Cover Story

Dr. Dra. Hj. Sitti Ma’ani Nina, M.Si. CGCAE, Kembangkan Program Inovatif Solusi Pemberdayaan Perempuan

MajalahKebaya.com, Jakarta – Karier di dunia birokrasi memberikan banyak tantangan dan pelajaran bagi Dr. Dra. Hj. Sitti Ma’ani Nina, M.Si. Bagi wanita cantik yang akrab disapa Nina, menjadi ASN adalah pilihan, bukan hanya profesi tetapi pengabdian seumur hidup. Ia selalu memegang prinsip hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. “Prinsip itu menjadi pengingat agar saya tidak berhenti belajar, tidak mudah menyerah, dan selalu menjaga niat tulus dalam setiap langkah,” tegasnya.

Nina juga percaya bahwa seorang perempuan dapat menjadi pemimpin tanpa harus kehilangan sisi lembutnya. Dalam setiap keputusan, ia berusaha mengedepankan keseimbangan antara ketegasan dan empati. Di tengah kesibukan sebagai pejabat publik, Nina tetap berupaya menjalankan peran sebagai istri dan ibu, karena dari keluarga ia belajar arti sebenarnya dari ketulusan dan kekuatan.

“Perjalanan ini belum selesai. Masih banyak yang ingin saya lakukan untuk masyarakat Banten seperti memperkuat sistem perlindungan perempuan dan anak, menumbuhkan budaya kerja yang berintegritas, serta menanamkan nilai-nilai akuntabilitas di seluruh lini pemerintahan,” harapnya.

Keberhasilan bukan diukur dari jabatan yang dicapai, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan untuk orang lain.Itulah makna sejati dari mengabdi dengan hati dan melangkah dengan integritas.

Perjalanan Karier

Nina memulai karier penugasan di Pemerintah Kabupaten Serang, sekitar tahun 1990-an selepas lulus dari Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Bandung. Lulusan SMAN 15 Bandung ini juga melanjutkan pendidikan jenjang S3 sembari berkarier.

“Saat itu, dunia birokrasi masih sangat kental dengan sistem manual dan penuh tantangan. Saya belajar banyak hal mulai dari ketelitian administrasi, disiplin waktu, hingga cara berkomunikasi dengan masyarakat dan rekan kerja. Dari staf Kelurahan Kota Baru Kota Serang selanjutnya saya ditempatkan pertama kali menjabat sebagai Kasubag Analisa Bagian Perlengkapan, kemudian Kasubag PKD, seiring terbentuknya Provinsi Banten saya mengembangkan karier bergabung dengan Pemerintah Provinsi Banten,” kenang lulusan S3 kelahiran Bandung, 12 Oktober 1968 ini.

Di lingkungan Pemprov Banten, perjalanan kariernya berlanjut melalui berbagai jabatan, dari urusan kepegawaian hingga komunikasi publik. Nina pernah dipercaya menjadi Kabag Protokol, Kabag Dokumentasi, hingga menjabat Kepala Biro Humas & Protokol. Setiap posisi memberikan pelajaran baru: tentang tanggung jawab, keteladanan, dan pentingnya menjaga kepercayaan publik. Bahkan ia sempat memimpin Biro Pemerintahan dan Biro Umum Setda Provinsi Banten, dua posisi yang mengajarkannya makna koordinasi lintas sektor dan pengelolaan sumber daya secara efektif.

Sejak tahun 2017 sampai sekarang Nina mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten. Sejak Februari 2025 sampai bulan Oktober ini Nina juga merangkap sebagai Plt. Inspektur Daerah Provinsi Banten. 

“Dua peran ini memiliki tantangan yang berbeda, namun saling melengkapi. Di DP3AKKB, saya berjuang bersama tim untuk mewujudkan masyarakat Banten yang ramah perempuan dan layak anak, melalui berbagai program pemberdayaan, perlindungan, kependudukan dan pencatatan sipil serta peningkatan kualitas keluarga. Sementara di Inspektorat, saya berupaya memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas,” jelasnya.

Sebagai bentuk profesionalisme, Nina juga berkomitmen untuk terus belajar. Salah satunya dengan meraih sertifikat CGCAE (Certified Government Chief Audit Executive), sebagai bukti keseriusan dalam mengembangkan kompetensi di bidang pengawasan dan audit pemerintahan. Sertifikat ini bukan hanya simbol, tetapi juga tanggung jawab untuk memastikan setiap proses pemerintahan berjalan transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik.

