Cover Story

Adinda Sardjono, Perempuan Berdaya Akan Menciptakan Generasi Unggul

MajalahKebaya.com, Jakarta – Mempersiapkan dan menciptakan masa depan generasi bangsa yang unggul, peran penting perempuan sangat dibutuhkan. Karena ketika perempuan diberdayakan, maka keluarga khususnya anak, komunitas atau masyarakat, dan bangsa ikut tumbuh bersama secara sehat dan sejahtera. Namun memang diakui Adinda Sardjono, atau akrab disapa Adinda, Professional Makeup Artist dan Educator , masih cukup banyak permasalahan yang dihadapi perempuan saat ini.

“Menurut saya, permasalahan paling mendasar yang dihadapi perempuan, terutama di pelosok desa, adalah minimnya akses terhadap pendidikan, informasi, dan kemandirian ekonomi. Banyak dari mereka juga terjebak dalam budaya patriarki yang membatasi peran dan ruang gerak mereka. Selain itu, akses terhadap layanan kesehatan, perlindungan hukum, serta pelatihan keterampilan juga masih sangat terbatas. Hal ini membuat banyak perempuan desa tidak punya cukup bekal untuk mandiri, berkembang, atau keluar dari situasi yang tidak sehat—baik secara ekonomi maupun sosial,” ungkap wanita cantik kelahiran Jakarta 19 Desember 1982 ini.

Agar perempuan bisa mengaktualisasi semua potensi dirinya, lanjut Adinda, perlu diberikan pendidikan berbasis komunitas, termasuk pelatihan keterampilan praktis; Kewirausahaan mikro terus didorong, dengan pendampingan dan akses modal; Masyarakat diediukasi tentang kesetaraan gender dan hak perempuan, dimulai dari lingkup keluarga dan tokoh lokal; Diperluas akses layanan kesehatan dan perlindungan hukum yang ramah perempuan. Ketika perempuan di desa diberdayakan, bukan hanya hidup mereka yang berubah,tapi juga masa depan generasi di sekitarnya.

Solusi terbaik menurut Adinda, adalah kolaborasi atau sinergi antara perempuan itu sendiri,  pemerintah, dan masyarakat, karena masing-masing memiliki peran strategis yang saling melengkapi. Perempuan harus percaya diri, berani bermimpi, dan terus belajar; Aktif mencari peluang lewat pendidikan, komunitas, atau pelatihan; Keluar dari zona nyaman dan tidak takut gagal. Dari Pemerintah diharapkan bisa memberikan akses pendidikan dan pelatihan yang inklusif, mendorong program pemberdayaan ekonomi dan perlindungan hukum bagi perempuan, serta menyediakan layanan kesehatan dan dukungan psikologis yang ramah perempuan. Sementara dari masyarakat, Adinda berharap, stigma dan batasan gender dihapuskan, ciptakan lingkungan yang suportif, mulai dari keluarga hingga komunitas, serta memberi ruang, apresiasi, dan panggung bagi perempuan untuk tampil dan berkarya.

Hari Ibu Refleksi Perjuangan, Cinta, dan Pengorbanan Seorang Ibu

Terlepas dari persoalan-persoalan yang dihadapi hingga saat ini, ironisnya perempuan dituntut untuk menjalankan multiperannya dengan sukses, terutama sebagai seorang ibu, ia harus mempersiapkan dan memastikan tercipta generasi masa depan yang unggul. Karena itu, dengan segala kekurangannya, seorang ibu berjuang dengan sepenuh kemampuan diri untuk masa depan yang gemilang bagi anak-anaknya. Pantaslah kita memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para ibu di mana pun, salah satunya dengan penghargaan khusus di Hari Ibu setiap bulan Desember.

Bagi Adinda, Hari Ibu bukan sekadar perayaan seremonial, tapi momen penuh makna untuk merefleksikan perjuangan, cinta, dan pengorbanan seorang ibu. “Sebagai anak, Hari Ibu mengingatkan saya pada sosok luar biasa yang telah membentuk siapa saya hari ini. Ibu saya adalah inspirasi terbesar dalam hidup saya. Seorang perempuan kuat, kreatif, penuh cinta, dan tak pernah lelah mendampingi anak-anaknya. Setiap nilai yang beliau tanamkan, setiap keterampilan hidup yang saya pelajari darinya, menjadi fondasi dalam perjalanan saya, baik sebagai individu maupun profesional,” ucapnya.

