MajalahKebaya.com, Jakarta – “– Profesionalisme dan Struktur adalah Bahasa yang Melampaui Gender dan Usia –“
Perjalanan panjang, sejak usia 18 tahun, telah digeluti Debora Sharon merintis karier di dunia event yang penuh dengan tantangan dan dinamika, pahit getir perjuangan di ranah yang didominasi laki-laki. Tidak mudah bagi seorang perempuan, apalagi perempuan muda yang hanya mengandalkan passion, kepercayaan diri, dan tekad yang kuat untuk bertumbuh dan berkembang. Namun, ia membuktikan diri sangat mumpuni dan diperhitungkan dengan segudang pencapaian prestasi dan pengakuan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Debora kini dikenal sebagai Professional Event Planner, Founder & Owner Detail Events, Co-Founder Backstagers Indonesia, dan dipercaya sebagai Event Curator Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Berawal dari Keinginan untuk Belajar
Sadar memiliki kemampuan public speaking dan komunikasi yang baik, Debora memberanikan diri menjadi seorang MC (master of ceremony). Merasa enjoy dan sangat tertarik dengan dunia panggung, sehingga sejak duduk di bangku SMA ia ingin belajar lebih dalam tentang bidang ini. Lalu ia mempelajari dunia kreatif event agar bisa lebih lagi mengembangkan kemampuannya menjadi MC.
“Setelah beberapa bulan menjadi crew stage, ternyata tidak mudah apabila saya tidak tau tentang produksi di event, akhirnya saya juga mencoba menjadi crew produksi tanpa sadar hampir satu tahun saya berkeliling event mencoba ikut menjadi crew event yang saat itu hanya dibayar 75.000 per hari,” kenang Debora.
Debora memulai perjalanan di industri event pada usia 18 tahun, saat ia belum memiliki gambaran besar tentang karier, apalagi tentang posisi atau pencapaian. Yang ia miliki hanyalah ketertarikan pada dunia di balik layar tempat di mana sebuah ide diolah menjadi pengalaman nyata, dan kerja keras tidak selalu terlihat oleh penonton.
“Saya memulainya sebagai crew lapangan. Dua puluh tahun lalu, itu bukan pilihan yang mudah, terutama bagi seorang perempuan muda. Industri event saat itu masih sangat maskulin, keras, dan menuntut fisik. Perempuan terlebih perempuan muda yang masuk ke ranah produksi event sering kali dianggap tidak akan bertahan lama. Saya pun tidak luput dari pandangan skeptis, keraguan, bahkan komentar yang meremehkan,” lirihnya.
Debora harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama. Jam kerja panjang, tugas teknis, tekanan lapangan, dan ekspektasi tinggi menjadi kesehariannya. Tidak ada ruang untuk mengeluh. Ia belajar bahwa satu-satunya cara bertahan adalah dengan konsistensi dan tanggung jawab. Dari fase inilah mental Debora ditempa belajar menghargai detail, memahami kerja tim, dan menyadari bahwa kesuksesan sebuah event selalu ditentukan oleh kerja kolektif.
Karier Menanjak Seiring Kapasitas dan Integritas Diri
Di usia 22 tahun, Debora dipercaya menjadi Project Officer. Tantangannya tidak semakin ringan justru sebaliknya. Menjadi pemimpin di usia muda saja sudah berat, apalagi sebagai perempuan. Ia menghadapi cibiran, diragukan dalam pengambilan keputusan, dan harus membuktikan kapasitas diri berulang kali. Namun Debora memilih untuk tidak terjebak dalam pembuktian verbal. Ia menjawabnya dengan hasil kerja.
Tahun 2010 menjadi titik penting ketika Debora bergabung dengan Kompas Gramedia Group, di Divisi Otomotif Event Management, sebagai Action & Field Production. Dunia otomotif saat itu masih sangat didominasi oleh pria baik dari sisi industri maupun ekosistem event. Lingkungannya kompetitif, keras, dan penuh standar tinggi. Di sana ia bertanggung jawab langsung terhadap pelaksanaan berbagai proyek event otomotif, dari koordinasi lapangan hingga eksekusi akhir terhadap event-event otomotif.
