MajalahKebaya.com, Jakarta – Menjaga dan membahagiakan keluarga adalah motivasi Hakanah Rathi dalam memajukan dan mengembangkan usaha keluarga yang dipercayakan kepadanya. “Kalau alasan kita bekerja adalah keluarga, biasanya kita jadi lebih konsisten. Kita lebih sabar, lebih kuat, dan lebih siap memikul tanggung jawab walau berat. Ini bukan hanya soal ambisi, tapi juga bentuk devotion,” tegas wanita cantik kelahiran Singapore yang akrab disapa Hana ini.
Karena melanjutkan sesuatu yang dibangun orang tua, Hama juga merasa punya tanggung jawab besar untuk menjaga apa yang sudah dibangun mereka, —terutama kepercayaan. Itu yang membuat dirinya tetap disiplin dan membumi.
Sejak dulu Hana memang termasuk anak yang kreatif, tapi di saat yang sama ia juga tipe yang suka turun tangan sendiri, dan memikirkan strategi. Saat ini ia menjalankan peran sebagai CEO Tiara Hana, boutique lifestyle property company yang memelopori konsep co-ownership properti resort mewah di Indonesia sejak 2012, — dan tahun ini adalah tahun ke-8 ia bergabung dalam perusahaan.
“Saya memulai karier sebagai brand designer, dengan latar belakang marketing, advertising, dan design yang dibentuk dari pengalaman di New York, Italia, dan Korea. Dari masa itu saya belajar disiplin berkarya, ketahanan mental, dan pentingnya terus mengasah kualitas diri,” tuturnya.
Karena tumbuh dalam keluarga entrepreneur, Hana terbiasa melihat arti dari kerja keras, konsistensi, dan passion. Pada akhirnya ia masuk ke Tiara Hana bukan hanya sebagai ‘anak pendiri’, tetapi sebagai generasi kedua yang membawa tanggung jawab: melanjutkan legacy, sekaligus membawa konsep resort co-ownership ke level yang lebih tinggi, – tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi fondasi orang tuanya.
“Karena saat itu pasar belum punya ‘blueprint’ untuk fractional ownership di resort, perjalanan ini menuntut banyak kesabaran, edukasi, dan inovasi. Kami melewati tantangan yang nyata, dan syukurnya perjalanan ini membawa kami pada pengakuan sebagai Best Lifestyle Property Company di 2021 & 2023, Best Rising Company di 2023, 2025 serta Marketing Excellence Award di 2025,” bangga Hana.

Selain memimpin marketing dan komunikasi brand, fokus Hana adalah membangun kepercayaan, -mengundang para investor yang sejalan dengan visi: bukan hanya memiliki properti, tapi memiliki aset yang bermakna, yang bisa membawa kebahagiaan untuk keluarga.
Keunggulan dan Keistimewaan Tiara Hana
“Bagi saya, kekuatan terbesar Tiara Hana adalah kami fokus pada jenis aset yang banyak orang benar-benar kagumi, – properti luxury resort. Ada rasa bangga dan bahagia tersendiri saat seseorang bisa punya kepemilikan di sebuah resort di destinasi indah, -sesuatu yang dulu banyak keluarga mungkin tidak membayangkan bisa mereka miliki,” ujar Hana.
Aset resort, lanjut Hana, juga memiliki kekuatan jangka panjang yang berbeda. Kalau dikelola dengan baik, tamu akan kembali bukan hanya karena bangunannya, tapi karena pengalaman, pelayanan, dan daya tarik destinasi itu sendiri. Itulah yang membuat asetnya tetap relevan dan bernilai dari waktu ke waktu.
Tapi kenyataannya, diakui Hana, memiliki properti resort kelas atas biasanya butuh modal yang sangat besar, jadi full ownership tidak realistis bagi banyak orang. Sementara di Indonesia, orang memang menyukai properti karena ini adalah real estate, -bertahan lama, nyata, dan bisa diwariskan, -namun akses ke aset premium masih terbatas.
“Di sinilah co-ownership kami menjadi berarti. Kami membuka jalan agar lebih banyak orang bisa memiliki aset resort mewah dengan memberi kebebasan untuk memiliki sesuai kebutuhan mereka, -apakah ingin memaksimalkannya sebagai holiday home untuk waktu bersama keluarga, atau membentuknya sebagai aset yang menghasilkan income. Dan semuanya bisa dilakukan tanpa harus repot mengurus operasional resort,” jelas Hana.
