MajalahKebaya.com, Jakarta – Perempuan Indonesia memiliki karakter kuat, hebat dan lemah lembut. Banyak perempuan yang tumbuh menjadi pribadi tangguh dan pekerja keras, namun tidak meninggalkan kodratnya sebagai ibu. Di era serba maju dan cepat ini, perempuan diharapkan dapat mengikuti perkembangan zaman termasuk teknologi dan informasi. Evy Indahwaty, President Director PT. Syera Jaya, Commissioner PT. Tiga Srikandi Indonesia dan Owner Butik Rolla, menjadikan itu sebagai tantangan sekaligus motivasi dalam berkarier. Perempuan tidak hanya berkarier, tetapi menjadi seorang ibu yang melahirkan anak-anaknya. Sementara sekarang adalah zaman teknologi yang serba canggih dan instan, sehingga perempuan harus mengikuti dan mengetahui perubahan apa yang terjadi.
“Kita sebagai perempuan harus benar-benar memikirkan bagaimana mendidik anak agar mereka bisa menjadi pemimpin yang mampu memimpin diri sendiri dan keluarganya,” Evy mengingatkan.
Perempuan yang berani melakukan introspeksi diri, memperbaiki akhlak dan menjadi sosok ibu bijaksana untuk anak-anaknya, maka akan dengan mudah memberikan kontribusi untuk bangsa. Kebanyakan perempuan memiliki kemampuan multitasking untuk mengurus rumah tangga dan bekerja bagi yang memutuskan untuk bekerja. Tuntutan besar dan penuh tanggung jawab ini yang seharusnya menjadi perhatian khusus agar perempuan memiliki kesehatan fisik yang prima dan kesehatan mental yang baik.
“Dari perempuan ini nantinya akan lahir cikal bakal generasi yang baik atau buruk. Jadi harus dipikirkan dari kesehatan dan gizi, sehingga ketika melahirkan dengan kondisi baik, sehat jasmani dan rohani dan memberikan kontribusi positif untuk bangsa ini. Laki-laki dan perempuan sebagai suami istri harus saling mendukung karena di tangan perempuan ini akan tumbuh generasi muda yang terlibat positif untuk membangun bangsa. Perempuan harus benar-benar bisa mengelola rumah tangga, mendidik anak, mencukupi kebutuhan rumah tangga, smart dan mengelola keuangan dengan baik,” ujarnya.
Kontribusi perempuan saat ini semakin baik dibandingkan zaman dulu, tetapi tetap dibutuhkan perubahan mindset agar perempuan semakin berani untuk bersuara, mengeluarkan pendapat dan berjuang untuk perubahan. Kompetensi yang dimiliki perempuan dan laki-laki, menurut Evy, adalah sama. Namun laki-laki lebih fokus pada satu hal sementara perempuan seringkali dituntut untuk multitasking. Terkadang perempuan yang multitasking memiliki tantangan untuk mengelola emosi dan lebih banyak menggunakan perasaan.
“Perempuan lebih banyak menggunakan perasaan, emosi dan melibatkan hati nurani untuk mengambil suatu keputusan. Sedangkan untuk laki-laki benar-benar pure apa adanya.
Perempuan harus banyak mengelola sesuatu dan memastikan semuanya berjalan dengan baik,” jelas Evy.

Ibu adalah Master, Tiang Negara Penentu Nasib Bangsa
Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember bagi Evy adalah momen sakral, karena ibu adalah segalanya bagi seorang anak ataupun keluarga. Ibu adalah pahlawan tanpa tanda jasa, master segala ilmu. “Apa sih yang tidak bisa diselesaikan oleh seorang ibu? Untuk itu, saya berharap bagi para ibu, baik yang sudah memulai menjadi ibu muda dari Gen X, Gen Y, Gen Z, semua mempunyai satu persepsi yang sama. Ibu harus memberikan contoh pola didik yang baik untuk anak-anaknya. Karena ibu adalah Tiang Negara,” ungkapnya.
Seorang ibu akan melahirkan generasi bangsa ke depan. Bisa dibayangkan, lanjut Evy, kalau seorang ibu tidak mempunyai moral yang baik, knowledge yang baik, kapasitas yang baik, bagaimana mungkin negara ini bisa berkembang. Karena melahirkan dan mendidik generasi yang berkualitas, baik adab maupun ilmunya, dimulai sejak lahir, sejak ada dalam kandungan ibu.
“Peran ibu sangat besar bagi anak dan keluarganya. Ibu bisa memberikan ketenangan, kenyamanan bagi seorang anak untuk mendapatkan kasih sayang, dan terutama pendidikan. Bukan berarti meremehkan peran ayah. Ayah tidak bisa digantikan oleh seorang ibu. Tetapi seorang ibu itu adalah sebagai tiang bagi anak-anaknya. Supaya anak-anaknya bisa berdiri tegar, bisa menjadi anak-anak yang berprestasi. Ibu bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya,” terang Evy.