“Pengalaman di Kompas Gramedia semakin menguatkan saya bahwa profesionalisme adalah bahasa yang melampaui gender dan usia. Ketika seseorang bekerja dengan disiplin, ketelitian, dan tanggung jawab, ruang kepercayaan akan terbuka dengan sendirinya.”
Setahun kemudian, pada 2011, perjalanan Debora memasuki babak yang sangat menentukan ketika ia bergabung bersama (awalnya) tujuh co-founder lain untuk mendirikan Backstagers Indonesia. Saat itu, ia adalah satu-satunya perempuan dan yang paling muda di antara para pendiri. Seluruh co-founder lainnya adalah pria dengan rentang usia setidaknya 10 tahun di atas dirinya, dengan jam terbang dan reputasi yang sudah lebih dahulu terbentuk di industri.
Posisi tersebut tentu tidak mudah. Selain perbedaan gender, ada pula perbedaan generasi. Debora harus belajar matang lebih cepat, berdiskusi dalam ruang-ruang strategis, dan memastikan bahwa suaranya relevan dan berdampak. Namun para founder itu disatukan oleh satu visi yang sama: kegelisahan terhadap timpangnya akses edukasi dan standar profesional di industri event Indonesia.
Backstagers Indonesia lahir dari keyakinan bahwa industri event hanya bisa tumbuh jika manusianya tumbuh. Debora terlibat aktif dalam pengembangan riset, kurikulum, dan program pemberdayaan SDM event. Dari waktu ke waktu, Backstagers berkembang dari sebuah inisiatif menjadi sebuah asosiasi dengan gerakan nasional.
Hari ini, Backstagers Indonesia telah hadir di 24 DPD di berbagai provinsi, menjadi ruang belajar, kolaborasi, dan pertumbuhan bagi ribuan pelaku event di seluruh Indonesia. Dan, Debora juga memegang tanggung jawab sebagai Bendahara Umum di Backstagers Indonesia yang bertugas menghasilkan program-program yang memiliki kemanfaatan bagi member-member Backstagers Indonesia di seluruh Indonesia.
“Melalui perjalanan ini, saya semakin yakin bahwa edukasi event adalah fondasi perubahan industri. Namun saya juga menyadari bahwa idealisme perlu berjalan seiring dengan keberlanjutan bisnis. Dari sinilah saya mulai menata langkah untuk membangun usaha sendiri, sebuah ruang praktik yang menerapkan nilai-nilai profesional yang saya yakini.”

Detail Events Sebuah Langkah Lebih Maju
Pada tahun 2016, Debora mendirikan Detail Events, yang kemudian bernaung di bawah PT Detil Kreatif Indonesia. Detail Events ia bangun dengan keyakinan bahwa event yang baik selalu lahir dari perhatian pada detail baik dalam perencanaan, konsep kreatif, eksekusi produksi, maupun pengalaman audiens. Perusahaan ini tidak hanya menjadi ruang berkarya, tetapi juga ruang pembelajaran dan pembentukan budaya kerja yang disiplin, transparan, dan bertanggung jawab.
Seiring waktu, peran Debora berkembang ke ranah yang lebih strategis. Ia dipercaya sebagai Event Curator untuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, khususnya dalam program Karisma Event Nusantara. Di peran ini, ia melihat event sebagai alat strategis pembangunan bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai penggerak ekonomi dan identitas daerah. Debora terlibat dalam proses kurasi, evaluasi, dan pengembangan standar agar event-event dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Yang paling membahagiakan bagi saya hari ini adalah melihat perubahan nyata di industri. Jika dua puluh tahun lalu perempuan di ranah produksi event masih dianggap anomali, kini semakin banyak perempuan yang memimpin tim produksi, menjadi project director, event planner, creative director, hingga pengambil keputusan strategis. Mereka hadir dengan kompetensi, kepercayaan diri, dan visi yang kuat.”
Bagi Debora, kemajuan ini bukan tentang siapa yang lebih unggul, melainkan tentang kesetaraan kesempatan. Tentang industri yang menilai seseorang dari kapasitas dan integritasnya. Melihat Backstagers Indonesia tumbuh di 24 daerah dan melihat semakin banyak perempuan berkembang di industri event membuat dirinya percaya bahwa perubahan itu nyata.
