Cover Story

Naomi Julia Soegianto, Perempuan Pejuang Tangguh yang Penuh Dedikasi dan Empati

MajalahKebaya.com, Jakarta – Pernah terpuruk dan mengalami titik terendah dalam hidup, merasa sendirian di atas beban tanggung jawab yang harus dipikul, ditinggal orang terkasih tanpa dibekali resources, menjadi motivasi terkuat bagi Naomi Julia Soegianto untuk memacu diri bisa menaklukkan keadaan dan harus terus survive, bahkan meraih kesuksesan. Ia pun menjelma sebagai sosok perempuan tangguh yang membuktikan bahwa ketekunan dan nilai keluarga mampu menjadi fondasi kuat untuk membangun kerajaan bisnis. Ia bukan hanya seorang pengusaha sukses di industri perhiasan, tetapi juga ibu, pemimpin, pendidik dan perempuan visioner yang tak gentar membangun segalanya dari nol.

Di balik kilauan emas yang dipajang di etalase butik-butik perhiasan, tersimpan kisah perjuangan seorang perempuan yang tak hanya menempa logam mulia, tapi juga menempa dirinya sendiri dengan kerja keras, cinta keluarga dan keteguhan hati yang tak terukur nilainya. CEO NJS Gold Manufacture ini tak pernah menyangka perjalanan dan perjuangan hidup akan membawanya sejauh ini.

Berbekal didikan ayahnya yang menanamkan nilai kemandirian sejak dini, Naomi sudah terbiasa untuk tidak bergantung pada orang lain. Ia sudah mengasah jiwa entrepreneurship-nya sejak masa kuliah, meski dengan santai, tanpa tekanan. Itulah bekal penting yang menempanya secara mental dan profesional.

Keterpurukan adalah Miracle

Naomi harus mengalami keterpurukan terendah dalam hidup, ketika ayahnya dipanggil Sang Khalik. Padahal ia baru saja menikah. Meninggalkan beban besar bagi keluarga, termasuk perusahaan yang tidak bisa dipertahankan. Naomi yang baru saja hamil harus mengambil alih tanggung jawab penuh untuk menopang keluarga.

“Saya merasakan musibah besar dan itu bukan karena kehendak ataupun kekuatan kita, itu semua karena seizin Yang Di Atas. Yang dulunya saya merasakan I’m fine, hidup saya akan baik-baik saja, jalan yang tepat di masa depan sudah tersedia..ternyata semuanya tertutup dan hancur. Rasanya seperti jatuh ke jurang, benar-benat tanpa harapan. Di saat yang sama saya harus menjadi seseorang..yang harus bertanggung jawab dalam kehidupan saya karena saat itu saya sedang mengandung anak pertama dan saya belum sadar bahwa ternyata saya harus menjadi tulang punggung. Saya anak pertama perempuan dalam keluarga, dan setelah Ayah meninggal, saya harus bertanggung jawab atas ibu saya, suami saya, dan anak dalam kandungan. Dan saya harus memulai pekerjaan dari nol,” kenang Naomi lirih.

Sangat miris. Perjuangan yang benar-benar dari bawah. Tapi Naomi merasakan Tuhanlah yang selalu turun tangan untuk dirinya sehingga mampu bangkit dari keterpurukan, survive, dan akhirnya bisa membuka industri perhiasan hingga sekarang. Ia menyadari pekerjaan ini bukan lagi pilihan, melainkan tanggung jawab penuh yang harus ia jalani.

Warisan yang ditinggalkan ayahnya bukanlah harta, melainkan staf-staf berpengalaman di dunia perhiasan. Naomi memilih untuk tetap bersama mereka, dengan tekad dan semangat untuk bertahan, walaupun arah bisnis belum jelas. Dari situlah benih NJS Gold Manufacture mulai tumbuh.

“Saya suka bekerja, jadi meski bebannya berat, saya justru menikmatinya. Dari situ saya mulai membangun sedikit demi sedikit, bahkan pernah memulai dengan berutang,” kenangnya.

Naomi menjadi produsen perhiasan, dan perlahan bisnisnya mulai berkembang. Saat kedua anaknya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ia sudah mampu menjalankan toko perhiasan secara stabil.