Sebagai seorang ibu, Hari Ibu memberi ruang kepada Adinda untuk merenung dan bersyukur. Menjadi ibu, baginya, adalah perjalanan spiritual, emosional, dan fisik yang luar biasa, penuh tantangan sekaligus penuh keajaiban. Tidak mudah membagi waktu antara karier dan keluarga, tetapi setiap pelukan anak, setiap senyum mereka, adalah bentuk penghargaan terbesar yang tak bisa digantikan oleh apa pun. “Hari Ibu mengingatkan saya bahwa di balik semua peran yang saya jalani, peran sebagai ibu adalah yang paling mulia dan bermakna, karena dari sanalah cinta, kekuatan, dan semangat hidup saya berasal.”

Harapan terbesar Adinda untuk anak-anaknya, Ferdinand Chuang (Kuliah di Fakultas Kejuruan ITE Singapura), Ferisca Chuang (Kuliah Polytechnic Singapura), dan Clarissa Chuang (masih di Sekolah Dasar Kelas 4), bukan semata-mata tentang keberhasilan secara akademis atau materi, tapi lebih kepada mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik, bahagia, dan tahu arah hidupnya.

“Saya ingin mereka memiliki hati yang penuh kasih, sikap yang rendah hati, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri, tidak harus sempurna, tapi bisa bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya. Saya juga berharap mereka bisa menghargai proses hidup, tidak takut gagal, dan mau terus belajar dari pengalaman, baik yang manis maupun yang pahit. Di tengah dunia yang serba cepat dan kompetitif ini, saya ingin mereka tetap punya pegangan nilai, kepekaan terhadap sesama, dan kekuatan karakter. Dan yang terpenting, saya ingin mereka tahu bahwa mereka selalu dicintai tanpa syarat, dan rumah akan selalu menjadi tempat untuk pulang, apa pun yang terjadi,” harap dan doa Adinda yang diamini suami tercinta, Pedro Chuang yang saat ini berkarier sebagai Property Agent.

Sebagai ibu, Adinda mungkin tidak bisa selalu sempurna, tapi ia berusaha untuk hadir, mendampingi, dan menjadi contoh tentang bagaimana mencintai hidup dengan tulus dan bermakna. Ia sangat terinspirasi oleh ibunya, sosok yang diam-diam mengajarkan arti keteguhan, kreativitas, dan cinta tanpa batas. Ibunya, bukan hanya seorang ibu, tapi juga seorang desainer penuh talenta, baju nikah Adinda  dijahit dengan tangan ibunya sendiri, penuh cinta dan detail yang tak bisa dibeli.

“Kini, di usia senjanya, ibu saya tetap tidak berhenti berkarya. Ia menjadi seorang baker yang tak pernah lelah belajar dan mencoba hal baru. Daya juangnya tak kenal usia, semangatnya tak pernah padam. Dari beliau saya belajar, bahwa menjadi perempuan itu bisa kuat dan lembut dalam satu waktu. Bisa berkarya, merawat keluarga, dan tetap setia pada panggilan hati. Ibu saya adalah alasan mengapa saya percaya, bahwa setiap karya yang dibuat dengan hati, akan selalu punya makna,” lirih Adinda.

Perjalanan Karier

Kiprah Adinda di dunia makeup dimulai sejak usia 19 tahun, ketika ia memutuskan untuk secara serius menekuni bidang ini sebagai pilihan karier profesional. Ia memulai dengan mengikuti pendidikan formal di sekolah makeup untuk membekali diri dengan teknik dan pengetahuan dasar yang kuat dalam seni tata rias.

Pada usia 23 tahun, Adinda menikah dengan suami yang berkewarganegaraan Singapura, dan menetap di Shanghai untuk mendukung karier suami di sana. Selama periode tersebut, meskipun tidak aktif secara penuh sebagai makeup artist, ia tetap menjaga koneksi dengan dunia kecantikan dan terus mengasah kemampuan secara mandiri.

Pada awal tahun 2015, ketika kembali menetap di Singapura, di situlah Adinda mulai kembali menekuni profesi sebagai makeup artist secara profesional. Ia tidak hanya kembali melayani klien untuk makeup pribadi maupun acara khusus, tetapi juga mulai membuka kelas-kelas makeup, – baik untuk personal use maupun kelas profesional bagi mereka yang ingin terjun ke industri ini. Hingga saat ini, Adinda terus aktif sebagai makeup artist dan educator, serta berkomitmen untuk membantu para klien dan peserta kelas tampil percaya diri melalui keahlian makeup yang tepat dan sesuai dengan karakter masing-masing individu.

