MajalahKebaya.com, Jakarta – Ilmu pengetahuan yang dimiliki akan menemukan maknanya ketika digunakan dan bermanfaat bagi sesama. Sebuah refleksi hidup sekaligus motivasi kuat dalam diri Dr. dr. Ariani, M.Kes., Sp.A., Subsp. TKPS (K) ketika memilih profesi sebagai seorang dokter. Ia meyakini, dengan menjadi dokter tidak hanya mendapat ilmu tapi bisa memberi manfaat bagi banyak orang.
Setelah lulus sebagai Dokter Umum dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, wanita cantik yang akrab disapa Ai ini, meneruskan pendidikan S2 dan Spesialis Anak secara Double Degree di Fakultas Kedokteran UGM. Bagi lulusan S3 ini, profesi dokter mempertemukan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, tempat akal bekerja seiring dengan empati. Dokter hadir bukan hanya untuk menyembuhkan penyakit. Itulah sebabnya, menjadi dokter adalah kehormatan sekaligus amanah yang tak pernah ringan, namun selalu bermakna.

“Ketertarikan saya pada bidang tumbuh kembang anak berangkat dari keyakinan bahwa investasi terbaik sebuah bangsa dimulai dari masa kanak-kanak. Dalam praktik klinis, saya sering menemui anak- anak yang secara fisik tampak sehat, namun menyimpan tantangan besar dalam aspek perkembangan, perilaku, emosi, dan sosial. Di situlah saya merasa terpanggil: mendampingi anak dan keluarga sejak dini, agar mereka tidak sekadar bertumbuh, tetapi berkembang secara optimal. Peran ini menuntut keilmuan, ketekunan, dan kepekaan—nilai-nilai yang sangat saya yakini dan hidupi hingga hari ini,” paparnya semangat.
Setelah lulus, beberapa waktu kemudian Ai menerima tawaran untuk mengisi lowongan sebagai staf dosen di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya/RS Dr Saiful Anwar Malang hingga akhirnya menjadi staf di Divisi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial.
“Ini sebuah garis takdir yang telah digariskan oleh Allah untuk saya dengan sangat indahnya. Passion saya terasah di bidang ini. Saya banyak bertemu dengan anak disabilitas dengan berbagai permasalahan yang ada, memanggil jiwa saya untuk membantu memecahkan berbagai permasalahan dengan membuat klinik tumbuh kembang dan membentuk berbagai komunitas yang men-support anak disabilitas,” papar wanita kelahiran Malang, 23 Juli 1976 ini.
Agar pengabdiannya lebih intens dan fokus, Ai kemudian membentuk komunitas sindrom down bernama WORLDS (Walk Together and Love People with Down Syndrome) @worldsmalang, komunitas keluarga disabilitas bernama Abeka Moms Craft @abekamomscraft), komunitas relawan anak dan keluarga disabilitas bernama MOVE (Malang Moms & Children Volunteer) @move.volunteer. Ai juga menjadi founder komunitas Donor Plasma Konvalesen (Plasmahero.id), founder komunitas pendonor darah apheresis Jagoan Apheresis Malang (@jagoanapheresismalang). Di samping sebagai dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, kegiatan sociopreneur ikut mewarnai dunia Ai lewat berbagai komunitas yang didirikan tersebut. Ia juga adalah owner Klinik Tumbuh Kembang House of Fatima Child Center (@fatima_childcenter) di Kota Malang, Jawa Timur. Dan, beberapa waktu lalu, Ai juga menjadi relawan Dokter Anak di daerah bencana banjir bandang dan longsor di Sumatra Barat.

