dan membantu kita menerima setiap hasil dengan lebih lapang. Dalam menjalani profesi sebagai dokter, dr. Belinda percaya bahwa kerja keras, dedikasi, dan ilmu harus selalu berjalan beriringan dengan kerendahan hati dan doa (ora et labora).
“Dengan keempat prinsip ini—konsistensi, integritas, empati, dan doa; saya belajar bahwa kesuksesan bukan hanya soal pencapaian profesional, tetapi juga soal memberikan dampak positif bagi kehidupan orang lain dan menjalani profesi dengan rasa bangga dan penuh makna,” tandasnya.

Memadukan Profesionalisme dengan Empati dan Keseimbangan Hidup
Dokter Belinda selalu percaya bahwa inspirasi bisa datang dari siapapun dan apapun—baik dari pengalaman pribadi maupun orang yang ditemui setiap hari. Salah satu sosok yang sangat menginspirasinya adalah guru-gurunya selama pendidikan spesialisasi dermatologi, venereologi, dan estetika, yang mengajarkan bahwa menjadi dokter bukan hanya soal keahlian medis, tetapi juga soal empati, ketelitian, dan integritas.
“Beliau selalu menekankan pentingnya melihat pasien secara holistik, tidak hanya fokus pada penyakit, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis dan sosial pasien. Dari beliau, saya belajar menggabungkan ilmu, seni, dan rasa kemanusiaan dalam praktik sehari-hari, sehingga setiap pasien merasa didengar, dihargai, dan aman. Selain itu, sosok tersebut mengajarkan bahwa tantangan dalam karier harus dihadapi dengan ketekunan dan rasa ingin terus belajar, karena dunia dermatologi, venereologi, dan estetika berkembang begitu cepat. Inspirasi dari beliau membuat saya percaya bahwa profesi dokter bukan hanya pekerjaan, tetapi panggilan hidup yang bisa memberikan dampak positif bagi orang lain secara menyeluruh.”
Selain itu, sosok yang menjadi inspirasi bagi dr. Belinda adalah kedua orang tuanya yang selalu mengajarkan bahwa dalam hidup harus punya semangat kerja keras, pantang menyerah, integritas, disiplin, bermanfaat bagi banyak orang, dan rendah hati.
“Kalau kamu keras pada dirimu, dunia akan lunak terhadap kamu; sebaliknya kalau kamu lunak terhadap dirimu, dunia yang akan keras terhadap kamu. Jadilah garam dan terang di mana pun kamu ditempatkan.”
Pasien yang ditemui sehari-hari juga menjadi inspirasi bagi dr. Belinda. Dari pasien-pasien yang ditemui, ia belajar arti kesabaran, ketangguhan, dan mengingatkan betapa pentingnya didengar. Tidak jarang pasien yang membutuhkan perawatan jangka waktu lama tapi dengan kesabaran dan ketangguhan ada hasil baik yang tampak lebih cepat, dan banyak pasien yang merasa jauh lebih baik secara kesembuhan fisik maupun psikologis setelah didengarkan keluhannya dengan menyeluruh. Pasien lebih patuh berobat dan memberikan hasil yang sangat baik di luar perkiraan.
Menjadi ‘Kartini Berdaya’
Bagi dr. Belinda, perempuan Indonesia masa kini adalah sosok yang kuat, cerdas, dan mandiri, tetapi tetap hangat dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Mereka mampu menyeimbangkan karier, keluarga, dan kehidupan pribadi, sambil terus mengembangkan diri melalui pendidikan, keterampilan, dan pengalaman.
Perempuan masa kini juga semakin memperhatikan kesehatan dan kualitas hidupnya, termasuk perawatan diri yang bijaksana, baik secara fisik maupun psikologis. Mereka memahami bahwa merawat diri bukan egois, tetapi bagian dari membangun rasa percaya diri dan menjalani hidup secara optimal.