Kunci Hadapi Tantangan: Jaga Keseimbangan dan Terus Belajar

Di era serba digital ini, tantangan dan rintangan yang dirasakan Nina cukup besar karena menyentuh dua ranah penting dalam kehidupan karier dan keluarga. Sebagai perempuan yang aktif dan adaptif di dunia kerja, Nina menghadapi kenyataan bahwa teknologi berkembang sangat cepat, sementara sumber daya, waktu, tenaga, dan modal sering kali terbatas. Kesenjangan teknologi dan literasi digital masih menjadi kendala, terutama dalam menyesuaikan diri dengan sistem kerja berbasis digital.

“Dalam perjalanan karier saya telah melewati banyak masa dari era mesin ketik hingga kini ketika hampir semua pekerjaan dilakukan melalui sistem digital. Perubahan itu luar biasa cepat. Namun bagi saya, yang paling berat bukan sekadar belajar teknologi baru, melainkan menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang serba otomatis,” paparnya.

Nina pun bersyukur dapat mengikuti masa transisi itu. Ketika ia memulai karier sebagai ASN muda di Kabupaten Serang, semua dilakukan manual seperti menulis surat, mengetik laporan, menyusun arsip. Kini semuanya serba digital efisien, tetapi juga menuntut kemampuan beradaptasi yang tinggi.

“Saya belajar untuk tidak takut dengan perubahan. Saya selalu percaya, pemimpin harus menjadi contoh pertama yang siap belajar hal baru, bukan hanya menyuruh orang lain menyesuaikan diri,” tambahnya.

Kini tantangan yang dihadapi Nina berlipat ganda. Di DP3AKKB, ia harus memastikan bahwa pelayanan kepada perempuan, anak, dan keluarga bisa cepat dan tepat, termasuk melalui sistem digital yang terus dikembangkan. Di sisi lain ia harus menjaga agar proses pengawasan pemerintah berjalan transparan dan akuntabel dan di sinilah teknologi menjadi alat bantu utama untuk memastikan keterbukaan.

Namun, ia juga melihat sisi lain dari digitalisasi. Banyak orang merasa semakin terhubung secara daring, tetapi justru kehilangan kedekatan secara manusiawi. Di kantor, komunikasi sering kali berpindah ke layar, bukan lagi tatap muka. Di rumah waktu bersama keluarga bisa tersita karena notifikasi pekerjaan yang tak kenal waktu.

“Itulah tantangan yang paling berat bagi saya untuk menjaga keseimbangan antara tanggung jawab sebagai pejabat dan peran saya sebagai istri dan ibu.Saya menyadari, pekerjaan di pemerintahan tidak pernah selesai. Tapi saya belajar untuk menetapkan batas. Ketika di kantor, saya bekerja dengan penuh tanggung jawab. Ketika di rumah, saya berusaha hadir sepenuhnya untuk keluarga. Keluarga adalah tempat saya kembali, sumber kekuatan yang menjaga saya tetap berpijak,” ujarnya bijak.

Nina selalu berpegang pada prinsip hidup sederhana bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.Prinsip itu membantunya menata langkah agar tidak cepat puas, tetapi juga tidak terburu-buru. Dunia digital boleh berubah dengan cepat, tetapi karakter, integritas, dan kejujuran harus tetap menjadi dasar setiap langkah. Karena ia percaya, teknologi bisa menggantikan sistem kerja, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan hati dan niat baik manusia.

“Dan di situlah, menurut saya, esensi seorang pemimpin di era digital. Bukan hanya mampu memimpin dengan sistem, tetapi juga memimpin dengan hati. Kunci mengatasi tantangan di era modern adalah menjaga keseimbangan, terus belajar, dan memanfaatkan teknologi untuk kebaikan bersama baik bagi dirinya, keluarga, maupun masyarakat di sekitarnya,” jelasnya.

Hadirkan Perubahan Nyata

Bagi Nina, setiap jabatan adalah amanah dan ladang pengabdian. Sejak awal berkarier di dunia birokrasi, ia selalu meyakini bahwa inovasi bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana menghadirkan perubahan yang nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Saat dipercaya memimpin Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten, fokus utamanya adalah membangun sistem kerja yang responsif, humanis, dan berorientasi pada pelayanan publik. Dari semangat itu, lahirlah sejumlah inovasi yang kini menjadi andalan.

