MajalahKebaya.com, Jakarta – Sebagai istri Purnawirawan, Nancy Marlinda Delaccruz Watti terbiasa aktif dalam organisasi Persit (Persatuan Istri Tentara) Kartika Chandra Kirana sejak awal pernikahan 26 tahun lalu. “Setelah suami saya pensiun, otomatis saya berhenti menjadi anggota Persit. Nah, setelah pensiun kebetulan ada beberapa komunitas yang saya ikuti. Saya mencari kegiatan baru antara lain aktif di organisasi Yayasan Kanker Indonesia, yang sifatnya sosial,” papar Nancy.
Yayasan Kanker Indonesia memberikan sosialisasi mengenai deteksi dini terhadap kanker, lewat penyuluhan dan edukasi tentang cara penanggulangan kanker. Kalangan dokter juga ada yang tergabung dalam yayasan ini.
Nancy masuk di Yayasan Kanker Indonesia dengan salah satu tugas, yaitu membentuk cabang coordinator Yayasan Kanker Indonesia di seluruh Indonesia. “Jadi kita datang misalnya ke Lombok, Palangka Raya dan kota lain untuk membentuk cabang Yayasan Kanker Indonesia di daerah tersebut. Jadi, Ketua Umum kami melantik pengurus organisasi di berbagai wilayah,” terang Istri Mayor Jenderal TNI (Purn) Purwo Sudaryanto ini.
Selain Yayasan Kanker Indonesia, wanita kelahiran Manado ini, masuk dalam keanggotaan IWAPI Jaktim yang fokus pada usaha UMKM, serta aktif dalam Komunitas Perempuan Laju Perkasa, dengan Ketua Umumnya Ibu Hetty Andika Perkasa. “Komunitas ini murni bergerak di Bidang Sosial: berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya perempuan & anak,” tambah ibu dari Puan Maharani, Satria Wicaksono, dan Wiradhika Yusuf Putranto ini.

Rutin Berbagi dengan Anak Yatim di Bulan Ramadhan
Di momen bulan Ramadhan ini Nancy lebih banyak melakukan kegiatan berbagi kepada anak yatim, fakir miskin, penyandang cacat hingga panti jompo. “Bulan Ramadhan ini memanggil kita sebagai insan untuk bisa berbagi ya, kepada mereka yang benar-benar sangat membutuhkan. Dan secara jujur, dengan keikhlasan,” ujar Nancy.
Nancy memiliki rutinitas khusus di bulan Ramadhan bersama suaminya dengan mengundang anak yatim datang ke rumahnya yang berlokasi di Mojokerto. “Saya dari pertama menikah, bersama suami setiap tahun mengundang anak yatim, saat kita berdinas di kampung atau perkotaan, setiap tahun kita menyempatkan mengundang anak yatim dan kaum duafa. Ada satu hari di bulan suci ini harus kita agendakan acara buka puasa bersama dengan mereka, walaupun saya banyak kegiatan di mana-mana,” terangnya.

Dari Hobi Buka Usaha Kuliner
Saat ini Nancy mengembangkan usaha Kulineran, dengan nama Angkringan Bakzaal yang terletak di Kota Mojokerto. Dari hobi mencicip kulineran Nusantara, Nancy terinspirasi membuka usaha kuliner. Mengangkat kuliner khas UMKM di daerah untuk lebih dikenal. “Kalau saya pergi ke daerah pasti yang saya cari kuliner khas daerah itu. Saya pun ingin mengangkat kuliner khas UMKM di daerah saya untuk bisa lebih dikenal. Dulu saya pernah membuka restoran, sekarang angkringan ya. Kalau di Jawa kan identik dengan angkringan, dengan konsep open space yang menawarkan suasana santai, lesehan atau kursi dari kayu dengan tempat terbuka. Makanannya juga menu tradisional dan pastinya harga terjangkau,” jelasnya.
Banyak tantangan yang dihadapi Nancy dalam mengembangkan bisnis kuliner, tapi yang pasti ia jaga adalah kualitas menu yang disajikan dengan cita rasa yang konsisten. “Kalau rasa makanan yang kita buat konsisten, pasti pengunjung akan datang lagi. Selain itu kebersihan tempat dan keamanan juga perlu diperhatikan, supaya pengunjung nyaman untuk kembali lagi,” terangnya.
Service dan keramahtamahan dalam melayani pengunjung angkringan juga menjadi hal penting bagi Nancy. “Para karyawan harus menyapa pengunjung dengan baik, sehingga para pengunjung merasa berada di rumah sendiri. Berikutnya adalah harga pasti menjangkau semua kalangan,” paparnya.

Perempuan Indonesia Harus Bangga dan Cinta Budaya
Sebagai perempuan dengan banyak aktivitas, baik sebagai istri, ibu, serta kegiatan di luar, Nancy harus pintar membagi waktu. Di sela-sela waktu luangnya, ia senang merawat bunga dan kegiatan me time.
“Kunci utamanya semangat dan sehat. Sebagai perempuan kita tetap harus bisa berkontribusi bagi lingkungan kita, mulai dari yang terkecil yaitu keluarga. Jadi kita harus bisa memaksimalkan peran kita,” jelas Nancy yang mengidolakan Raden Ajeng Kartini sebagai sosok perempuan yang tangguh.
Nancy memberikan pesan kepada perempuan Indonesia untuk tidak boleh meninggalkan budaya. Sebagai perempuan, ia pun turut berperan dalam mempertahankan budaya dengan selalu memakai kebaya Nusantara sebagai ciri khas pakaian perempuan Indonesia yang mencerminkan keanggunan dan keindahan. “Saya rasa dengan adanya Majalah Kebaya ini sangat menginspirasi bagi perempuan Indonesia untuk melestarikan kebaya sebagai pakaian tradisional perempuan Indonesia. Kebaya merupakan akar dari budaya bangsa kita yang harus kita lestarikan,” paparnya bangga.
Di era sekarang yang serba modern, Nancy menilai banyak anak-anak muda yang gengsi atau bahkan melupakan tentang arti kebaya. Berbeda dengan dirinya yang lahir di era tahun 70-an, merasakan kebanggaan dan makna penting dalam mengenakan kebaya. “Saya rasa dengan adanya Majalah Kebaya ini kita masih bisa melihat dan mengingat pentingnya kita tetap memakai kebaya. Salut buat Majalah Kebaya yang tetap eksis untuk memberitakan dan selalu menyampaikan kepada kita semua bahwa kebaya tetap penting buat seluruh perempuan Indonesia,” pungkasnya. EK