Yang paling menginspirasi, perempuan Indonesia kini berani mengambil peran aktif dalam berbagai bidang, berani bersuara, dan terus mendorong perubahan positif tanpa meninggalkan empati, kehangatan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Bagi saya, kesuksesan sebagai perempuan bukan hanya soal pencapaian karier atau pengakuan profesional, tetapi juga tentang kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara hidup pribadi, pekerjaan, dan kepedulian terhadap orang lain. Kesuksesan adalah ketika kita bisa merawat diri sendiri, tetap belajar, dan berkembang, sambil memberikan dampak positif bagi keluarga, pasien, dan lingkungan sekitar,” tandasnya.
Selain itu, kesuksesan juga berarti memiliki kepercayaan diri, integritas, dan keberanian untuk mengambil keputusan yang bijaksana, baik dalam karier maupun kehidupan pribadi. Ketika seorang perempuan mampu memadukan profesionalisme dengan empati dan keseimbangan hidup, itulah definisi kesuksesan yang paling utuh dan bermakna bagi dr. Belinda.
“Satu kata yang mewakili semangat Kartini dalam diri saya adalah ‘berdaya’. Berdaya bukan berarti keras atau dominan, tetapi memiliki keberanian untuk mengambil keputusan, kemandirian dalam berpikir dan bertindak, serta kemampuan memberi dampak positif bagi diri sendiri dan orang lain. Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang mampu menyeimbangkan kekuatan dan kelembutan, kuat dalam mengambil tindakan, bijaksana dalam berpikir, dan lembut dalam memperlakukan orang di sekitarnya.”
Seperti yang pernah dikatakan Kartini, ‘Habis gelap terbitlah terang’, perempuan memiliki kemampuan untuk menembus keterbatasan dan menghadirkan cahaya. Kelembutan mereka bukan tanda kelemahan, tetapi sumber kekuatan yang menumbuhkan empati, kepedulian, dan inspirasi. Perempuan yang berdaya mengajarkan bahwa kekuatan dan kelembutan bisa berjalan beriringan, membentuk masa depan dengan penuh percaya diri, integritas, hati yang hangat, dan menjadi terang untuk sekitarnya.
Jaga Keseimbangan Hidup
Sebagai dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, hari-hari dr. Belinda penuh dengan tanggung jawab—menangani pasien, mengikuti perkembangan ilmu, dan memastikan setiap prosedur aman dan efektif. Bagi dr. Belinda, me time bukan sekadar waktu untuk bersantai, tetapi momen untuk mengisi ulang energi, refleksi diri, dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Me time adalah kesempatan untuk menenangkan pikiran, meresapi pencapaian, dan merencanakan langkah selanjutnya tanpa tekanan sehingga ia bisa kembali memberikan pelayanan yang lebih baik dan tetap hadir sepenuh hati bagi setiap pasiennya.
“Saya menikmati me time dengan olahraga ringan seperti jogging pagi, dance, journaling sambil mendengarkan podcast dan membaca buku self-improvement, menghabiskan waktu bersama sahabat dan saudara untuk saling menguatkan dan memberikan masukan membangun, dan berdiam diri untuk refleksi,” jelas perempuan yang juga hobi menyanyi ini.
Dokter Belinda pun memberikan pesan untuk para pembaca bahwa merawat kulit bukan sekadar tentang penampilan, tetapi tentang menghargai diri sendiri. Kulit adalah cerminan kesehatan dan juga bagian dari kepercayaan diri kita, sehingga penting untuk merawatnya dengan cara yang tepat, aman, dan bijaksana.
Ia juga mengajak pembaca untuk tidak tergiur dengan hasil yang instan namun berisiko berbahaya bagi kesehatan. Hasil terbaik dalam hidup tidak didapatkan dengan instan, justru datang dari konsistensi, kesabaran, dan kepercayaan pada proses yang dijalani.
“Saya juga berharap pembaca tidak hanya fokus pada apa yang terlihat baik di luar, tetapi belajar untuk menerima dan menyayangi diri sendiri. Kecantikan sejati lahir dari keseimbangan antara merawat diri, menjaga kesehatan, menghargai proses alami tubuh, dan tetap setia pada nilai serta kepribadian kita, karena ketika kita merasa nyaman dengan diri sendiri, hal itu akan memengaruhi seluruh aspek hidup,” pungkasnya.