Salah satunya adalah SIGAB (Sistem Informasi data gender dan Anak Banten). Melalui platform ini, SIGAB berfungsi sebagai wadah pengumpulan, pengelolaan, dan penyajian data terpilah berdasarkan jenis kelamin dan usia anak. Bertujuanmenyediakan data terintegrasi yang akurat untuk mendukung perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, serta evaluasi kebijakan dan program Pembangunan yang responsif gender dan ramah anak. Dengan adanya data yang valid dan termutakhir, pemerintah dapat menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran.

“Selain itu, kami mengembangkan SIJELITA (Sistem Jendela Informasi Wanita Banten) sebagai wadah pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis teknologi. SIJELITA merupakan aplikasi pemasaran bagi industri rumah tangga yang dibuat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan dan Keluarga Berencana Provinsi Banten. Marketplace SIJELITA BANTEN memasarkan produk hasil industri rumahan perempuan Banten dengan berbagai produk khas Banten mulai dari kuliner, kerajinan, fashion, aksesoris, dan sebagainya,” jelas Nina. 

Inovasi lainnya adalah SIMANIS (Sistem Informasi Menangani Pengaduan Kekerasan) yaitu inovasi layanan pengaduan bagi korban yang dapat diakses oleh Masyarakat untuk mendapatkan kemudahan akses dan memperluas jangkauan. SIMANIS juga dapat meningkatkan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta tersedianya konsultasi penanganan kesehatan dan hukum. 

Selain itu, Inovasi KATIBAN INTEN (Konsultasi Berkelanjutan Integrasi Pengarusutamaan Gender Banten). KATIBAN INTEN adalah layanan konsultasi bagi pelaksana dan penggerak pengarustamaan gender dari berbagai perangkat daerah/ lembaga di Provinsi dan Kabupaten/ Kota guna mendorong percepatan pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) di Provinsi Banten.

“Inovasi-inovasi ini lahir dari keyakinan bahwa teknologi harus mempermudah manusia, bukan sebaliknya. Di era digital ini, tantangan terbesar bukan hanya soal kemampuan beradaptasi, tetapi juga menjaga agar digitalisasi tetap berpihak pada kemanusiaan,” ungkapnya.

Prestasi Sejati

Menurut Ninasetiap penghargaan bukanlah tujuan akhir, melainkan bukti dari kerja keras, kolaborasi, dan komitmen seluruh tim dalam mewujudkan pelayanan yang berpihak pada masyarakat. Ia selalu percaya bahwa prestasi sejati adalah ketika hasil kerja kita benar-benar memberi manfaat dan perubahan positif bagi perempuan, anak, dan keluarga.

Selama memimpin DP3AKKB Provinsi Banten, banyak capaian yang membanggakan telah diraih Nina bersama jajaran yang solid dan penuh semangat pengabdian. Beberapa di antaranya antara lain:

  • Pelopor Provinsi Layak Anak (Provila) diraih 5 tahun berturut- turut hingga tahun 2025, sebagai bentuk komitmen Provinsi Banten dalam mewujudkan Indonesia Layak Anak (Idola).
  • Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Tahun 2023 Kategori Utama enam kali berturut-turut, penghargaan bergengsi dari Kementerian PPPA atas komitmen dan keberhasilan dalam pengarusutamaan gender pada Pemerintah Daerah
  • Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik oleh Komisi Informasi Provinsi Banten, dengan pencapaian berjenjang:Kategori Menuju Informatif pada tahun 2020 dan 2021; Kategori Informatif pada tahun 2022; dan kembali Menuju Informatif di tahun 2024, menunjukkan konsistensi dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas publik.
  • Penghargaan dari Kanwil Kemenkumham Banten tahun 2023, atas keberhasilan DP3AKKB dalam mendukung penerbitan E-KTP bagi tahanan, narapidana, dan anak binaan di Lapas, LPKA, serta Rutan se-Provinsi Banten.
  • Puspaga Cekatan Provinsi Banten (Peringkat Puspaga Pratama dari KemenPPPA) tahun 2023, sebagai pengakuan atas upaya peningkatan kualitas layanan konseling keluarga dan pengasuhan anak.
  • Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik tahun 2023, di mana DP3AKKB meraih predikat Perangkat Daerah Terinovatif atas berbagai terobosan layanan berbasis digital seperti SIGAB, SIJELITA, SIMANIS, dan pelayanan jemput bola Dukcapil.
  • Inovasi Katiban Inten, yang berhasil meraih Banten SDG’s Award tingkat Provinsi Banten tahun 2024, sebagai wujud komitmen dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat.