Kendala bagi Perempuan/Ibu. Menurut Evy, saat ini perempuan masih dihadapkan dengan berbagai macam persoalan. Mulai dari masalah ekonomi, keterbatasan akses baik pendidikan, kesehatan, hingga informasi, terlebih-lebih perempuan dan para ibu di daerah-daerah pelosok yang kurang atau belum terjangkau kemajuan seperti di kota.
“Persoalan ekonomi misalnya. Seorang ibu itu harus mencukupkan apapun yang diperoleh atau yang diberikan suami. Sehingga tidak jarang seorang ibu harus bekerja untuk membantu keuangan keluarga,” jelas Evy.
Namun, ibu bekerja pun bukan tanpa masalah. Menurut Evy, meskipun sudah dikaruniai kemampuan multitasking, seorang ibu harus memiliki mental yang sangat kuat, terutama mental beradaptasi agar semua bisa berjalan sukses, pekerjaan di luar rumah dan urusan rumah tangga bisa tertangani dengan baik. Seorang ibu harus pintar dan bijak dalam mengatur serta menyesuaikan waktu dan prioritas, antara karier dan keluarga, belum lagi kalau aktif di ranah sosial maka fokus dan perhatian tentu akan bertambah.
Persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan atau ibu akan sangat terasa jika kita menengok kehidupan di pedesaan terpencil yang jauh dari kemajuan. Seorang ibu sangat susah mendapatkan pemahaman, ilmu, pengetahuan dan informasi yang baik, akses dari satu tempat ke tempat lain sangat sulit, apalagi jika ingin menuju ke kota terdekat. Inftastruktur memadai belum tersedia, apalagi internet masih jauh dari bayangan. Akses kesehatan juga sangat terbatas, untuk melahirkan saja begitu sulit, sehingga mengharapkan pendidikan yang layak untuk mempersiapkan anak-anaknya menjadi harapan masa depan bangsa pun menjadi tidak mudah. Semua persoalan ini, menurut Evy, menjadi pekerjaan rumah dan tanggung jawab tidak hanya Pemerintah tapi harus bersama-sama masyarakat, organisasi-organisasi perempuan, dan perempuan itu sendiri.
“Kalau dari mudanya, sejak hamil saja seorang ibu sudah stunting, kurang gizi, bagaimana bisa menciptakan anak yang sehat. Ibu yang kurang sehat melahirkan anak yang kurang sehat juga. Di sinilah peran Pemerintah, organisasi, lembaga-lembaga swasta yang
memang benar-benar peduli pada kesejahteraan perempuan sangat dibutuhkan. Dana-dana CSR harusnya diprioritaskan untuk para perempuan di pelosok. Jadi solusinya, kita bersama-sama, yaitu semua elemen pemberdaya perempaun tersebut, turun ke desa-desa hingga ke pelosok negeri, melakukan upaya-upaya dan kegiatan pemberdayaan perempuan, tidak hanya sekali tapi berkali-kali sampai mencapai progres yang bagus,” ungkap Evy dengan semangat.

Dari Profesional Jadi Entrepreneur Sukses
Ibunda dari Sendy Reza Davian, S.T., M.T (ASN Kementerian PUPR) dan dr. Rania Merriane Devina (Dokter di Klinik Beyoutiful dr.Tompi) ini, menanamkan kemandirian dan kontribusi sebagai perempuan dengan mengaplikasikan perjalanan kariernya sebagai karyawan swasta. Buktinya ia berhasil membangun perusahaan sendiri, PT. Syera Jaya, PT. Tiga Srikandi Indonesia dan Butik Rolla. PT Syera Jaya dan PT. Tiga Srikandi Indonesia yang bergerak di bidang pengadaan barang dan jasa mulai dikelola pada tahun 2020 dan 2021. Tentu ini menjadi langkah awal yang menantang ketika seorang profesional harus beralih tanggung jawab sebagai owner bisnis.
“Saya selalu mencari sesuatu yang menantang di setiap karier yang saya jalani. Saya mengelola bisnis di PT. Syera Jaya dan targetnya adalah perusahaan multinasional dan pemerintah. Alhamdulillah kami sudah dipercaya oleh beberapa instansi pemerintahan dan perusahaan multinasional. Perusahaan kami sempat fokus pada alat-alat kesehatan di masa pandemi kemarin. Lalu di tahun 2021, kami fokus di pengadaan barang dan jasa dan mendirikan PT. Tiga Srikandi Indonesia,” tutur Evy.