Empati Panggilan Jiwa untuk Berbagi dan Memberdayakan 

Setelah usaha berjalan cukup stabil, jiwa sosial Naomi terpanggil untuk berbagi dengan sesama. Ia juga aktif sebagai volunteer pengajar bahasa Inggris dan Agama sebuah Sekolah Dasar di Jawa Tengah, sambil menempuh pendidikan S2. Ia banyak memberikan scholarship ataupun beasiswa, karena memang sangat peduli pada dunia pendidikan dan pemberdayaan. Apalagi Naomi pernah menjadi guru, seorang dosen, sehingga ia benar-benar ingin membantu setiap orang yang ada di daerah-daerah, terutama di Jawa Tengah.

Kini Naomi secara rutin menjadi donator untuk beberapa pesantren, terutama untuk mendukung dari sisi pendidikan. Juga bantuan-bantuan seperti obat-obatan dan lain-lain. Ia juga memiliki panti jompo, walaupun belum ada yayasannya di Jawa Tengah, dengan mempekerjakan banyak perempuan. Mereka bahkan diberi pelatihan-pelatihan untuk berdaya di usaha-usaha lain selain bekerja di panti jompo.

“Dan saya serahkan semua kepada Tuhan, yang pasti tujuan saya tetap, yaitu ingin menjadi berkat buat sesama, juga perempuan, encourage perempuan yang ada di Indonesia. Harapan saya, saya benar-benar bisa memfungsikan diri saya walaupun saya perempuan. Bagi saya, hakikatnya perempuan tetap di posisi yang perempuan, tapi perempuan yang mempunyai nilai, perempuan yang kuat dan terus dapat meng-encourage perempuan yang lain agar bisa sukses dalam kehidupan mereka, tetapi tetap tahu bahwa kodat mereka adalah perempuan. Perempuan harus respect terhadap laki-laki, terutama suami, ayah, dan orang-orang yang jauh lebih tua,” bijak Naomi.

Perjalanan NJS Gold Manufacture

Beberapa tahun sebelum NJS berdiri, Naomi memutuskan pindah ke Surabaya, bukan semata karena peluang bisnis, tetapi karena tanggung jawab keluarga. Sebagai anak sulung perempuan dalam keluarga besar, ia diamanahkan untuk membantu menjalankan perusahaan yang masih menyisakan saham almarhum ayahnya di Surabaya.

“Saya ini seorang planner, apalagi kalau menyangkut anak-anak. Saya sudah punya cita-cita, anak-anak saya harus bisa sekolah di luar negeri. Itu mimpi saya, dan saya menabung dari jauh-jauh hari,” ujarnya.

Perpindahan ke kota besar seperti Surabaya dipilih demi memberikan akses pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Namun tak lama, Naomi memutuskan berpisah secara profesional dari bisnis keluarga dan membangun jalannya sendiri di industri manufaktur perhiasan. Maka lahirlah NJS Gold Manufacture di Surabaya.

Meskipun ayahnya adalah pendiri salah satu pabrik perhiasan terbesar di Indonesia, Naomi tak mendapat fasilitas kemewahan dari warisan itu. Justru sebaliknya, ia bangkit dari dasar, mengandalkan pengetahuan dan pengalaman serta loyalitas tim kecil yang masih bersamanya sejak awal. “Yang saya warisi bukan emas atau uang, tapi mentalitas dan integritas. Dan itu yang saya teruskan ke anak-anak dan tim saya hari ini,” tegasnya.

Inovasi Berdimensi Personal Approach

Bagi sebagian orang, inovasi berarti teknologi mutakhir, sistem canggih, atau terobosan revolusioner yang mengubah wajah industri. Tapi bagi Naomi, inovasi justru bersifat personal, mendalam dan sering kali tidak terlihat mata. Karena baginya, setiap pelanggan adalah dunia yang berbeda.

“Kalau bicara inovasi, menurut saya itu tidak bisa digeneralisasi. Semua tergantung kasus per kasus. Setiap distributor punya gaya dan kebutuhan berbeda. Jadi pendekatannya juga harus beda,” terangnya.

Melalui mitra bisnis yang merupakan distributor perhiasan emas yang tersebar di seluruh Indonesia, Naomi belajar bahwa fleksibilitas dan sensitivitas terhadap kondisi pasar adalah bentuk inovasi tersendiri.