“Namun di atas semua itu, prestasi yang paling membanggakan bagi saya adalah melihat masyarakat tersenyum karena merasa terbantu. Setiap kali bertemu ibu-ibu yang kini lebih berdaya, atau anak-anak yang tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri, saya merasa itulah makna sesungguhnya dari kerja keras selama ini. Penghargaan boleh datang dan pergi, tapi manfaat yang dirasakan masyarakat akan selalu menjadi warisan yang abadi,” tutur Nina terharu.

Makna Hari Ibu

Bertepatan dengan momentum Hari Ibu pada 22 Desember, bagi Nina menjadi refleksi tentang betapa besar peran perempuan dalam kehidupan berbangsa. Ibu bukan hanya sosok di rumah tangga, tapi juga pendidik pertama, penggerak sosial, bahkan pemimpin dalam berbagai bidang. Hari Ibu adalah pengingat bahwa perempuan memiliki kekuatan yang begitu besar — kekuatan untuk mencintai, membimbing, dan menginspirasi.

“Hari Ibu bukan sekadar tanggal peringatan, tapi momen untuk merenung dan bersyukur. Di hari itu, saya selalu teringat pada sosok ibu saya — perempuan luar biasa yang menjadi sumber kekuatan, kasih sayang, dan keteladanan dalam hidup saya. Dari beliau, saya belajar tentang cinta tanpa batas, kesabaran, dan pengorbanan yang tak pernah meminta balasan,” ungkapnya haru.

Di setiap Hari Ibu, Nina ingin mengajak seluruh perempuan untuk mencintai diri sendiri, menghargai perjuangan yang telah dilakukan, dan terus melangkah dengan percaya diri. Perempuan hebat bukan berarti harus sempurna cukup menjadi dirinya sendiri, yang kuat, tulus, dan penuh kasih.“Hari Ibu adalah tentang cinta yang tak lekang oleh waktu, tentang perempuan yang dengan kelembutan dan ketegasannya, membentuk peradaban. Itulah makna Hari Ibu bagi saya, sebuah pengingat akan keagungan cinta seorang ibu dan kekuatan perempuan dalam setiap peran yang dijalankannya,” tambahnya.

Banyak kenangan yang begitu berkesan dalam hidup Nina, terutama bersama ibunda tercinta dan buah hatinya. Bagi Nina, ibunya adalah akar kekuatannya dan anak-anaknya adalah bunga yang menumbuhkan semangat dalam hidupnya. Kenangan bersama mereka bukan sekadar nostalgia, tapi juga pengingat akan cinta, perjuangan, dan makna hidup yang sesungguhnya — bahwa di balik setiap langkah dan keberhasilan, selalu ada doa dan kasih yang tulus dari keluarga.Setiap kali Nina mengenang masa-masa bersama ibu, hatinya selalu hangat. 

“Beliau adalah sosok yang sederhana namun penuh makna — tegas tapi lembut, keras dalam prinsip tapi lembut dalam kasih sayang. Saya masih ingat, setiap kali saya menghadapi kesulitan, beliau selalu berkata dengan tenang, Nina, jangan pernah takut menghadapi hidup. Selama kamu jujur dan sungguh-sungguh, Allah akan selalu bersama kamu. Kata-kata itulah yang selalu saya pegang sampai hari ini. Ibu adalah sosok yang menanamkan nilai keteguhan, keikhlasan, dan kesabaran. Bahkan kini, setiap kali saya dihadapkan pada keputusan penting atau masa-masa berat, saya seolah masih bisa mendengar suara beliau menenangkan hati saya,” lirih Nina.

Sebagai seorang ibu, harapan Nina untuk anak-anaknya tidaklah muluk. Ia hanya ingin mereka menjadi pribadi yang berakhlak baik, jujur, dan bermanfaat bagi sesama. Nina selalu percaya bahwa kesuksesan sejati bukan diukur dari jabatan, harta, atau gelar yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar mereka bisa memberi kebaikan kepada orang lain.