Bagi Hana, ini juga mengubah cara orang memandang kepemilikan properti. Properti tidak harus hanya satu hal saja, -murni untuk investasi, atau murni untuk lifestyle. Kepemilikan bisa disesuaikan dengan fase hidup dan prioritas yang berbeda, namun tetap menjadi sesuatu yang nyata, kuat, dan bermakna.
Prospek Menjanjikan
“Sejujurnya, awal saya masuk ke bisnis keluarga ini cukup personal. Saat bergabung delapan tahun lalu, saya diberi kesempatan untuk melakukan rebranding dan terlibat penuh di marketing serta design, – hal yang memang saya cintai, jadi rasanya sangat ‘nyambung’ dengan diri saya,” kenang Hana.
Seiring bertambah usia, Hana mulai melihat potensinya semakin besar. Indonesia adalah market yang sangat luas, dan konsep ini masih punya ruang yang besar untuk berkembang. Dan secara personal, Hana juga merasa bisnis ini bisa menjadi sesuatu yang menjaga orang tuanya ketika mereka pensiun. Itu motivasi yang sangat nyata untuk dirinya.
Ke depan, Hana melihat prospek Tiara Hana adalah memperkuat keyakinan yang sejak awal dipegang: bahwa memiliki aset luxury resort itu harus bisa benar-benar dinikmati dan dibanggakan, namun tetap punya kekuatan jangka panjang. “Karena itu, kami sekarang bekerja lebih dekat dengan perusahaan manajemen yang punya visi dan leadership yang sejalan – Khastana Hadi Group – untuk membangun fondasi hospitality yang lebih kuat di balik aset yang kami tawarkan.”

Screenshot
Lebih jauh Hana menjelaskan, akan membangun hospitality brand baru yang tidak terasa corporate, tapi terasa sangat personal, -karena ingin menciptakan tempat yang benar-benar dicintai tamu dan membuat mereka ingin kembali. “Kami menaruh banyak hati di detail: standar, service culture, atmosfer, dan cara kami merawat tamu, -karena konsistensi membentuk kepercayaan, dan kepercayaan itulah yang menguatkan nilai aset dalam jangka panjang. Dan pada akhirnya, di situlah co-ownership menjadi bermakna: para owner bukan hanya ‘punya share’, tapi ikut menjadi bagian dari sebuah brand resort yang bisa perform, bertahan, dan tetap dicintai,” jelasnya lugas.
Dan menurut Hana, di situ juga tantangannya. Membangun sesuatu yang seperti ini tidak bisa instan. Menciptakan brand yang punya ‘jiwa’ butuh waktu, kesabaran, dan banyak pekerjaan di balik layar yang sering tidak terlihat. Tantangan lain adalah menghadirkan orang-orang yang tepat, -leader dan tim yang benar-benar punya visi yang sama, -lalu menjaga agar semuanya tetap selaras saat bertumbuh.
“Memang tidak selalu mudah, tapi justru itu bagian yang paling rewarding, karena ketika orang-orang yang tepat berkumpul, kita bukan hanya membangun bisnis, -kita sedang membangun sesuatu yang spesial, bermakna, dan bisa bertahan lama,” antusias Hana yang punya hobi traveling, hosting dan cooking ini.
Rencana, Target, dan Resolusi
Tahun ini, Hana benar-benar ingin Khastana Hadi Tegallalang Ubud menjadi tempat yang dicintai tamu, -tempat yang membuat orang merasa disambut, dirawat, dan punya ikatan emosional. Bukan hanya ‘bagus untuk difoto’, tapi benar-benar nyaman untuk kembali.
“Dan karena kami mulai masuk ke events dan celebrations, saya ingin membawa rasa ‘love’ itu lebih nyata di dalam resort, -supaya orang bukan hanya menginap, tapi bisa merayakan hidup dengan indah, hangat, dan berkesan di sana,” janji Hana.
Ke depan, Hana ingin bekerja lebih dekat dengan tim manajemen dan leadership yang tepat, -orang-orang yang punya value dan visi yang sama, yang benar-benar ingin menciptakan boutique resort dan estate yang berjiwa. Ia banyak terinspirasi dari hospitality brand dan properti seperti Aman dan San Borgo Pietro di Tuscany, -bukan untuk meniru, tapi untuk belajar tentang konsistensi, rasa, dan standar yang halus.