Menyadari berbagai tantangan yang sangat beragam, termasuk persaingan yang kian ketat dan perkembangan dunia kecantikan yang terus berkembang sangat cepat saat ini, menurut Adinda diperlukan kreativitas dan inovasi agar bisa tetap relevan, berdaya saing, dan memberi nilai tambah bagi klien maupun peserta kelas. 

“Saya aktif membagikan konten edukatif dan inspiratif di media sosial, seperti tips makeup, teknik dasar, rekomendasi produk, hingga behind-the-scenes dunia makeup artist. Tujuannya bukan hanya untuk promosi, tapi juga sebagai sarana edukasi gratis yang bisa menjangkau lebih banyak orang. Saya percaya bahwa makeup bukan hanya soal meniru tren, tetapi bagaimana memperkuat karakter dan kepercayaan diri seseorang. Oleh karena itu, saya mengedepankan pendekatan personal dalam setiap layanan, dengan memahami kepribadian, kebutuhan acara, hingga gaya hidup klien—agar hasil makeup terasa lebih autentik dan bermakna,” ujar pehobi musik ini dengan semangat.

Raih Prestasi Membanggakan

Sepanjang perjalanan Adinda di industri kecantikan, ia bersyukur  telah meraih sejumlah pencapaian yang tidak hanya memperkuat posisinya sebagai makeup artist, tetapi juga memperkaya pengalaman dan makna dari profesi ini. Salah satu bentuk pengakuan profesional yang membanggakan adalah kepercayaan dari beberapa brand makeup ternama yang mengundang Adinda untuk menjadi pengajar dan pembicara dalam kelas serta workshop mereka. Kesempatan ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan industri terhadap kemampuan teknisnya, tetapi juga mengukuhkan peran Adinda sebagai educator dari Indonesia yang bisa membagikan ilmu dan pengalaman kepada generasi baru di dunia kecantikan di Singapura.

Selain itu, Adinda merasa terhormat karena dinobatkan sebagai salah satu ‘Indonesia’s Best Makeup Artists’ yang berbasis di Singapura, sebuah pengakuan yang tidak hanya merepresentasikan kualitas karyanya, tetapi juga konsistensi, profesionalisme, dan dedikasi yang ia bangun selama bertahun-tahun.

“Namun, di atas semua pencapaian formal tersebut, prestasi terbesar dan paling bermakna bagi saya adalah saat klien merasa puas dan bahagia dengan hasil karya saya. Ketika mereka mengatakan bahwa mereka merasa cantik, percaya diri, dan benar-benar yakin telah memilih makeup artist yang tepat, itulah bentuk penghargaan tertinggi yang tidak bisa diukur dengan apa pun. Bagi saya, kepercayaan dan kebahagiaan klien adalah pencapaian yang tak ternilai harganya,” tegasnya.

Kunci sukses Adinda dalam karier adalah bekerja dengan hati, menjunjung kejujuran, dan menjaga sikap yang berkelas. Konsistensi, terus belajar, serta memperlakukan setiap klien dengan hormat dan sepenuh hati adalah prinsip yang selalu ia pegang dalam setiap langkah profesionalnya.

Kembangkan Hobi Kuliner Jadi Bisnis

Kegiatan utama Adinda saat ini memang masih berfokus pada layanan makeup untuk berbagai acara, termasuk bridal, special event, serta mengajar di kelas-kelas makeup, baik personal maupun profesional. Selain melayani klien secara langsung, ia juga aktif berbagi ilmu dan pengalaman sebagai bentuk kontribusi dalam mencetak makeup artist generasi baru. Namun di luar dunia makeup, ia juga memiliki minat dan aktivitas lain yang cukup berkembang, khususnya di bidang kuliner. 

Hobi memasak dan baking Adinda tumbuh secara alami sejak masa pandemi Covid-19, saat industri makeup praktis terhenti total. Di masa itu, ia mulai membuka kembali buku-buku resep ibunya, yang ditulis tangan khusus untuk Adinda, dan mulai memasak serta membuat kue-kue Indonesia khas rumahan. Dari situ, lahirlah bisnis kuliner online kecil-kecilan yang ia kelola dari rumah, dengan dukungan penuh dari suami tercinta, yang bahkan ikut membantu mengantar pesanan ke pelanggan. 

“Saya membuat berbagai menu makanan khas Indonesia dan aneka kue rumahan. Bisnis ini masih berjalan hingga kini secara musiman, terutama di saat-saat low season dalam pekerjaan makeup, seperti setelah musim pernikahan atau menjelang libur panjang. Selain itu, kegiatan memasak juga menjadi semacam terapi relaksasi dan sarana ekspresi diri bagi saya, sebuah bentuk me time yang tetap produktif, dan menyenangkan,” ucap Adinda bahagia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top