Ia pun berharap anak-anak saya tumbuh menjadi manusia yang tangguh, berani menghadapi tantangan, tetapi tetap rendah hati. Dunia sekarang bergerak sangat cepat, penuh persaingan dan perubahan. Karena itu, ia ingin mereka memiliki bekal iman, ilmu, dan karakter yang kuat supaya apa pun situasinya, mereka tetap berpijak pada nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan dan diwariskan oleh almarhum ibunya.

Nina juga ingin anak-anaknya tidak melupakan kebahagiaan sederhana dalam hidup. Bahwa di balik semua cita-cita besar, ada hal-hal kecil yang membuat hidup berarti waktu bersama keluarga, rasa syukur, dan kemampuan untuk mencintai tanpa syarat.

“Saya tidak berharap mereka menjadi yang paling hebat, tapi saya ingin mereka menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri yang kuat, baik hati, dan selalu membawa cahaya di manapun berada.Itulah harapan terbesar saya sebagai seorang ibu melihat anak-anak tumbuh bukan hanya sukses, tetapi juga bahagia dan berguna bagi sesama,” terang istri dari Drs. Imam Rana Hardiana, M.E., M.Si /Aparatur Sipil Negara ini.

Dalam kesibukan sebagai seorang ASN dan pemimpin, waktu bersama keluarga adalah hal yang paling dihargai Nina. Makan bersama, berbagi cerita sederhana, atau sekadar tertawa bersama sudah cukup membuat hatinya terasa penuh.Setiap momen bersama mereka selalu menjadi sumber kebahagiaan dan energi baru. Keluarga adalah sumber kekuatan, dan dari merekalah Nina menemukan makna sejati dari kata “pengabdian”.

“Ada satu kenangan yang tak pernah saya lupakan, saat anak-anak saya mengatakan, Mama adalah panutan kami. Kalimat sederhana itu membuat saya terharu sekaligus tersadar bahwa perjuangan dan kerja keras saya ternyata memberi makna bagi mereka. Sebagai seorang ibu, itu adalah hadiah paling indah yang bisa saya terima,” kenang Ibu dari Imam Jabar Shidiq RB, S. Kom (kerja di BUMN) dan Siti Ranisa CD, S.T.P (Mahasiswi) ini

Jaga Keseimbangan Hidup

Kebutuhan me time menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara karier, keluarga, dan kebahagiaan pribadi. Nina percaya bahwa keseimbangan hidup adalah kunci untuk tetap sehat, bahagia, dan produktif.

“Di tengah padatnya tanggung jawab, saya selalu berusaha meluangkan waktu untuk diri sendiri karena bagi saya, merawat diri berarti juga merawat semangat. Saya percaya bahwa kecantikan sejati lahir dari dalam: dari pikiran yang tenang, hati yang tulus, dan tubuh yang sehat. Maka dari itu, saya selalu berusaha menjaga ketiganya dengan cara yang menyenangkan dan positif,” terang Nina.

Line Dance menjadi salah satu kegiatan yang ditekuni dan sangat dicintai Nina. Melalui aktivitas ini, ia bisa menyalurkan energi, menjaga kebugaran, dan sekaligus menebar semangat kebersamaan. Gerak dan musiknya menjadi terapi tersendiri di sela kesibukan kerja. Dari kecintaan itu, ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Ikatan Langkah Dansa Indonesia (ILDI) DPD Provinsi Banten.

Selain menari, Nina juga menemukan ketenangan dalam berkebun, sebagai bentuk meditasi alami mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan rasa syukur. Untuk menjaga kebugaran, ia rutin jalan pagi atau senam ringan, jaga pola makan, berusaha tidur cukup, dan banyak minum air putih. Sesekali, menikmati spa atau perawatan wajah sederhana di rumah.

Nina juga aktif di berbagai kegiatan kemasyarakatan, terutama yang berhubungan dengan pemberdayaan perempuan, anak, dan keluarga. Ia percaya bahwa peran sosial adalah wujud nyata dari rasa syukur. Juga menyempatkan diri hangout sahabat dekat, baginya, kebersamaan seperti itu adalah vitamin emosional sumber tawa dan semangat yang membuat hidup terasa lebih ringan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top