“Di sisi yang lebih personal, ini juga tentang mewujudkan mimpi orang tua saya: punya sebuah resort yang memancarkan cinta dan kepedulian untuk tamu. Saya ingin Khastana Hadi membawa pendekatan slow-living, dengan apresiasi pada hal-hal sederhana yang menenangkan, -termasuk pengalaman organic garden dining, seperti ‘Italian way of living’ yang hangat, grounded, dan penuh rasa,” ujarnya.
Dan pada akhirnya, Hana ingin Khastana Hadi tumbuh menjadi brand yang tidak terasa corporate, tapi justru hangat, -sebuah tempat yang dicintai, dengan sentuhan rustic yang grounded, namun tetap elegan.
Me Time Sambil Mencari Ide
“Sebenarnya saya menikmati tantangan pekerjaan saya, -saya justru suka kalau setiap hari rasanya berbeda. Untuk unwind, saya paling suka traveling bareng suami, terutama tipe perjalanan ‘retirement style’ atau slow living. Sejak saya pindah ke Indonesia dua tahun lalu, saya juga jadi senang mengeksplor tempat-tempat baru di Indonesia saat ada kesempatan. Italia dan Jepang juga jadi destinasi favorit kami, karena selalu memberi banyak inspirasi untuk pekerjaan saya, terutama soal hospitality, detail, dan rasa,” ungkap istri dari Andhika, Co-founder & Chief Revenue Officer Tridorian ini.
Belakangan Hana juga ingin lebih sering memasak karena ia suka mengundang keluarga dan teman ke rumah, membeli homewares, dan menata rumah. Ia bersyukur tinggal di Indonesia memberinya work-life balance yang dulu tidak ia rasakan saat tinggal di Singapura.
Menjaga Harmoni dalam Keluarga
Hana sangat menghormati semua perempuan, karena ia menyadari betapa menantangnya peran perempuan dalam rumah tangga. Bahkan ketika terlihat sempurna dari luar, sebenarnya tidak ada yang benar-benar sempurna.
“Untuk saya, saya berusaha meluangkan waktu untuk suami, dan kami selalu berusaha jadi ‘partners in crime’ dalam banyak hal. Saya suka masak untuk dia, kami buat dinner date spesial di rumah, atau sesekali keluar. Tapi yang paling penting adalah quality time. Saya juga masih belajar, jujur. Tapi saya berusaha untuk tetap intentional, karena menurut saya harmoni bukan tentang hidup yang sempurna, tapi tentang memilih apa yang penting dan benar-benar hadir di dalamnya,” bijaknya.
Baik Hana maupun sang suami, berusaha semampu mungkin untuk tetap menyediakan waktu kebersamaan. Walaupun hampir setiap hari bertemu, keduanya tetap suka membuat waktu yang terasa ‘niat’, -hal-hal sederhana seperti ngopi bersama, duduk bareng, ngobrol pelan-pelan.
“Dan kadang kala quality time dengan dinner buffet, -Jakarta memang memanjakan sekali pilihan tempat makan. Buat saya, momen-momen kecil seperti ini yang menjaga kami tetap dekat, dan membuat hidup terasa lebih seimbang,” ujarnya.
Orang Tua Sumber Inspirasi
Orang tua bagi Hana adalah inspirasi terbesarnya. Ia melihat bagaimana kerasnya orang tua bekerja dan pengorbanan yang mereka lakukan untuk ia dan adiknya. “Dari Papa, saya banyak belajar soal strategi dan cara berpikir bisnis. Rasa cinta dan passion yang saya bawa dalam pekerjaan, saya merasa itu juga saya dapat dari beliau, termasuk dedication dan kerja keras yang tertanam untuk mencapai sesuatu. Mama menginspirasi saya lewat cara beliau membawa diri sebagai perempuan, -cara berpakaian, pembawaan, dan rasa percaya diri sejak saya kecil. Dan kecintaan beliau terhadap desain dan taste juga banyak membentuk saya sampai sekarang,” lirihnya.
Dalam hidupnya, Hana merasa tidak ada satu momen keajaiban yang spesifik, tapi ia percaya semesta selalu mendukung ketika niat kita baik dan murni. Ada banyak hal dalam hidup yang dulu ia pikir akan mengubah arah—bahkan terasa seperti setback—tapi ternyata justru membawanya ke tempat yang seharusnya. Dan Hana merasa itu juga bentuk keajaiban dalam hidup. Ia percaya yang memang ditakdirkan untuk kita akan menemukan jalannya. EK