“Perjalanan saya mungkin dimulai dari belakang panggung, dari ruang yang tidak terlihat. Tetapi justru dari sanalah saya belajar bahwa panggung terbesar bukanlah sorotan lampu, melainkan dampak jangka panjang dari kerja yang dilakukan dengan sepenuh hati untuk industri, untuk generasi berikutnya, dan untuk ruang yang kini semakin terbuka bagi semua.”
Keluarga Penopang Kesuksesan
Kebersamaan dengan keluarga adalah momen yang sangat menyenangkan sekaligus me-recharge energi dan semangat Debora untuk lebih bersemangat dalam pekerjaan. Waktu santai dengan suami dan orang tua merupakan hal yang paling ia cari. Dukungan keluarga, terutama suami baginya sangat penting dalam pengembangan diri, terutama karier.
“Tidak mudah seorang suami bisa memberikan dukungan kepada seorang istri bisa lebih berkembang. Pada saat suami saya justru lebih mendorong saya lebih berkembang dan bangga atas pencapaian saya, itulah semangat utama saya,” ungkap Debora yang melanjutkan studi event management, dan membuat modul pembelajaran event management untuk Indonesia.
Selain mengisi me time bersama keluarga, Debora juga suka traveling menikmati kekayaan alam dan ragam budaya Indonesia yang sangat berwarna dan eksotis. Seperti wastra Nusantara sangat disukainya. Baginya, pattern pada kain Nusantara bukan hanya goresan tapi memiliki makna filosofi tersendiri yang seharusnya dapat diterapkan dalam hidup kita, dan sejatinya selain indah dipakai, pattern dalam wastra Nusantara juga dapat menjadi gambaran dari sikap wanita tanpa harus dikatakan.
Dan, satu prinsip sekaligus kunci sukses Debora dalam perjalanannya adalah semua hal itu baik, kalau kita mendapat hal tidak baik, tunggu sampai kita bisa melihat hal baiknya.
PROFESSIONAL WORK & EXPERIENCES
- 2012 – 2015 : Head of Action & Field Department at ACT – OEM Kompas Gramedia Group
- 2010 – 2012 : Action and Field Executive at ACT – OEM Kompas Gramedia Group
Selected Achievement
- Project Director : Asean Paragames – Opening Closing Ceremonies 2022
- Project Director : Asian Festival – 18th Asian Games 2018
- Project Director : Torch Relay – 18th Asian Games 2018
- Target Achievement for “10.000 Ganti Oli di 8 Kota Federal Oil”
- Target Achievement for “10.000 Wishing Card Ibu Hamil for Prenagen”
- Target achievement for “Mandiri MLC Jumlah Peserta Pelatihan Terbanyak”
- Target Achievement for “3.100 Anak Finger Print Frisian Flag”
CERTIFICATION
- Certificate of Completion – Cluster DESTINATION BIDDING
Issued by : Ministry of Tourism & Creative Economy
- Certificate of Profession – Cluster VENUE MANAGEMENT
Issued by : Badan Nasional Sertifikasi Profesi
- Certificate of Organizer -TORCH RELAY ORGANIZER
Issued by : Indonesia Asian Games Organizing Committee (INASGOC)
- Certificate of Appreciation – ASIAN FESTIVAL ORGANIZER
Issued by : Badan Nasional Sertifikasi Profesi
- Certificate of Training & Operation Torch Relay Equipment
Issued by : FCT Flames
- Certificate of Appreciation – Venue Management 1st Champion
Issued by : Tourism & Creative Economy Department of DKI Province
EVENT CURATOR
- (2020 – 2026) Event Curator for Karisma Event Nusantara – Ministry of Tourism
PORTFOLIO
- AS SPEAKER FOR GOVERNMENT, CORPORATE & CONFERENCE
- AS Project Director – Opening Closing Peparnas 2024
- AS Project Director – FANZONE FIBA BASKETBALL WORLD CUP 2023
- AS Project Director – Opening Closing Asean Paragames 2022
- AS Project Director – Asian Games Torch Relay 2018
- AS Project Director – Asian Games Festival 2018
- AS Project Director INASGOC Appreciation Night – 18th Asian Games 2018
- AS Project Director HRT Team Launching 2015 at Bali
- AS Project Director Meet & Greet Marc Marquez & Dani Pedrosa 2014 at Sentul International Circuit
E-Mail: dsthinkdetail@gmail.com
Instagram: @dbysharon