Alih-alih mengikuti teori besar atau strategi global semata, Naomi memilih untuk tetap hadir secara personal bagi mitra usahanya. Ia percaya, inovasi paling kuat justru datang dari empati dan kemampuan membaca situasi.

“Intinya kita harus peka. Bukan hanya punya rencana besar, tapi juga harus punya pendekatan personal. Karena yang kita hadapi itu manusia, bukan sistem,” ucapnya bijak.

Legacy Tanpa Paksaan

Di balik tiap koleksi perhiasan NJS, tersimpan rasa dan intuisi perempuan. Meski memiliki tim desain, Naomi dan kedua putrinya tetap terlibat langsung dalam proses kreatif. Mereka memastikan setiap karya tidak hanya cantik secara visual, tapi juga membawa karakter khas NJS yang telah dikenal pasar, sederhana, elegan, dan berkualitas tinggi.

“Kami memang punya desainer, tapi saya dan anak perempuan saya juga ikut memberikan masukan. Kami tidak lepas tangan soal desain. Untuk orang-orang sudah terbiasa lihat produk kami, mereka bisa tahu mana produk NJS,” ungkap Naomi.

Ketika membangun bisnis, anak-anak Naomi masih bayi dan balita. Ia tidak pernah meninggalkan mereka untuk menginap satu malam pun. Keputusan ini bukan hanya refleksi dari rasa sayang, tetapi juga prinsip yang ia pegang teguh, kalau bisa dekat, mengapa harus jauh? Tak heran, ketika mulai mengembangkan bisnis, anak-anaknya pun tak ditinggalkan. Mereka justru dibawa serta ke tempat kerja.

Bagi Naomi, kehadiran fisik dan perhatian adalah bentuk pengasuhan yang tak bisa ditawar. Bahkan saat anak-anaknya berusia 3 dan 5 tahun, ia mengambil keputusan besar, kembali ke bangku kuliah dan mengejar gelar Magister. Lokasi kampus yang cukup jauh dari rumah, tak menjadi penghalang. Ia tahu waktu terus berjalan dan masa emas anak-anak tak akan terulang. Maka ia memilih untuk menuntut ilmu di masa ketika anak-anaknya belum masuk usia sekolah yang serius. “Suami saya bilang, kalau anak kita bisa Juara 1 di sekolah, baru saya boleh mulai berbisnis dan sekolah lagi.”

Tantangan itu bukan beban, melainkan motivasi. Berkat ketekunan dan metode parenting yang ia pelajari dari kurikulum tempatnya mengajar, yang menurutnya lebih bernuansa internasional dibanding cara konvensional Indonesia, Naomi berhasil mewujudkannya. “Saya belajar bahwa usia 0-12 tahun itu adalah masa fondasi. Disiplin bukan hanya soal belajar, tapi juga karakter dan kebiasaan hidup.”

Pagi hari selalu dimulai dengan rutinitas penuh makna. Meski pekerjaan rumah dibantu oleh asisten, ia tetap mendampingi anak-anak bangun, mandi, sarapan, hingga mengantar mereka ke sekolah. Sepulang kerja, ia menjemput mereka, dan malam hari adalah waktu belajar bersama. “Setiap anak-anak saya ajari sendiri. Satu jam untuk masing-masing anak, di kamar mereka masing-masing.”

Kini, buah dari kedekatan dan ketelatenan itu sudah terlihat. Dengan bekal pendidikan yang baik, kedua anaknya kini ikut terjun ke dalam bisnis yang ia rintis. Naomi tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya. “Saya selalu bilang, kalian bebas memilih. Kalau mau kerja di tempat lain pun tidak mengapa. Yang penting kalian punya pendidikan. Itu warisan sejati dari saya,” imbuhnya.

Naomi tidak ingin anak-anaknya merasa punya ‘modal instan’ hanya karena ibunya punya bisnis. Prinsip yang ia warisi dari Sang Ayah adalah: anggaplah kamu tidak punya apa-apa selain pendidikan. “Pada dasarnya, saya suka kalau mereka melanjutkan bisnis ini. Tetapi kalau mereka bisa lebih maju dengan jalan mereka sendiri, itu yang saya suka. Bukan ego saya yang penting. Saya ibu yang merdeka,” tegasnya. DW

Info Lebih Lanjut:

Instagram : @njsgold.official.
@naomijewels.id

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top