Evy mengawali karier cemerlangnya dari nol. Sebelumnya, ia bekerja sebagai staff Customer Service Bank Niaga, berkarier di Adira Finance, Suzuki Finance, Radana Finance Tbk (grup Trakindo) dan hingga dipercaya menjadi CEO di Radana Finance Tbk. Karier Evy sangat baik dan pernah mendapatkan penghargaan 10 CEO Terbaik pilihan karyawan versi Majalah SWA, menjadi CEO Terbaik di bidang multifinance versi Majalah Women Review dan Majalah Obsession. Ia juga sempat berkarier di Adira Finance dan Suzuki Finance tentunya dengan pencapaian yang gemilang dan bermanfaat bagi perusahaan.
“Setelah mencapai puncak karier menjadi CEO, saya punya cita-cita menjadi pebisnis. Setelah tujuh tahun berdedikasi di perusahaan terakhir, saya meminta ijin kepada owner untuk mendirikan perusahaan saya sendiri. Akhirnya hadirlah PT. Syera Jaya, PT. Tiga Srikandi Indonesia dan juga Butik Rolla,” kenang Evy.
Syera Jaya merupakan perusahaan yang digagas oleh para praktisi muda yang memiliki fokus perhatian dan kegiatan pada bidang pengembangan kewirausahaan dalam pemenuhan kebutuhan pangan, papan dan kesehatan. Berbekal kesamaan pandangan, para praktisi muda ini bersepakat untuk terlibat langsung dalam penyediaan dan penyaluran produk dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dasar pangan, papan, dan kesehatan bagi masyarakat luas.
Evy sebagai lulusan Diploma Administrasi Bisnis Universitas Jember dan S1 Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Moch Sroedji Jember, berpengalaman dalam menerapkan praktik bisnis terbaik yang meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya pengoperasian dengan meningkatkan produktivitas dan pendapatan sesuai anggaran. Evy juga memiliki sikap profesional dan kemampuan bersikap fleksibel serta menangani perubahan dengan cara yang positif.
“Di dalam berbisnis kita ketemu berbagai macam orang dan dari sana saya belajar bagaimana menjalankan bisnis dengan baik. Jika ada tantangan saya selalu memahami bahwa tidak ada segala sesuatu yang berjalan dengan mulus. Ini menjadi cara saya untuk menambah
knowledge dan kompetensi agar dapat berkembang dengan lebih baik lagi,” ungkap Evy berbagi kiat.

Me Time dan Sosialisasi Jaga Keseimbangan Hidup
Di sela-sela kesibukan urusan pekerjaan, Evy tidak lupa memanjakan diri dengan hobi atau hangout bersama teman-temannya sekadar refreshing dan menghilangkan penat. Selain itu, ia juga rajin berolahraga seperti jalan kaki, yoga, dan line dance bersama komunitas dan teman-temannya.
Aktivitas lain yang juga sering dilakukan Evy adalah kumpul bersama teman-teman sesama reuni, Arisan dengan ibu-ibu komplek, teman-teman sesama pengusaha, dan organisasi. Hal itu, menurutnya, menambah wawasan dan meng-update info dan perkembangan terkini.
“Dengan banyak bergaul, saya banyak mengetahui hal-hal yang di luar pekerjaan. Selain itu juga bisa menambah adrenalin karena bisa ketemu dengan banyak orang, bisa ketemu dengan banyak komunitas yang berbeda-beda.. itu menambah wawasan yang sesungguhnya, menambah wawasan yang jauh lebih baik daripada selama ini. Selain dengan komunitas juga kegiatan di komplek perumahan atau di luar komplek perumahan, itu semua saya rangkul. Karena bagi saya itu adalah sesuatu yang networking dan menambah wawasan ataupun ilmu dari masing-masing komunitas yang berbeda,” jelas Evy dengan bahagia.
Orang Tua Sebagai Sumber Inspirasi
Dalam membangun karier dan mengembangkan ide-ide cermerlang, Evy terinspirasi sosok kedua orang tuanya. Ibunda tercinta berhasil membesarkan kelima anaknya ketika Sang Ayah meninggal dunia. “Kedua orang tua saya adalah sosok yang menginspirasi. Ketika Ayah meninggal dunia, Ibu membesarkan kelima anaknya dengan sukses. Awalnya Ibu tidak pernah sama sekali bekerja, tapi bisa mengusahakan agar kami semua bisa merasakan kehidupan yang baik,” lirih Evy.
Evy juga terinspirasi Bapak Robby Johan (Bank Niaga) yang sudah berhasil mencetak pemimpin-pemimpin karena ketegasannya. Sosok tersebut mampu memberikan kontribusi kepemimpinan yang positif meskipun berada di kondisi apa pun. “Beliau selalu menularkan ilmunya kepada saya dan inspirasi selanjutnya adalah Bapak Stanley Atmadja karena beliau adalah pengusaha sukses yang berawal dari pekerja biasa. Sedangkan kalau tokoh inspirasi dari luar ada Obama yang mengajarkan saya bahwa tidak ada yang tidak bisa kalau kita mau bekerja keras serta bisa menerobos segala sesuatu yang dirasa sulit atau tidak mungkin,” tutup Evy.
